SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
KEDATANGAN MAMA JULIEN'S


__ADS_3

Hembusan angin menerbangkan helai demi helai rambut Nania. Rambut Julien's tak tersentuh sedikit pun oleh angin. Topinya membuat rambut itu tetap terjaga dari hembusan angin yang pagi itu cukup kuat.


Julien's kembali menghirup cerutunya. Kemudian perlahan menghembuskan secara perlahan. Dia cangkir kopi cukup membuat quality time Nania dan Julien's begitu terasa. Balkon lantai dua di rumah Julien's yang begitu nyaman. Membuat Nania dan Julien's bisa mengobrol santai.


Sesekali candaan dilontarkan diantara keduanya. Sehingga suasana pagi itu amat begitu berkesan bagi Nania dan Julien's. Waktu libur yang berkualitas buat Julien's. Sebab dia bisa menghabiskan waktu bersama Nania.


Ditengah asyiknya mengobrol obrolan yang cukup acak. Tiba-tiba mata Julien's tertuju pada sebuah mobil yang mengarah ke rumahnya. Mobil sedan berwarna hitam yang Minggu lalu dia berikan pada ibunya. Julien's menatap dengan seksama. Ternyata benar, mobil itu adalah milik ibunya.


Julien's panik. Dia tak menyangka ibunya akan datang ke rumahnya. Julien's bingung harus melakukan apa pada Nania. Sementara ibunya mengetahui Nania adalah pengasuh Romeo yang baru.


Melihat Julien's begitu kebingungan. Nania lantas menanyakan apa yang membuat Julien's bingung seperti itu.


Julien's memegang kedua bahu Nania. Kemudian dengan wajah penuh harap, mengatakan jika Nania mau untuk mengerti situasi itu. Julien's berharap Nania akan menerima jika dia berpura-pura untuk menjadi pengasuh baru Romeo. Bukan istri kedua Julien's dihadapan ibunya.


Berpura-pura marah diawal. Namun dengan tawa yang cukup lebar, Nania menyetujui permintaan Julien's tersebut. Julien's dengan belasan kali mengucap terima kasih pada Nania, sambil memeluk erat Nania.


Nania sudah aman. Kini fokus Julien's beralih pada Marrie. Sebab hanya Marrie yang bisa mengatakan jika Nania adalah istri kedua Julien's. Julien's segera bergegas menuju kamar Marrie. Dia harap Marrie mau menutupi status Nania sebagai istri kedua Julien's.


Tok... Tok... Tok... Julien's mengetuk pintu kamar Marrie. Kemudian Marrie berteriak dari dalam untuk langsung masuk saja. Sehingga Julien's langsung bergegas masuk ke kamar Marrie.


"Mar.. Ayah boleh minta sesuatu gak?" Tanya Julien's duduk diatas kasur Marrie.


Marrie yang awalnya sedang tiduran diatas kasur. seketika terbangun, kemudian duduk disamping Julien's.


"Minta apa?" Tanya balik Marrie.


"Kamu jangan kasih tahu nenek soal Nania. Ayah gak mau nenek tahu kalau Nania adalah istri kedua ayah." Pinta Julien's.


Marrie terdiam. Dia nampak sedikit berpikir.


"Ayah janji akan belikan apapun yang Marrie mau." Ucap Julien's.


Marrie menatap tajam wajah Julien's yang sangat berharap padanya.


"Lihat nanti saja." Terang Marrie.


"Mar, ayah mohon." Desak Julien's.


Tak tega melihat Julien's yang memohon kepadanya. Marrie akhirnya menerima permintaan Julien's. Namun dengan satu janji, dia Julien's harus bisa menjaga kemesraannya dengan Nania di depan Beatrice. Sebab dia tidak tega melihat Beatrice cemburu melihat Julien's bersama Nania.

__ADS_1


Marrie menerima permintaan dari Julien's. Dia mencubit pipi Marrie. Tak lupa ucapan terima kasih dia berikan pada Marrie juga.


Julien's dengan langkah percaya diri menyambut kedatangan ibunya yang datang secara tiba-tiba. Langkah demi langkah menuju teras rumahnya, diiringi oleh suara siulan dari mulutnya. Tak nampak raut cemas seperti ketika dia melihat mobil ibunya dari atas balkon rumahnya.


"Pagi Bu." Sapa Julien's pada ibunya sambil menempel kedua pipi.


"Beatrice mana?" Tanya ibunya sedikit mengintip kedalam rumah Julien's.


"Ada di kamarnya." Jawab Julien's.


Ibu Julien's segera bergegas menemui Beatrice di kamarnya. Namun saat akan masuk kedalam rumah Julien's. Dia berpapasan tepat dengan Nania.


"Kamu pengasuh baru Romeo bukan?" Tanya ibu Julien's.


Nania menatap Julien's yang berada dibelakang ibunya.


"Iya Bu, saya adalah pengasuh baru Romeo." Jawab Nania.


Mendengar ucapan dari Nania. Julien's begitu merasa bersalah. Dia seolah tak begitu jantan untuk mengakui semua. Sehingga Nania harus mengorbankan perasaannya.


"Tapi kamu cantik juga yah. Baju kamu bagus dan penampilan kamu seperti bukan seorang pengasuh anak." Ucap ibu Julien's sambil memperhatikan Nania.


Mendengar ucapan Beatrice tersebut, Julien's langsung terkejut. Begitu juga dengan ibu Julien's.


