SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
JULIEN'S ADALAH CHEF


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju restoran. Nania terus memikirkan wajah dari Julien's. Wajah dewasa nan mempesona dengan brewok tipis yang membuatnya terlihat seperti pria dewasa yang gagah. Wajah dia terngiang dipikirannya. Begitu membuat Nania terpesona. Mungkin Nania jatuh cinta.


Semua orang berkumpul membicarakan kedatangan seorang chef besar yang akan mendemokan menu masakan baru. Chef itu dikenal sebagai salah satu chef yang terkenal di Nice. Reputasi dari chef itu sangat bagus. Sehingga beruntung outlet ini dapat menjadi tempat demo masak menu baru dari sang chef.


Nania yang awalnya tidak tahu apapun. Tiba-tiba menjadi penasaran dengan sosok chef tersebut. Hingga dia turut larut dalam obrolan bersama teman-temannya sesama pelayan.


Seorang Pria dengan jaket berwarna hitam dan sepatu safety masuk kedalam loker. Tak lama dia keluar dengan pakaian chef dan topi khas chef ciptaan Leonardo Da Vinci di tangannya. Dia menyapa pak manajer. Sebelum dia menyapa seluruh staf kitchen yang ada di dapur.


Tepat di depan pembatas antara ruangan Dine in dan dapur. Nania bertemu dengan chef itu. Dan tak lain tak bukan chef itu adalah Julien's. Pria yang dia tolong dan memasarkannya pancake di pagi itu.


"Nania." Ucap Julien's tersenyum.


"Julien's.." Nania terkejut.


"Dunia rasanya sempit banget yah. Kita bisa kembali bertemu disini." Ucap Julien's tersenyum.


"Iya. Jadi kamu chef yang terkenal di Nice itu?" Tanya Nania.


"Gak terkenal juga. Cuman aku udah cukup lama jadi chef di kota ini." Julien's merendah.


"Pantas saja kemarin pancake kamu enak banget. Ternyata kamu emang seorang chef." Puji Nania.


Julien's tersenyum.


Nania kemudian mempersilakan Julien's masuk kedalam area dapur. Mengingat semua barang untuk demo masak hari ini sudah dipersiapkan. Julien's pun pergi menuju dapur.


Demo masak pun dilakukan Julien's untuk menu baru yang akan disajikan. Semua staf berkumpul melingkari Julien's yang bersama asistennya melakukan demo masak menu baru. kepiawaian Julien's dalam mempraktekkan setiap langkah-langkah dalam memasak. Membuat decak kagum dari semua staf kitchen maupun server yang menyaksikan. Mereka tak henti memberikan tepukan tangan pada Julien's.


Dari sela-sela bahu pegawai lainnya. Nania menyelinap untuk melihat Julien's memasak. Cara itu dilakukan demi menghindari gangguan dari Thomas padanya. Melihat cara Julien's memasak, Nania semakin mengagumi sosok Julien's. Dia tak henti memberikan tepukan tangan setiap kali Julien's sedikit memberikan aktraksi ketika memasak.

__ADS_1


Semua hidangan dari Julien's pun telah selesai. Disusun rapi diatas meja bulat besar. Satu persatu server diminta untuk mencoba menu baru tersebut. Termasuk Nania yang mencoba paling akhir.


Sempurna. Saya kata yang cukup untuk menu masakan Julien's. Cita rasa Prancis tetap ada, meskipun banyak menggunakan bahan makanan dari berbagai negara. Para server memberikan nilai 10 untuk makanan Julien's tersebut. Begitu juga dengan Nania yang begitu menyukai masakan Julien's. Dia menyukai semua menu yang dibuat Julien's.


Hari ini yang hanya digunakan untuk test food para karyawan. Membuat restoran tutup sementara. Nania yang biasanya pulang jam 6 sore. kini pulang lebih awal. Jam 3 sore, semuanya telah bersiap pulang.


