SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
HONEYMOON HARI KEDUA


__ADS_3

Ombak seakan menari dengan pantulan cahaya matahari yang menciptakan birunya air laut. Para burung turut menari mengikuti irama yang tercipta dengan sendirinya oleh desir ombak.


Beberapa orang membaringkan tubuh mereka diatas sebuah matras lembut, maupun kursi panjang. Hanya berbikini untuk melindungi area sensitif mereka. Tubuh bagian lain dibiarkan terbuka dan menjadi tontonan pengunjung lain. Tentu menjadi santapan sinar matahari yang terik dan vitamin D yang bagus untuk kulit.


Nania yang tak mau kehilangan vitamin D yang diberikan Tuhan secara gratis. Membiarkan tubuh indahnya hanya berbalut bra tipis serta ****** ***** yang tebal dibagian area sensitifnya. Dibanding membaringkan tubuhnya, Nania lebih memilih untuk bermain bersama Julien's dan kedua anaknya.


Julien's dan kedua anak kompak bertelanjang dada dengan sebuah celana pantai pendek. Dia terlihat begitu gagah, dengan perut yang rata. Begitu juga dengan kacamata hitam yang dikenakan. Semakin memancarkan aura tampan dari Julien's.


Berbagai permainan dijajal Julien's, Nania serta dua anaknya. Dari bermain bola, sampai membuat istana pasir. Semua mereka coba. Liburan yang benar-benar membuat keluarga kecil Julien's semakin kompak.


Ketika semua sudah merasakan lelah, semuanya menepi ke pinggir pantai. Sebuah kelapa muda dengan sedikit cemilan menjadi pengganti energi mereka yang telah dihabiskan dengan berbagai permainan di pantai. Nania menunjukkan sifat keibuannya dengan sigap memberikan pertolongan pertama ketika Theo tersendat Potato chips yang dia makan. Nania dengan segera membantu Theo mengeluarkan potato chips itu dengan memukul bagian leher Theo. Kesigapan Nania itu membuat Theo berhasil mengeluarkan potato chips tersebut.


Pujian seketika Julien's berikan pada Nania yang telah menjadi ibu sigap untuk kedua anaknya. Sebuah ciuman mesra di kening Nania menjadi satu bentuk cinta dan bangga Julien's memiliki Nania.


Hampir menghabiskan waktu 5 jam di pantai dengan beragam keseruan yang dilakukan Julien's dan Nania. Mereka memutuskan untuk kembali ke resort untuk makan siang.


Theo dan Romeo yang kecapean dengan beragam aktivitas yang mereka lakukan selama di pantai. Mereka berdua tertidur ketika perjalanan menuju resort akan dilakukan. Keduanya berada di kursi paling belakang. Sementara Nania dengan manja menyandarkan kepalanya ke pundak Julien's.


Sepanjang perjalanan Nania mengatakan bahwa dia sangat menyesal tidak pernah belajar memasak pada ibunya. Sehingga ketika dia sudah menikah. Dia tidak bisa membuatkan masakan untuk keluarganya sendiri.


Julien's tertawa kecil dengan penyesalan Nania itu. Dia mencoba menyemangati Nania dengan sebuah kalimat yang cukup membangun motivasi Nania untuk belajar memasak.


Ketika kutub selatan bertemu dengan kutub selatan, maka dua buah magnet akan saling bertolak satu sama lain. Tapi ketika kutub selatan bertemu dengan kutub Utara. Mereka akan selalu mencari cara untuk menempel. Begitu juga dengan takdir kita. Kamu gak jago masak, tapi aku seorang chef. Sehingga selalu ada jalan untuk kita bersama. Jalan untuk bersama. Terpenting kamu belajar!


Kalimat-kalimat bijak yang Julien's ucapkan membuat Nania seketika termotivasi. Dia berterima kasih kepada Julien's yang mau menerima kekurangan Nania yang tidak pandai memasak. Namun Nania berjanji untuk belajar memasak pada Julien's.


Ucapan Nania langsung dia buktikan begitu sampai di resort. Begitu memindahkan Romeo dan Theo ke kamar. Nania langsung menyusul Julien's yang sedang mempersiapkan bahan makanan untuk makan siang.

__ADS_1


"Aku boleh belajar masak?" Tanya Nania pada Julien's.


Julien's terdiam. Kemudian dia menempelkan sedikit terigu yang sedang dia timbang ke wajah Nania. Sehingga pipi kiri Nania dipenuhi oleh terigu. Nania yang tak terima dengan keusilan dari Julien's berusaha membalas perbuatan Julien's. Dia berusaha mengambil terigu untuk memoles wajah Julien's. Namun Julien's yang terlebih dahulu memegang bungkus terigu, berhasil menyembunyikan dibelakang tubuhnya. Nania pun tak dapat membalas perbuatan Julien's.


Demi membuat Nania kembali tersenyum, Julien's pun dengan penuh keromantisan membersihkan sisa terigu yang menempel di wajah Nania. Perlahan dengan tangannya, Julien's membersihkan. Hingga wajah Nania kembali bersih tanpa sedikitpun terigu yang menempel.


Kembali bersih, Nania mulai mempersiapkan diri untuk belajar memasak. Dia mulai mengenakan celemek seperti Julien's dibagian depan tubuhnya. Rambutnya yang tergerai panjang juga, dia ikat terlebih dahulu. Tujuannya agar tidak ada rambut yang akan mengkontaminasi makanan yang dia buat. Kemudian dia menanyakan apa harus dia lakukan.


