SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEMANA NANIA PERGI?


__ADS_3

Sedikit meregangkan otot-otot tubuh yang sedikit kaku. Alex menyudahi pekerjaan di hari ini dengan begitu lelah. Beberapa pasien di hari ini datang dengan keluhan penyakit yang beragam, hingga Alex harus bisa menjadi seorang yang cepat tanggap dalam menangani pasien yang datang.


Melepaskan terlebih dahulu pakaian dokter yang di kenakan olehnya. Alex bersiap untuk pergi ke rumah sakit lainnya, untuk melihat kondisi Beatrice. Sekaligus bertemu dengan keluarga besarnya yang masih berada di rumah sakit.


Sebelum pergi, sepertinya mengajak Nania makan malam bersama itu adalah ide yang cukup bagus. Alex segera menelpon Nania untuk mengajak Nania makan malam bersama.


Di panggilan pertama, data di ponsel Nania tidak menyala. Hingga panggilan itu tidak tersambung. Alex pun melakukan cara lain, dengan melakukan panggilan telepon biasa.


Namun di panggilan kedua dengan telepon biasa, handphone Nania juga tetap tidak bisa di hubungi oleh Alex. Alex pun bingung dengan Nania yang tidak mengaktifkan ponselnya.


Untuk mengetahui keberadaan dari Nania, Alex langsung melakukan panggilan telepon terhadap ibunya. Satu kali panggilan telepon pada ibunya, langsung tersambung.


"Hallo Bu." Sapa Alex.


"Iya sayang, ada apa?" Tanya ibu Alex.


"Ibu dimana?" Tanya balik Alex.


"Ibu masih di rumah sakit."


"Di sana ada Nania?"


"Tidak ada Alex. Dari tadi Nania tidak ada di sini. Ponsel dia juga tidak aktif dari tadi."


Alex terdiam mendengar penjelasan dari ibunya. Kemana Nania pergi? Dimana dia berada sekarang? Beberapa pertanyaan yang ada di pikiran Alex saat ini.

__ADS_1


Alex langsung mengakhiri panggilan telepon dengan ibunya. Di tengah rasa lelahnya, usai bekerja. Alex tetap memutuskan untuk mencari Nania. Mengingat Nania yang tak bisa di hubungi sedari tadi.


Tujuan pertama dari Alex adalah apartemen dari seorang Aurille. Mungkin saja Nania ada di sana. Itu bisa menjadi opsi yang bagus untuk Alex datangi. Mengingat perjalanan menuju rumah sakit dari Beatrice di rawat, melewati apartemen tempat Marrie tinggal.


Sambil terus mengubungi nomor telepon dari Nania. Alex mengarahkan mobilnya menuju ke arah apartemen Aurille. Kurang fokusnya Alex ketika mengendarai mobil miliknya sendiri. Alex beberapa kali hampir menabrak mobil lain yang ada di depan mobilnya. Untung nasib baik masih menaungi dirinya, hingga Alex berhasil menghindar dari kecelakaan maut tersebut.


Tiba di apartemen Aurille dengan penuh perjuangan. Alex langsung mengetuk pintu apartemen dari Aurille. Beberapa kali ketukan pintu apartemen Aurille di lakukan. Tak satu pun mendapat jawaban.


Mungkin dengan menelepon Aurille, ini bisa menjadi opsi yang baik bagi Alex. Mengingat Aurille sepertinya tidak ada di apartemen miliknya.


Aurille yang berada di rumah sakit, memilih untuk menolak panggilan telepon dari Alex. Dia masih cukup kesal akan peristiwa yang terjadi antara Alex dan Nania tempo hari itu. Hingga Aurille tak bisa melupakan kejadian itu begitu saja. Aurille langsung menolak setiap panggilan telepon dari seorang Alex.


Tiga kali panggilan telepon darinya di tolak oleh Aurille. Alex sempat heran dengan sikap dari Aurille. Ada apa dengan seorang Aurille yang menolak panggilan telepon darinya? Apakah Aurille marah pada seorang Alex? Namun Alex tak mengerti apa yang membuat seorang Aurille marah padanya. Sempat berpikir keras akan masalah yang membuat Aurille marah padanya. Namun Alex tak menemukan satu pun permasalahan yang bisa membuat Aurille marah. Namun kenapa Aurille marah pada seorang Alex. Masih menjadi misteri tersendiri bagi seorang Alex.


Tak menemukan Nania di apartemen Aurille. Alex segera kembali masuk ke dalam mobilnya. Mungkin Alex akan menanyakan pada beberapa anggota keluarganya akan Nania. Mengingat sebelum Alex berangkat ke bekerja, Nania masih berad di rumah sakit bersama keluarganya.


Melihat kedatangan seorang Alex, Aurille dengan wajah kesalnya. Langsung meninggalkan obrolan yang cukup serius dengan seorang perawat itu. Alex yang tak ingin kehilangan jejak seorang Aurille, langsung menarik tangan Aurille. Kemudian menahan tangan Aurille untuk tidak pergi menjauh dari dirinya.


"Aku mohon, kamu jangan pergi dulu." Pinta Alex dengan penuh harap.


