SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
SEBELUM TIDUR


__ADS_3

Kaki Julien's seakan tidak bisa berhenti untuk menginjak kaki Nania. Ketika makan malam itu tiba, semua orang telah berada di meja makan. Julien's seperti biasa, berada di singgasana miliknya. Duduk di kursi utama yang menjadi tempat favoritnya untuk duduk.


Di samping kiri dan kanan Julien's, duduk dua istri yang sama-sama Julien's cintai. Nania berada di samping kiri Julien's. Sementara Beatrice yang terlihat masih belum pulih total berada di samping kanan Julien's. Keduanya nampak bahagia bisa makan malam bersama Julien's.


Sementara ketiga anak dari Julien's dan Beatrice duduk secara berurutan. Ketiganya kompak duduk di kursi di samping Beatrice secara berurutan. Sementara Nania hanya sendiri saja di barisan kiri meja makan.


Hidangan makan ini tetap special. Sebab Julien's kembali membuat makan malam ini dengan menu yang sama yang biasa dia buat. Hidangan yang tentunya di sukai oleh anggota keluarganya.


Di awal makan, semuanya berjalan biasa saja. Hanya sedikit nasehat yang Julien's sampaikan pada Marrie. Dia meminta Marrie untuk bisa lebih fokus terlebih dahulu pada sekolahnya. Tidak harus langsung untuk berpacaran. Terpenting Marrie bisa lulus terlebih dahulu dari bangku sekolah menengah.


Tidak hanya Julien's saja yang memberikan nasehat tersebut. Beatrice juga turut berkomentar akan Marrie yang benar-benar sedang di mabuk cinta. Bahkan Marrie sampai melupakan ibunya, demi seorang pria yang di sukai olehnya. Padahal ibu Marrie saat itu juga sedang sakit parah. Tapi Marrie malah lebih memilih untuk merawat pria yang di sukainya tersebut. Sebuah indikasi dari Marrie yang telah di buat buta oleh cinta. Hal yang harus segera Marrie rubah. Sebab Marrie masih terlalu dini untuk mengenal cinta. Masih banyak impian yang harus Marrie gapai, sebelum benar-benar terjun ke dalam cinta yang sebenarnya.


Nania sebenarnya ingin menasehati Marrie hal yang sama. Tapi dia tahu posisi dia. Hingga Nania lebih memilih diam, daripada harus berkomentar untuk hal yang bukan jadi ranahnya.


Marrie sebenarnya kesal dengan nasehat yang di berikan oleh kedua orangtuanya. Apalagi ketika ibunya memberikan pandangan dirinya akan Oscar. Ibunya terkesan meremehkan Oscar yang seorang pekerja keras. Ketika ibunya mengatakan masa depan Oscar yang tidak ada. Marrie dengan segera membalas ucapan dari ibunya yang cukup melukai hatinya tersebut. Bagi Marrie, Oscar justru adalah sosok yang paling ideal untuknya. Dia sedang berusaha membangun masa depannya. Hingga ibunya tidak harus khawatir akan masa depan Marrie bersama Oscar. Bahkan bagi Marrie, Oscar jauh lebih baik di banding teman sekolah Marrie yang lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bermain game online saja. Sementara Oscar menghabiskan waktunya untuk bekerja, demi bertahan hidup dari kerasnya kehidupan yang ada.


Marrie yang kesal dengan nasehat itu. Sepanjang makan malam itu, terus menunjukkan raut wajah kesal. Dia makan dengan begitu lahap, tapi wajahnya tidak begitu bahagia.


Melihat Marrie yang kesal akan nasehat yang di sampaikan oleh dirinya dan istrinya. Julien's tetap berpikir positif. Dirinya juga sering kesal saat remaja dulu dengan nasehat yang di berikan oleh orangtuanya. Hingga Julien's memahami rasa kesal yang ada pada Marrie. Itu hal yang normal bagi seorang remaja seusia Marrie.


