Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Menyesal?


__ADS_3

Dua hari kemudian, apartemen milik Adam.


"Aku pulang ..."


Mendengar suara Adam, Bella segera menghampiri dan menyambutnya dengan ekspresi khawatir di wajahnya.


"Apakah anda baik-baik saja, Kak Adam?" tanya Bella.


Sudah dua hari Adam tidak pulang karena dia langsung menuju ke rumahnya yang ada di luar Kota B. Alasannya tentu karena dia harus memindahkan dan menyembunyikan senapan yang dia 'sita' dari Obi serta para bawahannya.


Adam juga menemui para petani yang mengurus kebun buah miliknya. Selain untuk mengecek apakah ada masalah atau tidak, dia melakukan hal itu untuk menemukan alibi kalau-kalau polisi datang untuk menanyai dirinya.


Melihat ke arah Bella yang khawatir, Adam merasakan kehangatan dalam hatinya. Dia tidak menyangka akan ada orang yang begitu mempedulikan dirinya di dunia ini. Pemuda itu tersenyum lembut sebelum menjawab santai dengan senyum di wajahnya.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Lihat kantung matamu yang menghitam ... kamu pasti tidak tidur dengan baik."


Mendengar ucapan Adam, Bella langsung menunduk malu. Memang, karena merasa khawatir, gadis itu tidak bisa tidur nyenyak dan selalu terpikir bagaimana keadaan pasangannya itu.


Adam langsung menghampiri dan memeluk lembut tubuh Bella. Pemuda itu kemudian berbisik lirih.


"Maaf telah membuat kamu khawatir, Bell."


Mendengar ucapan Adam, Bella terus mengangguk seperti burung pelatuk. Gadis itu bersandar kepadanya sambil memejamkan mata. Kelihatannya menikmati kehangatan dari pelukannya.


"Bagaimana dengan kabar Jennifer? Pasti dia baik-baik saja, kan?" tanya Adam.


"Saudari Jennifer kelihatannya tidak terlalu baik dua hari ini." Bella menggeleng ringan.


"En?" Adam sedikit bingung. "Kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


"Karena kasus pembunuhan yang terjadi dua hari yang lalu, pihak polisi mendapat kritik keras dari pihak masyarakat. Untung saja para korban pembunuhan adalah imigran gelap dan penjahat, jadi masalah tidak diperpanjang lagi.


Namun, pihak polisi menjadi lebih aktif untuk menjaga keamanan kota selama dua hari ini. Kelihatannya untuk menenangkan publik yang panik."


Mendengar itu, Adam mengangguk. Dia kemudian bertanya dengan ekspresi penasaran.


"Apakah kasus pembunuhan yang berada di gedung terbengkalai itu?"


"Benar." Bella mengangguk.


Melihat ke arah Bella, Adam menggeleng ringan. Jennifer pasti akan marah jika tahu pelaku yang dianggap 'kelompok berbahaya' itu sebenarnya adalah dirinya sendiri.


Adam sendiri tidak memberitahu kedua wanitanya bahwa dia akan berurusan dengan penjahat semacam itu. Selain karena tidak ingin mereka khawatir, ada juga alasan lain. Pemuda itu tidak ingin mereka melihat sisi buruknya yang seperti itu.


"Apakah kamu merindukan aku, Bell?" tanya Adam.

__ADS_1


Mendengar bisikan Adam, wajah Bella merah seperti apel. Dia mengangguk sambil menjawab, "Saya—"


Sebelum ucapannya selesai, Adam dan Bella tiba-tiba mencium aroma gosong serta melihat asap hitam mengepul di dapur.


Melihat itu, Bella dengan panik melepaskan diri dari pelukan Adam lalu berlari ke dapur untuk mematikan kompor.


Adam yang menyusulnya menggeleng ketika melihat ekspresi Bella yang tertekan.


"Maaf, itu karena aku." Adam langsung mengakui kesalahannya.


"Tidak. Anda sama sekali tidak salah, Kak Adam. Seandainya saja tadi saya mematikan kompor, pasti tidak akan menjadi seperti ini.


Maaf, makanan ini malah jadi sia-sia gara-gara saya."


Mendengar ucapan Bella, Adam menghampiri dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.


"Tidak apa-apa. Kita sudah lama tidak makan di luar, kan? Bagaimana kalau hari ini kita makan di luar bersama?"


Mendengar pertanyaan Adam, lalu melihat pemuda tampan yang tersenyum ke arahnya tanpa ekspresi marah membuat Bella merasa lega. Dia merasa bersyukur karena memiliki pasangan yang begitu baik kepada dirinya.


Gadis itu mengangguk ringan sambil menjawab.


"Baik."


...***...


