
Jari-jari Beatrice bergerak. Marrie yang duduk disamping Beatrice melihat pergerakan jari Beatrice tersebut. Dia begitu bahagia. Kemudian dengan segera memanggil dokter untuk memberi tahu ibunya telah siuman.
Dokter Patricia yang merupakan dokter yang menangani ibunya segera melakukan pengecekan terhadap kondisi Beatrice. Perlahan kedua bola mata Beatrice terbuka. Dia menanyakan keberadaan Julien's, Theo dan Romeo.
Dengan segera Marrie melakukan panggilan video call dengan Julien's. Marrie ingin Julien's tahu kalau ibunya telah sadarkan diri.
Tak menunggu waktu lama, Julien's menjawab telpon dari Marrie. Sekalipun sebenarnya dia sedang bekerja.
Dengan pakaian chef yang setiap hari dia kenakan. Julien's menyapa Marrie dari layar ponselnya. Dia memberikan senyuman yang manis pada Marrie.
"Ada apa sayang?" Tanya Julien's.
Perlahan Marrie mengarahkan layar ponselnya menuju Beatrice. Julien's yang melihat Beatrice telah sadarkan diri, semakin sumringah. Dia menyapa Beatrice, yang langsung disambut senyum kecil Beatrice. Julien's pun berjanji akan segera menemui Beatrice dan Marrie sekarang juga.
__ADS_1
Julien's berpamitan pada semua rekan kerja. Dia segera bergegas menuju rumah sakit untuk menjenguk Beatrice. Julien's berharap kedatangannya bisa membuat Beatrice semakin sehat.
Senyum kecil yang melukis diwajah Beatrice menyiratkan kebahagiaan yang dia dapat dengan janji Julien's untuk menemuinya. Dia berharap Julien's akan datang. Sehingga dia semakin semangat untuk bisa melawan penyakitnya.
Harapan Julien's untuk menemuinya pun terbayar lunas. Ketika dengan sebuah bucket bunga besar dan sekeranjang buah menjadi buah tangan yang Julien's bawa untuk membesuk Beatrice. Tak lupa sebuah ciuman manis di kening Beatrice, membuat Beatrice merasa masih ada cinta dari Julien's untuknya. Marrie yang berada didalam ruangan itu, turut larut dalam keromantisan Julien's dan Beatrice.
Julien's duduk disamping ranjang Beatrice. kedua tangannya menggenggam tangan kanan Beatrice. Dia mencoba menghibur Beatrice yang terlihat begitu pucat.
"Belum. Katanya mama cuman mau kalau papa yang suapin." Jawab Marrie menggoda.
Julien's menatap wajah Marrie. Kemudian dia dengan segera mengambil sebuah mangkuk berisi salad. Dengan penuh perhatian Julien's menyuapi Beatrice sedikit demi sedikit. Julien's juga beberapa kali menggoda Beatrice dengan menggambarkan suapan yang dia berikan adalah pesawat. Sedangkan Beatrice adalah bandara tempat pesawat mendarat. Hal itu pun membuat gelak tawa untuk Marrie. Juga Beatrice yang tersenyum kecil.
Nania yang berniat menjenguk dengan sekeranjang buah. Seketika terdiam begitu melihat dari celah pintu. Dia menyaksikan suaminya Julien's yang sedang bermesraan dengan Beatrice. Nania cemburu, tapi dia tak bisa menyalahkan Beatrice. Sebab Beatrice pun memiliki hak yang sama dengan dirinya untuk memiliki Julien's. Sehingga Nania hanya bisa meneteskan air mata kala melihat kemesraan Beatrice bersama Julien's.
__ADS_1
Air mata yang awalnya menetes beberapa tetes saja. Perlahan berubah menjadi air mata deras yang membasahi wajahnya. Isak tangisnya yang perlahan meninggi, terdengar juga kedalam kamar Beatrice. Sehingga semua yang ada di kamar Beatrice dapat mendengar isak tangis tersebut.
Marrie yang penasaran dengan suara itu, seketika langsung mengeceknya. Dia berusaha keluar dari dalam kamar dengan membuka pintu. Sementara Nania yang menyadari kedatangan Marrie. Segera mungkin pergi menjauhi pintu kamar Beatrice.
Kanan kiri kepala Marrie memutari area sekitar pintu kamar. Tak nampak satu orang pun yang berada disana. Dia kembali menutup pintu. Sedangkan Nania yang bersembunyi dibalik sela-sela tembok, merasa lega begitu Marrie kembali masuk kedalam kamar. Segera mungkin dia pergi untuk menghindari kekacauan yang akan terjadi.
Tak langsung pulang, Nania memilih untuk menemui Aurille di sebuah kafe. Dia ingin sekedar mencurahkan perasaannya yang tak begitu karuan. Dia cemburu, tapi rasa cemburu yang menurutnya sendiri tak begitu pantas. Sebab itu resiko yang harus dia terima ketika memutuskan untuk menjadi istri kedua.
Aurille tak banyak memberikan saran. Dia hanya memberikan motivasi saja pada Nania. Aurille harap Nania bisa semakin kuat dengan semua hal yang tengah dihadapinya.
Ketika Nania sedang berada dalam kegalauan. Julien's dan Beatrice justru semakin mesra. Sembaring mengobrol, Julien's mengajak Beatrice untuk jalan-jalan mengelilingi taman di rumah sakit. Dia begitu hati-hati mendorong kursi roda Beatrice.
Tiba disebuah bangku panjang yang berada di taman rumah sakit. Beatrice menyandarkan kepalanya diatas bahu Julien's. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Julien's. Beatrice merindukan momen itu, dimana mereka seperti kembali ke beberapa tahun yang lalu. Disaat semuanya masih berjalan normal. Beberapa kali ciuman yang Julien's berikan pada Beatrice juga membuat Beatrice semakin kuat dan berjuang untuk sembuh.
__ADS_1