SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
LAMPU HIJAU DARI BEATRICE


__ADS_3

Beatrice menghampiri Julien's yang tengah memasak di dapur. Dia menepuk punggung Julien's. Kemudian dia berkata.


"Aku mau ngomong sesuatu."


Julien's yang terkejut. Langsung bertanya.


"Ngomong apa?" Tanya Julien's sedikit bingung.


"Kamu yakin Nania bisa jadi seorang istri yang baik, dan bisa jadi ibu yang baik buat anak-anak kita?" Tanya balik Beatrice.


"Aku. Sangat yakin. Kamu bisa lihat ketika Romeo bisa langsung begitu dekat dengan Nania. Itu bisa jadi indikasi ketulusan dari seorang Nania." Tegas Julien's.


Beatrice menunduk, sedikit menghela nafas. Kemudian dengan wajah penuh keyakinan mengatakan mengizinkan Julien's untuk menikah dengan Nania.


Sontak kebahagiaan langsung terpancar dari wajah Julien's. Berulang kali dia memeluk Beatrice. Ucapan terimakasih juga terus Julien's ulang untuk Beatrice. Ucapan yang sangat layak dia berikan, mengingat usahanya untuk menikah dengan Nania semakin dekat.


"Aku janji akan kasih kamu hadiah, karena kamu udah mengizinkan aku buat nikah dengan Nania." Ucap Julien's memegang kedua bahu Beatrice.


"Aku gak mau apapun. Aku hanya minta satu syarat aja sama kamu dan Nania." Pinta Beatrice melepaskan tangan Julien's.


"Sy-Syarat apa?" Tanya Julien's.


Beatrice perlahan membalikkan badannya. Kemudian mengatakan syaratnya adalah.

__ADS_1


"Syaratnya...."


"Syaratnya apa..?" Julien's mendekati Beatrice dengan penuh rasa penasaran.


"Nanti kita bicarakan dengan Nania saat makan malam nanti. Aku sudah mengundang dia untuk makan malam nanti malam." Jawab Beatrice.


Kemudian Beatrice kembali bergegas ke kamarnya. Sementara Julien's harus merelakan wafelnya gosong, ditinggal mengobrol dengan Beatrice. Sehingga dia harus membuat ulang. Sial buat Julien's.


Waktu sarapan pagi ini terasa begitu special untuk Julien's. Mengingat lampu hijau yang telah Beatrice berikan padanya. Membuat Julien's tidak sabar untuk mengetahui syarat yang Beatrice berikan padanya. Julien's tak henti tersenyum.


Kebahagiaan Julien's juga dibagikan di tempatnya kerja. Semua rekan kerjanya mendapatkan traktiran dari Julien's. Dia juga membagikan sebuah bingkisan berupa jam tangan untuk hari paling bahagianya tersebut. Walaupun Julien's melakukan traktiran besar-besaran. Namun Julien's tidak memberi tahu semua temannya perihal rencana pernikahan dia dengan Nania yang disetujui Beatrice. Sehingga timbul banyak pertanyaan dari teman-temannya juga. Julien's hanya mengatakan, dia hari ini mendapatkan berkat yang luarbiasa. Sehingga harus membagikan kepada semua orang.


Nania sudah mendapatkan undangan dari Beatrice untuk makan malam. Namun dia tak mengetahui bahwa Beatrice telah memberikan lampu hijau untuk pernikahannya dengan Julien's.


Ning... Nong.. Ning.. Nong Julien's tiga kali menekan bel di apartemen Nania. Ketika bel kelima akan Julien's pencet. Nania dengan mengenakan celana pendek serta sebuah kaos berlengan pendek dan sedikit ngetat. Membuat Julien's begitu bergairah. Julien's menelan ludahnya, begitu Nania berada dihadapannya.


"Julien's. Masuk." Ajak Nania.


Tanpa ragu Julien's pun masuk kedalam apartemen Nania. Dia duduk di sofa. Kemudian Nania menawarinya minum. Namun Julien's menolaknya. Dia hanya meminta Nania untuk duduk disampingnya. Sebab Julien's ingin menyampaikan kabar gembira untuk Nania.


Nania duduk sangat dekat disamping kiri Julien's. Tangan Nania berada diatas paha Julien's. Sentuhan yang membuat Julien's terasa panas dingin.


"Ada berita bagus apa?" Tanya Nania menatap tajam wajah Julien's.

__ADS_1


Julien's meletakkan bunga yang dia bawa. Kemudian menggenggam erat tangan tangan Nania yang berada di pahanya.


"Kamu tahukan Beatrice malam ini mengundang kamu makan malam. Nah ternyata dia ingin memberikan syarat untuk pernikahan kita. Jadi dia sudah memberikan izin pada kita untuk menikah." Ucap Julien's dengan penuh semangat dan sedikit ciuman di tangan kanan Nania.


Seketika Nania begitu bahagia. Dia langsung memeluk Julien's dengan begitu eratnya. Membuat Julien's semakin gerah. Sebelum beberapa saat Nania lepaskan.


"Hmmm Aku senang banget Julien's. Tapi syarat dari dia apa?" Tanya Nania penasaran.


"Aku juga belum tahu. Tapi..." Jawab Julien's.


"Tapi apa?" Tanya Nania penasaran.


"Tapi ada syarat gak kalau aku cium bibir kamu hari ini?" Rayu Julien's.


Sontak Nania pun tertawa dengan pertanyaan Julien's tersebut. Dengan gesture sedikit menggoda, Nania seolah-olah berpikir untuk memberi persyaratannya bagi Julien's untuk menciumnya.


Namun Nania yang tak kunjung mengatakan, menyerobot tubuh Nania hingga Nania terjatuh keatas sofa. Sementara tubuh Julien's berada diatas Nania.


"Kasih tahu dong syaratnya, biar aku bisa penuhi." Goda Julien's dengan jari-jarinya yang merapikan rambut Nania.


Nania tak bergeming dan hanya memberikan gesture memperbolehkan Julien's untuk mencium bibirnya. Sehingga tanpa pikir panjang, Julien's langsung menyerobot bibir Nania.


Tak hanya sekedar silaturahmi bibir. rangsangan dari bibir itu berlanjut ke area sensitif lainnya. Sehingga keduanya benar-benar berhubungan badan diatas sofa apartemen.

__ADS_1


Pilihan yang tepat untuk Julien's bekerja setengah hari. Hehe.


__ADS_2