SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
UPAYA PERMINTAAN MAAF NANIA


__ADS_3

Daun berjatuhan menimpa tanah. Sebagian berterbangan entah kemana ditiup angin menuju tempat yang tak terarah. Dedaunan menutupi lempengan tanah yang permukaannya mulai mengering ditimpa sinar matahari pagi.


Kuatnya hembusan angin juga menerbangkan daun-daun kering yang sudah berdamai dengan tanah untuk menjadi kompos. Daun-daun itu bertebaran meninggalkan microorganisme yang telah menjadi temannya dalam proses pembentukan kompos.


Nania dengan segelas kopi pahit di pagi hari ini menjadi saksi bagaimana daun-daun itu menari-nari mengikuti hembusan angin. Dibalkon rumahnya, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana daun itu menari melintasi kedua matanya. Sebelum jatuh ketanah bersama daun-daun lainnya.


Biasanya Julien's menemani Nania melihat dedaunan yang berjatuhan diatas balkon. Tetapi amarah Julien's masih belum reda. Hingga dia enggan menemani Nania untuk melihat bagaimana daun itu berjatuhan dengan indahnya ditiup hembusan angin.


Tanpa Julien's disampingnya seperti hari-hari lalu. Nampak membuat Nania sedikit kesepian. Dimana tak ada orang yang Nania bisa ajak mengobrol atau sekedar bergurau. Hingga suasana balkon nampak sunyi bak kuburan.


Beberapa lagu yang Nania putar coba dijadikan temannya menghibur diri. Tetapi hanya alunan lagu yang terdengar bising. Kesepian yang Nania rasakan tetap menepi dihatinya. Kesepian yang perlahan membuatnya menjadi jenuh tetap melanda hati.


Nania juga mencoba menjelajahi semua sosial medianya. Tetapi tak satu pun yang membuatnya terhibur. Dia tetap kesepian dengan suasana pagi tanpa Julien's. Dia duduk kembali di bangku. Kembali meminum kopinya. Pahit. Selaras dengan kepahitan dalam hatinya yang berjuang sendirian menepi dari kenyataan pagi tanpa Julien's.


Julien's memilih memasak untuk sarapan pagi, dibanding bersama Nania diatas balkon. Dia yang masih kecewa pada Nania akan kedekatan Nania dengan Alex, membuat Julien's memilih untuk diam. Sehingga Nania diliputi perasaan bersalah yang teramat dalam.


Julien's yang tengah fokus memasak sarapan sehat untuk Beatrice. Sedikit terganggu ketika Nania menghampirinya untuk menaruh gelas sisa minum kopi. Nania yang penasaran dengan masakan yang dibuat Julien's, mendekati Julien's.


"Kamu masak apa?" Tanya Nania.


Julien's memilih diam, sambil terus mengaduk masakan yang dia buat.


"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Nania kembali.


Julien's tetap tak bersuara. Dia lebih memilih untuk terus fokus pada masakan yang dibuat.


Nania terus mengikuti Julien's yang mulai menaruh masakan yang dibuat keatas mangkuk besar. Dia terus meminta Julien's menjawab pertanyaannya darinya. Hingga akhirnya Julien's bersuara dengan nada tinggi. Usai jengah dengan pertanyaan yang terus-menerus dilontarkan oleh Nania ditelinganya.


"Iya aku marah! Kamu gak menghargai aku sebagai suami kamu. Aku sakit Nania. Sakit... Melihat kamu selalu bermesraan dengan Alex!"


Wajah Nania memerah. Perlahan air matanya berurai membasahi seluruh wajahnya. Julien's yang tak tega melihat Nania menangis usai dia bentak. Langsung memeluk Nania yang akhirnya benar-benar menangis.


"Aku cemburu Nania. Aku benar-benar cemburu dengan kedekatan kamu dengan Alex. Aku gak mau kehilangan kamu." Ucap Julien's yang mulai menangis juga.


"Maafin aku Julien's. Aku janji gak bakal buat kamu cemburu lagi. Aku akan menjauhi Alex hari ini dan seterusnya. Aku janji sama kamu Julien's." Janji Nania.


Beatrice yang ingin mengambil minum di dapur. Melihat momen hari dari Julien's dan Nania yang begitu dekat. Seketika rasa cemburu menggoyahkan perasaan dan fisiknya. Gelas yang ia genggam erat, terjatuh dari tangannya. Seketika gelas itu pecah usai mencium lantai.


