
Mendengar kabar ibunya yang jatuh di kamar mandi. Julien's langsung merasa panik, dia begitu tak tenang akan kondisi dari ibunya tersebut. Mengingat Julien's tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada ibunya. Sebelum berangkat ke restoran, Julien's menyempatkan diri untuk mendatangi rumah ibunya terlebih dahulu.
Tak ingin membawa tangan kosong, Julien's membawakan sebuah sarapan lezat yang mungkin akan di sukai oleh ibunya. Ibunya sangat suka makaroni dengan mayones. Mungkin hidangan itu bisa Julien's buat untuk dijadikan sarapan ibunya. Sehingga kondisi kesehatan ibunya bisa kembali sedikit membaik.
Begitu makaroni mayones telah selesai di buat olehnya. Julien's mempersiapkan perlengkapan kerjanya, setelah dari rumah ibunya dia akan langsung berangkat ke restoran. Sehingga dia tidak harus kembali ke rumah untuk mengambil pakaian kerjanya.
Baru akan berangkat, langkah Julien's langsung tertahan oleh Beatrice. Dia langsung mewawancarai Julien's layaknya seorang reporter di televisi.
"Kamu mau kerja atau kemana?" Tanya Beatrice dengan begitu penasaran.
"Aku mau kerja, tapi sebelum bekerja aku ingin melihat kondisi ibu terlebih dahulu. Aku dengar dari Nania, ibu jatuh dari kamar mandi." Jawab Julien's.
"Terus makanan itu untuk siapa?" Tanya Beatrice kembali semakin penasaran.
"Ini buat sarapan ibu. Dia suka makaroni mayones. Makanya aku buatkan dia makaroni mayones ini." Jawab Julien's kembali.
"Apa cuman buat ibu doang atau ada buat yang lain?" Beatrice mulai curiga.
"Ada! Aku sengaja buat banyak, untuk Nania dan Alex juga. Memang kenapa, ada masalah buat kamu." Jawab Julien's dengan wajah kesalnya.
"Kenapa kamu harus berbohong itu buat ibu. Aku tahu kamu ingin bertemu dengan istri kamu yang murahan itu. Dasar laki-laki pembohong!" Ucap Beatrice.
__ADS_1
Julien's mencoba mengontrol emosinya. Dia harus bisa menahan amarahnya, sebab jika dia marah. Sudah di pastikan perdebatan dengan Beatrice tidak akan usai. Sementara waktu yang terbatas, harus bisa dia selesaikan.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Terpenting, Nania tidak seperti yang kamu pikirkan. Ingat itu!" Tutup Julien's sebelum akhirnya pergi meninggalkan Beatrice.
Melihat Julien's meninggalkan dirinya sendiri. Beatrice terus memanggil nama Julien's. Tapi Julien's tak memperdulikan ucapan dari Beatrice. Dia tetap berjalan menjauhi Beatrice yang tak henti memanggil namanya. Hingga dia merasa begitu kesal pada Julien's yang mengacuhkan dirinya.
Julien's langsung pergi dengan mobil mewahnya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat kondisi ibunya. Perdebatan yang tiada akhir dengan Beatrice, hanya menguras tenaga saja. Jadi lebih baik pergi, dibanding harus terus berdebat dengan Beatrice yang tiada akhir.
Di rumah ibunya sendiri, Nania yang telah bangun sedari shubuh. Sudah menyiapkan beberapa menu sarapan yang mungkin bisa di makan oleh mertuanya yang tengah sakit itu. Tak hanya itu, Nania juga mengganti popok yang di kenakan oleh mertuanya. Tak ada rasa jijik dari seorang Nania, dia melakukan itu semua dengan ikhlas.
Begitu juga ketika memasangkan popok untuk mertuanya itu. Nania memasang dengan begitu telaten. Tak ada rasa canggung atau dendam dalam dirinya. Mengingat mertuanya itu sudah sering menjahati Nania. Namun Nania sendiri sudah melupakan semua kejadian yang pernah terjadi. Sehingga tidak sedikit pun rasa dendam itu ada di dalam hati kecilnya.
