
Suasana pagi ini begitu terasa hangat. Seluruh anggota keluarga sarapan bersama di satu meja yang sama. Dengan Julien's bertindak sebagai kepala rumah tangga. Dia duduk di kursi utama.
Disamping kanannya duduk istri pertamanya, Beatrice, Marrie lalu Theo. Samping kiri Julien's yang biasanya ditempati oleh Nania. Kini menjadi milik Alex. Disamping Alex baru Nania dan Romeo.
Tak ada obrolan apapun diawal sarapan. Hanya sedikit friksi ketegangan antara Theo dan Romeo dalam berebut makanan yang ingin mereka makan. Sisanya, sarapan itu berisi suka cita yang mengisi hati setiap anggota keluarga.
Baru dipertengahan sarapan, ada sedikit ketegangan yang terjadi antara Julien's dengan Alex. Pemicunya Alex yang mencoba menyuapi Nania di depan anggota keluarga lain. Nania berulang kali menolak. Tetapi Alex tetap berusaha menyuapkan sendok berisi makanan kedalam mulut Nania.
Melihat paksaan yang dilakukan oleh Alex pada Nania. Julien's langsung meminta Alex untuk tidak memaksa Nania makan dari suapan sendoknya.
"Kalau gak mau jangan di paksa juga." Ucap Alex.
"Nania mau, tapi dia malu-malu." Balas Alex tetap mencoba menyuapi Nania.
"Bagaimana dia mau, jelas-jelas dia menolak. Jangan kamu paksa seperti itu." Tegas Julien's.
"Biarkan saja. Alex dan Nania sudah dewasa, jadi Alex tahu apa yang Nania mau." Ujar Beatrice secara tiba.
"Iya, kenapa ayah yang ribut. Paman Alex tahu apa yang harus dia lakukan." Timpal Marrie.
Semuanya seolah menyudutkan Julien's. Terlebih Marrie dan Beatrice yang sengaja untuk membuat Julien's semakin panas.
Seolah tak mendapat dukungan, Julien's dengan rasa yang penuh amarah. Memilih pergi ke kamarnya. Dia mempersiapkan diri untuk segera pergi bekerja.
Beatrice yang memahami kecemburuan dari seorang Julien's. Berusaha menguntit Julien's dari belakang.
Didalam kamar, Julien's langsung meluapkan emosinya. Dia meninju cermin berukuran panjang hampir setengah meter dan lebar 20 sentimeter. Seketika retakan nampak dari cermin tersebut.
Melihat Julien's kembali meluapkan emosi kecemburuannya pada Alex dengan memukul cermin rumah. Beatrice mencoba mengingatkannya. Beatrice berjalan menuju belakang tubuh Julien's.
"Mau sampai kapan seperti ini? Kamu menghancurkan semua peralatan rumah ketika kamu emosi. Melukai tangan kamu, hanya untuk menahan rasa cemburu. Kenapa kamu diam? Katakan kalau kamu memang cemburu. Jangan hanya bisa menghancurkan." Ucap Beatrice.
Mendengar ucapan Beatrice. Julien's merasa terpukul. Dia menyadari betapa lemahnya dia. Julien's begitu lemah dengan rasa cintanya pada Nania. Sehingga dia tak mampu menahan rasa cemburu pada adiknya sendiri.
"Kalau memang kamu yakin dengan perempuan itu. Seharusnya kamu tidak akan takut kehilangan dia. Tapi dengan semua kecemburuan yang ada di hati kamu. Pertanda ada ketidakyakinan dalam diri kamu." Tegas Beatrice sebelum keluar sambil menutup pintu dengan keras.
Serasa dicambuk. Ucapan Beatrice nyaris tepat. Dimana kecemburuan tak beralasan dari Julien's seakan membuat rasa percaya yang tumbuh dihatinya hanyalah fatamorgana.
Julien's mencoba menenangkan dirinya. Sebelum benar-benar bersiap untuk berangkat bekerja.
Nania yang melakukan clear up atau merapikan semua piring usai sarapan. Merasakan sesuatu yang aneh terjadi di salah satu giginya. Dia merasa sakit yang teramat. Hingga dia harus mengusap bagian pipinya.