Suara pecahan yang terdengar ke telinga Julien's dan Nania. Langsung membuat keduanya terkejut. Mereka melepaskan pelukan masing-masing. Kemudian menatap kearah Beatrice yang akhirnya kabur meninggalkan dapur dengan pecahan gelas yang berserakan.


Beatrice mengurung diri didalam kamarnya. Dengan berderai air mata, dia menangisi perasaannya pada Julien's. Perasaan cinta yang tak pernah mati yang perlahan berubah menjadi rasa cemburu yang mengoyak hatinya.


"Jika aku diberikan keinginan, aku hanya ingin membunuh rasa cinta ini. Aku tak ingin terjebak dalam rasa cinta yang akhirnya berubah menjadi rasa cemburu. Hingga mengoyak hati. Tuhan aku ingin melepaskan dia untuk orang lain. Tapi sulitnya rasa untuk ku lakukan itu. Sebab cinta dan sayang ini hampir sama dengan yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ketika cintanya sama dengan rasa cintaku." Ungkapan hati Beatrice.


Baik Nania maupun Julien's sama-sama bingung. Apa yang harus dilakukan untuk menenangkan Beatrice. Mereka saling cinta, tapi mereka juga iba dengan Beatrice. Hingga mereka hanya menyaksikan kesedihan Beatrice, tanpa memiliki sebuah solusi.


Pecahan gelas yang masih berserakan diatas lantai. Tanpa sengaja terinjak oleh Theo yang ingin mengambil minum di dapur. Theo seketika menangis kesakitan begitu menginjak pecahan gelas tersebut.


Nania membawa Theo keatas sofa untuk mengobati kakinya yang terkena pecahan gelas. Sedangkan Julien's merapikan pecahan gelas tersebut untuk menghindari kejadian serupa terjadi pada yang lain.

__ADS_1


Tangisan dari Theo terdengar hingga ke telinga Alex. Dia langsung menghampiri Theo yang terus menangis, menahan rasa sakit yang ada di telapak kakinya. Sementara Nania mengambil peralatan P3K yang ada di rumah Julien's.


Alex langsung turun tangan untuk mengobati luka Theo dengan peralatan P3K yang dibawa oleh Nania. Sementara Nania memilih untuk menjaga jarak dengan Alex demi menghindari kecemburuan dari Julien's.


Sikap Nania yang dingin dan menjaga jarak darinya. Menimbulkan keheranan dalam diri Alex. Terlebih ketika Nania membantu Alex mengobati Theo, dia begitu menjaga jarak dengan Alex.


Selesai dengan kaki Theo. Giliran Alex mencoba mengobati kerinduan dirinya dengan Nania. Alex menahan Nania untuk tidak pergi dari tempat Theo berbaring. Dia mengajak Nania untuk mengobrol sebentar.


Untung Julien's datang. Dia langsung membawa kabar Romeo yang terbangun meminta minum susu. Sehingga Nania harus segera membuat sebotol susu untuk Romeo. Alex tak bisa menahan Nania, sebab Romeo adalah prioritas dari Nania.


Alex mencoba mengikuti Nania, tetapi Julien's langsung menahan Alex. Dengan alibi membeli obat untuk Beatrice. Julien's meminta Alex untuk membelikan Beatrice obat yang harus dikonsumsi olehnya.


Sempat menolak, tetapi paksaan dari Julien's. Akhirnya membuat Alex mau untuk membelikan Beatrice obat. Dia dengan mobilnya bergegas menuju apotek yang sebenarnya tak jauh dari rumah Julien's.


Mendapat kesempatan untuk berduaan bersama Nania. Julien's langsung menghampiri Nania di kamar Romeo. Nania yang coba kembali menidurkan Romeo dengan botol susu yang menggantung di mulutnya. Nania dengan penuh perhatian mengelus lembut punggung Romeo. Sedikit nyanyian lembut yang semakin membuat Romeo tidur dengan lelapnya.


Julien's menatap dari depan pintu kamar Romeo. Dia tersenyum melihat kasih sayang tulus yang diberikan Nania pada anak bungsunya tersebut. Julien merasa bersyukur memiliki istri seperti Nania, walaupun Nania hanya istri keduanya.


