
2 hari memilih untuk tidak pulang ke rumah Julien's. Di hari ketiga, Alex kembali tinggal di rumah Julien's. Hanya menegur Beatrice sebagai kakak iparnya. Alex memilih puasa untuk berbicara dengan Julien's.
Alex yang pulang ke rumah Julien's di kala pagi. Mengejutkan seisi rumah ketika semuanya sedang asyik sarapan. Wajah kusut yang nampak diraut wajah Alex, tak dapat disembunyikan. Alex masih marah.
"Alex, sini sarapan sama-sama." Ajak Beatrice.
"Maaf mbak, tadi aku sudah sarapan diluar. Jadi sudah kenyang." Tolak Alex halus.
"Paman Alex kemana saja. Theo kangen sama paman." Ucap Theo dengan begitu polosnya.
"Paman ada. Kemarin paman tidur di rumah nenek. Makanya gak tidur disini." Jawab Alex sedikit tersenyum.
Tak ingin mengganggu sarapan keluarga lainnya. Alex memilih untuk segera masuk kedalam kamarnya. Alex yang harus mengurus Anne selama dua hari di rumah sakit. Tampak lelah dengan kemanjaan yang ditunjukkan Anne.
Alex menjatuhkan dirinya keatas kasur. Mencoba menutup matanya untuk tertidur beberapa jam saja. Baru akan menutup mata. Suara dering di ponsel Alex mengejutkannya.
Suara dering itu ternyata notifikasi dari email Alex. Email itu membawa pesan dari rumah sakit tempat Alex melamar pekerjaan. Dimana isi email tersebut panggilan kerja Alex dari rumah sakit tersebut.
Wajah kusut Alex seketika berubah. Berganti dengan kebahagiaan yang tiada tara. Dia bangkit dari posisi rebahan diatas kasurnya. Kemudian mengepal kedua tangannya. Dia bahagia dapat diterima sebagai dokter di rumah sakit tersebut.
Alex membawa kabar bahagia itu kepada semua orang yang berada di meja makan. Tetap dengan senyum penuh kebahagiaan, Alex memberikan kabar gembira tersebut pada semua.
"Aku ada kabar gembira!" Ucap Alex.
"Kabar gembira apa?" Tanya Beatrice penasaran.
"Aku resmi di terima jadi dokter di rumah sakit terbesar di kota ini!" Jawab Alex dengan penuh kebahagiaan.
"Wih selamat paman Alex. Paman emang hebat." Ucapan pertama dari Marrie.
__ADS_1
"Hebat paman. Hebat." Theo ikut bergembira.
"Selamat Alex. Semoga kamu bisa menjadi seorang dokter yang bertanggungjawab dengan semua pekerjaan kamu." Nasehat Beatrice.
Tanpa rasa berat sedikitpun. Julien's juga memberikan selamat kepada Alex yang telah resmi menjadi seorang dokter.
Alex menunggu Nania memberinya ucapan selamat. Nania seolah tak memperdulikan kebahagiaan Alex. Dia tak menatap Alex, hanya fokus pada makanan yang dia makan. Alex terus melirik Nania, tetapi Nania tak memperdulikannya.
Tak mendapatkan respon positif dari Nania. Alex yang sebenarnya diliputi kebahagiaan, terasa hambar. Sebab Nania tak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Padahal ucapan selamat yang keluar dari mulut Nania bisa semakin memotivasi Alex untuk semakin lebih semangat lagi.
Alex kembali ke kamarnya dengan membawa perasaan gembira, tetapi sedih. Dia rasa yang bercampur satu yang membuat datar ekspresinya kini.
Alex kembali menjatuhkan tubuhnya keatas kasur. Alex terus memikirkan Nania yang begitu dingin padanya. Untuk sekedar meliriknya pun enggan, apalagi bicara. Nania berusaha menjauh dari Alex.
Alex mengirim pesan singkat untuk Nania. Dia ingin berbicara empat mata dengan Nania. Dimana dia ingin mengetahui apa penyebab Nania enggan berbicara dengan Alex. Sehingga membuat Alex bingung dan bimbang.
