SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEINGINAN JULIEN'S MEMILIKI ANAK DARI NANIA


__ADS_3

Ketika Beatrice dan ketiga anaknya memilih untuk pulang terlebih dahulu. Julien's dan Nania justru memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan bersantai di pinggir danau. Melihat burung-burung berterbangan dengan begitu lincahnya. Serta gemuruh ikan di dalam danau yang sesekali timbul. Keduanya begitu menikmati suasana danau yang tenang.


Sebuah burung berkicau dengan begitu kerasnya. Suaranya itu terdengar nyaring hingga ke telinga Nania dan juga Julien's. Sekeras burung itu berkicau, namun Nania dan Julien's tetap menikmati kicauan burung yang terdengar semakin nyaring tersebut.


Suaranya yang terus menghujani telinga Julien's, akhirnya membuat Julien's penasaran akan keberadaan dari burung tersebut. Dia melihat sarang burung tersebut yang berada di atas ranting pohon cemara. Sarangnya tidak besar, namun itu terlihat cukup nyaman bagi burung-burung itu untuk singgah.


Nania yang menyandarkan kepalanya di pundak Julien's, tidak terlalu terganggu dengan nyaring suara burung yang terdengar semakin keras. Beda dengan Julien's yang begitu tertarik dengan suara nyaring dari burung tersebut. Hingga Julien's tertarik pada sarang burung yang terlihat begitu kokoh tersebut.


"Kamu lihat sarang burung itu, nampak kokoh. Padahal hanya terbuat dari daun-daun rapuh dan ranting saja. Tapi jadi nyaman sekali." Ucap Julien's menunjuk ke arah sarang tersebut.


Nania yang nampak nyaman dengan pundak Julien's yang kokoh dan tegap. Dia pun akhirnya tidur di pundak Julien's tersebut. Begitu Julien's melihat istrinya tertidur dengan begitu pulasnya, ada sedikit rasa ingin menjahili istrinya tersebut. Hingga ide gilanya tersebut benar-benar di realisasikan oleh Julien's pada Nania.


Julien's menggeser pundaknya dari kepala Nania. Hingga kepala Nania tidak lagi memiliki sanggahan. Nania pun hampir tersungkur jatuh, sebelum dengan sigapnya Julien's menangkap Nania yang hampir tersungkur jatuh.


Nania yang tertidur dengan pulasnya. Akhirnya terbangun dari tidurnya. Nania sedikit kesal atas ulah jahil dari Julien's. Sehingga Nania langsung memukuli Julien's yang telah membuatnya hampir tersungkur jatuh.


Melihat Nania yang terlihat begitu kesal, Julien's langsung memeluk Nania. Meredakan kekesalan dari Nania padanya. Walaupun wajahnya tak lepas dari cemberut dengan ulah kesal dari Julien's tersebut.


Sedikit pelukan hangat di berikan oleh Julien's untuk meredakan rasa kesalnya pada Julien's. Dengan pelukan itu, Julien's pikir Nania akan bisa lebih tenang lagi. Apalagi Nania begitu senang saat Julien's memeluk tubuhnya. Di tambah sedikit ciuman yang di berikan oleh Julien's di belakang kepalanya. Itu bonus yang Nania inginkan dari seorang Nania dari Julien's.


Di tengah keromantisan yang kembali di buat oleh Julien's dan Nania. Tiba-tiba keduanya di kejutkan oleh anak burung yang jatuh dari atas sarangnya. Nania dan Julien's yang terkejut, langsung menghampiri anak burung tersebut. Nania dengan jiwa keibuannya langsung mengambil anak burung yang masih belum memiliki bulu tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya burung itu berasal dari sarang itu." Ucap Julien's menunjuk ke arah sarang burung yang sedari tadi Julien's perhatikan.


"Apakah kamu mau untuk menaruh anak burung ini ke sarangnya kembali?" Tanya Nania dengan penuh harap.


Julien's melihat ke atas pohon cemara, tempat sarang itu berada. Ada sedikit ketakutan dari seorang Julien's atas ketinggian dari pohon Cemara tersebut. Mengingat tinggi pohon cemara itu yang begitu tinggi.