Melihat Nania yang hanya terdiam saja, di kala Beatrice dan Julien's mulai menasehati Marrie. Julien's menggoda Nania dengan menendang pelan kaki Nania. Tidak sakit, tapi Nania langsung membalas apa yang telah Julien's lakukan pada kakinya. Nania segera menendang kembali kaki Julien's. Namun, sial bagi Nania. Justru dia menendang kaki kursi tempat Julien's duduk. Sontak Nania mengerang kesakitan. Apalagi Nania menendang dengan cukup keras.

__ADS_1


Mengetahui Nania menendang kaki kursi miliknya. Julien's hanya bisa tersenyum saja. Apalagi melihat Nania yang mencoba menahan rasa sakitnya. Itu semakin membuat Julien's tak bisa menahan tawanya. Julien's menyembunyikan tawanya di balik tangannya yang sengaja dia tutup pada bagian mulutnya.


Nania tidak mengetahui seberapa parah dari tendangan yang telah dia lakukan pada meja tersebut. Namun Nania berjalan pincang menuju kamar. Dia terlihat begitu kesakitan dengan aksi konyolnya sendiri.


Melihat Nania yang berjalan pincang, tentu menjadi perhatian anggota keluarga lainnya. Beatrice yang melihat Nania datang ke meja makan dengan kaki normal. Heran begitu melihat Nania berjalan pincang saat keluar dari meja makan. Ini benar-benar jadi pertanyaan besar bagi seorang Beatrice. Begitu juga dengan ketiga anak Beatrice. Ketiga heran dengan Nania yang tiba-tiba pincang.


"Kaki kamu kenapa?" tanya Beatrice penasaran.


Nania sempat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Beatrice. Tidak mungkin Nania mengatakan jika dirinya salah menendang. Mungkin itu akan jadi bahan tertawaan dari seluruh anggota keluarga Julien's. Nania terpaksa berbohong kepada semuanya.


"Sepertinya aku kesemutan. Makanya jalannya jadi pincang seperti ini." jawab Nania.


Kesemutan itu cukup memuaskan bagi Beatrice. Jawaban dari Nania tidak lagi menjadi pertanyaan berikutnya bagi Beatrice. Baginya, wajar jika seseorang kesemutan. Apalagi Nania duduk cukup lama di kursinya. Pasti resiko kesemutan itu akan ada, hingga Nania mengalaminya.


Begitu semua anaknya telah masuk ke dalam kamar. Baru Julien's menghampiri Nania di dalam kamarnya. Julien's langsung merasa bersalah saat melihat Nania mengerang kesakitan di atas kasurnya. Dia terlihat begitu merasakan sakit yang teramat. Apalagi saat Nania mencoba mengurut sendiri dari kakinya tersebut. Semakin membuat Julien's merasakan perasaan yang begitu sedih. Dia pun berusaha menolong Nania.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya Julien's dengan begitu paniknya.


"Ini bukan masalah yang besar, aku bisa mengatasinya sendiri." jawab Nania menahan rasa sakitnya.


"Aku pikir kita harus ke dokter, mungkin saja ini ada retak atau apa. Pokoknya kita harus ke dokter sekarang juga." ucap Julien's sedikit berlebihan.

__ADS_1


Beatrice yang mengikuti Julien's dari meja makan menuju kamar Nania. Mengintip dari sela-sela pintu kamar Nania. Dia berdiri sambil terus melihat bagaimana Julien's menunjukkan keromantisan dirinya pada seorang Nania. Itu cukup menyakitkan bagi Beatrice, tapi dia harus sadar. Nania juga istri dari Julien's. Hingga tak mungkin Julien's akan acuh saja melihat kondisi Nania.


Beatrice yang tak ingin terus merasakan perasaan cemburu buta pada kedekatan dari Julien's Nania. Perlahan memilih pergi meninggalkan kamar Nania. Baginya, akan semakin sakit melihat secara langsung apa yang di lakukan oleh Julien's pada Nania. Bagaimana Julien's menunjukkan rasa cintanya yang besar pada Nania.