5 menit terkirim, Nania enggan membaca pesan dari Alex tersebut. Ponselnya selalu dalam genggaman, hingga tak mungkin jika Nania tak mengetahui pesan yang Alex kirim.
Akhirnya usaha spam yang dilakukan oleh Alex berhasil. Nania membuka pesan dari Alex. Tetapi Nania menolak permintaan bertemu dari Alex. Nania mengatakan dia tidak bisa bertemu dengan Alex. Sebab dia harus bersiap untuk mengantar Theo ke sekolah.
Alex menggunakan cara frontal untuk dapat berbicara empat mata dengannya. Alex mendatangi Nania yang sedang berada di kamar Theo. Alex menarik tangan Nania, lalu membawa Nania keluar dari kamar Theo. Nania menolak dengan terus mengatakan lepaskan.. Lepaskan... Lepaskan. Tetapi Alex tetap menarik Nania keluar kamar.
Suara keributan yang terjadi di kamar Theo. Terdengar juga oleh Julien's. Dia yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke restoran, langsung menghampiri sumber keributan tersebut.
"Ada apa ini?" Tanya Julien's tetap di depan kamar Theo.
"Enggak ada apa-apa." Jawab Alex tetap menggenggam erat tangan Nania.
Julien's yang melihat Alex menggenggam erat tangan Nania hingga Nania terlihat kesakitan. Seketika marah. Julien's meminta Alex melepaskan genggaman tangannya. Tetapi Alex menolak. Hingga keduanya adu mulut.
__ADS_1
Naik pitam, Julien's akhirnya menggunakan sedikit kekerasan agar Alex mau melepaskan genggaman tangannya. Julien's menampar Alex, lalu menarik Nania dipelukannya.
"Kamu itu bukan anak kecil. Jadi jangan pernah memaksakan keinginan kamu seperti itu." Tegas Julien's.
"Urusan sama kakak apa. Kakak tidak hak untuk melarang aku berbicara dengan Nania." Jawab Alex tak kalah marah.
"Nania adalah pegawai aku. Jadi kakak berhak atas dia." Terang Julien's.
Alex seketika mati kutu. Dia terdiam dengan pandangan penuh amarah pada Julien's.
"Dan mulai detik ini. Kakak minta kamu pergi dari rumah kakak!" Tegas Julien's.
Nania terkejut. Sementara Alex menerima pengusiran yang dilakukan Julien's terhadapnya.
"Baik. Kalau memang itu mau kakak. Aku akan pergi dari rumah ini. Tapi Nania harus ikut dengan aku. Aku akan gaji Nania berkali-kali lipat dari gaji dia disini." Pinta Alex.
"Jangan harap kamu bisa membawa Nania. Sebab Nania akan selamanya berada di rumah ini sebagai pengasuh Romeo dan Theo. Paham!" Tegas Julien's.
"Sekarang kita tanya saja pada Nania. Apakah dia ingin ikut bersamaku atau tetap jadi pengasuh Theo dan Romeo." Tanya Alex.
Kedua mata Alex dan Julien's sama-sama menatap tajam kearah wajah Nania. Kedua seakan menunggu jawaban yang pasti dari Nania.
Beberapa detik dilanda kebingungan. Akhirnya Nania memantapkan hati untuk menjadi pengasuh Theo dan Romeo. Seketika Alex harus dibuat patah hati oleh keputusan Nania. Dia kecewa Nania tidak memilihnya.
Alex pergi dengan perasaan hancur. Tentu kini tujuan pelarian dia adalah rumah ibunya. Sebab Alex harus bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit esok hari. Sehingga butuh tempat bernaung yang pasti.
Sepanjang perjalanan menuju rumah ibunya, Alex terus diliputi perasaan bersedih. Dimana Nania lebih memilih tetap bersama Julien's dibanding ikut dengannya.
Begitu Alex sudah pergi. Nania langsung memeluk Julien's. Dia mencoba menenangkan Julien's yang sedikit terbawa emosi dengan perilaku Alex yang semakin agresif dalam merebut cinta Nania.
__ADS_1
Nania meyakinkan, jika cinta dia akan tetap untuk Julien's. Dimana tidak ada siapapun dapat merebut hatinya yang telah tertanam dihati Julien's.