Baru beberapa langkah keluar dari pintu restoran. Nama Nania dipanggil oleh seseorang. Nania menghentikan langkahnya. Kemudian membalikkan tubuhnya. Tepat didepan pintu Thomas baru saja keluar dari pintu restoran. Sementara dua langkah di depan Thomas. Julien's dengan jaket hitamnya tersenyum pada Nania. Secara perlahan dia menghampiri Nania.


"Sore Nania." Sapanya.


"Sore." Nania malu-malu.


"Mau bareng. Saya bawa mobil." Tawar Julien's.


"Emmm Gak usah. Apartemen ku gak jauh dari sini. Jadi aku bisa jalan kaki." Ucap Nania.


"Ok kalau aku gak bisa nganterin kamu. Gimana kalau kita makan di kafe. Aku traktir kamu." Ajak Julien's.


Mengendarai mobil Porsche yang mewah. Nania nampak nyaman duduk disamping Julien's yang mengendarai mobil. Saling melempar senyuman satu sama lain tak terelakkan sepanjang perjalanan menuju kafe. Dimana Nania sering tersipu malu dengan senyuman yang diberikan Julien's.


Berjarak 15 kilo dari apartemennya. Kafe yang dituju Julien's dan Nania pun sampai. Dengan lembut Julien's melepaskan sabuk pengaman yang melingkar ditubuh Nania. Keduanya saling menatap beberapa saat, sebelum sabuk itu benar-benar terlepas.


Walaupun tak bergandengan, namun keduanya nampak serasi ketika berjalan berdampingan. Keduanya seperti sepasang kekasih yang baru memulai cinta. Mereka begitu romantis.


"Kita mau duduk dimana?" Tanya Julien's begitu memasuki kafe.


"Terserah kamu. Aku dimana saja ikut." Jawab Nania pasrah.


Julien's pun memilih meja yang berada dekat dengan jendela. Dimana dia bisa melihat pemandangan luar dari dalam.

__ADS_1


Dua cangkir kopi dan dua potong kue berhiaskan strawberry menjadi menu yang di pilih. Nania yang penasaran dengan rasa kue yang ada. Langsung menyantap kue tersebut dengan lahap. Julien's memperhatikan Nania yang lahap menyantap kue tersebut. Beberapa pertanyaan Julien's berikan pada Nania.


"Selepas kerja kamu langsung pulang?" Tanya Julien's memotong kue miliknya.


"Emm, keseringan sih seperti itu " Jawab Nania menyantap kuenya.


"Gak main dulu sama pacar, jalan-jalan gitu?" Tanya Julien's mendalam.


"Pacar. Haha. Aku gak punya pacar." Jawab Nania sedikit tertawa.


"Saya pikir kamu sudah punya pacar." Julien's sambil menyantap kuenya.


"Kamu sendiri bagaimana?" Nania penasaran.


"Kamu yakin mau tahu status aku?" Julien's menatap wajah Nania.


"Why not!" Nania dengan yakin.


"Aku punya 3 anak. Ada yang beranjak remaja. masih anak-anak. Sedang yang terakhir masih balita." Ucap Julien's.


"Terus istri kamu?" Tanya Nania semakin penasaran.


Julien's terdiam. Dia sedikit berpikir. Kemudian dia mengatakan dia telah berpisah dengan istrinya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini.


Setelah membahas pertanyaan perihal latar belakang masing-masing. Nania dan Julien's perlahan mulai fokus menyantap makanan dan minumannya masing-masing. Sampai diakhir santapan terakhir kue yang dimakan Julien's mendapatkan penilaian dari Julien's yang seorang chef.


"Menurut kamu gimana rasa kue ini?" Tanya Julien's pada Nania.


"Enak, menurut kue enak." Nania menjawab dengan polos.

__ADS_1


"Sebenarnya kue ini bakal lebih enak kalau semisalnya ditambah cream dibagian tengah. Cream bisa menetralisir rasa manis yang ada dalam kue ini. Terlebih aku makan di depan kamu. Manisnya terasa semakin kuat. Aku takut diabetes." Ujar Julien's.


Nani tersipu dengan gombalan dari Julien's. Dia tak dapat menyembunyikan senyumannya di depan Julien's.


__ADS_2