Benar saja, ternyata ibu mertuanya itu begitu suka dengan bubur gandum yang di buat oleh Nania. Terlebih takaran dari bumbu yang di pakai Nania begitu pas. Sehingga rasa bubur itu begitu nikmat. Dia pun meminta Nania untuk menyuapinya berulang kali. Sampai dia benar-benar merasa kenyang.
"Aku pikir kamu benar-benar banyak belajar dari Julien's. Kamu mencuri ilmu darinya. Masakan yang kamu buat, sama persis dengan apa yang Julien's selalu hidangkan ketika saya sedang kurang sehat. Ini rasanya hampir sama." Puji mertua Nania pada Nania.
"Iya Bu, saya sering melihat pak Julien's masak. Sesekali saya belajar dari dia. Makanya saya bisa membuat bubur isi sama persis seperti apa yang di buat." Balas Nania merendah.
Nania kembali menyuapi bubur itu ke dalam mulut mertuanya. Di selingi dengan air putih hangat, suasana pagi yang dingin itu. Berubah menjadi hangat dengan kebaikan yang di tunjukkan oleh Nania pada mertuanya.
Di tengah keseruan Nania yang menyuapi ibu mertuanya. Tanpa di duga, Julien's datang dengan sebuah paper bag berisi makanan. Namun Julien's tak langsung masuk ke dalam kamar ibunya. Dia menyaksikan di depan pintu kamar ibunya. Bagaimana seorang Nania yang begitu telaten mengurus ibunya.
__ADS_1
Julien's menduga Nania telah sukses mengambil hati ibunya. Terlihat dari kedekatan dar Nania dengan ibunya terlihat begitu hangat. Apa mungkin Nania telah benar-benar membuat hati ibunya luluh. Ini sebuah kabar yang membahagiakan tentunya, jika itu adalah sebuah kebenaran.
Julien's akhirnya masuk ke dalam kamar, setelah Nania memergokinya. Nania yang seolah bertindak sebagai seorang pengasuh, langsung meminta Julien's untuk masuk. Nania memanggil nama suaminya itu dengan sebutan pak. Cukup kagok sebenarnya, tapi itu yang harus di lakukan oleh Nania di hadapan mertuanya sendiri.
Julien's yang berdiri di depan pintu kamar 5 menit itu. Akhirnya masuk juga ke dalam kamar ibunya. Dia langsung menanyakan kondisi ibunya, sebelum dia menawarkan sebuah makaroni mayones yang memang menjadi makanan favorit ibunya tersebut.
"Mungkin makaroni mayones itu buat ibu makan siang saja. Pagi ini ibu sudah dimasakin makanan enak dari pengasuh kamu ini." Ucap Ibunya sambil tersenyum.
"Kira-kira ibu di masakin apa sama Nania?" Tanya Julien's penasaran.
"Nania tadi masak bubur gandum yang sangat enak. Lihat saja, ibu menghabiskan hampir satu mangkuk penuh. Bubur itu benar-benar enak Julien's." Jelas ibunya.
Julien's tersenyum ke arah Nania. Lalu memberikan sebuah jempol pada Nania. Tentu jempol itu adalah bentuk apresiasi dari Julien's pada Nania. Dimana dia bisa membuat bubur gandum yang di sukai oleh ibunya tersebut.
"Selain dia nyuapin ibu, dia juga begitu perhatian sama ibu. Pakaian ibu saja dia yang ganti. Setiap ibu butuh sesuatu, Nania selalu ada buat ibu." Puji ibu Julien's pada Nania.
"Memang Bu, Julien's tidak salah dalam memilih Nania untuk menjadi baby sitter dari dua anak Julien's. Sebab Nania memang cekatan dan rajin." Balas Julien's merangkul tubuh Nania.
"Tukar saja, Nania sama pembantu ibu. Nania tinggal di sini sama ibu." Pinta ibu Julien's.
Julien's seketika dilema dengan permintaan dari ibunya tersebut. Mana mungkin dia membiarkan istrinya tercinta menjadi pembantu di rumah ibunya sendiri. Tentu dia tidak akan bisa bermesraan lagi dengan Nania, jika Nania tinggal di rumah ibunya itu. Sementara Nania hanya tersenyum dengan permintaan dari mertuanya itu. Ini tentu adalah pilihan yang sulit untuk Julien's. Sehingga dia tidak akan membiarkan Nania jauh dari seorang Julien's.
__ADS_1