
Pagi sekali Julien's sudah mendatangi kantor pusat restorannya. Dia ingin membicarakan perihal promosi jabatan yang akan diberikan kepada beberapa stafnya yang dianggap kompeten selama bekerja di restoran. Laporan itu coba diberikan Julien's untuk dibahas lebih lanjut oleh pimpinan lainnya.
Dari sekian banyak staf promosi yang diserahkan oleh Julien's. Tak ada satu pun nama Thomas untuk mendapatkan promosi jabatan. Padahal Thomas sudah mengabdi cukup lama di restoran milik Julien's.
Bocornya nama-nama staf yang akan promosi jabatan sampai ke telinga Thomas. Melihat namanya tak muncul sebagai salah seorang yang direkomendasikan untuk promosi jabatan. Secara tak langsung membuatnya kecewa, sekaligus marah. Mengingat pengabdian Thomas yang diberikan selama ini seakan sia-sia.
Thomas mendatangi David yang merupakan manajer restoran. Dia berbicara akan namanya yang tak muncul untuk promosi. Sementara banyak staf dengan waktu pengabdian yang lebih singkat dari Thomas, justru mendapat promosi jabatan. Hal itu langsung membuat Thomas merasa dicurangi.
David menerima semua keluhan dari Thomas. Tetapi untuk masalah promosi jabatan, bukan jadi bagiannya. Semuanya diserahkan pada Julien's yang memiliki kendali penuh untuk masalah promosi jabatan.
David meminta Thomas untuk menanyakan pada Julien's perihal itu. Dia menyarankan pada Thomas untuk melakukan pada Julien's. Bukan padanya.
Thomas hanya mendapatkan kekecewaan. Dia seolah tak mendapat dukungan dari siapapun. Thomas memberanikan diri untuk menelpon Julien's.
Julien's yang tengah sibuk meeting bersama petinggi perusahaan lainnya. Menolak semua panggilan telepon dari Thomas yang berjumlah 3 panggilan telepon tersebut. Thomas menunggu waktu tepat untuk kembali menghubungi Julien's.
Ditengah kebahagiaan staf lainnya yang akan mendapatkan promosi jabatan. Thomas justru harus menelan pil pahit namanya tak masuk jadi salah satu staf yang akan promosi jabatan. Thomas bekerja dengan diselimuti kekecewaan besar pada Julien's yang tak memilih dirinya untuk promosi jabatan.
Julien's kembali dari kantor pusat. Tentu dia membawa kabar yang membahagiakan untuk para staf yang namanya tercantum dalam promosi jabatan. Julien's mengatakan semua petinggi perusahaan setuju akan promosi yang di dapat. Sehingga bukan depan mereka akan mendapatkan posisi baru di restoran.
Usai memberikan kabar bahagia itu, Julien's memilih istirahat sejenak di ruangan. Melakukan video call dengan Nania menjadi obat ampuh yang dilakukan Julien's ketika membuatnya kembali semangat kembali. Hanya beberapa menit melakukan video call, rasa capek dari Julien's perlahan hilang. Dia kembali ceria untuk menghadapi pekerjaan yang menuntutnya.
Baru beberapa menit yang lalu menutup panggilan video call dengan Nania. Seseorang mengetuk pintu ruangan Julien's. Tak ingin lama mengetuk pintu ruangannya, Julien's mempersilakan orang tersebut untuk masuk.
Thomas, ternyata dia yang mengetuk pintu ruangan Julien's. Thomas berjalan mendekati meja kerja Julien's. Sebelum akhirnya meminta izin untuk duduk di kursi yang berada di depan meja Julien's.
"Ada keperluan apa kamu mendatangi saya?" Tanya Julien's.
Baru akan menjawab pertanyaan darinya. Julien's kembali menembak Thomas dengan sebuah pertanyaan.
"Tunggu dulu... Kamu kalau gak salah tadi menelepon saya pas meeting?"
"Iya Chef, saya tadi yang telepon chef." Jawab Thomas sedikit gugup.
"Ada kepentingan apa kamu telepon saya sampai 3 kali?" Tanya Julien's menatap tajam wajah Thomas.
"Jadi....." Thomas semakin gugup.
Melihat Thomas yang semakin gugup. Julien's justru malah semakin menatap wajah Thomas.
"Jadi apa?" Todong Julien's.
"Jadi saya ingin menanyakan perihal promosi jabatan chef." Jawab Thomas dengan lancar.
"Promosi jabatan? Maksudnya?" Tanya Julien's bingung.
