
Oscar memandangi mobil pemberian Julien's di parkiran apartemen. Dia mencoba mencari cara untuk membuat mobil itu tak hanya digunakan untuk kebutuhan dirinya saja. Mungkin mobil itu bisa menjadi ladang untuk Oscar mencari uang.
Beberapa menit dengan pandangan yang fokus pada bagian depan mobil. Oscar tak menemukan ide apapun untuk mendapatkan uang dari mobilnya tersebut. Mungkin otaknya belum menemukan sesuatu yang bisa dipikirkan secara matang. Hingga ia tak menemukan cara untuk mendapatkan uang dari mobilnya tersebut.
Akhirnya sebuah ide cemerlang muncul secara tiba-tiba. Ide yang melintas dalam sekejap itu, langsung Oscar aplikasikan. Mengingat itu ide yang cukup bagus yang bisa diaplikasikan dengan mobilnya tersebut.
Mengapa ia tidak mendaftar sebagai driver taksi online saja. Semua orang membutuhkan layanan taksi online. Tak heran jika layanan tersebut menjadi sebuah kebutuhan masyarakat di era ini.
Sambil tersenyum sedikit, Oscar mulai mencari informasi dari mesin pencarian di browser miliknya. Beberapa artikel langsung Oscar buka untuk mendapatkan informasi. Artikel-artikel itu cukup membantu, hingga Oscar dengan mudah mendapatkan informasi akan pendaftaran menjadi seorang driver taksi online.
Beberapa dokumen coba disiapkan oleh Oscar. Namun ada beberapa dokumen yang kurang lengkap yang tidak Oscar miliki. Meskipun begitu, Oscar tetap percaya diri untuk mendaftar sebagai driver taksi online.
Membawa mobilnya ke tempat pendaftaran taksi online. Oscar begitu optimis bisa menjadi salah satu pendaftaran yang akan diterima. Dirinya yang masih muda, serta memiliki knowledge yang cukup akan jalanan di kota Nice. Bisa menjadi pertimbangan dari pihak perusahaan dalam memberikan satu tempat untuk Oscar bekerja sebagai driver taksi online.
Tiba di tempat pendaftaran, Oscar harus ikut mengantri dengan puluhan, hingga ratusan calon pengemudi taksi online lainnya. Sial bagi Oscar, nampaknya dia harus menunggu cukup lama untuk bisa menembus antrian. Mengingat jumlah orang yang mendaftar sebagai driver taksi online cukup membludak. Hingga Oscar harus berada di antrian belakang.
Satu persatu antrian itu mulai berkurang. Beberapa teman seperjuangan Oscar yang mencoba mendaftar sebagai driver taksi online, mulai pulang. Beberapa dari mereka ada yang mendapat kabar gembira, usai dinyatakan lolos. Tapi banyak juga yang akhirnya harus menelan pil pahit, usai dinyatakan gagal dalam proses pendaftaran.
__ADS_1
Melihat banyaknya pendaftar yang gagal. Kepercayaan diri Oscar yang awalnya begitu besar layaknya gunung. Perlahan menyusut menjadi bukit yang datar. Kepercayaan itu tiba-tiba hilang, dengan kenyataan pahit akan kegagalan yang banyak didapatkan oleh pelamar lain.
Tangannya mulai gemetar, begitu dua antrian yang berada didepannya di panggil maju. Sebentar lagi mungkin nama Oscar yang akan dipanggil masuk. Hingga Oscar harus siap untuk menjawab semua pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh bagian pendaftaran kepadanya.
Tak lama dari dua nomor didepan Oscar di panggil maju. Kini giliran Oscar yang di panggil untuk mengikuti tahap registrasi. Di tahap ini, berkas-berkas dari seorang pelamar akan dilihat keasliannya. Begitu juga dengan kelengkapan dari berkas itu sendiri. Jika dirasa ada yang kurang. Sudah pasti itu akan gagal.
Oscar duduk di kursi didepan meja pendaftaran. Seorang perempuan berkacama dengan lipstik merah serta rambut panjang telah siap menerima berkas-berkas yang Oscar telah siapkan. Penampilan Oscar yang terlihat begitu keren, dengan wajahnya yang mempesona. Seketika menyihir perempuan yang bertugas menerima berkas-berkas dari Oscar tersebut.