Nania bercermin. Pipinya sedikit bengkak. Dia membuka mulutnya, nampak gusi yang bengkak dibagian bawah gigi geraham. Sudah dipastikan Nania mengalami sakit gigi.
Alternatif pertama yang dilakukan Nania adalah menggosok gigi untuk menghilangkan rasa sakit itu. Tetapi cara tersebut tetap tak berhasil. Gusi itu tetap terasa sakit. Hingga Nania harus menahan rasa tangis akibat gusinya yang bengkak tersebut.
Tak ingin ada yang mengetahui permasalahan yang tengah dihadapinya. Nania mengurung diri didalam kamar. Dia menangis menahan rasa sakit, sambil menahan suara keras yang keluar dari mulutnya.
Theo yang ingin segera berangkat ke sekolah mencari keberadaan Nania. Theo sudah mengetuk beberapa kali kamar Nania. Tetapi Nania tak keluar. Akhirnya Theo mendatangi kamar Alex untuk mengetahui keberadaan Nania.
Alex juga tak mengetahui Nania. Hingga akhirnya Alex menemani Theo untuk mencari Nania diarea sekitar rumahnya, setelah panggilan telepon dari Alex tak di jawab oleh Nania.
Tak menemukan keberadaan Nania diarea sekitar rumah. Alex melihat pintu kamar Nania yang tertutup rapat. Apa mungkin Nania tertidur lagi.
__ADS_1
Mengetuk pintu kamar Nania. Tetapi Nania tak meresponnya. Dengan sangat terpaksa, Alex membuka pintu kamar Nania yang tak terkunci.
Alex menemukan Nania yang tengah berguling-guling diatas kasur dengan tangan yang mencoba mengelus pipinya. Air mata yang keluar dari wajah Nania membasahi wajahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Alex duduk disamping Nania.
"Sa-Sakit gigi aku." Jawab Nania terbata-bata.
"Sini aku periksa sebentar." Ucap Julien's.
Nania mendekat kearah Alex.
Dengan pintu kamar yang terbuka lebar, Julien's yang akan menuju parkiran mobil. Melihat Nania yang seolah-olah akan berciuman dengan Alex diatas kasur. Pikiran Julien's yang mulai kotor. Langsung menghampiri Alex. Tanpa ampun dia menonjok wajah kanan Alex, hingga tersungkur.
Nania yang semakin kesakitan. Mencoba memberikan penjelasan pada Julien's. Tetapi apa yang diucapkan oleh Nania, nampak tak begitu jelas. Hingga Julien's tak memahaminya.
Baru setelah Theo mengatakan Nania sakit gigi. Julien's mulai paham. Dia menunduk dengan penuh rasa bersalah sambil meminta maaf.
Alex yang masih kesakitan menarik tangan Nania untuk keluar dari kamar. Diikuti oleh Theo dari belakang. Sementara Julien's menjatuhkan tubuhnya keatas kasur. Dengan posisi duduk, Julien's menyesali perbuatannya pada adiknya sendiri. Cemburu buta yang melanda hatinya, kembali membuat Julien's kehilangan kontrol. Hingga akhirnya dia melakukan kekerasan pada Alex.
Alex sendiri langsung membawa Nania menuju mobilnya. Dia ingin mengantar Nania ke dokter untuk berobat. Namun sebelum ke rumah sakit. Alex dan Nania harus mengantar Theo pergi ke sekolah terlebih dahulu.
Diperjalanan menuju sekolah, mata Nania tak henti menatap luka lebam yang nampak jelas terlihat di wajah Alex. Luka hasil tonjokan dari Julien's itu memang nampak membiru. Julien's yang mengira Alex akan berbuat macam-macam. Tanpa ampun menghujani Nania dengan tonjokan yang super keras. Hingga menghasilkan luka lebam yang begitu membekas di wajah tampan Alex.
"Alex." Ucap Nania.
"Iya Nan." Jawab Alex.
"Maafin Julien's." Ucap Nania keceplosan.
"Maksud aku pak Julien's." Tandas Nania.
"Kenapa kamu harus minta maaf Nan?" Tanya Alex.
"Iya aku gak enak saja. Sebab dia bos aku. Jadi kenapa enggak minta maaf atas nama dia." Jawab Nania.
