SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEMAH SEDERHANA NANIA DAN JULIEN'S


__ADS_3

Julien's begitu terampil saat membenarkan rantai sepeda Nania yang terlepas. Dengan peralatan seadanya, dia berhasil membenarkan kembali rantai sepeda yang rusak tersebut.


Nania yang hanya memandori Julien's membenarkan rantai sepeda miliknya. Menawarkan Julien's segelas jus untuk membunuh rasa haus dari Julien's. Sepertinya itu bukan ide yang buruk. Julien's meminta Nania membuatkan dirinya jus apel yang segar. Namu dengan gula yang sedikit. Sebab Julien's khawatir konsumsi gula berlebih, akan membahayakan kesehatan dari dirinya sendiri.


Nania langsung bergegas ke dapur rumahnya untuk membuat jus pesanan dari Julien's. Tak begitu sulit bagi seorang Nania untuk membuat jus apel yang Julien's minta. Hanya beberapa potong apel yang Nania potong dadu. Gula yang di minta Julien's dengan sedikit. Juga tentunya air yang akan melarutkan apel yang akan di blender oleh Nania. Semua bahan itu telah terkumpul. Saatnya Nania memblender semua bahan itu.


Nania yang lupa menutup blender, langsung terkena cipratan jus apel yang di buat olehnya. Begitu Nania menekan tombol menyalakan di blender tersebut. Apel yang Nania buat langsung berhamburan keluar dari dalam blender. Percikan dari apel itu sedikit mengotori wajah Nania. Terutama bagian pipi Nania yang cukup kotor di buat oleh apel tersebut.


Nania seketika berteriak saat percikan dari apel itu mengotori wajahnya. Teriakan Nania yang keras itu langsung terdengar oleh Julien's dan ibunya. Keduanya langsung menghampiri Nania.


"Ada apa?" tanya ibu Nania yang panik.


"Sepertinya sesuatu hal yang buruk terjadi." Tambah Julien's.


"Bukan buruk lagi, tapi buruk sekali," jawab Nania.


Julien's dan ibunya seketika tertawa melihat wajah Nania yang di penuhi oleh kotoran dari sisa apel tersebut. Mereka menertawakan Nania yang begitu kotor dengan ampas apel.


Julien's mencuci terlebih dahulu tangannya. Lalu dengan penuh perhatian mulai membersihkan kotoran yang ada di pipi Nania. Nania nampak begitu senang dengan perhatian yang di berikan Julien's kepada dirinya. Hingga dia tak henti tersenyum saat Julien's dengan begitu apiknya membersihkan wajah Nania.


Ibunya berpura-pura batuk. Dia seolah ingin mengabarkan keberadaannya di antara Nania dan Julien's. Mengingat Nania dan Julien's seolah melupakan keberadaan dari ibunya yang jelas-jelas berada di antara keduanya.


Mendengar ucapan dari mertuanya. Julien's langsung menghentikan aksi romantisnya tersebut. Kemudian dia mulai membantu Nania untuk memblender apel pesanannya. Tapi Julien's memblender dengan prosedur yang tepat. Tidak seperti Nania yang memblender dengan prosedur yang salah. Sebab tidak menutup blender tersebut dengan tutupnya. Hingga apel yang ada di dalam blender, berhamburan keluar.

__ADS_1


Tak perlu waktu satu menit. Jus apel itu hampir jadi. 3 apel cukup untuk membuat 3 gelas kecil jus apel. Selain di minum olehnya, Julien's memberikan dua gelas lainnya pada Nania dan mertuanya. Semuanya pun mendapat jatah untuk minum jus apel.


Gula yang cukup banyak yang di masukan Nania ke dalam jus. Membuat jus apel itu terasa begitu manis. Bahkan terasa seperti meminum segelas air gula. Julien's yang kurang menyukai gula, langsung memuntahkan kembali jus apel tersebut.


"Kenapa kamu buang?" tanya Nania bingung.


"Aku pikir itu terlalu manis." jawab Julien's menaruh gelasnya.


"Perasaan aku sedikit menaruh gula di jus tersebut." Bela Nania.


"Tapi memang benar, jus ini terlalu manis. Ibu pun merasakan hal yang sama," ucap Ibu Nania.


Nania seketika terlihat bersedih. Dia langsung meminta maaf pada Julien's. Pasalnya Nania telah membuat jus yang tidak sesuai dengan harapan seorang Julien's. Jus yang memiliki rasa yang lezat dengan gula yang sedikit pastinya. Tapi Nania membuat jus itu dengan gula yang cukup banyak. Hingga rasa jus itu terasa begitu aneh.


