
Ditengah hembusan angin yang kencang, dengan matahari yang perlahan naik membawa sinar keorenan di langit. Julien's dengan sebuah kaos berwarna hitam, celana training berwarna abu-abu dan handuk di leher. Berlari pagi bersama Nania.
Nania tak kalah modis. Topi tanpa tudung dia pilih. Rambut kuncir kuda dan kacamata hitam, semakin menambah kemodisan dari penampilan Nania. kaos lengan pendek berwarna putih yang super ketat dia pilih. Tubuh indah nan seksi Nania benar-benar menjadi obat bagi pelari lain. Termasuk Julien's yang tak pernah fokus dengan setiap tonjolan yang nampak dari tubuh Nania. Legging panjang berwarna hitam, semakin membuat penampilan Nania terlihat modis.
Keduanya tak pernah terpisah satu sama lainnya. Nania selalu berada disamping Julien's yang tak henti memuji kecantikan Nania di pagi ini. Berulang kali Nania tertawa lepas ketika Julien's menggombal pada Nania.
Tak terasa 45 menit telah mereka berdua habiskan untuk membakar lemak dengan berlari. Keduanya beristirahat sejenak di bangku taman. Nania yang cukup kelelahan berlari selama 45, terlihat begitu letih saat duduk disamping Julien's. Dia pun menyandarkan kepalanya di bahu Julien's yang nampak segar, meskipun sudah di usia kepala empat.
"Pasti kamu jarang olahraga?" Tanya Julien's.
"Enggak pernah." Jawab Nania.
"Makanya rajin olahraga, biar badan sehat." Titah Julien's.
Nania melirik kearah Julien's. Julien's lalu meledek Nania dengan mengatakan.
"Jangan cuman jago olahraga ranjang aja, tapi harus jago juga olahraga kek gini. Joging atau lari-lari kecil."
Tak marah, Nania justru malah tertawa dengan ledekan yang diberikan oleh Julien's. Dia hanya mengelus lembut brewok tipis yang tumbuh di wajah Julien's.
Waktu sarapan yang hampir habis, membuat Julien's mengajak Nania untuk pergi ke sebuah restoran cepat saji yang menyediakan sarapan. Tanpa menolak, Nania menyetujui permintaan Julien's untuk pergi sarapan.
Tetap dengan tangan yang saling menggenggam, keduanya berjalan menuju restoran yang tak jauh dari taman. Julien's tetap menggoda Nania disepanjang perjalanan menuju restoran.
Dengan menu andalan berupa ayam dan es krim. Menu restoran itu sebenarnya standar. Namun rasa lapar yang sudah tak dapat Nania dan Julien's tahan. Memaksa keduanya untuk menikmati menu makanan yang tersedia.
Dua paket ayam di pilih oleh Julien's. Satu untuknya dan satu lagi untuk Nania. Sementara untuk minuman, Julien's lebih memilih air putih. Sedangkan Nania memilih minuman bersoda yang sebenarnya kurang baik di minum ketika pagi. Namun kebiasaan buruk yang telah Nania jalani dalam beberapa tahun terakhir. Memaksa perutnya menolerir minuman bersoda tersebut.
Ditengah-tengah lahapnya Julien's menyantap ayam yang dia pesan. Tiba-tiba Nania menceritakan kejadian di hari kemarin. Dimana Nania dan Beatrice sempat adu mulut. Nania mengakui dia salah, sebab telah membelikan Theo mainan. Sementara Romeo dia lupa belikan. Akhirnya Theo dan Romeo bertengkar. Kemudian menyulut kepada pertengkaran Nania dengan Beatrice.
__ADS_1
Julien's tidak bisa membela siapa pun. Sebab keduanya istrinya. Ditambah dia tidak berada di lokasi kejadian. Sehingga membuat Julien's sulit untuk memutuskan.
Namun Julien's berpesan pada Nania untuk sedikit dapat mengalah. Sebab emosi Beatrice yang tidak stabil. Membuat keributan akan sering terjadi pada keduanya. Sehingga Nania diharapkan bisa lebih mengerti lagi. Nania pun berjanji akan lebih menahan emosinya, agar tidak kembali ribut dengan Beatrice. Julien's begitu senang dengan ucapan Nania tersebut.
