
80% saham kepemilikan restoran yang saat ini berjumlah 40 gerai itu menjadikan Julien's berada di pucuk pimpinan. Meskipun dia memiliki saham mayoritas dan meletakkannya dirinya pada posisi pimpinan. Tetapi Julien's masih bekerja layaknya karyawan biasa. Julien's lebih senang bekerja secara langsung, dibanding mengawasi di kantor.
Besok adalah ulang tahun dari restoran yang awalnya didirikan oleh ayah Julien's yang juga seorang chef. 30 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk restoran keluarga Julien's berjalan dengan segala rintangan yang mereka hadapi.
Sebuah konser mewah akan digelar. Dengan bintang tamu beberapa penyanyi hitam yang acap wara-wiri dilayar kaca. Julien's yakin, acara itu akan menjadi acara yang berkesan untuk seluruh karyawannya.
H-1 Julien's mengajak anaknya Romeo untuk melihat panggung megah yang akan digunakan untuk perayaan. Didampingi Nania yang sebagai baby sitter Romeo. Julien's melihat setiap detail dekorasi panggung yang akan digunakan.
Tak ditemukan masalah apapun. Panggung siap digunakan. Acara malam ini pun akan menjadi acara yang paling megah. Mengingat akan ada juga promosi jabatan bagi beberapa karyawan yang dianggap memiliki kinerja baik selama 1 tahun ini.
Selain karyawan yang akan hadir, acara kali ini juga akan didatangi oleh sanak saudara dari Julien's. Mereka akan berada dibarisan depan, atau akan menjadi salah seorang pembicara di acara malam besok.
Tak ingin melewatkan acara itu biasa saja. Julien's mengajak Nania untuk pergi belanja. Dia ingin membelikan Nania berbagai baju yang bisa dia kenakan untuk acara perayaan ulang tahun restorannya.
Tak ingin menganggu Nania belanja, Julien's memilih untuk meminta Nania belanja sendiri dengan kartu atm-nya yang unlimited. Sementara Julien's memilih untuk menunggu disebuah kafe yang berada di mall tersebut.
Hampir 30 menit belanja dengan hanya menenteng 3 paper bag ditangannya. Nania nampak begitu bahagia. Walaupun Julien's meminta dia untuk belanja sepuasnya.
"Kamu sudah belanjanya?" Tanya Julien's menyeruputnya kopinya.
"Iya sudah." Jawab Nania merapikan paper bag yang dia bawa disamping tempatnya duduk.
"Cepat juga. Kamu beli apa saja?" Tanya Julien's kembali.
Nania mengeluarkan satu persatu isi belanjaannya. Pertama dia mengeluarkan satu paper bag berisi baju milik Theo dan Romeo. Sebuah kemeja berwarna krem yang dia belikan untuk Theo. Kemeja itu cocok dengan ukuran Theo. Lalu Nania mengeluarkan kaos berwarna biru tua yang dia belikan untuk Romeo bergambar mobil yang menjadi favorit Romeo.
Di paper bag kedua, Nania mengeluarkan pakaian yang dibeli untuk suaminya. Sebuah kaos berwarna putih tipis yang bisa Julien's kenakan untuk baju dalamnya. Sementara setelan jas berwarna hitam yang memiliki garing vertikal berwarna silver menambah kesan mewah dari setelan jas tersebut. Celana dengan motif senada di pilih Nania. Celana itu benar-benar sangat cocok untuk Julien's.
Tentu satu paper bag lainnya, berisi sebuah gaun panjang yang akan Nania gunakan untuk acara besok malam. Gaun panjang yang indah dan akan cocok digunakan oleh Nania.
Melihat perhatian dari Nania pada anak-anaknya, Julien's langsung begitu terharu. Dia begitu terharu dengan apa yang dilakukan oleh Nania. Dimana Nania tak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan memikirkan semuanya juga. Hal yang membuat Julien's merasa beruntung memiliki Nania.
Mendengar ucapan dari Julien's, Nania juga turut terharu. Dimana air matanya hampir menetes melihat pujian yang diberikan oleh Julien's. Satu penghargaan tertinggi dalam hidup Nania sebagai seorang istri.
Nania yang harus menjemput Theo di sekolah. Meminta pada Julien's untuk segera bergegas dari kafe tersebut. Walaupun Julien's belum menghabiskan segelas kopi yang dia pesan. Tetapi Nania tak ingin membuat Theo menunggu. Sehingga Nania harus segera menjemput Theo di sekolah.
