SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
BEATRICE MEMERGOKI JULIEN'S DAN AMASYA TIDUR DI KAMAR


__ADS_3

Malam terasa cepat berlalu. Begitu yang dirasakan oleh Beatrice. Rasanya baru beberapa saat yang lalu ia tertidur dengan keadaan langit yang gelap. Kini bingkai langit telah berganti menjadi terang. Dengan warna biru khasnya.


Seharian mengurung diri di kamarnya. Rasanya Beatrice sudah tidak sabar untuk menjemur tubuhnya dibawah teriknya sinar matahari pagi ini. Dengan sebuah sweater hangat, serta syal yang melingkar dileher. Beatrice bersiap menerima vitamin D secara gratis pagi ini.


Sebelum berjemur, Beatrice ingin melihat kedua putranya terlebih dahulu. Beatrice membuka kamar Theo dan Romeo. Keduanya nampak masih pulas tertidur. Dengan posisi tidur yang saling membelakangi. Beatrice yang tak ingin mengganggu tidur kedua, segera pergi dari kamar kedua anaknya tersebut.


Beatrice juga mengecek kondisi Marrie. Sepertinya Marrie sedang jatuh hati. Dia memutar sebuah lagu cinta yang dapat Beatrice dengarkan dari luar kamar Marrie. Anak gadisnya tersebut bernyanyi mengikuti setiap irama musik yang ada.


Semuanya telah Beatrice check. Satu kamar yang belum Beatrice check. Kamar itu adalah kamar tamu yang menjadi tempat Julien's tidur. Sebenarnya Beatrice masih sedikit kesal dengan Julien's. Tamparan di sarapan pagi kemarin, tak bisa dilupakan Beatrice begitu saja. Tetapi Beatrice tak ingin selamanya memendam perasaan marah pada Julien's. Sebagaimana juga, Julien's tetap suaminya yang harus dia maafkan saat Julien's telah berbuat salah.


Beatrice mulai menapaki satu selangkah demi selangkah jalan dari kamar Marrie menuju kamar tamu. Hanya tinggal beberapa meter saja, Beatrice akan tiba di kamar itu. Kamar dimana Julien's membaringkan tubuhnya untuk tidur.

__ADS_1


Beatrice sudah melihat pintu kamar yang sudah terbuka sedikit. Mungkin Julien's sudah bangun dari kamar itu. Tapi Beatrice tetap ingin melihat kondisi kamar itu.


Hati Beatrice begitu hancur saat melihat kenyataan yang ada. Dimana di kamar itu, Julien's dan Nania tidur bersama. Hanya mengenakan selimut saja, keduanya membungkus tubuh bugil mereka.


Beatrice seketika menangis melihat kenyataan yang ada. Dimana Julien's dan Nania telah melanggar perjanjian yang telah dibuat. Perjanjian yang sebenarnya bisa dijalankan dengan baik. Tapi berubah menjadi buruk ketika Julien's dan Nania tidak menjalankan perjanjian itu dengan baik.


Mendengar tangisan yang keluar dari Beatrice. Seketika Nania terbangun dari tidur lelapnya. Dirinya pun terkejut dengan kondisi tubuhnya yang bugil dengan Julien's yang berada disampingnya. Nania tak dapat berkata apapun lagi. Dia hanya menatap lirih Beatrice.


"Kalian telah melanggar perjanjian kita." Ucap Beatrice begitu tegas.


Julien's dan Nania hanya bisa menunduk.

__ADS_1


"Kalian tahu artinya apa?" Tanya Beatrice dengan begitu marahnya.


"Tidak! Seharusnya aku tidak tidur disini. Tapi kamu mengunci aku, hingga akhirnya aku tidur disini. Tanpa aku sadari, semuanya terjadi begitu saja malam ini." Jelas Julien's.


"Pecundang! Kamu memang pecundang Julien's. Laki-laki pecundang yang tidak konsisten dengan omongan kamu sendiri. Jika aku jadi kamu, aku akan malu. Sudah melanggar peraturan yang ada. Tapi menolak menerima hukuman. Dasar pecundang!" Tegas Beatrice semakin marah.


Tak ingin banyak bicara lagi. Beatrice memilih untuk pergi meninggalkan Nania dan Julien's. Dia begitu kecewa dengan Julien's dan Nania yang telah melanggar perjanjian yang ada.


Nania hanya bisa menyesali malam itu. Dia menangis penuh ketakutan. Mungkin hari ini akan jadi hari terakhir untuknya bersama Julien's. Mengingat Nania dan Julien's telah melanggar perjanjian dengan Beatrice.


Julien's berusaha menenangkan Nania. Dia meyakinkan Nania, jika semua ketakutan darinya tidak akan terjadi. Tidak akan ada perpisahan diantara keduanya. Itu adalah perjanjian yang tidak masuk akal. Hingga menurut Julien's Nania tidak perlu takut akan hal itu. Semua akan baik-baik saja, tutup Julien's yang terus menenangkan Nania.

__ADS_1


__ADS_2