SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
DUKUNGAN DAN CINTA JULIEN'S UNTUK NANIA


__ADS_3

Nania pergi ke kamarnya dengan perasaan yang terluka. Tak hanya fisiknya yang disakiti oleh ibu Alex yang sebenarnya mertuanya sendiri. Tapi hatinya juga seperti diiris olehnya. Perkataan kotor dan makian yang diucapkan pada Nania. Terasa begitu menyesakkan dada. Nania merasa dirinya begitu kotor di mata mertuanya sendiri. Hingga dia mendapat perlakuan yang kasar darinya.


Nania bersandar diatas kasurnya. Membayangkan sebuah karma yang mungkin dirasakan olehnya kini. Sebuah pembalasan dari rasa sakit hati Beatrice akan perbuatan Nania yang telah merebut Julien's dari tangannya. Nania langsung menyambungkan kejadian itu dengan perbuatannya sendiri. Hingga Nania tidak harus menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan atas apa yang terjadi kepada dirinya. Semuanya di kembalikan pada dirinya sendiri.


Nania rasanya tidak ingin berada di situasi yang sulit ini. Situasi yang membuat dirinya begitu dilema. Mungkin jika boleh memilih, Nania tidak ingin menjadi dirinya yang sekarang. Di cap sebagai seorang perempuan murahan, atas perbuatannya yang menerima pinangan Julien's sebagai istri kedua.


Panggilan telepon dari Julien's tak langsung diangkat olehnya. Nania tak mungkin menjawab panggilan telepon dari Julien's itu dengan kondisi dirinya yang sedang bersedih seperti hari ini. Mungkin Nania harus menjeda sejenak, sebelum mengangkat panggilan telepon dari Julien's tersebut.


Satu panggilan dari Julien's terlewatkan begitu saja. Satu panggilan telepon lainnya kembali berdering. Nania kembali membiarkan panggilan telepon dari suaminya tersebut. Nania masih belum bisa berbicara pada Julien's dengan keadaan dirinya yang serba payah tersebut. Mungkin Nania harus menguatkan mentalnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya bisa berbicara dengan Julien's.


Kembali panggilan telepon kedua dari Julien's dilewatkan Nania dengan begitu saja. Mungkin beberapa saat lagi Julien's akan meneleponnya, hingga Nania harus segera menghapus semua air mata. Serta suaranya yang mulai sedikit sendu. Sehingga Julien's tak curiga jika Nania baru saja menangis oleh ibunya sendiri.


Benar saja, kurang dari 2 menit. Julien's kembali melakukan panggilan telepon pada Nania. Nania mungkin sudah sedikit membaik, walaupun suaranya tetap masih terisak-isak.


"Hallo Sayang." Sapa Nania memulai pembicaraan.

__ADS_1


Mendengar suara Nania yang seperti seseorang yang menangis. Julien's tiba-tiba panik. Dia merasakan hal yang aneh.


"Aku sepertinya mencium suatu hal yang aneh pada kamu Sayang." Tanya Julien's dengan begitu penasaran.


"Aku baik-baik saja sayang. Tidak ada yang harus kamu khawatirkan." Ucap Nania yang mencoba terdengar biasa saja.


"Kamu pasti habis menangis. Aku yakin ini. Kamu pasti habis menangis. Kamu jangan bohong sayang." Duga Julien's.


"Noooooooo, i'm fine." Nania meyakinkan Alex.


"Tidak ada Sayang. Aku baik-baik saja. Aku tidak bohong." Nania terus meyakinkan Julien's.


"Untuk meyakinkan semuanya. Aku mau kita video call. Aku ingin melihat wajah kamu di layar ponsel." Pinta Julien's.


Mata Nania yang masih sembab tentu tidak dapat di rahasiakan lagi olehnya. Akhirnya Nania pun berkata jujur pada Julien's atas dirinya yang baru saja menangis.

__ADS_1


"Ok aku jujur sama kamu. Aku baru saja menangis. Seperti biasa, ibu kamu memaki aku dengan kata-kata yang kasar. Hingga aku tak kuat untuk menahan semua ucapan kasar yang keluar dari mulut ibu kamu. Aku akhirnya menangis seperti ini." Terang Nania dengan begitu jelasnya.


"Maafin ibu aku Nan. Aku tahu dia pasti akan selalu berpikir negatif pada kamu. Satu hal yang mungkin akan terus dia ulang untuk merendahkan kamu. Aku minta maaf atas perbuatan dari ibu aku Nan." Maaf seorang Julien's yang penuh arti.


"Tidak masalah sayang. Aku sudah maafin ibu kamu. Jadi kamu tidak harus meminta maaf seperti itu. Semuanya sudah aku maafkan." Ucap Nania.


"Apa yang telah ibu katakan sama kamu?" Tanya Julien's dengan begitu penasaran.


"Hanya beberapa kata yang aku rasa kurang pantas untuk diucapkan saja. Ibu kamu mengatakan itu dengan begitu kasarnya. Mengatakan hal itu berulang kali. Itu yang membuat aku begitu sakit." Jawab Nania yang mencoba menahan sakit.


"Baik, nanti aku akan mencoba berbicara pada ibu. Mungkin dia akan mengerti dengan semua yang ada, hingga dia tidak akan lagi berkata kasar pada kamu." Janji Julien's.


"Tapi aku minta, kamu jangan emosi ketika berbicara dengan ibu kamu. Bagaimana juga dia tetap ibu kamu. Dia harus tetap kamu hormati sebagai orangtua. Kamu harus sadari itu." Pinta Nania.


"Baik Sayang. Aku akan ingat selalu permintaan kamu tersebut. Aku tidak akan emosi ketika berbicara dengan ibu. Mungkin aku akan berbicara dengan begitu lembutnya, tapi dengan ketegasan juga." Ucap Julien's.

__ADS_1


__ADS_2