"Aku sudah maafin dia. Bagaimana juga dia adalah kakak aku. Salah paham dalam hubungan kakak adik, aku pikir akan selalu ada. Itu adalah bumbu dari sebuah persaudaraan yang kuat." Tegas Alex kembali tersenyum kecil.
"Aku bahagia kamu bisa berbesar hati untuk menerima maaf dari Julien's. Emm... Maksud aku pak Julien's." Ucap Nania.
"Tapi aku lebih bahagia kalau kamu bahagia juga." Gombal Alex.
Mendengar gombalan yang dilontarkan oleh Alex. Nania hanya tersenyum kecil. Gombalan yang sebenarnya sederhana, tapi maknanya cukup dalam untuk Alex.
Keasyikan mengobrol. Tanpa disadari, sekolah Theo terlewatkan oleh mobil Alex. Theo langsung menggerutu meminta pamannya, Alex untuk memundurkan mobilnya. Mengingat dia melewati cukup jauh sekolah Theo.
Sampai di depan gerbang sekolah Theo. Nania yang ingin turun untuk mengantar Theo masuk kedalam kelas. Mendapat larangan dari Alex. Dia dilarang turun oleh Alex, mengingat saat ini dia masih mengalami sakit gigi. Sehingga Alex dengan senang hati mengganti posisi Nania untuk mengantar Theo masuk kedalam kelas.
Wajah tampan Alex dengan otot-otot yang menonjol. Menjadi pusat perhatian orangtua siswa lainnya. Terlebih ibu-ibu yang mengantar anak mereka ke sekolah. Matanya tak bisa berkedip, begitu Alex dengan gagah menggandeng tangan Theo menuju kelas.
Alex yang baru menyadari dirinya menjadi tontonan orangtua siswa lainnya. Merasa sedikit grogi begitu akan kembali menuju gerbang sekolah. Terlebih para ibu-ibu yang menatap dengan pandangan yang sedikit liar. Alex nampak grogi, bahkan nyaris ketakutan.
Pengalaman buruknya mengantar Theo kedalam kelas, Alex ceritakan pada Nania. Sebelum mengemudikan mobilnya, Alex menanyakannya apakah Nania pernah digoda oleh orangtua siswa. Khususnya orangtua siswa yang bapak-bapak.
__ADS_1
Dengan sedikit tawa, Nania mengatakan tidak. Dia bahkan tidak pernah mengalami hal seperti itu. Sebab mayoritas yang mengantar anak mereka ke sekolah adalah perempuan. Jarang dan bahkan tidak ada yang laki-laki seperti yang Alex tanyakan.
Pertanyaan Alex yang membuat Nania tertawa, justru membawa petaka. Pasalnya gigi Nania kembali terasa sakit, sehingga harus segera mendapat penanganan dari tim dokter.
Sembari meminta Nania menahan sakit yang menyiksa giginya. Alex memacu mobilnya dengan kecepatan super.
Jarak pun akhirnya terpangkas dengan kecepatan super yang Alex lakukan pada mobilnya. Hingga dia bisa membawa Nania ke rumah sakit dengan waktu sekejap.
Nania ditangani oleh seorang dokter gigi yang memang ahli dalam itu. Sementara Alex menunggu Nania di ruang tunggu bersama beberapa orang yang menunggu keluarga mereka yang mengalami masalah yang serupa dengan Nania.
Jeritan dari beberapa pasien tak menggentarkan perasaannya. Sebab itu satu hal yang normal, dan acap kali ditemukan ketika Alex menangani pasiennya juga.
30 menit waktu yang dibutuhkan oleh Nania untuk mengobati permasalahan giginya tersebut. Dengan wajah penuh keceriaan, dia kembali menemui Alex yang asyik bermain game di ponselnya.
"Ayo kita pulang." Ajak Nania.
"Langsung ke rumah?" Tanya Alex.
"Enggak sih. Kita ke sekolah Theo terlebih dahulu. Baru kita pergi ke rumah." Jawab Nania.
"Aku pikir kita lebih baik jalan-jalan dulu." Ajak Alex.
"Jalan-jalan kemana?" Tanya Nania.