Vitamin D yang dibagikan oleh matahari secara gratis pagi ini. Tak ingin Beatrice lewatkan begitu saja. Dengan sebuah kursi plastik, Beatrice duduk tepat membelakangi sinar matahari yang bersinar begitu terangnya.
Aksi menjemur tubuhnya tiba-tiba terganggu, saat Nania dan Julien's membuka gerbang rumah. bergandengan tangan sambil bercanda ria. Perasaan cemburu mulai menyerang Beatrice. Panasnya sinar matahari yang terik, semakin membuat Beatrice terbakar. Vitamin D yang awalnya ingin dia dapatkan, perlahan mulai menghilang. Seiring kecemburuan yang dia dapat.
Beatrice kembali masuk kedalam rumahnya. Dia berpapasan dengan Marrie tepat di depan pintu rumahnya. Wajah Marrie dipenuhi bintik merah yang sebagian lainnya terdapat nanah.
"Kenapa wajah kamu?" Tanya Beatrice panik.
Marrie menunduk tak bersuara.
Beatrice menaikan nada suaranya. Sehingga dia terdengar seperti marah saat kembali bertanya akan wajah Marrie yang dipenuhi oleh jerawat.
"Kenapa Marrie... Kenapa..?"
"Ada apa ini?" Tanya Julien's.
"Kamu lihat wajah Marrie. Banyak jerawat seperti itu." Jawab Beatrice.
Julien's perlahan menatap wajah Marrie yang dipenuhi jerawat.
"Kamu alergi atau apa, wajah kamu penuh jerawat seperti itu?" Tanya Julien's.
Marrie perlahan Mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia melihat satu persatu orang yang ada dihadapannya. Namun ketika dia melihat Nania. Sebuah ide jahat terlintas dipikirannya.
Tiba-tiba dengan penuh amarah, Marrie mendorong Nania. Nania pun langsung tersungkur.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara perempuan gak tahu diri ini." Ucap Marrie.
Semuanya terheran.
"Apa maksudnya?" Tanya Beatrice.
"Gara-gara alat make up pemberian dari dia, wajah ku akhirnya penuh jerawat seperti ini." Ucap Marrie sambil menunjuk kearah Nani.
Nania yang tak yakin kosmetik yang dia berikan pada Marrie membuat wajah Marrie berjerawat, mencoba membela diri.
"Gak mungkin. Aku sudah beli alat make up yang benar-benar untuk seusia kamu. Jadi gak mungkin bisa seperti itu." Bantah Nania.
"Terus apa yang terjadi pada ku. Masih mau ngelak?" Marrie makin berapi-api.
Julien's yang tak ingin terjadi keributan. Sebisa mungkin menenangkan Marrie. Dia membawa Marrie ke kamarnya. Walaupun Marrie terus memaki Nania sambil menangis.
Beatrice menatap tajam Nania.
"Kenapa kamu jahatin anak saya?" Tanya Beatrice dengan nada tinggi.
"Sa.. Saya tidak pernah melakukan itu. Saya memberikan Marrie alat make up yang sesuai umur dia. Jadi gak mungkin sambil menimbulkan hal seperti itu." Jawab Nania.
Julien's yang berhasil menenangkan Marrie, mendengar keributan yang akan dimulai antara Nania dengan Beatrice. Dengan segera dia beranjak dari kamar Marrie untuk memisahkan Nania dan Beatrice.
Jika tadi dia membawa Marrie. Kini Julien's membawa Nania. Dia membawa Nani untuk menghindari amukan dari Beatrice.
Di dalam kamarnya, Nania mencoba menjelaskan semuanya pada Julien's. Nania sekuat mungkin meyakinkan Julien's, bahwa kosmetik yang dia berikan pada Marrie sesuai umur. Sehingga tidak mungkin Marrie memiliki masalah kulit wajah dengan kosmetik yang dia berikan.
Antara percaya dan tidak. Namun Julien's berusaha untuk membuat Nania tenang terlebih. Dia akan mencari tahu kebenarannya sendiri. Julien's akan mencari informasi sebanyak mungkin.
__ADS_1
Sementara didalam kamar, Marrie merasa puas dengan fitnah yang dia berikan pada Nania. Walaupun jerawatnya itu membuat Marrie terlihat nampak sedikit buruk. Namun setidaknya dia bisa membuat Nania dibenci oleh ayahnya.