
Alex terlihat begitu bersedih dengan hilangnya seorang Nania. Hilangnya Nania tentu membuat suasana rumahnya semakin terasa sepi. Tidak ada yang membuatkan Alex sarapan seperti biasanya. Begitu juga dengan tawa yang biasanya Nania ciptakan di wajah Alex. Tak ada lagi tawa seperti biasanya. Mengingat Nania yang sudah tidak ada di saat itu.
Alex menghabiskan waktu paginya dengan merenung di atas ranjangnya. Dia seolah tak memiliki semangat untuk menyambut pagi ini. Padahal hari ini Alex libur bekerja. Dimana Alex sudah merencanakan sebuah liburan singkat dengan Nania di pantai Nice. Namun hilangnya Nania tentu membuat rencana liburan Alex dan Nania menjadi batal.
Alex beranjak dari kamarnya. Keluar untuk melihat suasana luar rumahnya dari atas balkon rumahnya. Dia menatap sekitar rumahnya yang terlihat begitu sepi. Hanya hembusan angin yang menerbangkan dedaunan lapuk yang melayang di hadapan seorang Alex.
Tak sampai 5 menit berada di balkon rumahnya. Alex mulai bergerak menuju dapurnya. Mungkin segelas kopi bisa sedikit menenangkan pikirannya yang begitu kacau akan Nania.
__ADS_1
Kopi pahit bisa menjadi opsi dari Alex, mengingat apa yang terjadi pada Alex saat ini adalah bagian dari kepahitan dalam hidupnya. Hingga kombinasi pahitnya kopi bercampur dengan pahitnya hidup seorang Alex, akan menghasilkan kombinasi yang sempurna.
Beberapa sendok makan kopi Alex tuang ke dalam gelas. Entah berapa sendok kopi itu masuk ke dalam gelas Alex. Tapi kopi itu hampir mengisi setengah dari gelas yang Alex gunakan.
Aroma kopi yang lezat, langsung tercium oleh hidung seorang Alex. Begitu air panas dituangkan ke dalam gelas berisi kopi tersebut.
Begitu kopi itu mulai sedikit dingin, Alex langsung meminum kopi itu. Baru sedikit menyentuh lidahnya. Rasa pahit dari kopi itu langsung membuat Alex kepahitan. Seketika Alex menyemburkan kembali kopi itu dari mulutnya.
__ADS_1
Alex tak melanjutkan untuk meminum kopi itu kembali. Alex justru malah menangis, begitu teringat akan Nania. Alex tak bisa membayangkan betapa rindunya dia pada Nania. Kerinduan yang teramat pada Nania, hanya bisa Alex tahan dengan sebuah beban besar.
Tangis Alex semakin pecah, saat ingatan akan dirinya dengan Nania terus melintas di pikirannya. Alex tak bisa membohongi dirinya yang begitu rindu pada Nania. Sehingga Alex begitu merasa tersiksa dengan semua yang terjadi. Alex merasa apa yang di rasakan oleh dirinya adalah sebuah siksaan berat. Siksaan yang menghancurkan mental, pikiran dan segalanya.
Alex yang semakin tak terkontrol melempar gelas berisi kopi pahit buatannya. Seketika gelas itu pecah di banting oleh Alex. Sementara Alex terus menangis tanpa kontrol. Dia tak bisa menahan kerinduan akan Nania. Alex ingin bertemu dengan Nania, tapi dia tidak tahu Nania berada di mana. Sebuah posisi yang begitu membingungkan bagi seorang Alex saat ini.
Ponselnya bergetar, seseorang mengirimkan pesan pada Alex. Alex sempat antusias dengan pesan yang di kirim seseorang pada dirinya. Tapi saat melihat pesan itu dari Anne. Rasa antusiasme dari seorang Alex, hilang seketika. Alex langsung mematikan ponselnya. Berharap Anne tidak mengirimkan dirinya pesan kembali. Apalagi pesan dari Anne adalah sesuatu yang tidak penting. Suatu hal yang tidak seharusnya di kirim oleh Anne pada Alex.
__ADS_1