
Batuk yang terjadi sedari sore, tak membendung antuasiasme Beatrice untuk menemui Nania dalam acara makan malam. Beatrice memilih sebuah restoran kecil untuk menjadi tempat pertemuannya dengan Nania. Julien's yang masih berstatus suami Beatrice, berangkat bersama dengan Beatrice. Sementara seorang sopir pribadi, Julien's utus untuk menjemput Nania.
Dinginnya malam membuat Beatrice harus mengenakan sebuah bulu tebal. Sementara Julien's nampak gagah dengan setelan jas berwarna hitam. Sepatu kets berwarna hitam dengan sedikit sentuhan warna biru dongker. Membuat Julien's nampak semakin berkarisma.
Beatrice ingin pertemuan itu digelar diluar rumah. Sebab ada beberapa hal sensitif yang ingin Beatrice sampaikan pada Nania dan Julien. Sehingga takut jika akan didengar anak mereka yang masih dibawah umur.
Mobil yang menjemput Nania berangkat berbarengan dengan Julien's dan Beatrice. Walaupun akhirnya Julien's yang sampai duluan dengan Porche mahalnya.
10 menit kemudian mobil yang Nania tumpangi sampai di parkiran. Dengan segera Nania pun bergegas menuju kedalam restoran untuk bertemu dengan Julien's dan Beatrice.
Seperti biasa Julien's yang emang sedikit Don Juan terpesona dengan kecantikan dari Nania. Dia mengagumi Nania yang mengenakan dress berwarna merah tipis yang menerawang sedikit bagian dalam tubuhnya. Perfecto, ucap Julien's dalam hati.
Nania menyapa Beatrice dengan sangat ramah. Beatrice pun membalasnya dengan wajah dingin. Sebelum dia meminta Nania untuk duduk disampingnya.
Julien's memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Seorang pelayan perempuan menghampirinya. Kemudian menanyakan menu makanan yang akan Julien's pesan.
Sebelum memesan, Julien's menanyakan pada Nania dan Beatrice menu yang ingin mereka pesan. Nania mengatakan bahwa ia ingin pesanan yang sama dengan Julien's. Sementara dengan muka datar, Beatrice mengatakan hanya ingin memesan air putih hangat saja. Dia masih kenyang. Sehingga tak ingin makan apapun.
Akhirnya dua spaghetti carbonara dengan dua orange jus menjadi menu yang mereka pesan. Serta satu gelas air hangat menjadi menu yang Beatrice inginkan.
Tak ingin terlalu lama lagi. Beatrice pun mulai pembicaraan mereka. Dia menatap wajah Nania dengan begitu tajamnya. Kemudian bertanya satu hal pada Nania.
__ADS_1
"Kamu siap menjadi istri kedua?"
Nania yang gugup dengan tatapan Beatrice yang begitu tajam menjawab dengan lugas. Dia bersedia dan sangat siap untuk menjadi istri kedua dari Julien's.
"Apa motivasi kamu menjadi istri kedua, karena uang?" Tanya Beatrice kembali semakin mendetail.
Nania melirik Julien's. Kemudian dengan penuh percaya diri dia menjawab pertanyaan dari Beatrice.
"Motivasi sebuah pernikahan bukanlah uang semata. Melainkan mempertahankan cinta yang ada. Saya mencintai Julien's dan menyayangi Romeo, bahkan dua anak Julien's lainnya. Motivasi saya adalah hidup bahagia bersama Julien's dan bisa berkembang dengan anaknya. Dan kita bisa bersama membuat mereka bahagia."
"Jika saya dalam keadaan sehat. Mungkin saya akan memilih pergi. Jika harus melihat orang yang saya sayangi harus membagi cinta. Tapi hidup saya seakan sebentar lagi. Egois jika saya harus membiarkan orang yang paling saya cinta harus merasakan keterpurukan dalam hidupnya. Jadi saya harus ikhlas untuk itu." Beatrice berderai air mata.
Nania dengan perlahan coba menggenggam tangan Beatrice yang tergeletak diatas meja, untuk memberikan kekuatan pada Beatrice. Namun dengan cepat, Beatrice mengangkat tangannya. Sehingga Nania tak dapat menggenggam tangannya.
"Syarat apa saja?" Tanya Julien's.
Beatrice mencoba tegar dengan menggigit bibir bagian bawah. Kemudian memaparkan syarat yang harus dipenuhi oleh Julien's dan Nania.
"Kalian jangan pernah memamerkan kemesraan di depan Theo dan Marrie. Sebab keduanya mungkin akan terluka dengan hal itu."
Nania dan Julien's saling menatap. Kemudian Beatrice kembali melanjutkan syarat yang dia berikan.
__ADS_1
"Kedua, jangan pernah memberi tahu ke siapa pun tentang pernikahan kalian. Jika berita ini tersebar. Marrie pasti akan malu."
Kembali Nania dan Julien's saling berhadapan. Isyarat setuju dengan permintaan dari Beatrice.
"Terakhir. Aku minta kalian hanya berhubungan sampai jam 12 malam. Setelah jam 12 malam, Julien's harus menemani ku tidur hingga pagi."
Julien's mengangkat tangannya. Dia memprotes syarat terakhir.
"Bagaimana bisa, itu gak logis Beatrice. Syarat terakhir begitu berat." Sanggah Julien's.
"Itu persyaratan yang harus kalian penuhi. Jika memang kalian mau menikah." Tegas Beatrice.
Julien's kembali ingin menyanggah. Namun Nania langsung menghentikan. Kemudian dengan lantang Nania menjawab menyetujui persyaratan dari Beatrice.
"Ok jika kalian setuju. Tapi jika kalian melanggar. Kalian harus berpisah." Ujar Beatrice menyodorkan tangan.
"Setuju!" Nania menjabat tangan Beatrice.
Belum sempat minum segelas air hangat yang dia pesan. Setelah menyampaikan persyaratan pada Nania dan Julien's. Beatrice memilih untuk pulang. Terlebih badannya mulai terasa tidak nyaman. Sehingga dia memilih untuk pulang terlebih dahulu bersama sopir yang menjemput Nania.
Julien's masih ragu dengan persyaratan yang diberikan Beatrice. Sehingga dia berniat untuk menggugat persyaratan terakhir pada Beatrice. Namun Nania coba meyakinkan Julien's dengan persyaratan itu yang sama sekali tidak akan merusak pernikahan mereka. Nania meyakini hal itu.
__ADS_1
Pelayan yang mengantar makanan pun akhirnya tiba. Dua porsi spaghetti dengan dua gelas jus jeruk menghiasi meja makan. Segelas air panas Beatrice juga turut hadir. Semakin membuat meja itu dipenuhi gelas.