
Alex terlihat masih kesakitan dengan beberapa luka memar yang ada di wajahnya. Dia mencoba menahan rasa sakitnya tersebut. Namun wajahnya tetap tak bisa di bohongi dengan rasa sakit tersebut. Hingga saat bertemu dengan ibunya. Dia terlihat panik dengan wajahnya yang di penuhi dengan memar tersebut.
Apalagi ibu Alex terlihat begitu antusias untuk mengetahui hasil dari keberanian Alex dalam menyatakan cinta pada seorang Nania. Dia ingin tahu hasil apa yang telah di dapat oleh Alex.
Alex terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan dari ibunya tersebut. Malam itu, secara tiba-tiba keberanian yang Alex miliki seketika hilang. Dia tidak memiliki keberanian untuk untuk mengatakan cinta pada seorang Nania. Sehingga Alex belum mendapatkan hasil apapun.
Tapi Alex sulit untuk mengatakan hal tersebut pada ibunya. Mana mungkin ibunya akan mengerti dengan hal tersebut. Sebab Alex seharusnya lebih percaya diri untuk menyatakan cinta pada seorang Nania. Mengingat Alex di kenal sebagai sosok pria yang penuh rasa percaya diri. Sehingga ibunya tidak mungkin percaya, jika Alex tidak dapat menyatakan cinta pada seorang Nania.
Alex semakin gugup saat ibunya terus menatap wajah kecilnya. Begitu juga saat Alex terus di serang dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Sehingga Alex terlihat semakin gugup dan tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Alex terlihat begitu gugup.
__ADS_1
Akhirnya jalan terakhir Alex pilih. Dia pun membohongi ibunya sendiri. Dengan mengatakan dirinya tidak sempat bertemu dengan Nania di hari ini. Nania pergi bersama Theo dan Romeo dalam sebuah pameran. Sehingga Nania pulang sangat larut.
Ibunya tidak langsung percaya dengan apa yang diucapkan oleh Alex. Sangat tidak wajar bagi dirinya untuk memahami maksud dari Alex. Bagaimana mungkin Nania pergi ke sebuah pameran dengan dua bocah kecil seperti Romeo dan Theo. Itu sangat tidak mungkin terjadi, sehingga alibi yang di buat Alex. Tidak langsung di terima oleh ibunya.
"Sejak kapan Romeo dan Theo menyukai pameran?" tanya ibu Alex.
"Aku tidak tahu Bu. Tapi hari itu Nania dan kedua bocah kecil itu pergi ke tempat pameran mobil-mobilan. Entah tempat seperti apa yang mereka tuju." jawab Alex terlihat gugup.
Alex hanya tersenyum kecil mendengar ucapan dari ibunya. Alex menyadari ibunya tersebut mulai curiga pada dirinya. Dia terlihat mulai begitu curiga akan Alex yang terlihat seperti berbohong. Alex memang tidak pandai berbohong pada ibunya sendiri. Sehingga kebohongan Alex yang tidak terlihat alami, dengan mudah bisa di patahkan oleh ibunya sendiri.
__ADS_1
Pandangan ibunya kini mulai berfokus pada bagian wajah Alex yang terlihat di penuhi memar. Memang bau alkohol sudah tidak tercium dari mulut Alex. Tapi memar di wajah Alex masih terlihat jelas. Sehingga ibu Alex penasaran dengan memar yang ada di wajah Alex.
"Kenapa wajah kamu di penuhi memar seperti itu?" tanya ibu Alex.
"Tidak ada masalah. Semuanya baik-baik saja." jawab Alex.
"Apakah Julien's memukuli kamu lagi?" tanya Ibunya kembali.
"Tidak, Julien's tidak melakukan hal tersebut. Ini hanya ada insiden kecil yang terjadi di luar sana. Tapi aku baik-baik saja." jawab Alex dengan begitu singkatnya.
__ADS_1
Alex yang tidak ingin ibunya semakin panik. Memilih untuk segera pergi menuju kamarnya. Di sana mungkin Alex bisa lebih tenang, tanpa ada kekhawatiran dari ibunya.