SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEPULANGAN IBU JULIEN'S


__ADS_3

Tak ada waktu bermesraan bersama Nania. Rasanya seperti sebuah masakan yang Julien's buat tanpa garam. Sehambar itu dua hari terakhir. Ibunya memaksa Julien's harus menjaga jarak dengan Nania.


Desas-desus kepulangan dari ibunya di hari ini menjadi kabar yang begitu membahagiakan untuk Julien's. Dia bersemangat ketika ibunya menyampaikan keinginannya untuk pulang ke rumah di kala sarapan pagi.


Julien's yang tak ingin menampakkan kebahagiaan dia atas kepulangan ibunya. Berlagak menahan kepulangan ibunya. Dia berpura-pura menawarkan satu hari lagi untuk ibunya tetap di rumahnya. Walaupun itu hanya pura-pura saja. Namun tetap ibunya akan pulang di hari ini.


Pesannya hampir sama, Ibu Julien's meminta Julien's untuk lebih peduli lagi kepada anak dan istrinya. Dia berpesan untuk tidak menyakiti perasaan Beatrice. Sebab jika dia melakukannya, sama dengan melukai perasaan ibunya. Dikalimat itu Julien's sempat merenung. Namun nasi telah jadi bubur, semua sudah terjadi. Mau tidak mau semua harus dijalani.


Berangkat bareng dengan Julien's. Ibunya memeluk erat Beatrice. Dia mendoakan kesembuhan Beatrice. Dipelukan Beatrice, ibu Julien's meneteskan air mata. Dia begitu bersedih dengan kondisi kesehatan Beatrice. Marrie juga memeluk neneknya. Dihatinya Marrie ingin bicara apa yang sebenarnya terjadi. Namun Marrie tak ingin melukai perasaan ayahnya. Sehingga dia hanya meneteskan air mata tak kala dipelukan neneknya. Setelah berpamitan pada semuanya, ibu Julien's masuk kedalam mobilnya. Kemudian disusul oleh Julien's yang duduk disampingnya. Semua melambaikan tangan, kemudian mengucapkan kalimat hati-hati pada ibu Julien's tak kala mobil mulai berjalan.


Disela-sela gorden rumah, Nania mengintip kemesraan Beatrice dengan mertuanya itu. Dia hanya bisa merasakan betapa bahagianya Beatrice dengan doa yang diberikan mertuanya.


Mengetahui Nania berada di sela-sela gorden. Beatrice dengan wajah yang sedikit kesal menghampiri Nania.


"Lagi ngapain kamu di situ?" Tanya Beatrice.


Nania yang tertangkap basah mengintip kemesraan Beatrice. Bingung untuk menjawab pertanyaan dari Beatrice tersebut.


"Pasti kamu iri dengan saya yang begitu di cintai oleh mertua saya." Ejek Beatrice.


Nania tertunduk.


Tiba-tiba Marrie masuk, dan melihat ibunya sedang melakukan interogasi terhadap Nania. Dia yang 2 hari ini tak bersikap kasar pada Nania. Turut memaki Nania.


"Kenapa ma?" Tanya Marrie.


"Dia gak senang melihat keluarga kita bahagia dan mendapatkan cinta dari nenek." Jawab Beatrice dengan tatapan wajah tajam.


"Emang kurang ajar perempuan satu ini. Udah rebut ayah dari kita. Sekarang iri dan mau rebut nenek dari kita juga. Dasar perempuan jahat kamu." Maki Marrie.


"Aku gak ada niat buat lakuin itu semua." Bantah Nania.


"Enggak itu sekarang, tapi nanti. Pasti kamu lakuin itu." Tegas Marrie dengan nada tinggi.


"Sumpah aku gak ada niatan buat lakuin itu. Aku bahagia melihat kalian bisa dapat kasih sayang dari ibu Julien's." Bantah Nania kembali.


Marrie yang semakin emosi mencoba menjambak rambut Nania. Namun ibunya langsung melerainya.


"Jangan lakuin itu. Kita tunggu saja karma untuk perempuan jahat ini." Tegas Beatrice.


"Tapi bu, rasanya aku ingin sekali menjambak perempuan jahat ini. Biar dia merasakan sakit yang kita rasakan." Ucap Marrie berapi-api.


Beatrice mencoba meredam amarah Marrie. Kemudian mengajak Marrie untuk masuk ke kamarnya. Sementara Nania kembali harus menahan tangis dengan ucapan kotor dari Marrie tersebut.

__ADS_1


Tak ingin bersedih dan terus menerus ribut dengan Marrie dan Beatrice. Nania menerima tawaran dari Julien's untuk makan siang bersama. Tentunya bukan di restoran milik Julien's.