Julien's yang kali ini berposisi sebagai Chef dan Nania sebagai seorang asisten Chef. Meminta Nania untuk memotong beberapa bumbu seperti bombay, bawang putih dan tomat. Julien's ingin mengajarkan Nania cara membuat masakan Prancis asli.


Julien's yang tak melihat cara Nania memotong, membuat potongan yang Nania lakukan pada bahan masakannya sedikit kacau. Tak marah, Julien's hanya tertawa. Dia menawarkan untuk mengajari Nania cara memotong yang baik. Nania pun menyetujuinya.


Dia berdiri dibelakang tubuh Nania. Memegang erat tangan kaku Nania yang sedang menggenggam pisau. Perlahan Julien's mengajarkan cara yang baik dalam memotong bahan makanan.


Baru beberapa potongan. ponsel yang dia taruh didalam saku celananya, berbunyi keras. Seseorang menelponnya, sehingga Julien's harus mengangkatnya.


Baru setelah Julien's meminta Marrie untuk tenang. Dia pun mampu menceritakan apa yang membuatnya menangis seperti itu.


Beatrice, ternyata Beatrice yang membuat Marrie menangis. Hidungnya mengeluarkan darah. Sebelum akhirnya jatuh pingsan. Sehingga membuat Marrie panik dan menangis.


Julien's dengan segera menelpon ambulans terdekat untuk membawa Marrie ke rumah sakit. Sementara dia berniat mempersingkat bulan madunya bersama Nania.


"Ada apa?" Tanya Nania.


"Beatrice pingsan, hingga sekarang belum sadarkan diri." Jawab Julien's.


Nania seketika panik.

__ADS_1


"Kamu gak masalahkan kalau harus mengakhiri bulan madu kita?" Tanya Julien's.


"Iya, keselamatan mbak Beatrice lebih penting daripada bulan madu kita."


Semuanya berkemas untuk pulang. Nania menggendong Romeo. Sementara Theo nampak terlelap dipangkuan pembantu Julien's. Semua menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit.


Julien's meminta sopirnya untuk memacu kecepatan mobil dengan tinggi. Raut wajah khawatir nampak dari wajahnya. Dia begitu takut terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada Beatrice.


Nania yang duduk disamping Julien's, berusaha menenangkan Julien's. Nania mengelus lembut punggung Julien's. Sesekali dia meminta Julien's untuk berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Beatrice.


Hampir 3 jam lebih diperjalanan yang dipenuhi ketegangan. Mobil Julien's akhirnya sampai juga di parkiran rumah sakit. Tak memperdulikan apapun lagi. Dia dengan segera bergegas menuju kamar tempat Beatrice di rawat. Dari belakang Julien's Nania mengikutinya. Sementara Romeo dan Theo Julien's titipkan pada pembantunya.


Sambil berjalan menuju kamar itu, Julien's terus berkomunikasi pada Marrie untuk menemukan ruangan tempat Beatrice dirawat. Satu persatu nomor kamar Julien's lihat untuk memastikan ruangan tempat Beatrice.


Lambaian tangan dari Marrie yang sedang duduk di depan kamar Beatrice dirawat mengakhiri pencarian Julien's pada Kamar Beatrice. Dengan segera Julien's menghampiri Marrie.


Marrie langsung memeluk Julien's dengan tangisan. Dia memberitahu ibunya telah pingsan dengan darah yang keluar dari hidungnya. Sehingga Marrie begitu ketakutan suatu hal buruk menimpa ibunya.


Namun tangis kesedihan Marrie hanya bertahan beberapa saat saja. Pasalnya saat dia melihat Nania yang berjalan menghampiri Marrie dan Julien's. Tangis kesedihan, berubah menjadi amarah. Dia mendorong Nania, dengan makian yang cukup membuat hati Nania tergores.


Julien's tak tinggal diam. Namun dia tak ingin membuat Marrie kembali marah padanya. Dia memilih untuk menarik Marrie masuk kedalam kamar ibunya. Sementara dengan gesture mata yang baik, Julien's meminta Nania untuk mengalah. Sehingga semuanya mendapatkan porsi yang adil.


Julien's duduk di kursi disamping ranjang tempat Beatrice berbaring. Dia menggenggam tangan Beatrice yang dipasang selang infus. Dia menggenggam lembut tangan Beatrice, kemudian berulang kali menciumi. Beberapa kalimat cinta juga keluar dari mulut Julien's pada Beatrice. Semuanya terasa begitu haru, ketika beberapa tetes air mata Julien's membasahi sprei ranjang tempat Beatrice berbaring.


Dibalik pintu kamar, Nania dengan dua bola matanya mengintip. Dia melihat betapa romantisnya Julien's pada Beatrice. Hatinya sedikit cemburu, namun dia berusaha tegar. Sebab Beatrice memang layak mendapatkan semuanya. Justru Nania yang telah menghancurkan kebahagiaan Beatrice. Sebab dia berada ditengah-tengah kebahagiaan keluarga mereka.


Tak ingin menganggu momen indah Julien's bersama Beatrice dan Marrie. Nania memilih pergi, dengan menunggu Julien's di mobil bersama Romeo dan Theo.

__ADS_1


__ADS_2