SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
USAHA NANIA MENDEKATI MARRIE


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok... Nania mengetuk pintu kamar Marrie. Marrie tak kunjung keluar, kemudian dia kembali mengetuk pintu kamar Marrie. Akhirnya setelah hampir ketukan kelima. Marrie keluar dari kamarnya.


Ditangan Nania, sebuah kotak yang dibungkus kertas berwarna coklat begitu erat dia peluk. Rupanya kota yang cukup besar itu adalah paket milik Marrie. Nania hendak mengantar ke kamar Marrie.


"Ada apa kamu ke kamar saya?" Tanya Marrie dengan ketus.


"Aku cuman mau kasih paket ini buat kamu." Jawab Nania menyodorkan paketnya.


Dengan kasarnya Marrie mengambil paket itu dari tangan Nania. Kemudian dengan nada tinggi, Marrie mengusir Nania dari hadapannya.


"Kenapa masih disini, cepat pergi!"


"Tapi ngomong-ngomong isi paket itu apa?" Tanya Nania penasaran.


"Apapun isi paket ini, kamu gak berhak tahu. Sebab kamu bukan siapa-siapa buat saya." Tegas Marrie tetap dengan nada bicara tinggi.


Mendengar keributan di kamar Marrie. Julien's yang sedang bersantai dengan segelas kopi di teras rumah. Langsung mendatangi kamar Marrie.


"Ada apa, sore-sore gini kok ribut?" Tanya Julien's.


"Tadi aku antar paket Marrie, aku penasaran dengan isi paket itu. Kelihatan seperti alat make up. Aku cuman khawatir Marrie salah pilih produk kosmetik buatnya. Kulit dia masih sensitif, jadi harus berhati-hati." Jawab Nania dengan lembut.


"Benar juga." Timpa Julien's.

__ADS_1


Julien's mengarahkan pandangannya pada Marrie.


"Jangan sok tahu kamu perempuan jahat." Ucap Marrie menunjuk wajah Nania.


Julien's langsung menurunkan tangan Marrie yang menunjuk wajah Nania tersebut. Kemudian dengan lembut, meminta Marrie untuk memberitahu isi dari paket tersebut.


Marrie akhirnya mengakui isi paket itu adalah kosmetik yang dia beli di sebuah toko online. Namun saat paket itu dibuka. Ternyata benar dugaan dari Nania, paket kosmetik itu tidak cocok untuk Marrie yang masih remaja. Dia menyarankan agar Marrie tidak menggunakan kosmetik tersebut.


Marrie menolak! Dia tetap tidak peduli dengan ucapan dari Nania. Marrie akan tetap menggunakan kosmetik itu sebagai alat untuknya mempercantik diri.


Marrie bergegas menuju kamarnya, kemudian membanting keras pintu kamarnya. Lalu menguncinya rapat-rapat. Dia memilih mengunci diri di dalam kamar, berusaha mencoba kosmetik yang dia beli. Walaupun Nania sudah peringatan itu tidak baik untuk kulitnya. Namun Marrie tak memperdulikannya.


Julien's hanya mengerutkan keningnya. Sementara Nania berharap tidak terjadi iritasi di kulit Marrie. Mengingat kosmetika itu bukan untuk remaja seumuran Marrie.


Sambil memantau Theo dan Romeo diatas sebuah ayunan berwarna putih. Nania duduk bersebelahan dengan Julien's, mengutarakan keinginannya untuk bisa dekat dengan Marrie. Dia ingin sekali bisa menjadi ibu, sekaligus teman untuk Marrie.


Julien's menyarankan Nania untuk membelikan Marrie sesuatu. Contohnya sebuah baju yang Marrie suka, atau hal lain yang memang bisa dijadikan hadiah untuk Marrie. Sehingga bisa membuat Marrie luluh hatinya.


Mendengar kata hadiah yang Julien's ucapkan. Nania pun terpikir sebuah hadiah menarik yang akan dia berikan pada Marrie. Iya, dia ingin memberikan Marrie perlengkapan make up yang sesuai untuk umurnya. Sehingga Nania meminta Julien's untuk mengantar Nania menuju toko kosmetik.


Tetap dengan Theo dan Romeo, Nania mendatangi sebuah toko kosmetik yang tak jauh dari rumah mereka. Nania benar-benar memilih kosmetik yang sesuai untuk Marrie yang masih berusia 17 tahun. Sehingga dia memilih kosmetik yang terbuat dari bahan alami.


Kosmetik untuk Marrie telah di pilih, Nania kembali masuk kedalam mobil. Julien's menawarkan untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah. Namun Nania menolaknya, dia ingin segera memberikan hadiah tersebut pada Marrie.

__ADS_1


Nania memeluk erat paper bag berisi kosmetik tersebut. Dia membayangkan betapa bahagianya Marrie ketika menerima hadiah darinya. Terlebih hadiahnya adalah peralatan kosmetik yang menjadi dambaan para remaja wanita.


Ketika Julien's memarkir mobilnya di parkiran rumahnya. Nania langsung bergegas menuju kamar Marrie, untuk memberikan hadiah miliknya tersebut.


Melihat Marrie yang sedang melentangkan tubuh diatas sofa. Nania langsung menghampirinya. Kemudian menyapa Marrie, sebelum memberikan kosmetik tersebut padanya.


"Hi Marr." Sapa Nania dengan tangan dibelakang badannya.


Marrie bangun, kemudian melepaskan earphone yang ada di telinganya.


"Ada apa kamu panggil nama saya?" Bentak Marrie.


Nania tetap tersenyum dengan bentakan Marrie.


"Aku punya hadiah buat kamu." Ucap Nania antusias.


Marrie menatap heran wajah Nania.


Tanpa basa-basi lagi, Nania menarik tangan Marrie. Kemudian meletakkan paper bag berisi kosmetik ditangannya.


Marrie menolak. Namun Julien's yang baru masuk kedalam rumah meminta Marrie menerima hadiah dari Nania tersebut. Sebab Nania membeli hadiah itu khusus untuk Marrie dengan uang tabungannya sendiri. Jadi sepatutnya Marrie mau menerima hadiah tersebut.


Dengan berat hati, Marrie menerima hadiah itu. Tak terucap kata terimakasih sama sekali. Dia beranjak menuju kamarnya. Sementara Nania begitu senang Marrie mau menerima hadiah darinya. Dia berharap kosmetik itu bisa menjadi alat make up yang cocok untuk Marrie.

__ADS_1


__ADS_2