Datang lebih awal, Nania memesan meja terlebih dahulu untuk makan siang bersama Julien's. Dia nampak kembali ceria ketika melakukan video call dengan Julien's yang akan segera bergegas menuju restoran yang akan jadi tempat makan siang mereka berdua.


Tak butuh waktu lama menunggu. Julien's yang datang dengan setelan kaos berwarna hitam dan Jeans berwarna biru. Membuat kebahagiaan Nania semakin terpancar. Dia begitu bahagia dengan kedatangan dari Julien's.


Nania langsung memeluk Julien's dengan begitu eratnya. kurang dari 30 detik dia mendekap suaminya tersebut. 2 hari tak bermesraan, begitu membuat Nania rindu memeluk suaminya tersebut.


Sebuah kecupan di kening Nania, semakin membuat Nania bahagia. Dia nampak begitu bahagia.


Nania juga tak melepaskan tangan Julien's yang tergeletak diatas meja. Sambil menatap wajah tampan Julien's. Nania betah menggenggam tangan Julien's.


Tangan kanan Julien's yang di genggam oleh Nania. Membuat Julien's harus menggunakan tangan kirinya untuk memanggil seorang pelayan.


Pelayan itu langsung gagal fokus ketika melihat tangan Nania menggenggam tangan Julien's begitu eratnya. Sebelum akhirnya dia menanyakan menu makan siang yang akan dipesan oleh Julien's dan Nania.


"Sayang, kamu mau pesan apa?" Tanya Julien's pada Nania.


Nania yang mulai sadar ketika pelayan itu memperhatikan kebucinan Nania pada Julien's. Seketika langsung melepaskan genggaman tangan Julien's.


"Sama kayak kamu aja." Jawab Nania sedikit gugup.


Julien's hanya memesan dua buah Risotto serta dua cangkir Cafucinno untuk dirinya dan Nania. Kemudian pelayan itu mencatat pesanan Julien's. Dia menawarkan menu lain. Namun Julien's tetap hanya memesan menu itu untuk dirinya dan Nania.


Julien's meminta Nania untuk bersabar. Sebab dia yakin suatu saat nanti Beatrice akan berubah dan menerima sepenuhnya kehadiran Nania. Walaupun waktu pastinya belum tahu kapan. Namun Julien's meyakini Beatrice akan menerima kehadiran Nania sepenuhnya. Nania menerima semua masukan Julien's.


Begitu makanan mereka sampai. Julien's meminta Nania untuk segera menyantapnya. Kemudian dengan lahap, Nania menyantap makanan tersebut. Sehingga tanpa dia sadari, makanan yang dia santap berceceran ke pinggir bibirnya. Julien's yang tak begitu nafsu makan. Langsung membersihkan kotoran yang menempel di pinggir mulut Nania. Dengan tatapan wajah yang penuh kasih sayang.


45 menit makan siang bersama Nania. Julien's kembali ke restoran miliknya. Nania yang masih ingin bersamanya, seolah tak rela melepaskan Julien's untuk pergi. Tangannya memegang erat tangan Julien's. Dia juga menggoda Julien's dengan gesture bibir seksi yang biasa dia gunakan untuk merangsang Julien's. Dia menggigit bibirnya, kemudian sedikit memainkannya.


Julien's tertawa, dia berusaha untuk menahan godaan dari Nania. Walaupun dia tak memungkiri, seksinya bibir Nania yang membuat dia seketika terangsang. Namun dia harus melanjutkan pekerjaannya di restoran.


Sebuah kecupan di pipi kiri Nania Julien's berikan. Dia juga memberikan kalimat godaan pada Nania yang membuat Nania semakin liar. Julien's berbisik ditelinga Nania. Dia akan membuat Nania melayang di malam nanti. Mengingat 2 hari sebelumnya, mereka tidak melakukannya. Nania tersenyum mendengar ucapan Julien's tersebut. Walaupun Julien's tetap harus pergi meninggalkannya.


Tak lama setelah Julien's meninggalkan restoran. Nania juga segera bergegas kembali ke rumah. Namun dia menjemput Theo terlebih dahulu.


Diperjalanan pulang, Theo yang meminta untuk membeli mainan. Sehingga Nania harus singgah terlebih dahulu di sebuah toko mainan. Theo dan Nania membeli sebuah robot yang akan dia mainkan bersama Romeo. Setelah itu mereka langsung bergegas pulang.


Theo menenteng mainannya tersebut kedalam rumah. Romeo yang melihat mainan yang berada di tangan Theo, berusaha merebut mainan tersebut. Namun Theo yang enggan memberikan mainan tersebut pada Romeo berusaha mempertahankan mainannya. Nania berusaha melerai. Namun Romeo justru menangis kencang.


