SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
PEMECATAN TERHADAP HUBERT DAN LOUISE


__ADS_3

Serangan demi Serangan mulai mengancam eksistensi restoran milik Julien's. Semakin diperparah dengan kabar bohong yang dibuat oleh beberapa media akan Julien's yang mencoba menutupi keburukan yang ada di restorannya. Dimana Julien's memperlakukan karyawan secara tidak adil. Dia juga melanggar hukum yang dibuat oleh dirinya sendiri. Seharusnya Hubert dan Louise telah dipecat secara tidak hormat dari restoran milik Julien's.


Beberapa media sengaja dibayar oleh Nick untuk membuat berita bohong akan restoran Julien's. Nick juga membayar beberapa media lokal untuk terus menyorot insiden keracunan yang terjadi di restoran milik Julien's. Sehingga berita itu membuat gempar seluruh kota.


Melihat makin masive pemberitaan media akan citra restoran Julien's. Langkah cepat diambil oleh Alex yang memiliki 30% saham di perusahaan. Alex menemui Julien's di rumahnya. Dia meminta Julien's untuk berlaku adil. Dimana Julien's harus segera memecat Louise dan Hubert dari restoran mereka. Sebab berkat kecerobohan dari keduanya, citra restoran Julien's terancam hancur.


Julien's awalnya bersikeras untuk tetap mempertahankan Hubert dan Louise yang telah dia anggap saudara sendiri. Tetapi desakan dari dua investor lainnya. Terpaksa membuat Julien's selaku pemilik mayoritas perusahaan mengambil tindakan tegas pemecatan terhadap Hubert dan Louise.


Surat peringatan ketiga alias SP3 sudah dibuat oleh Julien's. Dia juga telah menandatangani surat tersebut sebagai persetujuan pemecatan dari Hubert dan Louise. Esok hari Julien's hanya tinggal memanggil Hubert dan Louise menghadapnya. Kedua akan diberikan surat peringatan ketiga atau pemecatan dari tempat mereka berdua bekerja.

__ADS_1


Walaupun keputusan yang diambil telah final. Julien's tetap tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan dia, kala memberikan surat pemecatan terhadap kedua teman seperjuangannya. Akan tumpah berapa banyak air mata Julien's untuk menangisi kepergian dua orang yang paling penting dalam kesuksesan restoran Julien's.


Bukan di balkon rumah seperti biasanya dia mencurahkan perasaannya. Kini Julien's memilih menenangkan diri menatap kolam renang di rumahnya. Tanpa alas, Julien's duduk diatas lantai keramik di kolam renang rumahnya.


Tatapan Julien's kosong, seperti segelas wine yang telah dia teguk secara brutal. Hanya tersisa tetesan wine yang mengisi gelas itu. Dengan keadaan Julien's yang sedikit mabuk.


Nania menghampiri Julien's. Dia duduk disamping Julien's. Menaruh kepala Julien's yang terasa berat dengan banyaknya masalah yang dihadapi. Nania mengelus lembut wajah Julien's yang basah dibanjiri air mata Julien's.


"Aku bodoh... Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku bisa mengecek semua kondisi barang. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Tetapi karena aku bodoh. Maka aku yang harus menanggung semuanya." Julien's menyalahkan dirinya sendiri dengan suara rintihan.

__ADS_1


"No Julien's... Ini bukan semuanya kesalahan kamu. Tapi ini takdir yang harus kamu terima. Jadi jangan pernah menyalahkan diri kamu seperti itu." Pinta Nania.


Julien's tak bersuara. Dia hanya dengan nyaman terus menyandarkan kepalanya dipundak Nania. Dengan hembusan angin yang semakin kencang menembus lapisan pakaian yang dikenakan oleh keduanya.


Pagi menyakitkan untuk Julien's tiba. Dimana hari ini dia terpaksa harus melayangkan dua buah surat pemecatan terhadap Louise dan Hubert.


Julien's memanggil Louise dan Hubert ke meja kerjanya. Kedua duduk saling berhadapan dengan Julien's. Baik Hubert maupun Louise sudah mengetahui hari ini adalah hari pemecatan untuk keduanya. Hingga raut putus asa nampak di wajah keduanya.


"Hubert, Louise.." Ucap Julien's bergetar.

__ADS_1


Hubert dan Louise hanya menatap wajah Julien's dengan tatapan putus asa.


__ADS_2