Dengan sengaja perempuan dewasa itu menyentuh tangan Oscar, begitu Oscar memberikan berkas-berkas miliknya yang tersimpan dalam sebuah amplop besar. Tangan lembutnya tersebut, sedikit terasa risih. Hingga Oscar langsung menarik tangannya dari genggaman perempuan itu. Oscar langsung merasa tak nyaman, dia menundukkan kepalanya. Menghindari kontak mata dengan perempuan genit tersebut.
Perempuan genit itu terus menggoda Oscar. Dia memainkan lidah merah jambunya, diatas bibirnya yang merah. Beberapa kali matanya melirik kearah Oscar dengan pandangan yang tentu membuat Oscar tidak begitu nyaman. Hingga Oscar terus berusaha menghindari kontak mata dengan perempuan tersebut.
"Kenapa kamu mau menjadi seorang driver taksi online?" Tanya si perempuan sambil terus menatap tajam wajah Oscar.
"Saat ini saya tidak memiliki pekerjaan. Tapi saya memiliki sebuah mobil pemberian dari seseorang. Daripada mobil itu tidak saya gunakan. Jadi lebih baik saya gunakan untuk jadi driver taksi online." Terang Oscar dengan begitu meyakinkan.
Oscar yang memang sengaja tidak menatap wajah dari perempuan yang menjadi rekrutmen itu. Terus menundukkan wajahnya. Dia berusaha menghindari kontak mata dengan perempuan itu. Mengingat tatapan mata dari perempuan itu membuat Oscar cukup tidak nyaman. Tetapi perempuan itu merasa apa yang Oscar lakukan justru tidak nyaman. Hingga ia langsung mengangkat kepala Oscar yang terus menunduk.
__ADS_1
"Beginikan enak, jadi kita bisa saling menatap satu sama lain. Saya bukan hantu, jadi kamu tidak perlu takut." Terang si perempuan dengan meyakinkan.
"Tapi sejujurnya saya kurang nyaman dengan semua tindakan yang ibu lakukan. Saya harap ibu bisa melakukan tindakan sesuai dengan prosedur rekrutmen yang ada. Tidak dilebihkan ataupun dikurangkan." Pinta Oscar dengan tegas.
"Maksud kamu apa?" Tanya si perempuan mulai emosi.
"Bisakah ibu tidak memandang saya seperti itu. Saya pikir pandangan dari ibu tidak pantas ditunjukkan untuk saya. Menunjukkan gesture seksual ketika sedang rekrutmen kerja, adalah hal yang tidak pantas." Tegas Oscar dengan begitu meyakinkan.
Ucapan dari Oscar seketika menyulut emosi dari perempuan yang menjadi rekrutmen tersebut. Dia tak bisa lagi menahan emosi dari ucapan yang keluar dari mulut Oscar. Seketika tangan kanannya tak mampu lagi untuk menahan emosi. Tangan kanannya langsung menampar pipi kiri dari Oscar.
Tak sakit, tapi itu tindakan yang cukup merendahkan untuk Oscar. Dimana ucapan dia yang benar, justru mendapatkan balasan yang tidak baik dari perempuan itu. Oscar lantas memberikan ancaman pada perempuan itu.
"Saya memang butuh pekerjaan disini. Tapi saya tidak bisa direndahkan seperti ini. Ibu tidak sepantasnya melakukan tindakan seperti itu pada saya. Tindak pelecehan yang berat." Ucap Oscar tak kalah emosi.
"Kamu tahu apa tentang pelecehan. Laki-laki seperti kamu itu memang layak mendapatkan hal-hal seperti itu. Saya pikir kamu juga senang akan hal itu. Terlebih jika saya memberikan kamu beberapa lembar uang. Mungkin kamu tidak akan munafik seperti ini." Lanjut si perempuan.
"Saya pikir perempuan berpendidikan seperti ibu akan paham artinya norma dan sebagainya. Tapi saya salah. Ternyata perempuan seperti ibu, untuk urusan norma saja, ibu tidak paham. Sangat menyedihkan." Timpal Oscar mengiba.
__ADS_1
Tak terima dengan ucapan dari Oscar. Si perempuan itu semakin emosi. Ia pun akhirnya mengusir Oscar dari ruangannya. Tentu dengan hasil Oscar yang dinyatakan gagal.
Oscar tetap berbangga hati tidak lolos. Mengingat dia membela sesuatu yang benar. Bukan sesuatu yang salah serta melanggar norma. Jadi sebuah kebanggaan baginya untuk berani bicara. Oscar keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak, sekalipun ia gagal lolos.