
Hitungan bulan yang di berikan oleh dokter dalam mendiagnosis kematian seorang Beatrice. Benar-benar membuat Beatrice terus terpikir akan kematiannya tersebut. Dia seakan berpikir akan segera meninggalkan dunia ini selamanya. Hingga Beatrice berharap akan segera menemukan sosok perempuan yang bisa menggantikan dirinya untuk menjadi istri resmi seorang Julien's.
Pikiran Beatrice tertuju pada nama seorang Marisa. Perempuan cantik berdarah Prancis-Spanyol itu, menjadi teman baik Beatrice selama menghabiskan musim panas Beatrice ketika berada di Spanyol. Kedekatan itu yang akhirnya membuat Beatrice memilih Marisa untuk di jadikan istri resmi Julien's menggantikan dirinya yang menurutnya akan segera pergi dari dunia ini.
Beatrice terlihat begitu yakin memilih nama seorang Marisa. Marisa yang memiliki usia yang tidak jauh dari dirinya, di rasa paling cocok untuk menggantikan peran Beatrice sebagai ibu bagi ketiga anaknya. Begitu juga istri bagi seorang Julien's.
Sebuah pertemuan kecil sudah di rancang oleh Beatrice dalam menemui seorang Marisa. Pertemuan itu di harapkan akan menjadi pertemuan yang positif yang hasilnya akan membawa sebuah perubahan bagi Beatrice.
Beatrice berharap dengan sangar, Marisa akan menerima tawaran dari seorang Beatrice untuk menikah dengan Julien's. Hingga Beatrice hanya akan merayu Julien's untuk menerima seorang Marisa yang akan menjadi istrinya. Itu hal yang akan mudah bagi Beatrice untuk di lakukan.
Beatrice yang sudah memesan sebuah meja untuk pertemuan dengan Marisa. Segera berangkat menuju kafe yang akan di jadikan tempat pertemuan dirinya dengan Marisa. Beatrice begitu berharap, Marisa akan hadir di pertemuan dengan dirinya tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju kafe, Beatrice kembali teringat umurnya yang sudah tidak lama lagi. Dia berpikir akan kematian yang pasti akan menyakitkan bagi dirinya. Tapi itu adalah pilihan terakhir bagi seorang Beatrice. Hingga Beatrice harus menerima semuanya sebagai konsekuensi hidup.
Setiba di kafe, meja yang di pesan Beatrice masih kosong. Marisa nampaknya belum berada di make tersebut. Mungkin dia masih ada di perjalanan, hingga Beatrice tetap percaya diri akan kedatangan seorang Marisa.
Beatrice akhirnya masuk ke dalam kafe untuk sekedar duduk menunggu kedatangan Marisa. Mungkin segelas capuccino bisa Beatrice pesan. Sehingga keberadaan Beatrice di kafe tersebut, tidak akan membuatnya di pandang sinis oleh pegawai kafe yang ada.
Hujan tiba-tiba turun dengan begitu derasnya. Hampir 30 menit Beatrice menunggu Marisa di kafe tersebut. Dia tidak kunjung mendapat kabar dari Marisa. Padahal Beatrice sudah 3 kali mengubungi Marisa melalui panggilan telepon. Tapi tidak satu pun yang di angkat oleh Marisa. Ada sedikit kekhawatiran dari seorang Beatrice akan Marisa. Dia khawatir Marisa tidak akan menemui dirinya di hari ini. Padahal Beatrice berharap dengan sangat kedatangan dari seorang Marisa di hari ini.
__ADS_1
Hujan yang semakin deras turun, perlahan mengikis rasa percaya dalam dirinya akan kedatangan seorang Marisa. Mungkin Marisa tidak akan datang menemui dirinya. Sehingga Beatrice hanya akan mendapatkan sebuah kekecewaan yang teramati dalam. Apalagi dia sudah sangat yakin akan kedatangan seorang Marisa. Itu yang pada akhirnya akan membuat Beatrice kecewa cukup dalam.
Di tengah rasa kecewa yang perlahan datang menghampiri Beatrice. Perlahan Beatrice mulai kembali semangat, saat dia melihat di parkiran kafe sebuah mobil mewah datang. Beatrice yang mengira itu Marisa, langsung tersenyum dengan kedatangan dari mobil mewah tersebut. Beatrice yakini mobil tersebut adalah milik Marisa. Sehingga Beatrice langsung tersenyum melihat kedatangan dari mobil tersebut.
Senyum Beatrice semakin lebar terlihat, ketika seseorang turun menggunakan payung berwarna putih yang merupakan warna favorit Marisa. Beatrice sudah yakin jika yang datang itu adalah Marisa.
Benar saja dugaan dari seorang Beatrice, ternyata yang datang adalah Marisa. Dia semakin bahagia saat Marisa menghampiri meja tempatnya duduk. Beatrice pun begitu bahagia dengan kedatangan dari seorang Marisa ke meja miliknya tersebut.
Marisa menyapa Beatrice, sebelum akhirnya keduanya melakukannya rutinitas seperti yang biasa di lakukan oleh perempuan ketika bertemu. Melakukan cium pipi kanan dan kiri. Mungkin itu lebih baik untuk membuat keduanya semakin dekat lagi. Sehingga Beatrice dan Marisa yang sudah lama tidak berjumpa bisa semakin dekat lagi dengan apa yang terjadi.