Sebagai seorang suami yang siaga, Julien's membawa 3 paper bag berisi belanjaan milik Nania. Satu persatu tenant yang ada di mall tersebut dilewati oleh Nania dan Julien's.
Mata Julien's tertuju pada sebuah tenant yang menjual perhiasan. Dia tertarik dengan gemerlap berlian yang nampak cantik. Julien's berbohong pada Nania untuk pergi ke toilet sebentar. Dia meminta Nania untuk menunggu di dalam mobil.
Sementara Nania didalam mobil, Julien's memilih untuk membeli perhiasan yang akan dia hadiahkan pada Nania. Mengingat cincin berlian yang dahulu Nania miliki, hilang dibuang oleh Beatrice.
"Ada yang saya bisa bantu tuan?" Tanya salah seorang pegawai perhiasan.
"Saya ingin membeli sebuah cincin untuk istri saya." Jawab Julien's.
"Cincin yang seperti apa yang tuan inginkan?" Tanya pelayan itu kembali.
"Kira-kira yang bagus yang mana?" Tanya balik Julien's.
Kemudian pegawai perempuan itu langsung membawa koleksi cincin mereka yang tentu memiliki kualitas yang bagus dan mahal. Lalu Julien's diminta untuk memilih cincin yang dia minta.
Pilihan Julien's jatuh pada sebuah cincin bermotif huruf N yang terbuat dari berlian murni. Harganya hampir sama dengan mobil Julien's. Tetapi demi membuat istrinya bahagia, Julien's rela mengeluarkan uang itu untuk Nania.
Selepas membayar, Julien's langsung bergegas menuju mobil. Senyum merekah yang nampak dari wajahnya tak henti menghilang. Dimana Julien's terus tersenyum sembari memandang cincin seharga mobil tersebut.
Masuk kedalam mobil, Julien's langsung memberikan cincin itu untuk Nania. Dibumbui dengan kalimat sayang, Julien's dengan romantis menyodorkan cincin itu ke hadapan Nania. Seketika Nania langsung dibuat terharu dengan pemberian dari Julien's.
Nania memeluk Julien's. Kemudian berulang kali mencium pipi kiri dan kanan Julien's. Hingga Julien's merasa bahagia juga dengan apa yang dia dapat dari Nania.
Nania meminta Julien's untuk memasang cincin itu ke jari manis Nania. Dia ingin hari ini jadi momen paling luarbiasa yang didapat Nania dalam hidupnya. Semuanya indah dengan yang Julien's berikan pada Nania.
Terpasang di jari manis dengan begitu indah. Nania kembali memeluk erat Julien's. Dia kembali mencium Julien's. Hingga Julien's merasa sedikit malu-malu dilihat oleh Theo.
Sepanjang perjalanan menuju rumah. Mata Nania tak henti menatap betapa indahnya cincin itu bersarang ditangannya. Dia tak henti memuji keindahan cincin yang diatasnya terdapat huruf N tersebut. Sesekali Julien's mengelus rambut Nania, ketika Nania sedang mengelus cincin barunya tersebut.
__ADS_1
Nania yang berangkat tanpa memberitahu Alex, membuat Alex mencari Nania disekitar rumahnya. Dia tiba-tiba ingin mengobrol dengan Nania. Walaupun entah obrolan seperti apa yang ingin dia obrolkan.
Roberto yang merupakan sopir pribadi Julien's memberitahu Alex, bahwasannya Nania pergi bersama Julien's. Mereka berangkat sejak pagi, bersama dengan Romeo juga.
Alex yang ingin tahu langsung kebenarannya, mencoba menghubungi Nania melalui telepon. Tetapi baru dia akan menekan nomor Nania untuk menelpon. Terdengar bunyi suara klakson dari Julien's.
Alex langsung bergegas untuk melihat mobil yang masuk kedalam parkiran rumah Julien's. Benar saja, itu adalah mobil Julien's yang tentunya membawa Nania didalamnya. Alex yang tak sabar menemui Nania. Langsung menghampiri mobil Julien's.
Nania keluar dari mobil, Alex langsung menawarkan Nania untuk pergi ke rumah temannya. Alex ingin berbagi cerita pasca kelulusan mereka dari tempat kuliah masing-masing.
Nania ingin menolak, tetapi Julien's lebih tahu rasa capek dari istrinya. Sehingga dia dengan tegas menolak ajakan dari Alex pada Nania.
Alex dapat tambahan suara, usai Beatrice mengizinkan Nania untuk keluar. Beatrice majikan Nania, sehingga Beatrice memiliki kendali penuh atas Nania. Dan Beatrice mengizinkan Nania pergi bersama Alex.
