
Usai menghadiri pesta yang diadakan oleh kepala rumah sakit. Alex benar-benar tidak bisa melupakan momen kala berdansa dengan Nania. Dia menatap indah mata Nania, melihat bibirnya tersenyum kecil. Merekam setiap tarian yang dibuat oleh kedua alis Nania.
Didalam ruangan tempatnya bekerja, Alex mencoba mengingat semua momen indah itu. Dengan pulpen yang dia mainkan dengan tangan kanannya. Alex terus mengingat momen itu dengan wajah tersenyum.
Dalamnya Alex kala mengingat momen special bersama Nania. Tanpa disadari seorang perawat telah berulang kali mengetuk pintu ruangan kerjanya. Dengan sangat terpaksa, perawat itu pun masuk kedalam ruangan Alex.
Perawat itu langsung dibuat bingung dengan Alex yang terlihat senyum-senyum sendiri. Dia mencoba memperhatikan Alex yang nampak seperti orang tidak waras yang senyum tanpa sebab.
"Selamat pagi dokter Alex." Sapa si perawat.
Alex yang tak menyadari kedatangan perawat tersebut. Begitu terkejut kala si perawat menyapa dirinya.
"Selamat pagi." Alex kembali bersikap begitu tegap kembali.
"Maaf dok, pasien atas nama Maria sedang dalam keadaan darurat. Dia membutuhkan pertolongan segera. Dokter bisa mengecek kondisi beliau segera?" Ujar si perawat.
__ADS_1
"Tentu. Di ruangan apa pasien berada?" Tanya Alex serius.
"Dia baru masuk kedalam ruangan UGD dok." Jawab si perawat.
"Ayo kita segera tolong pasien." Ajak Alex sambil berjalan.
Dengan langkah super cepat, Alex segera menolong seorang pasien yang sangat membutuhkan pertolongannya.
Tiba di ruangan pasien tersebut. Alex langsung melakukan pertolongan pada pasien. Dimana Alex mencoba menyuntikkan beberapa cairan yang bisa menolong korban. Cairan itu diharapkan bisa menjadi penolong korban dari racun yang dia tengguk. Korban yang awalnya kejang-kejang, perlahan mulai bisa tenang. Kucuran busa yang keluar dari mulutnya mulai berhenti.
Kesedihan dari kedua orangtua korban perlahan menghilang, dengan kabar baik yang Alex ucapkan. Keduanya lantas mengucapkan terima kasih pada Alex yang berhasil menyelamatkan nyawa puteranya dari racun yang diteguk olehnya.
"Cinta memang buta. Kekasihnya pergi dengan pria lebih kaya. Dia depresi, akhirnya jalan terakhir untuk mengakhiri kesedihannya adalah dengan racun yang dia minum." Ucap ibu korban.
Mendengar ucapan dari ibu korban. Alex langsung penasaran dengan latar belakang korban.
__ADS_1
"Maksud ibu anak ibu minum racun usai ditinggal oleh kekasihnya?" Tanya Alex.
"Bukan hanya di tinggal oleh perempuan jahat itu. Tapi semua hartanya di kuras. Setelah anak saya kehilangan pekerjaannya, dia berselingkuh dengan pria kaya. Kemudian meninggalkan anak saya dengan depresi berat yang akhirnya diderita oleh anak saya." Jawab si ibu dengan tegar.
Alex mulai berpikir apakah dia akan bisa terima, jika cintanya pada Nania ditolak. Mengingat rasa sakit itu akan berkali-kali lipat di tusuk oleh sebuah pedang. Merobek sebuah hati yang utuh adalah rasa sakit yang tiada tara yang mungkin membuat seseorang menjadi gila.
"Semoga anak ibu bisa kembali ceria dengan kehidupan baru yang ada. Semoga juga anak ibu segera lekas membaik." Doa Alex sambil mengelus pundak ibu korban.
"Terima kasih dok." Ucap si ibu.
"Sama-sama." Jawab Alex.
Alex meminta izin untuk kembali ke ruangan tempat dia bekerja. Alex akan terus memantau korban selama belum siuman.
Mendengar cerita dari korban yang mencoba bunuh diri usai ditinggal oleh pasangannya. Perlahan membuat Alex menjadi takut. Hal yang sama takut terjadi pada Alex. Dia takut ditolak oleh Nania. Mengingat Alex belum sepenuhnya melihat cinta dari Nania. Sehingga rentan untuk Alex ditolak oleh Nania. Sehingga rencananya untuk menyatakan cinta pada Nania, dia tunda terlebih dahulu. Sampai Alex yakin Nania benar-benar cinta padanya.
__ADS_1