
Beberapa menu sudah tersedia dimeja makan. Makan malam ini terasa special. Terutama bagi Nania yang dimanjakan dengan berbagai menu makanan favoritnya di pagi ini.
Matanya hampir terlepas, melihat semua menu favoritnya berjejer indah menghiasi meja makan. Selera makannya seketika meningkat dengan menu makan malam kali ini.
Ucapan terimakasih berulang kali Nania ucapkan pada ibunya yang telah membuatkan Nania makanan yang lezat. Dia mengaku beruntung memiliki ibunya yang jago memasak. Sehingga bisa merasakan masakan favoritnya setiap hari.
Tak menunggu waktu lama, Nania mulai menyendok setiap menu makanan yang tersedia kedalam piring. Dia terlihat lapar, dengan porsi besar yang dia ambil. Ibunya hanya tersenyum kecil melihat begitu semangatnya Nania mengambil setiap makanan yang tersedia.
Penuh, piring Nania terisi makanan. Dengan segera dia menyantap satu persatu makanan yang ada. Sementara ibunya baru mulai menyendok makanan kedalam piringnya.
"Gimana makanannya, enak?" Tanya ibu Nania.
"Enak Bu, enak banget." Jawab Nania dengan mulut penuh makanan.
"Udah pasti enak, soalnya itu semua ibu beli di restoran mahal." Ucap Ibu Nania.
Nania menelan makanannya. Kemudian dengan wajah penasaran menanyakan restoran tempat ibunya membeli semua makanan kesukaan Nania.
"Restoran Au'Revile.." Jawab ibunya mulai menyantap hidangannya.
Nania terdiam sejenak.
"Ibu beli di restoran itu?" Tanya Nania semakin penasaran.
"Iya." Jawab ibu Nania santai.
"Tapi bagaimana bisa, restoran itu mahal banget. Ibu dapat uang dari mana?" Tanya Nania kembali.
"Ibu gak beli. Tapi ibu dapat voucher dari Julien's. Dia kemarin memberi ibu voucher." Jawab ibu Nania semakin santai.
"Jadi Julien's kemarin datang kesini Bu?" Nania sedikit panik.
Ibu Nania menengguk segelas air putih. Kemudian dengan santainya dia mengatakan sudah memaafkan Julien's dan mau menerima Julien's sebagai calon menantunya.
Nania terkejut. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. Dia menolak dan membantah semua ucapan dari ibunya tersebut.
"Tapi bu, Julien's telah berbohong. Apa ibu mau memiliki seorang menantu yang pembohong!" Tegas Nania.
Ibu Nania menatap tajam wajah Nania.
"Julien's telah menjelaskan semuanya. Ibu sudah tahu alasannya. Jadi gak ada alasan buat ibu menolak dia." Ucap ibu Nania.
__ADS_1
"Tapi aku tetap gak bisa Bu. Julien's telah membohongi aku. Itu berat untuk aku maafkan." Nania bersikeras.
"Julien's gak bohong. Dia hanya berusaha untuk memperbaiki keadaan yang ada. Kamu harus mau memaafkan dia Nania." Jawab ibunya dengan tegas.
"Keadaan mana Bu, semuanya dia buat hancur. Gak ada keadaan yang dia perbaiki. Semuanya dia rusak, termasuk kepercayaan juga." Nania tegas pada pendiriannya.
Ketika ibunya kembali ingin membalas ucapan Nania. Nania beranjak dari kursinya. Kemudian dia pergi menuju kamarnya, dengan sisa makanan yang masih berada di piring.
Panggilan dari ibunya pun dia hiraukan. Dia tak peduli dan hanya ingin berada di kamar untuk menenangkan diri.
Memainkan ponselnya. Kemudian mulai mendengarkan lagu galau yang menemaninya dikala seperti ini.
Beberapa ucapan ibunya mulai membayangi pikirannya. Dia tahu ucapan itu tidak sepenuhnya salah. Namun dia ragu dan terlanjur kecewa pada Julien's. Sehingga sulit untuk menerima itu semua.
Usaha Julien's untuk mendinginkan hati Nania yang terbakar oleh kekecewaan dan kebohongan Julien's berlanjut. Dia mendatangi Aurille yang baru pulang dari rumah sakit. Dengan menenteng sebuah paper bag berisi makanan. Julien's berharap Aurille mau menolongnya untuk membuat Nania percaya lagi pada Julien's.
