
"Kamu harus kuat Nania. Kamu harus kuat." Ucap Nania di depan cermin toilet.
Nania kembali membasuh wajahnya dengan air. Beberapa lembar tissue langsung Nania robek untuk mengeringkan wajahnya yang nampak begitu basah. Setelah kering, Nania baru mulai keluar dari toilet rumah sakit.
Masih begitu sakit sebenarnya di hati Nania. Rasa sakit ketika melihat seorang Julien's yang begitu mesra dengan Beatrice. Cemburu yang tak wajar dari Nania, membuat dirinya merasakan luka sendiri. Sehingga Nania harus bisa menguatkan hatinya agar tidak merasakan kecemburuan yang teramat dalam pada seorang Beatrice, ketika sedang berada dengan Julien's.
Nania berjalan dengan wajah penuh percaya diri. Tak ada air mata yang jatuh dari kedua bola matanya. Nania nampak begitu percaya diri untuk kembali ke kamar perawatan dari Beatrice.
Langkah meyakinkan Nania menuju kamar perawatan dari Beatrice, sempat terhenti. Dia melihat seorang Aurille yang terlihat begitu gelisah di depan kamar perawatan. Kakinya tak bisa berhenti, hingga nampak terlihat kegugupan seorang Aurille.
Tanpa ragu, Nania langsung menghampiri Aurille. Namun saat mendekat ke arah Aurille, peristiwa di supermarket tempo hari itu. Masih terbayang di dalam pikiran Nania. Dimana Aurille begitu marah pada Nania tanpa alasan yang jelas. Hingga hal itu membuat Nania sedikit ketakutan untuk terulang kembali.
Namun pikiran buruknya itu coba di buang. Nania harus yakin, Aurille tidak marah padanya. Bahkan mungkin Aurille akan menyapa kedatangan Nania dengan begitu baiknya.
Nania menepuk pundak Aurille, memberikan senyuman terbaiknya pada Aurille. Namun saat melihat wajah Nania, Aurille langsung melempar tangan Nania yang berada di pundaknya. Dia menjauhkan sedikit tubuhnya dari Nania. Mungkin itu bisa di lakukan untuk membuat Aurille dan Nania sedang menjaga jarak.
"Apa kabar?" Sapa Nania penuh harap.
__ADS_1
"Tidak harus tahu kabar aku. Kabar aku tidak penting untuk kamu." Jawab Aurille dengan ketus sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Apa salah aku. Kamu marah kepadaku gara-gara apa?" Tanya Nania mengiba.
"Kamu masih tanya salah kamu. Seharusnya kamu tanya pada diri kamu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan kepada aku. Aku berusaha menutupi pernikahan kamu dengan chef Julien's. Tapi kamu tidak pernah bisa menjaga perasaan aku Nania." Bentak Aurille dengan begitu tegas.
Usai begitu marah pada Nania. Aurille yang begitu merasa bersalah, langsung duduk di bangku panjang di depan pintu kamar perawatan. Dia menangis, menunduk. Mungkin dia menyesali perkataan dari dirinya sendiri pada seorang Nania. Mungkin itu yang dia sesali, sehingga apa yang dia ucapkan pada Nania sangat tidak wajar.
Nania sendiri seketika menangis mendengar ucapan dari Aurille. Sahabat yang selama ini Nania begitu sayangi itu. Membentak Nania dengan begitu kerasnya. Nania tidak menyangka, Aurille akan membentaknya dengan begitu kasar.
"Aku benar-benar tidak tahu penyebab amarahmu itu karena apa, aku benar-benar tidak tahu Aurille." Ucap Nania berlutut di hadapan Aurille.
Nania menggelengkan kepalanya.
"Tempo hari aku melihat kamu begitu mesra dengan Alex di kedai es krim. Itu jadi hari paling buruk dalam hidup aku, melihat sahabat aku sendiri. Berusaha untuk merebut orang yang aku sukai. Aku masih bertanya, kenapa Nania. Kamu seharusnya tahu itu." Ucap Aurille dengan nada tinggi.