Cukup untuknya melihat bagaimana Nania memberikan kasih sayang yang penuh pada anak-anaknya. Julien's memilih untuk mulai menata masakan yang dia buat diatas meja makan. Satu persatu masakannya ditata dengan begitu rapinya. Kemudian Julien's mulai memanggil satu persatu anggota keluarga untuk sarapan bersama.


Dimulai dari Theo, Marrie lalu Beatrice. Terakhir Julien's yang bergandengan dengan Nania langsung membuat Beatrice cemburu. Dia memilih mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap kearah Julien's dan Nania yang berjalan dengan bergandengan dengan begitu mesranya.


Ketika semuanya telah berada ditempat duduk masing-masing. Alex yang masih mengenakan sweater dan menjinjing sebuah paper bag yang berisikan obat untuk Beatrice. Langsung duduk disamping Nania.


"Ganti pakaian kamu dulu." Pinta Julien's pada Alex.


"Cepat ganti, baru kamu boleh duduk disitu." Tegas Julien's.


Perintah tegas Julien's akhirnya membuat Alex luluh. Dia mengganti pakaiannya, sekaligus menaruh obat milik Beatrice di kamar Beatrice.


Tak ingin melihat Alex duduk berdampingan dengan Nania. Julien's meminta Marrie menukar tempat duduknya dengan Nania. Sempat menolak, tetapi perintah Julien's yang disertai ancaman. Terpaksa membuat Marrie menukar tempat duduknya dengan Nania. Kini Marrie berada ditengah-tengah kursi kosong milik Romeo dan kursi kosong milik Alex. Sementara Nania duduk ditengah-tengah kursi Beatrice dan Theo.


"Kenapa harus pindah tempat duduk, kamu cemburu perempuan ini dekat adik kamu sendiri?" Tanya Beatrice.


"Bukan urusan kamu!" Tegas Julien's.


Beatrice terdiam dengan sedikit menahan emosi mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Julien's.


Alex kembali dengan sebuah kaos berwarna hijau dan celana pendek berwarna krem. Dia menarik tempat duduknya. Kemudian duduk di tempat yang biasa dia tempati. Tetapi begitu menoreh kearah kiri. Alex terkejut. Bukan Nania yang duduk disampingnya, melainkan Marrie.


"Nan kenapa kamu duduk disana?" Tanya Alex.


"Kenapa? Biarkan dia mau duduk dimana pun itu urusan dia." Jawab Julien's.


"Tapi kak, aku ingin duduk disamping Nania. Mbak Beatrice, bolehkan kita tukaran tempat duduk?" Pinta Alex.


"Enggak boleh. Sekali gak tetap gak boleh." Tegas Julien's dengan nada tinggi.


"Tapi kak aku ingin tetap duduk disamping Nania." Bantah Alex.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu gak usah sarapan disini. Kamu sarapan diluar saja." Ucap Julien's semakin tegas.


"Ok. Aku mending sarapan diluar saja." Alex memukul meja.


Semuanya terdiam.


"Nan ayo kita sarapan diluar." Ajak Alex.


Nania menatap wajah Julien's. Kemudian perlahan mengarahkan kedua bola matanya menuju wajah Alex yang nampak marah.


"Maaf Alex, aku gak bisa ikut dengan kamu. Aku ingin sarapan disini saja." Jawab Nania dengan sedikit gugup.


Alex kecewa. Dia membanting kursi tempatnya duduk. Lalu pergi dengan membawa amarah untuk sarapan diluar.


Tak memperdulikan kemarahan Alex. Julien's meminta semuanya untuk melanjutkan sarapan. Dirinya sendiri memimpin doa makan.


Kehangatan didalam ruang makan di rumah Julien's, berbanding terbalik dengan kemarahan yang dirasakan oleh Alex. Dengan penuh amarah, Alex memacu mobilnya dengan kecepatan super tinggi. Entah kemana dia membawa mobilnya tersebut. Tetapi dia memacunya dengan kencang. Umpatan kasar puluhan kali keluar dari mulut Alex untuk meluapkan kemarahannya.


Akhirnya Alex menepikan mobilnya disebuah restoran cepat saji yang membuka gerai selama 24 jam. Dia makan di restoran tersebut dengan memesan ayam goreng dan kentang. Segelas teh hangat menjadi pilihan minuman yang dipesan oleh Alex. Hatinya yang membara selaras dengan panasnya ayam goreng yang dia pesan. Hingga suasananya begitu cocok dengan keadaan Alex saat ini.