Awalnya Aurille menolak. Tetapi begitu melihat ketulusan yang nampak dari wajah Julien's. Dia merubah pikirannya. Dia akan membantu Julien's untuk kembali mendapatkan hati Nania.
Aurille menelpon Nania. Meminta dia untuk menjenguknya yang masih sedikit merasakan sakit. Sehingga Aurille berharap Nania menjenguknya.
Nania yang merasa bersalah telah meninggalkan Aurille sendirian di rumah sakit. Akhirnya menerima undangan Aurille untuk menjenguknya. Besok pagi dia akan pergi ke Nice untuk menjenguk Aurille di apartemennya. Nania berjanji.
Perjalanan yang cukup jauh telah ditempuh Nania. Kini dia sudah benar-benar berada di apartemen Aurille. Dia mengetuk pintu. Namun Aurille tidak menjawabnya. Nania kembali mengetuk pintu. Tetap Aurille tidak menjawabnya. Nania menyalakan ponselnya. Kemudian menelpon Aurille.
Benar saja, Aurille belum bangun. Dia terbangun dengan bunyi telepon dari Nania. Sehingga dia pun langsung mengangkat telpon dari Nania. Ketika Nania mengatakan sudah ada di depan pintu apartemennya. Aurille pun langsung bergegas menuju pintu apartemen.
Nania. Aurille langsung memeluk Nania begitu membuka pintu apartemennya. Nania yang masih merasa bersalah telah meninggalkan Aurille di rumah sakit saat. Meminta maaf pada Aurille. Dia menundukkan kepalanya, dengan suara lembut Nania meminta maaf pada Aurille.
Berpura-pura sedikit kesal, Aurille sempat membuat Nania panik. Namun saat Aurille mengatakan dia hanya pura-pura saja. Ekspresi wajah bahagia dari Nania kembali terpancar. Nania bahagia Aurille memaafkannya.
Waktu yang masih pagi, membuat Aurille meminta Nania membuat sarapan untuk mereka berdua. Namun Nania yang tidak handal memasak, menolak permintaan Aurille tersebut. Aurille menggoda Nania dengan menyarankan Nania meminta bantuan Julien's untuk memasak pagi ini. Nania terkejut, dia jelas menolak. Dia tak ingin berhubungan lagi dengan Julien's.
Namun tanpa diduga. Julien's datang dengan dua kantong berisi belanjaan. Nania tidak menyangka Julien's ada di apartemen Aurille. Dia yang tak senang dengan kehadiran Julien's berusaha pergi dari apartemen Aurille.
Tapi, bukan Aurille kalau tidak bisa membuat Nania bertahan. Dia mengatakan tidak akan memaafkan Nania, jika dia pergi saat ini. Aurille mengancam Nania. Sehingga Nania yang merasa masih memiliki salah pada Aurille. Menuruti permintaan Aurille. Dia bertahan. Sementara senyum kecil terlukis dari wajah Julien's. Dia begitu bahagia dengan keberadaan Nania di apartemen Aurille pagi ini.
Julien's membawa semua bahan makanan ke dapur. Sementara Aurille memaksa Nania untuk turut berjalan dibelakang Julien's. Aurille ingin Nania membantu Julien's memasak. Walaupun Nania jelas menolak permintaan dari Aurille tersebut. Namun ancaman dari Aurille membuat Nania tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia pun menuruti perintah dari Aurille.
Nania menjadi asisten Julien's. Dia berdiri disamping Julien's. Sementara Aurille nampak senang di depan pintu dapur. Rencana dia sukses, sebab Nania dan Julien's kembali dekat. Walaupun belum dekat seperti dulu. Setidaknya sudah dekat secara fisik.
Nania dengan wajah cemberut terlihat tak nyaman berada di samping Julien's. Dia tak pernah membalas setiap ucapan yang dilontarkan Julien's. Dia hanya mengikuti saja perintah dari Julien's.
__ADS_1
Kurangnya komunikasi, akhirnya membuat Nania banyak melakukan kesalahan. Namun Julien's tidak pernah menyalahkan Nania, apalagi memarahi Nania. Dia dengan lembut mengajarkan Nania cara yang benar. Walaupun dibalas ketus oleh Nania.
