SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
PERAYAAN KEDATANGAN ALEX


__ADS_3

Tet... Tet... Tet... Suara dering di ponsel Julien's. Julien's yang masih terlelap tidur tidak mengangkatnya. Ponselnya pun terus berputar di sampingnya, yang tergeletak dibawah lampu.


Tet... Tet... Tet... Panggilan kedua dari ponsel Julien's. Di panggilan kedua ini Julien's akhirnya terbangun. Dia membuka matanya. Lalu melepaskan pelukan tangan Beatrice yang melingkar ditubuh kekarnya.


Julien's sedikit mengucek matanya. Sebelum akhirnya mengambil ponsel tersebut. Dia terdiam sejenak begitu melihat nama ibunya yang tertera dilayar ponsel itu. Julien's heran, kenapa ibunya menelpon dia di waktu pagi seperti ini. Namun Julien's tetap mengangkat telepon itu, meskipun heran dengan panggilan pagi yang dilakukan ibunya tersebut.


"Pagi ma." Ucap Julien's.


"Pagi sayang. Kamu pasti baru bangunkan?" Tanya ibunya.


Julien's menguap dengan mulut yang terbuka lebar.


"Tuh kamu aja masih ngantuk kayak gitu. Kamu pasti baru banget bangun." Tebak ibunya.


"Iya ma. Aku baru banget bangun. Hari ini aku libur. Jadi aku bangun sedikit telat." Jawab Julien's.


"Bagus banget kalau kamu hari ini libur. Itu artinya kamu bisa bantu mama."


"Bantu apa ma?" Tanya Julien's penasaran.


"Mama ingin buat acara penyambutan Alex di rumah kamu. Jadi kita undang semua saudara kita buat merayakan kelulusan Alex." Ucap ibu Julien's.


Julien's terdiam.


"Gimana sayang, kamu setuju?" Tanya ibu Julien's makin antuasias.


Julien's yang terkejut, akhirnya mengatakan setuju untuk membuat acara penyambutan kedatangan Alex di rumahnya. Setujunya Julien's langsung disambut gembira oleh ibunya. Dia begitu senang Julien's mau membantunya untuk membuat acara special tersebut untuk Alex.


Begitu mengakhiri panggilan telepon dari ibunya. Beatrice secara tiba-tiba bangun. Dia langsung membuat Julien's terkejut ketika akan kembali membaringkan tubuhnya untuk tidur. Ekspresi lucu Julien's ketika terkejut, sama sekali tidak membuat Beatrice tersenyum. Beatrice telah kehilangan selera humornya selama mengidap kanker. Hal itu yang membuat rumah tangganya dengan Julien's menjadi terasa hambar.


Percayalah, cinta dalam pernikahan itu kecil. Sementara tertawa disaat momen-momen kecil menjadi dominasi yang paling kuat dalam hubungan rumah tangga. Rumah tangga hanya mengandalkan cinta, rumah tangga hanya akan menjadi rumah singgah melampiaskan nafsu. Tapi ketika kita bisa membuat momen kecil menjadi suatu tawa. Rumah tangga akan menjadi rumah bernaung dua manusia menuju surga.


"Siapa yang menelpon?" Tanya Beatrice dengan wajah datar.


"Mama. Tadi mama menelpon aku." Jawab Julien's.


"Mau apa mama nelpon kamu pagi begini?" Tanya Beatrice kembali.


"Dia meminta aku untuk membuat acara penyambutan Alex di rumah kita." Tegas Julien's.

__ADS_1


Beatrice terdiam. Kemudian dia membalikkan badannya. Dia bersedih, sebab keluarga besar Julien's akan melihatnya dengan kondisi lemah dengan kepala yang botak.


"Kamu kenapa?" Tanya Julien's memeluk Beatrice dari belakang.


"Aku sedang berpikir, mungkin aku akan jadi bahan omongan keluarga kamu. Sebab kondisi aku yang seperti ini." Jawabnya menahan tangis


Julien's mencium kepala botak Beatrice.


"Aku pastikan tidak ada yang berani berbicara jahat pada kamu. Aku orang pertama yang akan memarahi orang itu." Janji Julien's.


Mendengar ucapan dari Julien's. Beatrice langsung membalikkan badannya. Kemudian sekuat tenaga memeluk erat Julien's. Sedikit tetesan air mata menjadi perlambang kebahagiaan yang dia rasakan dengan kehadiran Julien's yang begitu memberinya semangat untuk percaya diri.


Kebiasaan bangun pagi Alex juga dilakukannya ketika berada di rumah Julien's. Sudah terbangun dengan membuka laptopnya. Dia melihat perkembangan izin praktiknya yang masih terkendala sedikit terkendala.


Melihat matahari yang bersinar dengan begitu terangnya menerobos gorden kamarnya. Alex berniat untuk melakukan joging. Dia segera mungkin menutup rapat laptopnya. Lalu mengganti pakaian tidurnya dengan sebuah kaos putih dan celana training panjang berwarna hitam. Sepatu warna senada dengan celananya, semakin menambah ketampanan Alex. Dia bersiap untuk joging memutari sekitar kompleks perumahan Julien's.


