
Hampir 9 jam tak sadarkan diri, akhirnya Beatrice pun siuman. Wajahnya masih terlihat begitu pucat. Dengan tatapan sayu. Beatrice terlihat meneteskan sedikit air mata, entah apa yang membuat dirinya menangis. Mungkin dia menahan rasa sakit yang teramat yang di rasakan oleh tubuhnya, atau mungkin sebaliknya.
Suster yang pertama kali melihat Beatrice sudah siuman, langsung memberitahu mertuanya yang berada di luar ruang perawatan Beatrice. Kabar gembira dari Beatrice, langsung di sambut dengan gembira. Dia meminta suster itu mendorong kursi rodanya ke dalam ruang perawatan dari Beatrice.
Mendengar pintu ruang perawatan darinya terbuka. Beatrice langsung menoleh ke arah pintu ruang perawatannya itu. Dia berharap orang yang mengunjunginya adalah Julien's. Namun Beatrice harus menerima kenyataan pahit. Ternyata bukan suaminya yang tercinta mengunjunginya, melainkan ibu mertuanya. Beatrice yang sempat ingin tersenyum, langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Kamu sudah siuman Beatrice?" Tanya mertuanya dengan begitu bahagia.
"Sudah Bu." Jawab Beatrice dengan begitu lemasnya.
"Ibu begitu khawatir sama kamu sayang, ibu takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." Ucap mertua Beatrice dengan begitu paniknya.
"Semua akan baik-baik saja Bu. Aku pikir semuanya akan berjalan baik Bu." Balas Beatrice dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Mertuanya itu terus mengusap kepala Beatrice yang botak. Sesekali dia mencium kepala Beatrice yang botak itu dengan penuh cinta.
"Kemana yang lain Bu? Apa cuman ibu yang menjenguk aku di hari ini!" Tanya Beatrice penuh kekecewaan.
"Tidak! Ada juga Julien's, Alex, Nania dan anak-anak kamu juga. Cuman mereka sedang pergi sebentar. Mungkin sebentar lagi mereka akan kembali ke sini." Jawab mertua Beatrice.
"Aku pikir mereka tidak begitu peduli padaku. Aku pikir Julien's akan berada di sampingku hari ini. Tapi ternyata dia tidak ada. Dia justru tidak ada di saat aku seperti ini. Mungkin ini takdir yang harus aku terima." Ucap Beatrice dengan perasaan yang memilu.
Tak lama kemudian, rombongan Alex dan Nania masuk ke dalam ruang perawatan dari Beatrice. Kedua anak Beatrice langsung menyambut bahagia siumannya seorang Beatrice. Keduanya langsung menciumi pipi Beatrice yang terlihat begitu pucat.
"Terima kasih Alex." Jawab Beatrice yang masih terlihat lemah.
"Senang rasanya saya bisa melihat mbak Beatrice bisa siuman lagi. Kembali dengan sehat, bersama keluarga besarnya." Sahut Nania dengan senyuman.
__ADS_1
"Tapi saya tidak senang dengan kehadiran kamu di sini. Mungkin imun saya akan semakin memburuk dengan keberadaan kamu di sini. Itu cukup buruk untuk kesehatan saya." Balas Beatrice membuang muka dari Nania.
"Kenapa kamu berbicara demikian Beatrice. Nania hanya ingin memberikan sedikit doa kepada kamu. Tapi kenapa kamu berbicara dengan kasar seperti itu." Balas mertuanya yang sudah mulai menyukai Nania.
"Ada masalah apa dengan Nania. Seperti aku lihat, mbak Beatrice dan Marrie. Tidak begitu menyukai Nania. Mungkin bisa di jelaskan apa kesalahan Nania pada kalian semua!" Pinta Alex dengan begitu tegasnya.
Seandainya Beatrice bisa mengucapkan apa yang sebenarnya terjadi. Dia begitu ingin mengatakan apa yang terjadi. Alasan besar dari amarah dirinya pada Nania. Amarah yang bagi Alex terasa heran, tanpa sebab. Sebenarnya memiliki alasan dan sebab yang kuat. Hingga mungkin Alex tidak harus bertanya lagi alasan dan sebab itu.
Beatrice hanya menangis, dia hanya bisa menahan semua rasa kesalnya di dalam hati. Tak mampu sepatah kata pun di ucapkan oleh dirinya. Hingga hanya menjadi sebuah kekesalan yang menggumpal, semakin membesar di dalam hatinya.
Nania sendiri rasanya ingin segera menyudahi semua drama dalam keluarga Julien's. Dia ingin berkata jujur, tapi apa ini adalah saat yang tepat. Tentu perlu pertimbangan dari dirinya dan Julien's.
Dua istri dalam budaya Prancis tentu adalah suatu hal yang asing. Tidak banyak pria yang berani untuk menunjukkan keberanian mereka dalam memiliki dua istri di hadapan publik. Terlebih seperti Julien's yang cukup memiliki nama di kota Nice. mengatakan dirinya memiliki dua istri, sama saja dengan membunuh kariernya sebagai seorang chef ternama. Semua orang akan membenci dirinya. Bisnis dia tentu akan berantakan. Hal yang akan banyak di pertimbangkan oleh dirinya.
__ADS_1
Tetapi, Nania seakan sudah lelah dengan status dirinya. Menjadi istri kedua yang harus menjadi bahan pertikaian dengan Beatrice adalah sebuah keniscayaan. Nania harus menerima semua hujatan yang mungkin akan Beatrice ungkapkan kepadanya. Hingga Nania harus bisa menerima sebagai konsekuensi dari apa yang telah dia katakan.