Lampu hijau dari Beatrice, tak mampu membuat Julien's berkata apapun lagi. Dia hanya terdiam, merelakan istrinya pergi bersama Alex. Begitu juga Nania yang akhirnya pergi bersama Alex, walaupun sebenarnya dia lelah usai melihat persiapan panggung dalam acara ulang tahun restoran.
Alex membawa salah satu koleksi mobil Julien's. Dia memasangkan sabuk pengaman melingkar di tubuh Nania. Dengan senyuman manis sebagai balasan dari Nania pada Alex.
Sepanjang perjalanan wajah Nania tak bisa berbohong. Dia lelah, hampir seharian melihat panggung. Kemudian berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Cukup mengurus tenaganya. Mungkin sedikit rebahan dia harus dapatkan. Tetapi Alex yang ingin ditemani oleh Nania meminta Nania pergi bersamanya.
Untuk mencairkan suasana, Alex mencoba membuat obrolan yang diharapkan bisa membuat Nania lebih nyaman pergi bersamanya.
"Kamu tadi abis dari mana Nan?" Tanya Alex.
"Aku abis dari lokasi buat acara ulang tahun restorannya pak Julien's." Jawab Nania.
"Gimana panggungnya?" Tanya Alex mendetail.
"Luas, bagus dan mewah."
"Kamu suka gak?"
"Suka. Suka aja."
Alex melihat cincin yang begitu berkilau, begitu Nania mengangkat tangannya. Dia penasaran dengan cincin yang baru pertama kali dia lihat tersebut.
Nania terkejut, lalu mulai menyembunyikan cincin itu dari pandangan Alex.
"I.. I.. Iya." Nania Gugup.
"Kamu beli sendiri, atau ada yang yang memberikan kepada kamu?" Tanya Alex.
Nania bingung. Nania memikirkan jawaban yang harus dia berikan pada Alex. Mengingat jika dia jujur, Alex akan curiga akan hubungannya dengan Julien's.
"Aku...." Jawab Nania menggantung.
"Kamu beli sendiri?" Alex semakin penasaran.
"I..Iya." Jawab Nania berat.
"Boleh aku lihat?" Pinta Alex.
"Buat apa?" Tanya balik Nania.
"Buat lihat saja." Jawab Alex simple.
Nania perlahan mengangkat cincinnya kearah Alex. Kemudian dengan tangan kirinya, Alex mencoba mengelus lembut cincin yang melingkar di jari manis Nania.
"Cincinnya cantik, sama persis seperti kamu." Ucap Alex sambil tersenyum.
Nania seketika tersenyum dengan gombalan yang diucapkan oleh Alex. Wajah kusutnya sedari perjalanan dari rumah, perlahan berganti dengan wajah gembira usai mendapatkan pujian dari Alex. Entah mengapa dia begitu bahagia, begitu Alex memujinya. Meskipun tentu tidak ada rasa cinta sedikit pun dari hatinya.
Alex berhasil mencairkan suasana. Hingga dia bisa tenang untuk membawa Nania ke rumah temannya. Mengingat wajah cantik Nania yang dipenuhi senyuman manis telah kembali.
Sampai di rumah temannya tersebut. Alex langsung membawa Nania menuju pintu rumah temannya itu. Tak perlu mengetuk pintu, Alex dan Nania langsung disambut oleh Fritz yang merupakan kawan baik Alex selama di Amerika.
__ADS_1
Fritz membawa Alex dan Nania ke ruang tamu rumahnya. Meminta keduanya duduk, lalu menawarkan segelas minum untuk untuk melepas dahaga.
Tak hanya membawa dua gelas minuman saja. Tetapi Fritz juga membawa beberapa cemilan yang dibawa oleh sepupunya yang ternyata itu adalah Thomas.
Baik Nania dan Thomas begitu satu sama lain. Nania mencoba mengalihkan pandangan. Sementara Thomas justru heran dengan kedatangan Nania bersama Alex yang membuatnya bertanya.
Fritz tak hanya membawa Thomas untuk membawa cemilan yang akan disuguhkan pada Alex dan Nania. Tetapi dia juga memperkenalkan Thomas pada Nania dan Alex.
"Kenalkan ini Thomas sepupu gue." Ucap Fritz.
"Gue Alex." Ucap Alex menyodorkan tangan pada Thomas.
Setelah Fritz memperkenalkan Thomas, giliran Alex yang memperkenalkan Nania pada Fritz.
"Kenalkan ini Nania." Ucap Alex kepada Fritz dan Thomas.