Alex tiba-tiba ingin mengajak Nania untuk joging bersamanya begitu melintas di depan pintu kamar Nania. Tanpa ragu dia mengetuk pintu kamar Nania yang masih terkunci rapat.


Tok.. Tok.. Tok... Tiga kali ketukan cukup untuk membuat Nania membuka pintu kamarnya. Nania terkejut begitu melihat Alex berada dihadapannya.


"Kita joging yuk." Ajak Alex.


Nania terdiam, lalu menunjuk kearah tubuhnya sendiri untuk memastikan Alex mengajaknya untuk joging bersama.


Nania ingin menolak, tapi paksaan dari Alex tak mampu lagi dia tolak. Akhirnya dia masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


15 menit mengganti pakaian dan sedikit merias wajahnya sedikit. Nania langsung mendapat pujian setinggi langit dari Alex. Nania dipuji begitu cantik oleh Alex. Hingga rona merah seketika timbul dikedua pipi Nania.


Alex meminta Nania untuk menunjukan arah menuju taman, sementara Alex sedikit berada dibelakang Nania. Walaupun keduanya tetap nampak berlari secara berdampingan menuju taman.


Julien's yang tak mengetahui Nania ikut joging bersama Alex. Membawa secangkir teh tawar hangat kedalam kamar Nania. Dia berniat mengajak Nania untuk minum teh bersama di balkon rumah.


Julien's hanya berjumpa dengan kekecewaan begitu membuka kamar Nania. Tidak ada Nania. Hanya dua bantal dan guling milik Nania yang diselimuti sebuah selimut tebal.


Saat Julien's ingin menelpon Nania. Dia melihat ponsel Nania yang tergeletak diatas lacinya. Dia berjalan menuju ponsel Nania tersebut.


"Ponselnya tidak dia bawa. Terus dia kemana?" Gumam Julien's didalam hatinya.


Julien's meminum teh tawarnya tersebut. Kemudian berjalan mengelilingi rumahnya untuk mencari Nania. Namun disetiap sudut rumahnya, dia tak juga menemukan Nania.

__ADS_1


Melihat kamar Alex terbuka, Julien's lantas masuk kedalam kamar tersebut. Dia tidak menemukan Alex. Dipikirannya mungkin Alex saat ini pergi bersama istri keduanya. Dia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Alex.


Alex dan Nania yang nampak capek setelah mengelilingi taman. Beristirahat disebuah bangku taman. Alex menawarkan minum pada Nania. Tanpa ragu Nania langsung menerima tawaran minum dari Alex tersebut. Dia minum dengan begitu banyaknya. Hingga Nania hampir tersedak.


Alex yang seorang dokter begitu piawai menangani masalah tersedak yang dialami oleh Nania. Nania dipaksa untuk batuk, setelah itu dia diminta untuk tenang. Tujuannya agar Nania tidak mengalami masalah lainnya. Benar saja, saran dari Alex membuat Nania bisa langsung nyaman setelah tersedak air minum tersebut. Dia langsung berterima kasih kepada Alex telah menolongnya.


Tak hanya menolong Nania saja ketika tersedak minum. Alex juga begitu perhatian pada Nania. Dia yang membawa sebuah handuk kecil yang sebenarnya untuk mengusap keringatnya, namun karena masih bersih. Alex gunakan untuk mengelap sisa air yang membasahi sekitaran mulut Nania. Dengan penuh perhatian, Alex mengelap mulut Nania.


Wajah tampan Alex yang nampak mempesona, tak bisa membuat Nania berkedip. Bahkan dia memperhatikan sehelai demi sehelai bulu mata Alex yang nampak panjang dan indah. Alex benar-benar tampan dalam keadaan apapun.


momen romantis Alex dan Nania, akhirnya selesai. Bunyi nada dering ponsel dari Alex menghentikan keromantisan tersebut. Alex dengan segera mengangkat telepon tersebut. Sedangkan Nania langsung mengelap sisa air disekitar mulutnya dengan tangan kanannya.


"Hallo Kak." Ucap Alex.


"Halo. Kamu dimana?" Tanya Julien's.


"Aku lagi di taman?" Jawab Alex.


"Sama Nania?" Tanya Julien's kembali.


"Iya.." Jawab Alex melirik kearah Nania.


"Kalian lagi ngapain?" Tanya Julien's kembali.


"Aku ngajak Nania joging." Jawab Alex.


"Nania harus pulang, Romeo bangun. Dia nyariin Nania." Titah Julien's.


"Kita juga mau langsung pulang. Ini kita mau pulang." Ucap Alex.


"Bagus kalau gitu." Tutup Julien's.


Alex memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.


"Siapa?" Tanya Nania.


"Kakak aku." Jawab Alex.


"Ada apa dengan kakak kamu?" Tanya Nania penasaran.

__ADS_1


"Dia nyariin kamu. Katanya Romeo bangun, dia nyariin kamu." Jawab Alex sambil minum.


Nania tersenyum. Dihatinya dia berkata jika sebenarnya yang mencari Nania bukan Romeo. Melainkan Julien's. Namun karena ada Alex, akhirnya dia berbohong.


__ADS_2