Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Salah Paham


__ADS_3

“Kenapa diam saja, Adam?”


Mendengar itu dari Jennifer, Adam melirik ke arah lain sebelum berbisik pelan.


“Kamu terlihat lebih cantik daripada biasanya.”


“...”


Jennifer mendengar apa yang Adam katakan. Wanita itu tiba-tiba menunduk dengan ekspresi malu.


“K-Kamu … kenapa kamu mengatakan hal yang memalukan seperti itu.”


Keduanya saling diam, merasa agak malu sekaligus canggung. Jennifer sendiri baru sadar, dirinya dengan konyol berkunjung ke apartemen lelaki yang tinggal sendiri di malam hari. Dia tidak berpikir dengan jernih ketika awalnya mengira Adam telah berbohong kepada dirinya.


Ugh … memalukan. Kenapa aku malah jadi seperti ini?


Pada saat situasi menjadi canggung, penyelamat pun akhirnya tiba. Ya. Ketiga keduanya saling memandang agak malu, seekor ayam tiba-tiba muncul di antara keduanya.


Adam dan Jennifer tertegun ketika Nix memandang mereka dengan ekspresi manusiawi.


‘Jika kalian ingin membuat anak, buat di tempat lain! Tuan Nix ini telah menunggu lama untuk makanan! Sudah cukup! Jangan buat hari ayam ini semakin melelahkan!’


Memikirkan si ayam yang kelaparan, Adam pura-pura batuk.


“Masuk saja, Jennifer.”


“Kalau begitu … permisi.”


Memasuki apartemen mewah, Jennifer melihat ke arah Adam dengan ekspresi bingung.


“Duduklah. Aku jarang berada di sini. Hanya ada air dingin, apakah tidak apa-apa?”


“Tentu,” jawab Jennifer.


Ketika Adam kembali dengan segelas air dingin, Jennifer yang sedari tadi penasaran tidak bisa tidak mulai bertanya.


“Yang aku tahu, apartemen di gedung ini tidak untuk disewakan. Apakah kamu membelinya?”


“Benar.” Adam mengangguk ringan.


“Bukankah kamu pernah berkata bahwa dirimu, maaf … yatim piatu?”


“Memang, aku yatim piatu. Apakah ada masalah?” tanya Adam.


“Apakah kamu mendapat warisan dari mendiang orang tuamu sehingga bisa membuka bisnis dan membeli apartemen?”


“Tidak. Aku sendiri tidak tahu siapa orang tuaku. Sejak kecil, aku tinggal di Panti Asuhan White Lily.”


“Lalu … bagaimana kamu bisa memiliki cafe dan apartemen ini? Apakah kamu menyelamatkan seorang lelaki tua yang ternyata sangat kaya atau semacamnya?”


“Bukankah kamu terlalu banyak membaca cerita, Jennifer?”


“Lalu bagaimana?” tanya Jennifer dengan ekspresi penasaran.


“Jadi begini …”


Adam duduk di kursi sebelah Jennifer, mulai menceritakan beberapa kisah hidupnya. Tentu tidak semuanya, dan apa yang dia ceritakan hanya beberapa hal yang ada di Kota B dan daerah sekitarnya. Pemuda itu hanya ingin Jennifer tahu dirinya sama sekali tidak melakukan perbuatan ilegal.

__ADS_1


Mendengar yang dilakukan oleh Adam sedari kecil, mata Jennifer terbelalak. Menatap sosok pemuda tampan di depannya dengan ekspresi terkejut sekaligus kamu. Padahal, apa yang Adam ceritakan hanya sepertiganya, mungkin kurang.


“Kamu … benar-benar mampu melakukan hal seperti itu?”


“Apakah itu aneh?” tanya Adam dengan senyum lembut di wajahnya.


“Tentu saja, itu sangat aneh!” seru Jennifer dengan ekspresi terpesona. “Kamu terlalu hebat untuk bisa memikirkan hal semacam itu ketika masih remaja.”


“Terima kasih atas pujiannya.”


Pada saat itu, suara ayam berkokok kembali terdengar. Nix terlihat sangat tidak puas. Adam dan Jennifer saling memandang lalu tersenyum pahit.


“Bagaimana kalau makan dulu?”


“Tentu.” Adam mengangguk. “Maaf sudah merepotkanmu, Jennifer.”


“Tidak. Maaf, karena aku banyak bertanya, makanan yang aku bawa sudah dingin.”


“Sama sekali tidak masalah.” Adam tersenyum lembut.


Dua orang dan satu ayam pun akhirnya menyantap makan malam mereka. Melihat bagaimana Adam dan memakan lahap makanan yang dia bawa, Jennifer merasa hatinya begitu hangat. Wanita itu merasa sangat dihargai. Padahal … tuan dan peliharaannya itu hanya terlalu kelaparan.


Selesai makan malam, di ruang keluarga.