Julien's langsung memeluk tubuh Nania. Dia memberikan sedikit motivasi pada Nania yang terlihat cukup bersedih. Baginya, rasa jus itu tidak terlalu buruk. Hanya saja Nania harus lebih hati-hati lagi ketika menambahkan gula. Sebab apel yang di buat telah memiliki cita rasa yang manis. Sehingga tak perlu tambahan gula lagi untuk membuatnya terasa manis. Bukan tidak perlu, tapi hanya perlu menambahkan sedikit gula saja. Tapi semuanya tidak buruk, bagi Julien's.


Di tengah kesedihan yang di rasakan oleh Nania yang gagal membuat jus apel sesuai ekspektasi dari Julien's. Mata Julien's tertuju pada sebuah tenda di yang terletak di samping lemari makan. Julien's berjalan untuk melihat kondisi tenda tersebut.


"Ini tenda bukan, Bu?" tanya Julien's.


"Iya, itu tenda. Dulu Ibu dan Nania sering menggunakan tenda itu buat berkemah di atas bukit sana." jawab Ibu Nania.


Julien's menatap wajah Nania. Mungkin Nania akan paham maksud tatapan dari Julien's yang memiliki banyak makna tersebut. Untungnya Nania paham maksud dari Julien's. Hingga dia sadar apa yang Julien's inginkan.

__ADS_1


Sebuah perkemahan kecil mungkin bisa di lakukan oleh Nania dan Julien's. Perkemahan yang akan di lakukan oleh Nania bersama dengan Julien's. Perkemahan itu mungkin akan jadi perkemahan yang akan seru. Di tambah dengan beberapa jagung yang Julien's beli tadi di pasar. Akan semakin menyenangkan lagi rasanya.


Julien's yang begitu serius ingin kemping bersama Nania. Mengeluarkan tenda yang ada di samping lemari makan. Tendanya cukup besar, rasanya cukup untuk Julien's dan Nania berkemah.


Di samping Julien's merapikan tenda yang akan di gunakan untuk tidur. Nania mulai mempersiapkan berbagai jenis makanan yang akan di bawa untuk berkemah nantinya. Sudah pasti korek, alat untuk membakar jagung dan daging, selimut serta lotion anti nyamuk. Penting sekali membawa lotion itu, sebab di bukit itu banyak nyamuk yang akan menghisap darah Nania dan Julien's.


Baik tenda dan peralatan lainnya sudah siap untuk di bawa. Kini Nania dan Julien's berpamitan pada ibunya. Walaupun jarak bukit dan rumah Nania tidak jauh. Tapi tetap saja, doa dari ibu Nania penting. Sebab itu yang akan membuat semuanya menjadi lebih mudah lagi.


Perjalanan menuju bukit di mulai. Dengan pakaian seadanya, Julien's dan Nania siap menyusuri bukit yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Hanya saja, untuk membuat semuanya menjadi lebih terasa seperti sedang mendaki. Nania dan Julien's menciptakan suasana yang cukup pelik. Keduanya lebih banyak melakukan drama yang terkesan seperti orang-orang sedang mendaki gunung.


Bukit yang tak terlalu tinggi. Cukup setengah jam saja bagi Julien's dan Nania untuk tiba di sana. Saatnya bagi Julien's dan Nania untuk memasang tenda di bukti tersebut.


Berbeda dengan memasak, dalam hal memasang tenda. Nania jauh lebih unggul daripada seorang Julien's. Apalagi ini tenda sudah biasa Nania gunakan. Tentu ini adalah makanan sehari-hari bagi seorang Nania. Dia begitu mudah memasang tenda tersebut.


Tenda sudah jadi, di barengi dengan matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat. Tak ingin melewatkan waktu terbaik ketika matahari tenggelam. Nania dan Julien's duduk saling berdampingan untuk melihat matahari terbenam.


Julien's begitu menikmati matahari yang begitu cantik terbenam di ufuk barat. Hingga berulang kali Julien's memuji kecantikan matahari yang begitu indah dengan sinar jingga yang terpancar di sekitar matahari terbenam.


"Aku pikir kecantikan ketika matahari terbenam, hanya bisa di kalahkan oleh senyum kamu doang." Gombal Julien's.


Nania mencubit Julien's sambil tersenyum. Dia suka dengan gombalan yang di lontarkan oleh Julien's. Tapi Nania malu-malu kucing saja.


"Matahari itu memang indah, aku pikir senyumku masih kalah jauh dari keindahan terbenamnya matahari. Mungkin senyumku tidak ada apa-apanya." Nania merendah.

__ADS_1


Julien's tersenyum. Kemudian merangkul tubuh istrinya tersebut. Menatap wajahnya dengan begitu dekat. Sebelum akhirnya mencium dengan begitu mesra.


"Matahari tidak bisa di cium sedekat ini. Hanya bisa di rasakan cahayanya saja. Jadi keindahannya masih belum bisa mengalahkan kamu." ucap Julien's.


__ADS_2