
Julien's sengaja mengambil libur di hari ini demi menemani Nania seharian di rumah sakit. Semangkuk bubur gandum sudah berada di tangan Julien's untuk disuapkan pada Nania. Segelas air putih juga telah disiapkan Julien's untuk minum Nania diatas meja kecil.
Nania nampak masih lemas dengan kondisinya. Wajahnya masih pucat, dengan mata sayu yang terlihat jelas. Tangannya pun masih terbungkus selang infus. Juga dengan tabung oksigen yang masih harus digunakan oleh Nania. Kondisi masih belum pulih, sekalipun Nania mengatakan jika sedikit ada perubahan. Namun itu jauh dari harapan. Dia harus tetap istirahat total.
Sebelum menyuapkan bubur itu kedalam mulut Nania. Julien's mengecek suhu tubuh Nania terlebih dahulu. Dia menaruh tangannya diatas dahi Nania. Masih terasa panas, bahkan cukup panas. Sehingga Julien's hendak melakukan kompres di dahi Nania. Tetapi Nania menolaknya, peralatan rumah sakit itu sudah cukup. Sehingga akan segera meredakan panas dari Nania.
Julien's pun mengerti, sehingga tak harus memaksakan kompres di dahi Nania. Dia mulai menyendok bubur gandum yang hendak disuapkan pada Nania.
Satu suapan penuh mendarat di mulut Nania. Tapi bubur yang sebenarnya memiliki rasa sedikit manis, terasa hambar saat menyapa lidah Nania. Tak ada rasa sama sekali. Sehingga satu suapan pertama itu saja sudah cukup untuknya.
Julien's kembali meminta Nania untuk menyantap suapan kedua. Tapi Nania menolaknya. Dia tak selera makan pagi ini. Sehingga Nania menolaknya. Namun Julien's yang tak ingin Nania hanya sedikit menyantap bubur gandum tersebut. Kembali Julien's mencoba menyuapkan sesendok bubur gandum itu kedalam mulut Nania.
__ADS_1
Nania akhirnya mau untuk menyantap satu sendok bubur gandum tersebut. Tapi baru mendarat di mulutnya. Nania langsung memuntahkan bubur gandum itu. Sehingga mengotori seluruh pakaiannya.
Julien's sebagai seorang suami yang cepat tanggap. Langsung membersihkan pakaian Nania yang terkena muntahan. Dengan penuh kehati-hatian, Julien's membersihkan pakaian Nania tersebut.
Nania memperhatikan dengan penuh seksama kala Julien's membersihkan muntahan yang mengotori pakaiannya tersebut. Dia begitu terkesan akan perhatian yang diberikan Julien's padanya. Dimana Julien's begitu menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Terima kasih kamu begitu baik sayang." Ucap Nania.
"Kamu sendiri sudah makan?" Tanya Nania dengan ekspresi lesuh.
Julien's terdiam. Kemudian dengan wajah ragu-ragu dia menjawab.
__ADS_1
"Sudah..... Aku sudah makan." Terang Julien's.
"Aku gak yakin kamu sudah makan. Pasti kamu berbohong sama aku." Ucap Nania.
"Darimana kamu tahu aku belum makan?" Tantang Julien's.
Tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan dari perut Julien's dengan begitu kerasnya. Sehingga itu menjadi jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Nania padanya.
"Hmmm... Tanpa harus aku buktikan juga, perut kamu saja sudah bisa menjawabnya." Jelas Nania sambil tertawa.
Julien's seketika malu-malu dengan suara yang berasal dari perutnya tersebut. Dia tak bisa berbohong lagi pada Nania. Sebab perutnya sendiri yang memberitahu jika Julien's belum sarapan di pagi ini.
__ADS_1
Akhirnya Julien's pun sarapan dengan makan bubur gandum yang tak jadi dimakan oleh Nania. Satu suapan demi suapan mulai mengisi perut kosongnya. Hingga bunyi keroncongan dalam perutnya tak terdengar lagi.