SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEBERANGKATAN NANIA KE RUMAH IBUNYA


__ADS_3

Air matanya tak henti membasahi seluruh wajahnya. Suaranya terisak-isak, tak henti mengingat semua ucapan dari Julien's dan Aurille. Nania begitu bersedih dengan semua yang terjadi. Hingga air matanya seketika tumpah membasahi seluruh wajahnya.


Dengan pakaian seadanya, Nania menaiki sebuah kereta antar kota untuk pergi ke rumah ibunya yang berada di kota Brest. Tak harus antri untuk mendapatkan tiket kereta menuju kota Brest. Dengan layanan tiket online yang di pesan olehnya. Nania bisa dengan mudah mendapatkan tiket untuk pergi ke kota Brest.


Di dalam kereta, Nania langsung mematikan ponselnya. Dia tak ingin orang-orang mencari dirinya. Sebab Nania ingin menenangkan diri sejenak. Kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya, Aurille dan Julien's. Rasanya cukup untuk Nania jadikan sebagai bahan evaluasi diri. Ini sudah cukup untuk Nania jadikan pelajaran dalam hidupnya.


Menyandarkan kepalanya, Nania perlahan memejamkan matanya selama perjalanan menuju kota Brest. Saat itu, Nania kembali mengingat ucapan dari Alex dan Aurille. Saat itu pula air matanya kembali menetes deras.


Seorang pria tua yang duduk di samping Nania, memberikan Nania sebuah tissue. Meminta Nania untuk menghapus semua air mata yang mulai membasahi wajahnya.

__ADS_1


Nania sempat menolak tissue dari pria tua itu. Sebelum akhirnya, dia menerima tissue dari pria tua tersebut.


"Apa yang membuat kamu menangis hebat seperti itu?" Tanya si pria tua.


"Tidak ada. Bukan hal yang besar. Aku hanya rapuh saya." Jawab Nania mencoba tegar.


"Ketika seorang rapuh, ada yang mematahkan dirinya. Tidak heran dia menjadi begitu rapuh." Balas si pria tua.


"Saya tidak tahu, jadi saya tidak akan menghakimi kamu. Makanya saya minta kamu untuk bercerita saja. Biarkan saya mendengarkan seluruh keluh kesah kamu. Luapkan saja semuanya. Semau kamu, tanpa pernah takut untuk merasa salah dan bersalah. Lakukan saja, istri saya ketika di usia kamu. Juga sering bersedih dengan persoalan hidupnya." Perintah orang tersebut.

__ADS_1


Nania pun akhirnya berani untuk menceritakan semua keluh kesahnya pada pria tua itu. Dia tak malu untuk mengatakan semuanya. Nania menceritakan persoalan hidupnya yang pelik dengan Julien's. Hingga Nania larut dalam obrolan yang super padat tersebut dengan pria tua tersebut.


Si pria tua pun menjadi seorang pendengar yang baik. Dia tak menyela setiap ucapan dari Nania. Sehingga semua unek-unek Nania di sampaikan dengan begitu gamblang. Tidak ada rasa takut dari Nania. Semua dia ucapkan dengan begitu lepas pada pria tua itu.


Tak ada lagi air mata yang mulai membasahi wajahnya. Semua keluh kesah yang Nania sampaikan telah lepas. Dia merasa lebih baik, sehingga tidak ada lagi kesedihan yang membuat dirinya begitu rapuh. Nania kembali menjadi sebuah pohon yang kokoh. Akarnya begitu besar, hingga pohon itu berdiri dengan begitu kokohnya.


Nania mengucapkan terima kasih pada pria tua yang mau mendengarkan dirinya bercerita. Terkadang memiliki orang yang mau dan bekenan untuk menjadi pendengar yang baik. Lebih sempurna, di banding teman bijak dengan seribu nasehat yang terkadang tidak berguna. Memiliki orang seperti itu adalah sebuah keniscayaan yang seharusnya di jaga. Sebab teman yang mau mendengarkan apa yang menjadi keluhan kita adalah mereka yang sempurna dalam pertemanan yang sempurna.


Si pria itu memberikan sedikit nasehat pada Nania. Mungkin nasehat ini bisa Nania masukan atau tidak, itu adalah hak bagi Nania. Namun nasehat dari pria tua itu cukup bijak. Hingga Nania menerima nasehat dari pria tua itu dengan baik.

__ADS_1


"Kamu adalah seorang istri, suami kamu adalah kepala rumah tangga. Apapun keputusan yang akan kamu ambil, hendaknya di bicarakan terlebih dahulu dengan suami kamu. Ketika kamu ingin mengambil keputusan, pastikan keputusan yang kamu ambil adalah keputusan bijak yang hendaknya di capai bersama dengan suami kamu. Sebab kamu tidak sendiri lagi. Ada suami kamu yang selalu membimbing kamu." Nasehat dari pria tua itu.


__ADS_2