SEBELUM PUKUL 12 MALAM

SEBELUM PUKUL 12 MALAM
MAAF NANIA PADA JULIEN'S


__ADS_3

Tak seperti beberapa hari sebelumnya. Hari ini berkat seolah sedang bernaung pada Nania. Pagi ini saja Nania sudah berhasil menjual puluhan tangkai bunga. Satu isyarat hari ini adalah hari keberuntungannya.


Semangat Nania semakin menggebu-gebu. Tak kala dia melihat ada pameran buku di seberang taman. Nania yang suka membaca, namun tak punya banyak buku. Mendapatkan kesempatan langka untuk membaca buku secara gratis. Dia bersemangat untuk membaca buku hari ini.


Perlahan dia menggowes sepeda tuanya menuju pameran tersebut. Dia memarkir tepat dibelakang tenda yang menjadi tempat pameran buku tersebut. Wajah tak sabar yang nampak, menjadi isyarat betapa bahagianya Nania dapat membaca buku secara gratis.


Nania mulai memasuki tenda dan bertemu banyak pengunjung lain di dalamnya. Ribuan buku dari berbagai jenis terpajang indah di beberapa rak. Beberapa relawan menjelaskan perihal jenis buku yang saat ini sedang booming. Sehingga menjadi buku yang banyak di cari oleh orang banyak.


Buku bersampul hitam pekat menarik perhatian Nania. Buku yang cukup tebal itu adalah buku dari seorang penyair hebat di abad ke 20. Dia adalah seorang penyair yang luarbiasa. Bukunya mahal, sehingga Nania tak sanggup membelinya.


Kesempatan membaca buku itu tak disia-siakan oleh Nania. Dengan segera dia membuka lembar demi lembar isi dari buku tersebut.


Tepat di halaman 157 Nania menemukan sebuah paragraf yang seketika mengubah pemikirannya.


"Hal tersulit adalah memaafkan. Tetapi akan jadi mudah ketika kita coba untuk mendengarkan. Apa dan mengapa itu terjadi. Bukan menutup hati dan mengunci diri. Sebab itu yang akan menjadi dengki dikemudian hari."


Sepatah syair itu seakan membuat Nania terpukul. Selama ini dia egois dan tidak pernah memberikan kesempatan untuk Julien's menjelaskan. Bahkan dia tidak mendengar semua nasehat ibunya. Padahal ibunya adalah orang yang penuh petuah. Nania merenung.


Tidak habis membaca seluruh isi buku tersebut. Nania bergegas membawa sepedanya yang masih berisi sedikit bunga menuju rumahnya. Dia menggowes dengan kecepatan yang tinggi.


Nania yang menggowes dengan kecepatan tinggi. Tanpa sengaja menyenggol sebuah mobil hitam. Untung dia terjatuh ke rerumputan di samping aspal jalan. Sehingga Nania tidak mengalami luka yang cukup parah.

__ADS_1


Pengendara mobil yang sadar telah menyenggol sebuah sepeda. Menghentikan laju mobilnya. Kemudian dia bergegas keluar dari dalam mobil untuk menolong Nania.


Pria berkacamata dengan kemeja motif bunga yang menjadi pengendara mobil tersebut ternyata adalah Julien's. Pria yang ingin Nania hubungi dengan ponselnya.


Melihat Julien's. Nania dengan kaki yang sedikit pincang langsung menghampirinya. Kemudian dengan erat memeluk Julien's. puluhan kata maaf Nania ucapkan. Dia mengakui kesalahannya yang begitu egois selama ini.


Julien's melepaskan pelukan Nania. Kemudian memegang erat pundak Nania dengan tatapan tajam mengarah tepat di kedua bola mata Nania.


"Aku yang seharusnya minta maaf. Bukan kamu Nania." Ucap Julien's tersenyum.


"Tapi aku egois. Aku gak pernah memberikan kamu kesempatan untuk berbicara." Jawab Nania tertunduk.


"Jadi kamu udah maafin aku nih?" Tanya Julien's.


"Belum!!!" Tegas Nania.


Julien's terdiam dengan seribu tanya.


"Kenapa?"


"Karena kamu bum menjelaskan semuanya sama aku." Tegas Nania kembali.

__ADS_1


"Ok kalau gitu. Kamu naik ke mobil aku. Biar aku jelaskan semuanya didalam mobil. Sambil jalan-jalan di kota Brest." Ajak Julien's.


"Sepeda aku?" Tanya Nania.


"Gampang. Nanti aku minta buat benarin sama montir terbaik yang ada di kota ini." Ucap Julien's sambil menggoda Nania.


"Gak usah. Kerusakannya kecil. Jadi aku bisa perbaiki sendiri." Bantah Nania.


Tak berkata lagi. Julien's yang sudah tidak sabar mengobrol dengan Nania. Lantas langsung menggendong Nania menuju mobilnya. Dia pun meletakkan Nania disamping kursi mengemudi. Tak lupa sabuk pengaman dia lingkarkan ditubuh Nania. Sebagai pengaman untuk Nania. Setelah itu Julien's duduk di kursi pengemudi di samping Nania.


Mobil mulai dijalankan. Perlahan Julien's mulai menceritakan semua kisahnya pada Nania. Awal istrinya terkena kanker serviks, hingga Julien's tidak percaya diri sebagai seorang pria. Julien's mengaku begitu terpukul ketika istrinya terkena kanker serviks. Dia mengaku merasakan kesedihan dari sang istri. Begitu juga dengan kehidupan **** dia yang berubah 360 Drajat. Istrinya tak mampu memberikan **** selama dia diagnosis kanker. Sementara Julien's masih membutuhkan **** sebagai kebutuhan alamiahnya. Dia begitu stress, hingga sering menghabiskan malam-malam dengan pekerja **** komersial. Hal itu dia lakukan demi dapat menyalurkan hasrat seksualnya.


Tak hanya itu, Julien's juga begitu kesepian. Mengingat sebagian waktu istrinya lebih banyak dihabiskan untuk kemoterapi dan beristirahat total. Sehingga Julien's tidak memiliki waktu untuk bercerita dan merasakan kehangatan keluarga. Untuk dapat menemani kesepiannya. Julien's menghabiskan dengan mabuk dan narkoba. Sampai dia pernah masuk panti rehabilitasi. Semuanya untuk membuat Julien's tidak merasakan kesepian lagi.


Anak-anak Julien's pun kehilangan sentuhan dari ibunya selama 3 tahun terakhir. Mereka tumbuh tanpa merasakan kasih sayang ibunya yang tak memiliki waktu bersama mereka. Sementara anak-anak Julien's masih membutuhkan figur seorang ibu.


Nania terenyuh. Dia menatap wajah keputusasaan seorang Julien's. Dia mencoba menyemangati Julien's dan memberikan energi positif untuk Julien's. Nania pun terpikir untuk kembali melanjutkan pernikahan mereka yang sempat dibatalkan.


Namun Nania meminta Julien's untuk jujur pada istrinya, jika memang dia akan kembali menikah. Julien's harus mendapatkan izin dari istrinya. Itu syarat utama yang diberikan Nania pada Julien's.


Julien's begitu senang dengan perubahan keputusan dari Nania. Dia menyambut gembira. Dan dia berjanji akan meminta izin pada istrinya. Jika dia akan menikahi Nania.

__ADS_1


__ADS_2