"Kenapa nama saya tidak ada di daftar staf yang mendapat promosi jabatan?" Alex menggugat.
"Itu artinya kamu belum layak untuk promosi!" Tegas Julien's.
"Tapi chef, saya dan staf lainnya hampir sama dalam hal skill memasak. Jadi gak adil buat saya kalau mereka mendapatkan promosi jabatan. Sementara saya tidak." Terang Thomas.
__ADS_1
"Ha-ha-ha.. Kamu bilang kamu layak? Kamu pikir promosi jabatan hanya soal skill saja. No, kamu salah. Promosi jabatan gak hanya soal skill doang. Semua aspek penilaian gak hanya dari skill memasak saja. Tetapi banyak indikator lainnya." Balas Julien's dengan tengilnya.
"Saya rajin... Bahkan ketika sakit pun saya tetap bekerja. Apa itu tidak jadi pertimbangan buat saya chef?" Nego Thomas.
"Kamu rajin mungkin iya, tapi kamu ingat. Kamu pernah telat masuk hampir setengah jam lebih. Itu yang buat kamu gak layak buat promosi!" Tegas Julien's.
"Tapi saya bisa berikan penjelasan akan hal itu." Ucap Thomas.
"Tidak ada alasan untuk apapun. Terlambat adalah satu hal tindakan yang tidak disiplin. Itu sebabnya kamu tidak layak buat promosi. paham!" Tutup Julien's.
Thomas tak dapat berkata lagi. Dia hanya mampu menahan kekecewaan akan jawaban dari Julien's. Tanpa berpamitan pada Julien's, Thomas pergi meninggalkan ruangan Julien's.
Thomas kembali bekerja di dapur. Tetapi perasaan kesalnya tetap tak hilang. Setiap temannya yang menyapa Thomas, dia jawab dengan begitu ketusnya. Hingga tak jarang adu mulut terjadi antara Thomas dengan staf lainnya.
Beberapa staf memaklumi perasaan Thomas yang sedang kacau. Sementara yang lainnya justru malah sengaja memancing emosi Thomas untuk membuatnya semakin marah. Hingga adu mulut itu hampir berubah menjadi adu jotos antara Thomas dengan staf lainnya.
Melihat Thomas yang semakin tak karuan, Maxime yang merupakan sahabat Thomas di restoran. Meminta Thomas untuk istirahat lebih awal. Thomas diminta untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Sebab suasana panas yang ada di dapur akan semakin membara dengan amarah yang ada di hati Thomas.
Thomas menuruti permintaan dari sahabatnya tersebut. Dia bergegas menuju loker untuk mengganti pakaiannya kerja dengan sebuah kaos. Thomas ingin mendinginkan hatinya yang terasa berada dalam pemanggangan daging.
Thomas berjalan keluar dari restoran. Entah kemana dia akan menepikan langkahnya. Tetapi dia belum mampu untuk mengontrol emosinya yang masih berada di level atas.
Sebuah bangku panjang tak jauh dari restoran tempatnya bekerja menjadi pilihan Thomas. Dia duduk dengan kepala menunduk. Suara bising yang terjadi disekitarnya, tak membuat Thomas bergeming. Thomas tetap menundukkan kepalanya.
Seorang pria dewasa tiba-tiba duduk disamping Thomas. Hanya berjarak satu sentimeter dari tubuh Thomas. Pria yang mengenakan topi flat newsboy yang acap kali dikenakan oleh Thomas Shelby itu. Tiba-tiba menepuk pundak Thomas yang sedari tadi membungkuk.
Thomas mengangkat pundaknya. Dia menatap wajah pria yang nampak seumuran dengan Julien's tersebut. Pria itu tersenyum pada Thomas sambil terus menepuk-nepuk pundak Thomas.
"Bukan urusan anda!" Tegas Thomas.
"Ha-ha-ha.." Tawa pria itu.
Thomas menepikan tangan dari pria itu di pundaknya.
"Kita gak kenal, jadi saya harap kita jangan seakan-akan kita akrab." Pinta Thomas dengan tegas.
"Iya saya tahu kita gak kenal. Mau berkenalan?" Ucap Pria itu menyodorkan tangannya.
Thomas hanya menatap tangan pria itu sambil sedikit menggelengkan kepalanya. Tetapi pria itu langsung menarik tangan Thomas untuk berkenalan.
"Saya Nick Carter Jhon. Pemilik restoran La'Renta." Ucap pria itu dengan tenang.