Namun permintaan dari Nania adalah sebuah tugas cinta yang harus Julien's selesaikan. Hingga Julien's harus menyelesaikan tugas itu dengan baik. Sebaik mungkin, hingga dia harus berani untuk menaiki pohon yang tinggi tersebut.


Begitu Julien's mengatakan siap untuk menaiki pohon tersebut. Nania dengan senyuman manisnya, memberikan anak burung yang terjatuh tersebut. Meski ada sedikit keraguan dari dalam diri Julien's. Namun Julien's tetap berusaha untuk menaiki pohon cemara besar tersebut.


Sedikit demi sedikit, Julien's pun mulai menaiki pohon itu. Sampai akhirnya Julien's tiba di atas pohon tersebut dengan selamat. Julien's pun langsung menaruh burung tersebut di sarangnya. Satu jempol di berikan oleh Nania atas kehebatan dari Julien's yang ibarat seorang pahlawan yang menaruh anak burung itu kembali ke sarangnya.


Nania menyambut Julien's dengan begitu bahagia. Dia memeluk Julien's dengan begitu eratnya. Dia bersyukur Julien's bisa turun dengan selamat. Padahal pohon cemara itu cukup tinggi. Tapi Julien's bisa menaklukkan pohon cemara itu dengan begitu baiknya.


Namun Julien's tidak berfokus pada pohon cemara itu. Julien's justru tertarik pada anak burung yang terjatuh tersebut. Julien's tertarik akan Nania yang begitu terlihat bahagia saat melihat anak burung yang dia temukan.


"Kamu tidak ingin memiliki bayi?" Tanya Julien's menatap Nania.


"Bayi burung seperti tadi maksud kamu?" Tanya balik Nania dengan begitu bingungnya.


"Bayi yang lahir dari rahim kamu." Jawab Julien's mengusap perut Nania.

__ADS_1


Nania terdiam menatap Julien's. Sebenarnya Nania menginginkan bayi dari Julien's. Tapi apa Nania sanggup melihat Beatrice, saat Nania memiliki bayi dari Julien's.


"Kenapa? Kamu belum siap?" Tanya Julien's semakin menekan.


"Bukan belum siap, tapi aku belum yakin." Jawab Nania.


"Yakin! Yakin untuk apa?"


Nania berjalan membelakangi Julien's. Dia tak ingin Julien's melihat kesedihan yang di alaminya. Sebuah kesedihan yang mungkin saja membuat Julien's ikut bersedih juga.


"Aku belum yakin mbak Beatrice akan menerima semuanya. Aku pikir dia tidak akan semudah itu menerima semuanya. Apalagi masih belum ada restu yang benar-benar dari hatinya atas hubungan kita." Nania sedikit bersedih.


Julien's mendekati Nania. Kemudian mulai memeluk Nania dari arah belakang. Menaruh dagu lancipnya di atas pundak Nania, merasakan desir angin yang menerbangkan rambut Nania.


"Aku pikir dia akan lebih dewasa. Apa mungkin dia akan menolak kita memiliki anak. Tentu itu bukan hal yang adil bagi kita." Ucap Julien's meyakinkan Nania.


"Ibu kamu?" Tanya Nania.


Julien's langsung terdiam dengan pertanyaan dari Nania. Mungkin Julien's bingung harus menjawab pertanyaan dari Nania tersebut. Dia bingung harus menjawab apa dari pertanyaan Nania tersebut. Mengingat ada juga ibunya yang mungkin akan menolak keras poligami yang di lakukan oleh Julien's. Belum lagi Alex, jika Nania memiliki anak. Mungkin itu akan jadi pertanyaan bagi seorang Alex. Dia akan mempertanyakan ayah dari anak yang Nania lahirkan. Sehingga perlu banyak pertimbangan bagi Nania dalam mengambil keputusan untuk hamil.


Mendengar semua penjabaran dari Nania. Rasanya Julien's yang paling bersalah dalam hubungan ini. Seandainya semuanya bisa lebih terbuka, mungkin Nania akan mendapatkan haknya seperti perempuan lain. Hak untuk hamil, kemudian melahirkan. Selanjutnya menjadi seorang ibu, itu adalah fase yang paling indah dalam proses hidup seorang perempuan. Hingga Julien's meminta maaf atas hak Nania yang Julien's belum bisa penuhi seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2