Perhatian Julien's pada Nania juga tak pernah hilang. Nania yang sedang mengiris daun bawang, tanpa sengaja menggores jari tangannya. seketika darah pun keluar dari jarinya tersebut. Disaat itu Julien's dengan sigap memberikan pertolongan pertama pada Nania. Dia membantu membersihkan luka itu. Kemudian mengambil perban dan obat merah untuk mengobati luka Nania.
Mata Nania tak henti menatap wajah tulus Julien's ketika mengobati luka di jarinya. Dia begitu melihat ketulusan seorang Julien's. Nania ingin menyentuhnya. Namun dia kekecewaan yang telah Julien's goreskan, sulit bagi Nania menggerakkan tangannya untuk menyentuh wajah Julien's.
Selesai. Darah sudah terkunci dan jari Nania terlindung dari bakteri. Julien's meminta Nania untuk menunggu di meja makan. Sehingga semua masakan akan Julien's selesaikan sendiri.
Tak terlalu lama buat Julien's menyelesaikan semua masakannya. Dia membawa 3 menu sarapan keatas meja makan. Sambut gembira dari Aurille langsung bergema. Sementara hanya senyum kecil yang Nania lukiskan.
Sayangnya Julien's tidak bisa ikut sarapan bersama Nania dan Aurille. Dia harus berangkat bekerja. Sebab ada beberapa pejabat yang akan mengadakan pertemuan di salah satu restoran milik Julien's. Dia pun harus turun tangan untuk memastikan semua makanan dihidangkan dengan kualitas tinggi.
Sebelum benar-benar pergi. Julien's dengan penuh perhatian memberikan saran pada Nania untuk kembali mengobati lukanya itu. Tak lupa satu kata pamungkas, Julien's lontarkan. Aku Cinta Kamu. Iya Julien's mengucapkan itu, meskipun Nania nampak mengabaikan ucapannya. Namun Julien's senang melihat beberapa moments Nania tersenyum kembali.
Eating time!!! Aurille yang sudah nampak bersemangat untuk menyantap hidangan dari Julien's langsung mengambil tiga menu utama keatas piring. Sehingga piringnya benar-benar penuh oleh makanan.
Nania sendiri justru terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu hal. Sehingga ketika Aurille menyuruhnya untuk mengambil piring. Nania justru seperti tidak mendengar. Sehingga meminta Aurille mengucap omongannya tersebut.
"Makanya kalau masih sayang, gk usah gengsi. Cepat makan!" Ucap Aurille mulai menyantap makanan.
"Siapa yang gengsi. Gue emang sudah gak mau lagi sama dia." Nania mengambil minum.
"Nania, kalau gue saranin. Mending loe terima aja Julien's. Gak apa juga jadi yang kedua. Terpenting jatahnya sama." Ucap Aurille sedikit tertawa.
Mendengar ucapan dari Aurille. Nania yang sedang meneguk air, dia tersendat hingga batuk.
"Emmm.. Batuk. Itu tanda rindu tahu." Aurille semakin menggila.
"Udah deh, mending loe lanjut makan aja. Mana ada batuk itu pertanda rindu. Ngaco loe." Bantah Nania.
"Ada. Itu buktinya loe batuk. pasti loe rindu sama Julien's. Ayo ngaku." Ucap Aurille.
"Enggak. Gue gak rindu siapa-siapa. Mending loe habisin makanan loe. Setelah itu loe minum obat. Biar nanti gue yang beresin." Tegas Nania.
"Loe sendiri gak makan. Makanannya enak-enak tahu." Ucap Aurille.
"Enggak. Gue masih kenyang." Tegas Nania.
"Oh gue tahu. Loe takut kalau loe makan semua ini. Loe kena pelet cinta Julien's lagi. Walaupun sebenarnya loe emang masih cinta diakan." Aurille semakin beringas.
Nania yang tak mau meladeni ucapan dari Aurille memilih untuk bergegas ke kamar. Disana dia sedikit merasa tenang. Sebab dalam hatinya kini bergejolak. Antara memaafkan Julien's atau tetap menjauhinya. Dua pilihan sulit untuknya saat ini.
__ADS_1