Thomas terkejut saat mengetahui pria tersebut. Dia benar-benar tidak menyangka dapat bertemu dengan Nick yang merupakan seorang pengusaha restoran ternama di Nice selain Julien's. Thomas akhirnya memberitahu namanya pada Nick.
"Thomas Lein." Ucap Thomas tersenyum.
Nick melepaskan tangan Thomas.
"Kamu kenapa terlihat sedih seperti itu?" Tanya Nick penasaran.
"Saya kecewa." Jawab Thomas singkat.
__ADS_1
"Kecewa pada siapa?" Tanya Nick semakin penasaran.
"Sama chef Julien's." Jawab Thomas dengan singkat kembali.
"Kenapa dengan dia, bukankah dia adalah seorang chef hebat yang punya banyak restoran?" Tanya Nick semakin penasaran.
"Ketika yang lain mendapatkan promosi jabatan. Dia membiarkan saya tidak mendapatkan promosi tersebut. Hanya satu kesalahan yang semuanya menjadi hancur." Terang Thomas.
"Begitulah seseorang yang telah menjadi manusia setengah dewa. Dia merasa paling sempurna yang tak mau menerima kesalahan orang lain. Padahal dirinya sendiri belum tentu lebih baik di masa lalu." Jelas Nick.
"Maksudnya?" Tanya Thomas bingung.
"Chef Julien's dulu adalah teman baik saya. Hingga tiba satu masalah yang membuat kita bertengkar hebat. Tetapi yang buat saya sakit hati dan kecewa pada chef Julien's adalah dia telah memenjarakan saya." Jelas Nick.
Thomas terkejut. Dia semakin penasaran dengan sosok Nick yang ternyata dulu dia adalah teman baik chef Julien's.
"Kenapa anda bisa dipenjarakan oleh chef Julien's?" Tanya Thomas semakin penasaran.
"Panjang ceritanya. Tetapi intinya kesalahan kecil yang dibuat besar olehnya." Tuntasnya.
"Apakah anda dendam pada chef Julien's?" Tanya Thomas.
"Dendam. Jika saya bisa menghancurkannya, saya ingin menghancurkan dia." Ucap Nick.
Kekecewaan Thomas pada Julien's juga mengubah sudut pandang Thomas pada Julien's. Dia juga perlahan menjadi dendam pada chef Julien's yang telah menyisihkan Thomas dari promosi jabatan. Thomas tertarik untuk bekerjasama dengan Nick untuk menghancurkan chef Julien's.
"Tapi kenapa anda tidak menghancurkan chef Julien's?" Tanya Thomas.
"Chef Julien's cukup kuat untuk dihancurkan. Sehingga butuh beberapa orang untuk dapat menghancurkannya." Jawab Nick dengan wajah jahatnya.
Thomas terdiam.
"Kamu mau bergabung bersama saya untuk menghancurkan chef Julien's?" Ajak Nick.
Thomas bingung. Dia memilih bungkam sambil sedikit memikirkan ajakan dari Nick tersebut.
"Bagaimana Thomas?" Tanya Nick mendalam.
Thomas yang masih sedikit ragu akhirnya memilih untuk tak menjawab pertanyaan dari Nick. Terlebih waktu istirahat dia yang telah melewati batas yang ditentukan akan membuat Thomas semakin dalam tekanan di restoran. Dengan segera Thomas berpamitan pada Nick untuk kembali bekerja di restoran.
Benar saja. Thomas kembali telat masuk kedalam restoran. Walaupun hanya 5 menit, tetapi Julien's yang mengetahui keterlambatan Thomas masuk kedalam restoran. Menjadikan Julien's memaki Thomas dengan begitu kasarnya.
Thomas menunduk begitu Julien's berada di section tempat Thomas bekerja. Dengan wajah marah, Julien's langsung memarahi Thomas di depan staf lainnya.
"Kamu merasa layak sekarang udah promosi?" Tanya Julien's.
Thomas terdiam dan menunduk.
"Lihat berapa menit kamu telat masuk ke dapur. Sementara kamu dengan percaya diri untuk mendapatkan promosi. Sampah seperti kamu tidak layak naik kelas." Tegas Julien's.
Retak dan nyaris hancur berkeping-keping hati Thomas mendengar ucapan dari Julien's. Dia semakin ingin bergabung bersama Nick untuk menghancurkan Julien's. Mengingat rasa sakit hati yang dialami Thomas sudah berada di level atas. Hingga satu-satunya cara untuk membalas sakit hatinya adalah dengan menghancurkan Julien's.
__ADS_1