Thomas menyodorkan tangannya untuk berkenalan pada Nania yang terlihat tetap duduk dengan pandangan kebawah.
"Thomas!" Menyodorkan tangan.
Melihat tangan Thomas yang berada dihadapannya. Nania langsung menjabatnya.
"Nania."
Mata Thomas benar-benar membuat Nania sedikit grogi. Bukan karena pandangan akan cinta, tapi maksud dari Thomas yang terkadang sulit ditebak. Hingga Nania harus bisa mengartikan sendiri.
Usai Thomas berpura-pura berkenalan dengan Nania. Giliran Fritz yang memperkenalkan diri pada Nania. Gaya cozy Fritz yang slengean. Tetap tak mampu membuat Nania tenang. Dia khawatir dengan keberadaan Thomas disana.
Acara berkenalan pun usai. Thomas memilih menepi dari ruang tamu. Dia berpamitan pada yang lainnya untuk masak di dapur. Maklum Thomas sendiri adalah chef. Sehingga jiwa-jiwa memasaknya seketika tumbuh ketika melihat dapur.
Alex dan Fritz memulai cerita mereka akan kelulusan kemarin. Dimulai dari Fritz yang sukses dengan cumlaudenya dalam magister ekonomi. Kemudian dilanjutkan dengan Alex yang sudah mendapat izin praktek dari pemerintah setempat. Keduanya asyik mengobrol, tanpa memperdulikan Nania.
Tak mendapat bagian bicara, Nania lebih memilih melakukan stalking di sosial media miliknya. Tetapi ketika dia sedang asyik melihat sosial medianya. Sebuah pesan pendek masuk kedalam ponselnya. Pesan berisi ajakan dari Thomas pada Nania. Dia meminta Nania pergi ke dapur untuk menemuinya.
Nania ingin menolak. Tetapi ancaman dari Thomas nyata adanya. Hingga akhirnya dengan terpaksa Nania bersedia mengikuti semua perintah dari Thomas.
Dengan alibi ingin pergi ke toilet. Nania meminta izin pada Alex dan Fritz. Fritz ingin mengantar Nania menuju arah toilet. Tetapi Nania menolak. Dia memilih untuk pergi sendiri. Sebab dia bukan ingin ke toilet, melainkan menemui Thomas di dapur rumah Fritz.
Satu demi satu ruangan di rumah Fritz, Nania lewati. Luas dan megah, hingga Nania harus melewati banyak ruangan untuk menemukan dapur rumah Fritz.
Begitu Nania akan menuju dapur, Alex menarik tangan Nania. Kemudian dengan kasar mendorong tubuh Nania di dekat sebuah pintu menuju dapur rumah Fritz. Dengan pandangan penuh amarah, Alex melakukan interogasi terhadap Nania.
"Siapa laki-laki itu?" Tanya Thomas dengan mata melotot.
"Siapa, Alex?" Tanya balik Nania.
"Siapa lagi kalau bukan dia." Jawab Thomas.
"Dia adalah Alex. Adik dari Julien's." Ucap Nania.
"Jadi sekarang kamu selingkuh sama dia?" Tanya Thomas.
"Enggak! Aku gak selingkuh. Dia cuman minta buat ditemani buat kesini saja." Jawab Nania penuh ketakutan.
"Terus apa dia tahu, kalau kamu ada istri dari chef Julien's?" Tanya Alex dengan tangannya yang mengelus lembut wajah Nania.
Nania yang ketakutan tak bisa berkata lagi. Dia hanya menggelengkan kepala dengan pertanyaan dari Thomas.
"Bagaimana kalau aku kasih tahu dia, kalau sebenarnya perempuan yang bersamanya saat ini adalah adik iparnya sendiri." Ancam Thomas.
"Jangan.... Jangan kamu kasih tahu Alex." Pinta Nania.
"Kalau jangan, itu artinya kamu harus ikuti semua perintah aku. Sekarang kamu layani aku Nania." Pinta Thomas mencoba mencium Nania.
Nania pasrah sembari berharap tak akan ada apapun yang terjadi padanya hari ini. Dia berdoa semoga ada seseorang yang menolong Nania dari kebejatan Thomas.
__ADS_1
Doa Nania terkabul. Ucapan dari ibu Fritz membuat Thomas terkejut. Dia yang hampir mencium Nania. Dengan segera menjauhi Nania. Mendapat kesempatan untuk pergi. Nania langsung pergi dari tempat tersebut. Dia akhirnya bisa melarikan diri dari dekapan Thomas.