"Bagaimana kalau kita ke taman, tempat yang banyak dikunjungi oleh orang pacaran." Jawab Theo antusias.
"Tapi kita tidak pacaran!" Tegas Nania.
Alex bingung untuk menjawab pertanyaan dari Nania. Dia berusaha mengelak dari pernyataan tegas Nania tersebut.
"Ya gak papa, kalau kamu mau kita pacaran. Aku sih bisa-bisa saja." Ucapnya.
Nania tertawa. Namun Alex langsung menggandeng tangan Nania menuju mobilnya.
Sebelum menggelar tikar diatas rerumputan taman. Alex mengajak Nania untuk belanja beberapa snack yang akan menjadi cemilan mereka selama di taman.
Sebuah mini market kecil yang berada di pinggir jalan menjadi tujuan Alex. Walau tak menggandeng Nania. Tetapi Alex tetap tak bisa menjauh dari Nania. Tubuhnya seperti perangko yang selalu menempel dengan Nania.
Melihat ratusan es krim yang berjejer cantik didalam beberapa lemari es. Sebuah ide cemerlang di dapat Alex. Dia mengambil dua buah es krim rasa coklat yang menjadi favorit Nania. Kemudian dengan tingkah konyolnya. Dia menggoyangkan es krim tersebut tepat dihadapan Nania. Kemarin Nania yang memakan es krim dan donat harus merasakan sakit gigi di hari ini. Itu yang membuat Nania langsung tersinggung dengan ledekan yang diberikan Alex kepadanya.
Tak terima, Nania langsung mengejar Alex yang berlari kesana-kemari didalam mini market tersebut. Nania ingin memberikan Alex pelajaran dengan apa yang dia lakukan padanya.
Alex yang berlari tanpa arah, tanpa sengaja menabrak seorang pengunjung lain yang tak bukan itu adalah Anne. Sempat ingin marah pada Alex, tetapi wajah marah langsung sirna begitu Anne melihat wajah orang yang menabraknya tersebut. Anne seketika bahagia. Sementara Alex sendiri yang berulang kali mengucap maaf pada seseorang yang dia tabrak. Seketika menarik semua ucapan maafnya, begitu mengetahui orang yang dia tabrak adalah Anne.
Alex langsung berlari membawa Nania yang sebenarnya masih memegang keranjang berisi cemilan yang sempat mereka ingin beli. Namun akhirnya Nania menaruh kembali keranjang itu. Sementara Anne hanya mengejar Alex sampai di depan pintu masuk mini market.
Alex langsung memacu mobilnya secepat mungkin. Ekspresi ceria yang sedari tadi menghiasi wajah Alex. Perlahan sirna. Berganti menjadi murung dan penuh ketakutan. Nania tak ingin menegur Alex dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi Nania sangat penasaran apa yang membuat Alex menghindari perempuan yang dia kali bertemu dengannya tersebut.
Rasa penasaran Nania akan sosok perempuan itu akhirnya terjawab. Alex yang tetap mengajak Nania ke taman. Mulai bercerita akan masa lalunya dengan perempuan itu. Dimana Anne, nama yang akhirnya Nania ketahui. Telah menyelingkuhi Alex selama berpacaran kurang lebih 5 tahun.
Sempat putus asa untuk jatuh cinta. Tetapi Alex mencoba untuk tetap yakin akan cinta sejati yang akan dia temui dikemudian hari.
Daun yang gugur adalah daun yang telah layu dan tak layak untuk pohon yang disinggahi. Begitu juga sebuah cinta. Dimana mungkin cinta yang pergi adalah cinta yang telah layu dan tak layak lagi menetap di hati Alex. Tetapi cinta yang baru akan tumbuh dan memberikan banyak kebahagiaan padanya.
__ADS_1
Filosofis, mungkin itu cara Alex memandang cinta. Dia terjatuh, tetapi dia berusaha bangkit. Bukan menangis dengan kenyataan yang harus dia terima.
Waktu Alex bercerita nampaknya hampir habis. Theo tak mungkin terlalu lama menunggu Nania untuk menjemputnya di sekolah. Dengan sebuah support moril yang diberikan. Nania berusaha membuat Alex bangkit dengan masa lalunya yang buruk.