Sementara Nania hanya menahan rasa sakit di dalam hatinya. Sebab sulit untuknya melawan Beatrice. Sehingga dia hanya mengiyakan ucapan dari Beatrice tersebut.


"Kenapa kamu mau jadi selingkuhan pria beristri?" Tanya Ibu Julien's.


Nania hanya terdiam sambil menunduk. Dia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari ibu Julien's. Namun Beatrice yang berada di samping Nania langsung menyerobot dengan jawaban yang cukup membuat hati Nania semakin teriris.


"Uang dong Bu, semua pasti karena uang. Lihat bajunya sekarang bagus banget. Ini pasti baju mahal." Timpal Beatrice.


Julien's yang tak mau Nania semakin dipermalukan oleh Beatrice. Mengajak ibunya untuk beristirahat di kamar. Dia juga menyarankan kepada ibunya untuk mencicipi menu masakan baru yang dia buat. Sehingga sindiran Beatrice pada Nania berakhir.


Walaupun ibu Julien's sudah tidak ada dihadapan Nania. Namun Beatrice tetap membuat mental Nania semakin tertekan. Beatrice berbisik di telinga kiri Nania. Dia mengatakan rasa sakit Nania atas ucapan Beatrice, hampir sama dengan rasa sakit yang Beatrice rasakan ketika mengetahui Julien's menjalin hubungan dengan Nania. Sehingga Beatrice sama sekali tak merasa bersalah dengan ucapannya pada Nania tersebut.


Nania pergi ke kamar dengan hati yang terluka. Sementara Beatrice menghampiri Julien's dan ibunya di kamar.


Tepat di depan pintu kamar ibu Julien's. Beatrice menguping pembicaraan Julien's dengan ibunya.

__ADS_1


"Kamu yakin pilih dia sebagai pengasuh?" Tanya ibu Julien's.


"Memang kenapa kalau aku pilih dia?" Tanya balik Julien's.


"Enggak sih, tapi ibu takut aja kalau kamu sampai tergoda sama dia. Apalagi dia pernah jadi simpanan pria lain. Kamu harus hati-hati." Tegas ibunya.


Beatrice hanya berusaha menahan rasa sakitnya. Sebab dia ingin sekali mengatakan yang sejujurnya pada ibunya Julien's. Perihal Nania yang menjadi istri kedua Julien's. Namun Beatrice tak tega pada Julien's yang benar-benar jatuh cinta pada Nania. Melihat Julien's sedih, sama hal dengan membuat dirinya ikut bersedih.


Persembunyian Beatrice diluar kamar ibunda Julien's terbongkar. Romeo dan Theo yang sedang bermain-main dengan berlarian di rumah menghampiri Beatrice. Kemudian dengan polosnya Theo menanyakan kenapa mamanya berdiri di depan kamar.


Baik ibunya, maupun Julien's. Keduanya langsung bergegas menghampiri Beatrice.


"Kenapa kamu gak masuk?" Tanya ibu Julien's.


Beatrice nampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari ibu Julien's. Sehingga dia menjawab dengan penuh keragu-raguan.


"Emm..... tadi mau masuk, cuman gak enak. Takut ganggu obrolan ibu dengan Julien's." Jawab Beatrice.


Theo dan Romeo yang baru mengetahui kedatangan neneknya. Seketika langsung memeluk neneknya begitu mereka melihatnya. Keduanya langsung membawa neneknya tersebut menuju taman di halaman rumah.


Julien's menarik tangan Beatrice kedalam kamar. Kemudian mengunci kamar dari dalam. Dengan wajah yang sedikit kesal, dia menanyakan maksud Beatrice menyudutkan Nania seperti tadi.


"Kenapa kamu mengatakan hal itu pada Nania?" Tanya Julien's menatap tajam wajah Beatrice.


"Salah aku dimana. Nania merebut kamu dari aku. Kalian diam-diam pacaran dibelakang aku. Terus salah aku dimana?" Tegas Beatrice dengan nada tinggi.


"Nania tidak seperti yang kamu pikir. Aku yang telah membuat dia ada di situasi sulit ini." Bantah Julien's.


"Ini hanya alasan kamu saja. Itu alasan kamu agar dia tidak sejahat yang aku pikir. Tapi perempuan itu jahat dan dia memang jahat Julien's." Beatrice semakin meninggi nada Bicaranya.


Julien's mengepal tangan kanannya. Dia marah, namun dia berusaha menahannya. Kemudian dia memilih pergi meninggalkan Beatrice. Meskipun Beatrice berteriak memanggilnya.


Dia meredakan amarahnya terlebih dahulu sebelum masuk kedalam kamar Nania. Dia menarik napas sekuat mungkin. Kemudian secara perlahan melepaskannya. Lalu dia masuk kedalam kamar Nania.


Julien's menutup rapat kamar Nania. Dia menghampiri Nania yang nampak bersedih dengan sebuah guling yang dia peluk. Julien's duduk disampingnya. Lalu menyisir lembut rambut Nania.


Nania yang baru menyadari Julien's berada disampingnya. Seketika bangun dari posisinya. Dia lalu duduk. Kemudian dengan mata yang sembab usai menangis, langsung memeluk erat Julien's.


Julien's mengelus lembut punggung Nania. Dia mencoba menguatkan Nania dengan memberikan kalimat positif pada Nania. Sehingga secara perlahan, kesedihan Nania mulai hilang.

__ADS_1


__ADS_2