Julien's sendiri tak henti menunjukkan rasa cintanya pada Nania. Melihat kaki Nania yang sedikit memar. Julien's dengan inisiatif sendiri, membawakan beberapa keping batu es untuk mengompres kaki Nania yang memar tersebut. Dengan begitu, kaki Nania akan bisa sedikit lebih baik lagi.


Dengan penuh perhatian Julien's mengompres kaki Nania. Rasa dingin yang timbul dari batu es itu, sedikit meredakan rasa sakit yang ada di kaki Nania. Apalagi saat melihat wajah Julien's yang begitu mempesona. Nania semakin bergairah. Bibirnya di gigit begitu kuat olehnya, lalu lidahnya membasahi bibir bawahnya yang sempat dia gigit. Itu seakan sebuah kode dari Nania pada Julien's.


Tak melewatkan kode yang di berikan oleh Nania tersebut. Julien's membalas kode itu dengan sebuah senyuman manis. Perlahan Julien's mulai mendekat ke arah wajah Nania. Saat bibirnya ingin menyentuh bibir Nania. Tangan kanan Nania langsung menahan Julien's. Dia meminta Julien's untuk menutup pintu terlebih dahulu. Akan sangat bahagia jika pintu dalam keadaan terbuka. Seseorang mungkin saja akan melihat apa yang Nania dan Julien's lakukan. Walaupun status keduanya telah suami istri.


Julien's yang sudah bergelora layaknya Nania. Langsung menutup pintu itu dengan rapat-rapat. Dia juga mengunci pintu itu. Sehingga tidak akan ada orang yang akan masuk ke dalam kamar Nania.


Semuanya sudah terkunci rapat, Julien's yang sudah mengenakan pakaian tidur. Perlahan mulai melepaskan kancing bajunya satu persatu. Sebelum langsung menyambut ciuman pertama yang diberikan oleh Nania di bibir merahnya.


Untuk semakin menambah gelora bercinta di malam ini. Julien's menggunakan es batu yang sempat di gunakan untuk mengompres kaki Nania yang memar, untuk merangsang hasrat seorang Nania. Dia menempelkan es batu itu ke bagian tubuh Nania. Hingga Nania pun semakin terguncang oleh belaian yang di berikan Julien's kepadanya. Dia menikmati setiap sentuhan yang Julien's berikan. Apalagi Julien's memiliki senjata es batu yang semakin membuat Nania bergelora.


Hampir 30 menit menghabiskan waktu untuk bercinta dengan gaya baru. Nania dan Julien's begitu merasakan kepuasan tersendiri. Walau masih ada rasa sakit yang melanda kakinya. Namun perlahan semuanya hilang, dengan service baik yang di lakukan oleh Nania untuk Julien's. Semuanya berubah begitu saja.


Nania yang sebenarnya masih ingin memeluk tubuh suaminya lebih lama lagi. Terpaksa harus meminta suaminya untuk segera pergi dari kamarnya. Mungkin ini lebih baik, daripada hal buruk akan terjadi pada mereka berdua. Nania harus belajar dari kejadian yang lalu, saat keduanya tertangkap basah oleh Beatrice tidur bersama melebihi batas yang telah di sepakati oleh Julien's dan Beatrice.


Nania memberikan pakaian tidur Julien's kembali. Meminta sang suami untuk kembali mengenakan pakaian tidur tersebut. Julien's sempat menolak untuk mengenakan kembali pakaian tidur tersebut. Namun berkat paksaan dari Nania, akhirnya Julien's melawan rasa malasnya tersebut. Dia pun kembali mengenakan pakaian itu.

__ADS_1


Begitu sudah mengenakan pakaian tidur itu. Julien's kembali menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Dia kembali ingin tertidur di atas kasur Nania. Namun dengan segera, Nania meminta Julien's untuk pergi. Dia merasa itu akan sangat bahaya, jika Julien's tidur kembali. Sebab Nania akan kesulitan untuk membangun Julien's dari tidurnya.


__ADS_2