"Lepaskan aku Alex, lepaskan." Bentak Aurille yang semakin berontak.


Alex akhirnya melepaskan tangannya dari Aurille. Membiarkan dirinya lepas begitu saja. Namun Aurille tak juga pergi dari hadapan seorang Alex. Dia begitu tak tega melihat wajah letih dari seorang Alex. Ingin rasanya bagi Aurille untuk bisa menyembuhkan wajah letih daripada Alex.


"Aku cuman ingin tanya dua hal sama kamu!" Pinta Alex dengan penuh harap.

__ADS_1


"Tanya apa?" Tanya Aurille dengan sedikit ketus.


"Kenapa kamu marah?" Tanya balik Alex menatap wajah Aurille.


Aurille terdiam. Di dalam hatinya, dia begitu menangis. Dia ingin berkata, tapi sulit baginya untuk mengucap. Semuanya terasa begitu berat. Hingga Aurille memilih untuk diam, sambil menunduk.


Alex mulai menunjukkan sisi romantis dari dirinya. Dia mengangkat kepala seorang Aurille, menatap mesra wajahnya yang terlihat begitu bersedih. Sebelum akhirnya memeluk tubuh Aurille dengan begitu erat.


"Kamu kenapa, apa yang membuat kamu marah sama aku. Ayo jawab Aurille. Jawab!" Pinta Alex dengan penuh harap.


Aurille akhirnya tak mampu lagi menahan air matanya. Tumpah semua air mata dari seorang Aurille. Hingga dia tak bisa menahan lagi air matanya untuk tidak jatuh. Air matanya seketika membasahi wajahnya.


Begitu Aurille bisa lebih tenang. Aurille dan Alex mengobrol dengan begitu santainya di bangku panjang di depan kamar perawatan saudara Aurille. Obrolan santai itu akhirnya membuka mata seorang Alex akan cinta Aurille yang tak pernah nampak darinya. Aurille juga mengatakan dirinya yang begitu sangat cemburu pada seorang Nania yang semakin dekat dengan Alex. Perasaan yang wajar, di rasakan seseorang yang menyukai seorang pria.


Alex yang tak memiliki perasaan apapun pada Aurille, meminta maaf tidak mampu membalas cinta tulus seorang Aurille. Dia mengatakan jika dirinya tak memiliki perasaan yang sama seperti Aurille rasakan pada Alex.


Terasa pahit bagi seorang Aurille. Namun dia menerima semua pengakuan jujur dari Alex. Lebih baik mendengar kenyataan secara langsung. Daripada harus terus menutup diri dari kenyataan itu. Aurille bersyukur, akhirnya Alex bisa jujur akan perasaannya pada seorang Aurille. Meskipun akhirnya Aurille mengetahui jika Alex tak memiliki perasaan pada dirinya. Sekali lagi, kejujuran itu membuka mata Aurille. Jika dirinya mungkin bukan orang yang tepat untuk Alex. Aurille pun mulai memikirkan untuk tidak lagi mengejar cinta Alex yang tentu tidak ada untuknya.


Untuk Nania sendiri, Aurille tidak mengetahui kemana dia pergi. Sebab Nania tidak memberitahu dirinya juga. Terlebih Aurille dan Nania sempat sedikit cekcok. Sehingga tak mungkin Nania memberitahu seorang Aurille kemana dia akan pergi.


Telah mendapat informasi dari Aurille. Alex meninggalkan Aurille untuk mendatangi kamar perawatan Beatrice. Mungkin Alex bisa menggali informasi dari keluarganya akan keberadaan dari seorang Nania. Mengingat sebelum pergi, Nania tentu berada bersama keluarga besar Alex.


Kedatangan dari Alex sempat membuat panas suasana. Terlebih Alex yang begitu panik mencari keberadaan seorang Nania. Julien's menganggap apa yang di lakukan oleh Alex sudah sangat berlebihan. Alex terlalu khawatir pada seorang Nania yang jelas-jelas bukan siapa-siapa dari Alex.


Mendengar ucapan ketus dari Julien's. Alex langsung terpancing emosi. Alex melihat Julien's tidak pernah senang dengan kedekatan seorang Nania dengan Alex. Alex mempertanyakan hak Julien's untuk melarang Alex berdekatan dengan Nania. Hak yang tidak wajar bagi seorang Julien's. Mengingat Alex dan Nania sama-sama lajang. Hingga tak salah keduanya untuk dekat.

__ADS_1


Keributan itu untung segera bisa di atasi oleh ibunya. Tentu ini bukan tempat yang bagus untuk ribut. Mengingat ini adalah rumah sakit. Keributan akan menganggu pasien lain yang berada di rumah sakit. Hingga Alex dan Julien's di minta untuk tidak melakukan keributan di kamar perawatan tersebut.


Alex yang masih cukup kesal pada Julien's, langsung memilih pergi meninggalkan kamar perawatan dari seorang Beatrice. Mungkin itu lebih baik, dibanding Alex harus kembali adu mulut dengan Julien's di kamar perawatan Beatrice.


__ADS_2