SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
MARRIE KETAHUAN PULANG MALAM


__ADS_3

Hembusan angin yang cukup kencang. Perlahan menyelinap ke sudut rumah Julien's. Ditambah udara dingin malam yang mendekap kulit. Semakin membuat seluruh penghuni rumah Julien's kedinginan.


Beatrice menarik erat selimutnya. Sementara Julien's melipat kedua tangannya diatas perut. Adapun Nania mengenakan pakaian berlapis untuk mengurangi rasa dingin yang semakin aktif menyerang tubuhnya. Romeo dan Theo juga berebut selimut untuk menghangatkan tubuh mereka.


Udara dingin yang semakin menggila, tak hanya membuat kedinginan saja. Seketika rasa haus juga menyerang tenggorokan beberapa penghuni rumah. Terlebih Julien's, ia begitu kehausan. Sehingga ia harus melawan udara dingin yang menyerang rumah mereka untuk mengambil segelas air putih di dapurnya.


Julien's tak bisa menghentikan aksi melipat kedua tangannya sepanjang perjalanan menuju dapur. Ia terus melakukan itu untuk sedikit meredakan rasa dingin yang terus menghantam tubuhnya.


Belum tiba di dapur. Langkah Julien's langsung terhenti. Ia melihat pintu kamar Marrie yang terbuka dengan begitu lebarnya. Julien's heran, mengapa Marrie membuka pintunya dengan begitu lebar di udara sedingin ini.


Rasa haus Julien's dikesampingkan. Kini ia lebih penasaran dengan pintu kamar Marrie yang terbuka lebar. Dimana Julien's merasa heran dengan Marrie yang membuka lebar pintu kamarnya.


Julien's langsung terkejut, saat melihat kamar Marrie yang tak berpenghuni. Kemana Marrie ditengah malam seperti ini. Apa mungkin dia ke kamar kecil, atau ke dapur. Tapi tidak ada tanda-tanda orang di dapur atau di kamar kecil.


Rasa penasaran Julien's berganti menjadi rasa panik akan Marrie. Ia segera kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya. Julien's ingin segera menelepon Marrie untuk mengetahui keberadaannya.


Tapi Ponsel Marrie sulit dihubungi. Hal yang semakin membuat Julien's panik akan keberadaan Marrie. Pikirannya tak lepas dari Marrie. Julien's duduk disamping ranjangnya. menggaruk pelan rambutnya. Sebelum menundukan kepalanya.

__ADS_1


Julien's tak mengerti lagi dengan Marrie. Ia begitu sulit untuk diatur. Terlebih setelah pernikahan Julien's dengan Nania. Marrie menjadi seorang pembangkang serta trouble maker. Julien's begitu pening memikirkan cara terbaik dalam mendidik Marrie.


Tit.... Suara klakson mobil berbunyi. Suara klakson mobil yang tentu sumbernya berasal dari luar gerbang rumahnya. Julien's yang penasaran, langsung bergegas menuju gorden untuk melihat mobil itu.


Tak lama pintu gerbang rumah Julien's dibuka oleh Bruce. Dengan pandangan menunduk, Bruce menyambut kedatangan seorang Marrie yang terlihat begitu gembira. Marrie berjalan dengan perasaan bahagia menuju rumahnya.


Tak ingin kehilangan momen, Julien's langsung bergegas menuju ruang tamu untuk menyambut kedatangan Marrie. Dia ingin tahu, Marrie dari mana. Sehingga pulang larut malam seperti ini.


Dengan penuh kehati-hatian, Marrie masuk kedalam rumah. Membuka pintu secara perlahan. Kemudian menutupnya pun dengan perlahan.


Baru beberapa langkah meninggalkan pintu. Kaki Marrie seketika terhenti. Julien's memanggilnya namanya, sehingga Marrie harus menghentikan langkahnya. Julien's dengan segera menghampiri Marrie.


"A---Aku habis dari rumah teman." Jawab Marrie gelagapan.


"Teman siapa?" Tanya Julien's semakin mendetail.


"Teman sekolah aku yah." Jawab Marrie dengan tegas.

__ADS_1


"Jangan bohong kamu. Ayah tahu kamu bukan main sama teman sekolah kamu." Ucap Julien's tegas.


"Enggak ayah. Marrie gak bohong. Marrie habis pulang dari rumah teman Marrie." Marrie meyakinkan Julien's.


"Teman siapa?" Tanya Julien's kembali.


"Anastasia." Jawab Marrie spontan.


Jawaban dari Marrie, langsung direspon Julien's dengan cross check langsung pada Anastasya. Julien's yang memiliki nomor telepon Anastasia, langsung menghubungi sahabat Marrie tersebut.


Dipanggilan pertama, Anastasia tidak menjawab telepon dari Julien's. Baru dipanggilan kedua, akhirnya Anastasia menjawab panggilan telepon dari Julien's.


Marrie begitu cemas, begitu panggilan telepon dari Julien's tersambung pada Anastasia. Ia khawatir Anastasia akan mengatakan kebenaran akan dirinya yang tak pergi bersamanya. Namun Marrie sudah pasrah, jika Julien's tahu akan kebohongan yang ia buat.


Namun malam ini adalah malam keberuntungan untuk Marrie. Pasalnya, Anastasia tanpa harus diajak kompromi terlebih dahulu oleh Marrie. Langsung mengetahuinya harapan dari Marrie. Ia berbohong pada Julien's. Anastasia mengatakan jika benar Marrie sehabis pulang dari rumah Anastasia. Sehingga pulang larut malam.


Marrie pun akhirnya terbebas dari amukan Julien's. Tetapi Julien's tetap menasehati Marrie. Terlebih Julien's kembali mengungkit kejadian kabur Marrie dari sekolah. Dimana berkat kejadian tersebut, Julien's di panggil ke sekolah.

__ADS_1


Marrie kembali berbohong pada Julien's. Akting yang ditunjukkan oleh Marrie yang terkesan apik. Akhirnya membuat Julien's percaya pada Marrie. Julien's tak menghukum Marrie. Dia hanya berpesan pada Marrie untuk tidak mengulanginya lagi. Jika dilakukan, Julien's akan menghukum lebih berat dari yang diberikan gurunya di sekolah.


__ADS_2