Tanpa di sadari oleh Nania dan Aurille. Pertengkaran antara Aurille dengan Nania, juga di saksikan oleh Julien's. Tak jauh dari kamar perawatan tempat Aurille berada. Julien's sedari tadi menguping semua pembicaraan dari Aurille dan Nania.
__ADS_1
Julien's begitu terkejut dengan semua ucapan dari Aurille. Terutama perihal Nania yang tertangkap basah oleh Aurille jalan bersama Alex di kedai es krim. Nania tidak pernah mengatakan itu pada Julien's. Hingga Julien's sendiri tidak pernah tahu akan hal tersebut. Julien's begitu terpukul dengan semua itu. Hingga dia langsung menampakkan wajahnya di hadapan Aurille dan Nania yang sama-sama menangis.
"Apakah itu benar Nania, apakah semua yang diucapkan oleh Aurille itu benar?" Tanya Julien's dengan begitu tegasnya.
Nania langsung terkejut dengan kedatangan dari seorang Julien's. Dia semakin merasa bersalah dengan kedatangan Julien's yang pada akhirnya tahu semua dengan apa yang terjadi pada dirinya dengan Alex tempo hari itu.
Nania mencoba menghampiri Julien's untuk menjelaskan semuanya. Menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya dan Alex. Tapi Julien's yang kadung kecewa pada Nania, turut marah juga. Dia kecewa pada Nania yang justru menggunakan kesempatan di rumah ibunya untuk bermesraan dengan Alex.
"Aku pikir kamu tidak akan tergoda pada Alex sedikit pun. Aku pikir itu akan terjadi. Tapi ternyata kamu bukan perempuan baik-baik. Kamu justru malah menggunakan kesempatan itu untuk berduaan dengan Alex." Amuk Julien's.
"Aku bisa jelaskan semuanya sayang, aku bisa jelaskan semua yang terjadi. Ini hanya salah paham saja. Kamu harus tahu, ini semua tidak benar. Semuanya hanya salah paham semata. Tidak ada kedekatan aku dengan Alex. Hanya salah paham saja." Nania mencoba menjelaskan pada Julien's.
Julien's yang sudah cukup kecewa pada Nania. Memilih untuk pergi, dia tak ingin lagi berbicara terlalu jauh dengan Nania. Semuanya sudah cukup jelas. Apa yang diucapkan Aurille menjadi bukti nyata, jika Nania tidak mampu menjaga kesetiaan cintanya pada Julien's. Hingga Nania memilih untuk bermesraan dengan Alex. Padahal Julien's selalu berpesan akan ancaman dari Alex pada rumah tangga mereka.
Nania benar-benar di posisi yang sulit. Tidak ada yang mempercayai dirinya lagi. Semua yang Aurille lihat akan Nania dan Alex tempo hari itu, benar-benar menjadi sebuah fakta bagi Aurille. Padahal dirinya belum menemukan kejelasan dari apa yang dia lihat dalam sekejap. Hingga menjadi fakta yang Aurille begitu percaya.
Aurille yang tak ingin berbicara pada Nania lagi. Turut meninggalkan Nania di depan kamar perawatan itu. Sementara Nania yang baru saja selesai menangis. Kembali harus menangis lagi. Dia tak tahu harus bercerita kepada siapa lagi. Mengingat Aurille sebagai sahabat Nania sendiri, sudah tidak mempercayai dirinya lagi. Begitu juga dengan Julien's yang begitu marah besar pada Nania. Mungkin satu-satunya orang yang masih bisa Nania ajak bercerita adalah ibunya sendiri. Mengingat ibunya tentu akan lebih percaya pada Nania, di banding dengan Aurille dan Julien's.
__ADS_1
Dengan segera Nania pergi dari rumah sakit untuk bertemu dengan ibunya. Ibu Nania sendiri tinggal di Brest yang berbeda kota dengan rumah Julien's yang berada di kota Nice. Tentu perjalanan jauh akan di tempuh Nania untuk sampai di rumah ibunya.