"Dengan ini akhirnya selesai. Kamu bisa memulihkan diri perlahan. Tidak akan ada efek samping buruk terhadap tubuhmu."


Adam yang sedang dalam mode Owl berkata santai ketika membunuh Darkblood Caterpillar lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik khusus.


"Hanya seperti itu?" ucap Clara dengan ekspresi bingung.


Gadis yang berbaring di ranjangnya itu tidak menyangka bahwa metode pengobatan yang Owl tunjukkan akan begitu sederhana. Benar-benar memukul perutnya sampai dirinya memuntahkan makhluk menjijikkan tersebut.


"Jangan menganggapnya terlalu enteng, Nona Clara. Meski terlihat begitu sederhana, pukulan yang dilakukan oleh Senior Owl tidak mudah dipraktekkan begitu saja.


Selain harus menggunakan energi yang murni, tidak boleh ada kesalahan sama sekali. Jika tidak, bukannya menyembuhkan dan mengeluarkan makhluk menjijikkan itu, pukulan yang mengandung elemen lain mungkin akan melukai organ dalam anda."


Tidak jauh dari ranjang, tampak Lei Fan yang duduk di kursi roda. Pemuda itu tersenyum pahit ketika menjelaskan.


Meski Lei Fan sendiri sudah cukup baikan, pemuda itu tidak boleh menggunakan kakinya secara berlebihan sebelum lukanya sembuh total. Itulah alasan kenapa dirinya duduk di atas kursi roda.


Sementara itu, Lei Na yang berdiri di belakang Lei Fan mengangguk terus, tampaknya setuju dengan ucapan kakaknya itu.


Melihat ekspresi takjub dari kedua saudara-saudari itu, Clara merasa malu. Dia menatap ke arah Adam lalu menunduk hormat.

__ADS_1


"Maafkan ketidaksopanan saya, Senior Owl."


"Bukan masalah." Adam langsung menjawab singkat.


Adam kemudian menatap ke arah Lei Fan dan Lei Na dengan ekspresi heran. Karena dia memang memiliki energi murni, apa yang dia lakukan sebenarnya memang hanya pukulan acak.


Bukankah kalian terlalu berlebihan? Ini hanya pukulan acak ... okay? Di mana aku harus mengatur dengan rinci dan semacamnya?


Ini bukan pembuatan pil atau jimat, jangan terlalu berlebihan!


Setelah proses pengobatan dan pembersihan selesai, sosok ayah dan ibu Clara akhirnya diperbolehkan memasuki ruangan.


Pria paruh baya itu kemudian menatap sosok Adam. Karena memakai kostum yang unik, awalnya ayah Clara cukup curiga terhadap dirinya. Namun karena Lei Fan dan Lei Na menghormati sosok itu, ayah Clara tidak berani main-main.


Sepertinya informasi tentang para Kultivator yang memiliki beberapa hobi unik itu benar.


Aku harus berhati-hati, mungkin saja pengemis di jalan adalah Kultivator yang sedang menyamar!


Jika Adam tahu apa yang dipikirkan pria paruh baya itu, dia pasti akan mengeluh bahwa orang itu terlalu banyak berpikir.


"Terima kasih atas pertolongan anda, Tuan Owl. Anda pasti lelah ... bagaimana kalau saya menyiapkan minuman dan makanan untuk anda?"


"Tidak perlu."


Adam dengan tegas menolak. Pemuda itu tahu apa yang dipikirkan ayah Clara. Tentu dia tidak akan begitu ceroboh untuk menyetujui itu.


Makan dan minum ... itu berarti Adam harus membuka topengnya. Hal itu cukup berbahaya karena bisa mengungkapkan identitasnya.


Pemuda itu tidak ingin mencampur dua identitas miliknya. Adam adalah Adam, Owl adalah Owl. Itulah yang dia inginkan.


"Senior Owl?" panggil Clara.


"Ada apa?"


"Lima jimat yang anda berikan masih utuh dan tidak digunakan, jika anda ingin mengambilnya kembali—"


"Aku sudah bilang itu hadiah dari misi yang kamu lakukan. Lima jimat dan lima pil gizi.


Aku tidak akan mengambil kembali kata-kata yang aku ucapkan sendiri."


Mendengar itu, Lei Fan dan Lei Na saling memandang. Tampak cukup terkejut karena tidak menyangka bahwa Adam akan begitu baik hati. Namun mereka juga tidak tahu apa yang dipikirkan Adam.


Menyesal? Tentu aku menyesal! Namun ... seorang laki-laki sejati tidak boleh ingkar janji.


Sepertinya aku harus menurunkan hadiah yang diberikan mulai ke depannya.

__ADS_1


Memikirkan itu, Adam tersenyum pahit di balik topengnya.


>> Bersambung.


__ADS_2