Didalam hatinya juga terbesit pikiran akan Julien's yang sengaja diminta oleh ibunya untuk menjauhkan Nania dengan dirinya. Mengingat ibunya adalah orang yang menentang kedekatan Alex dengan Nania. Hingga mungkin Julien's berkerjasama dengan ibunya untuk menjauhkan Nania dari Alex.


Hancurnya suasana hati dari Alex akibat ulah Julien's yang menjauhkan Nania darinya. Semakin berantakan tak berbentuk. Anne yang tanpa sengaja melimpir ke restoran cepat saji itu juga. Langsung menghampiri Alex. Dia memeluk Alex dari belakang untuk meluapkan rasa rindunya.


Tetapi Alex yang amat tak nyaman dengan pelukan yang diberikan Anne, seketika membanting tubuh Anne. Anne terjatuh ke lantai dengan sedikit luka lebam di bagian tangan kanan. Tetapi Alex tak peduli, dia lebih memilih untuk beranjak dari kursinya menuju kasir. Dia membayar makanan yang dipesan. Lalu Alex pergi dengan wajah penuh amarah.


Anne mengeram kesakitan yang membuat pengunjung lain iba kepadanya. Mereka secara kolektif menolong Anne yang kesakitan usai dibanting oleh Alex. Sementara sebagian lainnya mengejar Alex yang meminta bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Anne.


Bukannya mengakui, Alex justru memaki orang-orang yang mencoba meminta pertanggungjawaban darinya. Hingga keributan terjadi antara Alex dengan beberapa pengunjung.


Untung Alex tidak babak belur dihakimi oleh para pengunjung. Usai seorang sekuriti yang bertugas langsung melerai keributan yang terjadi. Namun sebagai jaminannya, Alex diminta mengantar Anne pergi ke rumah sakit untuk memeriksa luka lebam yang ada di tangan kanannya.


Sakit yang ada d tangannya tak sebanding dengan kebahagiaan di hati Anne yang kembali bisa memeluk tubuh kekar Alex. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Anne mencoba mendekap tangan Alex yang sedang melajukan mobil. Meskipun Alex begitu tak nyaman dengan apa yang dilakukan Anne padanya.


Suasana kehangatan di rumah Julien's benar-benar tercipta. Dimana Nania kembali mengantar Julien's untuk berangkat kerja hingga kedalam mobilnya. Suasana yang langka terjadi selama Alex masih berada di rumah Julien's. Dimana Nania kesulitan untuk melakukan hal tersebut. Mengingat Alex yang seperti perangko yang selalu menempel dengan Nania.


Senyum manis terlukis indah di wajah Julien's kala Nania membawakan tas ransel yang biasa bibawa oleh Julien's. Sebuah ciuman dikening Nania menjadi bukti cinta yang diberikan Julien's pada Nania. Kebahagiaan dari keduanya benar-benar nampak. Sehingga hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuk keduanya, sejak kedatangan Alex ke rumah Julien's.


Theo yang mengalami sedikit insiden di kaki kanannya. Meminta untuk tidak masuk sekolah pada hari ini. Sehingga Nania tak harus mengantar Theo ke sekolah.


Sebagai gantinya Nania memilih untuk belajar memasak. Dia mempraktekkan beberapa cara masak yang dia tonton di jejaring berbagi video untuk dia aplikasikan sebagai proses pembelajaran untuknya. Dia ingin membuat Julien's semakin jatuh hati padanya.


Didalam ruang perawatan, Anne berusaha memanfaatkan waktu berduaan bersama Alex untuk bermanja-manja. Dia meminta Alex menyuapinya, padahal tangannya masih mampu mengangkat sendok makan. Tetapi demi memanfaatkan kesempatan itu, Anne akhirnya membuat Alex menjadi seperti budaknya yang bisa dia suruh untuk apapun.


Alex nampak kesal, tetapi sikap tempramen yang tanpa kontrol. Akhirnya harus dihukum dengan sebuah hukuman sosial pada Anne. Dia menjadi pembantu Anne selama proses penyembuhan Anne yang diperkirakan selama 3 hari.


Hampir belajar berjam-jam. Tiba bagi Nania untuk mengimplementasikan hasil belajar yang dia lakukan. Dia ingin membuat menu makan malam untuk semuanya. Sehingga dia akan membuat menu makan malam dalam porsi besar.


Diganggu oleh Romeo dan Theo yang mengacaukan bahan masakan Nania.

__ADS_1


__ADS_2