"Aku pikir kamu tidak akan datang." ujar Beatrice dengan wajah sumringah.
"Tidak mungkin aku tidak datang. Aku tidak akan mengecewakan kamu Beatrice." balas Marisa dengan wajah sumringah juga.
Beberapa menu di pesan oleh Marisa. Menu yang memang di sukai oleh Marisa, ada di kafe tersebut. Sehingga Marisa tanpa ragu memesan banyak menu tersebut. Dia tidak takut untuk menghabiskan semua menu yang dia pesan tersebut. Dia yakin, akan menghabiskan setiap menu yang ada. Sehingga Marisa yakin memesan banyak menu untuk dirinya makan.
Satu meja kecil itu pun akhirnya di penuhi oleh makanan dan minuman yang di pesan oleh Marisa. Sementara Beatrice yang harus menjaga makannya. Tidak memesan satu pun makanan. Dia memilih untuk menunggu sampai tiba di rumahnya. Sehingga Beatrice tidak akan melahap makanan yang jelas-jelas tidak sehat untuk tubuhnya.
Beatrice tidak langsung mengutarakan maksud dirinya mengajak Marisa bertemu. Tapi Beatrice menunggu momen yang pas untuk mengatakan semuanya. Mengatakan hal penting yang mungkin saja dia akan segera sampaikan pada seorang Marisa.
__ADS_1
Beatrice sebenernya terlihat gugup dan sedikit ragu untuk mengatakan maksud dan tujuannya. Tapi Beatrice harus mengatakan itu, sebab dengan begitu dia akan bisa tenang. Dia sudah memiliki calon yang mungkin akan di jadikan istri bagi Julien's.
Momen yang di tunggu oleh Beatrice akhirnya tiba. Perlahan Beatrice mulai membuka mulutnya untuk berbicara banyak dengan seorang Marisa yang terlihat begitu lapar.
"Apa kamu sekarang sudah memiliki pasangan baru?" tanya Beatrice.
Marisa yang sedang menyantap makanannya dengan lahap. Sempat terdiam mendengar pertanyaan dari seorang Beatrice. Dia begitu tak menyangka Beatrice akan bertanya hal tersebut.
"Jika sendiri lebih baik, kenapa harus memiliki pasangan. Aku menikah dengan seseorang yang menurut aku begitu kejam. Hingga aku tidak menemukan sosok pria yang sempurna dalam mantan pasanganku. Aku dan anakku hanya menjadi korban saja." jawab Marisa dengan nada lirih.
"Jangan pernah trauma dengan semua itu. Aku pikir kamu harus membuka hati kamu lagi. Sehingga kamu akan menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Aku harap kamu akan segera menemukan pria lain. Dan jika aku boleh sarankan. Aku memiliki seorang pria yang mungkin kamu akan berpikir berbeda dengan pikiran kamu tersebut." ujar Beatrice dengan wajah sumringah.
"Maksud kamu?" tanya Marisa dengan begitu penasaran.
"Umurku tidak akan lama lagi. Semuanya akan berakhir dengan sendirinya. Aku tidak ingin apa yang aku miliki di hari ini. Akan menjadi milik orang-orang yang tidak tepat. Termasuk suamiku sendiri. Aku tidak ingin dia memilih seorang pasangan yang tidak tepat untuknya. Sehingga aku berharap kamu akan menjadi bagian yang akan membuat mimpiku tentang kehidupan yang baik untuk suamiku terjadi. Kamu adalah orang yang cocok untuk dia. Menggantikan sosok aku." ujar Beatrice dengan penuh harap.
Marisa terdiam dengan permintaan dari Beatrice tersebut. Dia tidak yakin dirinya akan mampu untuk menerima semua tawaran yang di berikan oleh Beatrice. Menjadi istri Julien's adalah tugas yang menurut Marisa sangat berat. Julien's adalah seorang chef ternama. Hingga tidak mungkin hidup Julien's tidak akan dalam sorotan media. Itu yang menjadi perhatian dari seorang Marisa.
Marisa takut gagal dalam menjadi istri yang sempurna untuk Julien's. Terlebih Marisa sudah memiliki anak yang beranjak dewasa. Sehingga akan sangat sulit untuk Marisa bisa membagi perhatian dari dirinya pada seorang Julien's. Itu yang Marisa khawatirkan.
__ADS_1
Tapi Beatrice mencoba meyakinkan Marisa. Dia meyakinkan Marisa akan kepercayaan diri yang penuh. Sehingga Marisa harus yakin, dirinya bisa menjadi seorang istri dari Julien's. Marisa harus bisa melakukan hal yang sama pada Julien's. Dia bisa, sehingga Marisa harus yakin.
Beatrice dengan wajah penuh harap, menggenggam tangan Marisa. Dia kembali meyakinkan Marisa akan kepercayaan yang harus di miliki oleh Marisa. Sehingga Marisa bisa lebih percaya lagi pada dirinya sendiri. Marisa harus yakin, jika dirinya bisa menjadi seorang istri yang baik bagi Julien's. Marisa harus meyakini itu. Sehingga dia tidak akan gugup