
Ah rasanya sulit untuk menentukan pekerjaan yang harus di pilih oleh Oscar. Diatas kasurnya, Oscar masih memikirkan pekerjaan mana yang harus dia pilih. Mempertimbangkan kembali beberapa aspek penting. Oscar mencoba melihat sisi positif dari pekerjaan yang akan mungkin di jalani olehnya dirinya.
Jika menjadi seorang kurir di restoran Julien's. Tentu Oscar akan menggunakan mobil dalam pekerjaan yang di jalani nantinya. Dia bisa berpergian ke beberapa tempat. Tidak berada di satu tempat saja. Oscar hanya mengirimkan makanan yang di pesan oleh pelanggan. Sisanya dia hanya berada di jalanan.
Tentu jadi kurir juga tak semudah yang dibayangkan. Mungkin jika Oscar lalai, akan banyak complain yang masuk pada dirinya. Tentu itu juga akan menciptakan citra buruk pada restoran Julien's nantinya. Tapi Oscar tahu resiko itu, sehingga Oscar harus bisa mencari solusi dari permasalahan itu dari sekarang.
Menjadi pelayan nampaknya jauh lebih sulit. Terlebih harus berhadapan langsung dengan pelanggan. Sesuatu hal yang paling Oscar benci. Dimana dia bukan seorang yang senang melayani seseorang. Terlebih jika pelanggan yang dilayani oleh Oscar bertingkah seperti seorang raja. Mungkin akan ada sebuah pukulan yang akan Oscar berikan pada pelanggan tersebut.
Tapi jika Oscar menolak tawaran dari Thomas itu. Mungkin Thomas akan curiga. Terlebih Oscar memilih bekerja di restoran milik Julien's yang merupakan musuh utamanya. Ah Oscar benar-benar berada di sebuah persimpangan. Dimana dia harus memilih dua pilih sulit yang akan menentukan hidupnya.
Namun Oscar tidak bisa terus membuat Thomas menanti jawaban dari dia. Oscar bukan selebriti yang harus muter-muter ketika menjawab sebuah pertanyaan. Bukan pula tokoh publik yang memiliki pengaruh kuat. Jadi sudah seharusnya Oscar mengatakan apa yang harus dia katakan. Tidak harus membuat Thomas menunggu terlalu lama.
__ADS_1
Oscar beranjak dari posisi terlentang di kasurnya. Dia bangun, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas laci miliknya. Dengan segera Oscar menghubungi nomor Thomas. Dia ingin segera mengatakan jika dirinya tidak bisa menerima tawaran pekerjaan sebagai seorang pelayan di restoran Thomas.
Sambil berharap Thomas akan segera mengangkat panggilan telepon darinya. Oscar terus memikirkan cara terbaik untuk mengatakan dirinya yang tidak bisa menerima tawaran dari Thomas tersebut. Mungkin Oscar harus mengolah kata sebaik mungkin, mengingat Thomas sudah begitu baik padanya. Dia menawarkan sebuah pekerjaan yang tentu pekerjaan yang bagus juga untuk seorang Oscar.
Akhirnya gayung bersambut, Thomas mengangkat panggilan telepon dari Oscar. Sebelum menyapa Oscar, terdengar suara Thomas yang sedang menguap. Sepertinya dia sudah tertidur, tapi dering telepon dari Oscar membangunkan Thomas dari tidurnya itu. Oscar yang mendengar suara menguap dari Thomas, semakin di buat tidak enak hati. Mengingat itu tentu membuat Thomas semakin terganggu.
"Hallo Oscar. Ada apa?" Sapa Thomas.
"Hallo pak. Maaf saya ganggu bapak." Jawab Thomas dengan suara yang begitu kecil.
"Sa......ya mau ngomong sesuatu sama bapak." Oscar gugup.
__ADS_1
"Ngomong apa Oscar?" Tanya Thomas sedikit tegas.
"Saya tidak bisa menerima tawaran pekerjaan dari bapak." Ucap Thomas dengan begitu cepatnya.
"Oh tawaran jadi pelayan itu. Jadi gak bisa. Tidak masalah Oscar, tidak usah tidak enak hati seperti itu. Kalau kamu belum siap, tidak apa-apa." Balas Thomas dengan santainya.
"Maafkan saya pak. Sekali lagi maafkan saya." Ucap Oscar kembali.
"Tidak usah seperti itu Oscar. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang harus kamu buat tidak enak hati." Jelas Thomas.
"Sekali lagi terima kasih pak Thomas." Ucap Oscar begitu bahagia.
__ADS_1
"Dengan senang hati Oscar." Thomas menutup panggilan telepon itu.
Begitu mendengar respon dari Thomas yang begitu baik. Oscar langsung meloncat kesana-kemari. Dia menari kegirangan di atas kasurnya. Dia tak menyangka Thomas akan menerima dengan baik, penolakan dari Oscar. Ini benar-benar sebuah mukjizat bagi Oscar. Pasalnya Thomas tidak marah sekali dengan keputusan Oscar. Padahal niat dari Thomas cukup baik, Oscar justru menolak tawaran itu.