
Pikirannya kosong, dia nampak begitu terpukul dengan photo pernikahan dia yang tersebar luas di sosial media. Kopi hitam yang menjadi favorit dia di kala pagi. Perlahan dingin, tertiup desiran angin. Julien's tak henti mendapatkan pertanyaan dari beberapa rekan bisnisnya, maupun keluarga besarnya perihal photo tersebut.
Bukan Julien's tak ingin membenarkan pernikahan dirinya dengan Nania. Namun poligami adalah satu hal yang tabu dalam budaya Prancis. Sehingga jika Julien's ketahuan melakukan hal itu. Semua bisa hancur, termasuk citra dan karier Julien's. Dia pun berusaha menutupi pernikahannya dengan Nania.
Nania memeluk Julien's dari belakang. Dia mencoba menenangkan pikiran Julien's yang begitu rumit. Pelukan hangatnya diharapkan mampu meredakan sedikit kepanikan yang Julien's rasakan.
"Kamu kenapa?" Tanya Nania.
"Aku cuman takut aja, semua orang tahu tentang pernikahan kita. Aku gak akan terbayang jika semuanya tahu. Mungkin karier ku akan hancur." Jawab Julien's dengan sendu.
Nania semakin memeluk erat Julien's. Dia mencoba menyalurkan energi positif pada Julien's.
Suasana sendu diatas balkon, tiba-tiba berubah ketika Marrie yang penuh amarah mendatangi Julien's dan Nania. Dengan wajah merah bak kepiting rebus. Marrie langsung menampar wajah Nania dihadapan Julien's.
"Semua gara-gara kamu. Teman-teman aku semua mempermalukan aku." Ucap Marrie.
__ADS_1
Tamparan Marrie langsung dibalas oleh Julien's.
"Kamu gak sopan banget Marrie." Ucap Julien's.
"Ayah masih belain dia, padahal aku benar-benar hancur ayah. Semua teman-teman aku menghujat." Bantah Marrie.
Melihat tatapan marah Julien's, Marrie langsung bergegas pergi menuju kamarnya.
Nania mengelus pipinya yang di tampar cukup keras oleh Marrie. Melihat Nania begitu kesakitan dengan ulah dari Marrie. Julien's memberikan sentuhan lembut dari tangannya untuk sedikit meredakan rasa sakit yang ada di wajah Nania.
Tapi, tidak ada kata tapi bagi Nania. Julien's tetap harus memprioritaskan Marrie, dibanding dirinya. Walaupun sama-sama mendapatkan tamparan juga.
Julien's dengan berat hati meninggalkan Nania untuk melihat kondisi Marrie. Meskipun dia juga ragu dengan kondisi Nania yang ditampar cukup keras oleh Marrie. Namun permintaan Nania tetap harus Julien's laksanakan.
Didalam kamarnya, Marrie tak henti menangis. Dia benar-benar terkejut dengan sebuah tamparan yang diberikan oleh di pipi kirinya. Dengan menutup kepalanya dengan bantal, Marrie menangis dengan cukup keras.
__ADS_1
Julien's mendekati Marrie. Dia mencoba meminta maaf pada Marrie. Namun Marrie justru malah semakin marah. Mengingat Julien's meminta Marrie untuk bisa lebih menghormati Nania lagi. Sebab tanpa disadari, Nania adalah ibunya juga. Walaupun bukan ibu kandung seperti Beatrice.
Marrie tetap pada pendiriannya, dia tetap tak akan menganggap Nania sebagai ibu. Mengingat Nania telah menghancurkan rumah tangga kedua orangtuanya.
Usaha Julien's menenangkan Marrie gagal. Dia tak mau meminta maaf pada Nania. Sebab berita tentang pernikahan Julien's dan Nania telah meluas, hingga terdengar ke teman sekolah Marrie.
Melihat kegaduhan yang ada. Nania mulai memikirkan untuk menerima tawaran dari Thomas. Meskipun tawaran itu cukup berat, namun setidaknya bisa membuat keluarga Julien's menjadi tenang. Sehingga tidak ada keributan antara keluarga Julien's lagi.
Dia menghidupkan layar ponselnya, kemudian mulai memilih nomor Thomas. Dia menyentuh nomor telepon tersebut, kemudian mengangkat ponselnya. Menunggu Thomas mengangkat telepon darinya.
Beberapa saat kemudian Thomas mengangkat telepon itu. Dia yang terdengar seperti orang mabuk, menjawab melantur begitu menjawab telepon dari Nania.
"Apa sayang." Ucap Thomas.
Nania yang merasa tak nyaman dengan ucapan dari Thomas. Seketika menutup teleponnya. Nania benar-benar tak nyaman dengan ucapan sayang dari Thomas.
__ADS_1