Tangisan Romeo terdengar oleh Beatrice. Dia langsung menghampiri Romeo. Kemudian membentak Romeo untuk tidak menangis lagi. Beatrice mengalami perubahan sikap setelah sakit menyerangnya.


Tak hanya memarahi Romeo, Nania juga menjadi sasaran amukan dari Beatrice. Dia merebut mainan itu dari Theo. Kemudian dengan keras membanting mainan itu dihadapan Nania. Beatrice memaki Nania dengan perkataan kasar. Dia meminta Nania untuk tidak membeli apapun yang bisa memancing keributan kedua anaknya.

__ADS_1


Dari amukan Beatrice, akhirnya Nania semakin sadar. Kenapa Julien's mengajaknya untuk menikah. Beatrice berubah, perubahan yang mungkin akan berdampak pada anak-anaknya. Dia memarahi anaknya sekasar itu. Sehingga dia layak untuk Julien's mencari pengganti untuk Beatrice.


"Aku tahu salah, tapi mbak jangan sekali-kali membentak anak kecil seperti itu. Dia gak salah, kenapa harus dimarahi." Tegas Nania.


"Dia anak saya, jadi saya berhak memarahi dia seperti apapun." Bantah Beatrice dengan nada tinggi.


"Tapi dia mereka gak layak untuk dimarahi." Nania dengan nada tinggi.


Emosi mendengar ucapan Nania. Beatrice langsung menampar sekeras mungkin pipi Nania.


"Dasar perempuan gak tahu diri, udah kamu rebut suami saya. Kamu mau ajarin saya lagi." Amuk Beatrice.


Nania yang tak mau meladeni Beatrice. Langsung pergi ke kamarnya. Sementara Romeo dan Theo diantar oleh pembantu Julien's menuju kamar mereka.


Beatrice mencoba memulihkan kembali emosinya. Dia berusaha membuat dirinya tenang kembali. Namun emosi yang memuncak, membuat pusing kembali menyerang. Dia dengan sempoyongan berjalan menuju kamarnya.


Tak hanya pipinya yang sakit dengan tamparan dari Beatrice. Namun ucapan Beatrice yang terus-menerus menghinanya, membuat Nania semakin sakit hati pada Beatrice. Namun dia berusaha menahannya. Sebab dia mencintai Julien's dan anak-anaknya.


Kembali normal, baik Beatrice maupun Nania membuat situasi seakan tidak terjadi apapun. Sedikit luka lebam bekas tamparan dari Beatrice Nania sembunyikan dibalik rambutnya. Sehingga Julien's tidak tahu ada keributan diantara Beatrice dan Nania.


Nania menyambut kepulangan Julien's dengan memeluknya. Kemudian dibalas Julien's dengan ciuman di kening Nania. Sedangkan Beatrice yang sudah lama tak pernah menyambut kepulangan Julien's. Hanya menyaksikan keromantisan Julien's dan Nania dari jendela kamarnya.


Julien's dan Nania bergegas ke kamar Nania. Dengan penuh perhatian Nania membawakan Julien's handuk untuk mandi. Tak lupa baju tidur untuk Julien's telah Nania siapkan. Dia benar-benar jadi istri yang sempurna untuk Julien's.


Nania juga menemani Julien's makan malam. Dia bahkan menyiapkan makan malam khusus untuk suaminya. Walaupun itu masakan dari pembantunya. Namun penyajian yang Nania lakukan. Membuat Julien's semakin merasa seperti seorang raja.


Waktu istirahat tiba. Sebelum pukul 12 yang menjadi waktu keramat untuk Nania dan Julien's. Keduanya mereka habiskan untuk bermesraan didalam kamar. Dengan menyandarkan kepalanya diatas dada bidang milik Julien's. Nania mencoba menggoda Julien's.


"Rasanya begitu sepi 2 hari yang lalu tanpa pelukan dan ciuman dari kamu. Semua tubuh ini terasa kaku." Rayu Nania sambil memainkan tangannya dibawah pusar Julien's.


Julien's tertawa kecil. Kemudian merespon liar godaan dari Nania tersebut.


"Apakah ciuman ku ini sebuah obat yang bisa membuat tubuh mu menjadi normal kembali?" Goda Julien's.


Nania hanya menatap Julien's dengan pandangan menggoda.


Julien's terbangun dari posisinya. Kemudian memangku tubuh Nania. Keduanya saling berhadapan.


"Kamu ingin sembuh?" Tanya Julien's menatap liar Nania.


Nania menganggukan kepala sambil menggigit bibirnya.


Tanpa basa-basi, Julien's langsung melancarkan aksinya. Keduanya bak pasangan muda yang dimabuk cinta. Kamar itu hanya terisi suara ******* Nania yang begitu merasakan sentuhan cinta dari Julien's.

__ADS_1


__ADS_2