Duduk di sofa berduaan sambil menonton acara TV, keduanya hanya diam. Terasa agak canggung.


“Aku tidak melihat Nix, Adam?”


“Setelah kenyang, ayam itu biasanya langsung mencari tempat untuk tidur. Abaikan saja dia.”


Adam langsung menjawab demikian. Padahal, setelah makan malam, Adam memaksa Nix untuk beristirahat dalam lautan jiwa ketika Jennifer pergi ke toilet.


“Ada yang ingin aku katakan kepadamu, Jennifer.”


Adam langsung menoleh, menatap wajah Jennifer dengan ekspresi serius. Hal itu membuat jantung wanita itu berdetak lebih cepat. Rona merah samar mewarnai pipinya, tampak cukup malu.


Mungkinkah … mungkinkah ini adalah pengakuan? Karena sudah sejauh ini, aku … aku harus menerimanya, kan?


Meski terkadang ceroboh, dia bukan orang jahat. Dia bahkan tampan dan pekerja keras. Aku rasa … itu tidak apa-apa, kan?


Pad saat Jennifer tersesat dalam lamunannya, Adam sedikit membungkuk sambil menatap ke bawah. Pemuda itu kemudian berkata dengan tegas.


“Maaf! Kelihatannya kamu salah paham karena tindakanku sebelumnya.”


“Iya!” ucap Jennifer tanpa sadar. Setelah itu, dia tampak linglung. “Eh? Maksudmu …”


“Tindakan di cafe … untuk menghilangkan keraguan orang-orang, aku terpaksa melakukan hal itu. Aku tahu aku salah, dan aku tidak ingin kesalahpahaman ini terlanjur terlalu jauh.”


PLAK!


Suara tamparan keras terdengar. Jennifer berdiri dengan napas naik turun. Wajahnya merah, sudut matanya sembab, dan air mata mulai mengalir melalui pipinya. Tidak seperti harimau betina yang siap menerkam mangsanya seperti biasa, sekarang …


Jennifer malah terlihat layaknya wanita biasa. Wanita lemah yang seharusnya dilindungi, bukan disakiti.


Adam hanya diam. Awalnya pemuda itu berpikir Jennifer adalah tipe wanita pemberani dan cukup buruk. Dia tidak menyesal jika memanfaatkan wanita seperti itu untuk membantunya dengan hal-hal kecil. Namun setelah mengenal Jennifer yang ternyata begitu baik dan bersih, dia tidak tega.


“Aku yang terburuk. Lampiaskan saja seluruh amarahmu.”

__ADS_1


“Kenapa?” Jennifer menghapus air matanya. Menatap sosok Adam dengan bingung. “Kenapa kamu harus mengatakannya? Tidakkah lebih baik kamu memendam itu saja?”


“Kamu terlalu baik. Jika kesalahpahaman ini terus berlanjut, itu malah akan menyakitimu lebih dalam.”


“Jika itu wanita buruk, apakah kamu akan membiarkannya?”


“Jika buruk dan mencoba memanfaatkan aku, aku malah yang akan memanfaatkannya.”


Adam menjawab dengan jujur. Tidak menyembunyikan hal semacam itu.


“Kamu jujur … apakah karena kamu peduli padaku?” tanya Jennifer.


“...”


Adam diam. Memang, itu karena peduli. Namun tetapi saja, hal semacam itu akan menyakiti hati Jennifer.


“Katakan padaku, Adam. Apakah kamu sudah memiliki pacar, tunangan, atau bahkan istri?”


“Belum.”


“Lalu kamu menyukai seseorang?”


“Tidak juga.”


“Lalu kenapa? Kenapa kamu harus mengungkapkan hal itu?”


“Itu terlalu palsu. Kamu terlalu baik, jika aku membalas kasih sayangmu dengan hal-hal palsu … itu mirip atau bahkan lebih buruk daripada cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Aku rasa ini terlalu mendadak. Aku juga takut kamu hanya terjebak pada perasaan sesaat.”


“Kamu pikir … aku hanya terbawa suasana dan semua akan berakhir dengan main-main?” tanya Jennifer.


“Kurang lebih seperti itu. Aku takut kamu menyesalinya. Jadi-”


Sebelum sempat melanjutkan, Adam merasakan kedua tangan Jennifer menyentuh wajahnya. Ketika pemuda itu mendongak, bibir lembut Jennifer menyentuh bibirnya. Setelah beberapa saat, wanita itu langsung mundur dengan wajah merah.


Adam merasa agak canggung dan curiga. Ternyata dugaannya benar.


“Ciuman pertamaku. Aku memberikannya kepadamu. Kamu pikir … aku main-main?”


Melihat Jennifer yang mencoba terlihat berani tetapi juga malu, Adam menggeleng ringan dengan senyum lembut di wajahnya.


“Terima kasih, Jennifer.”


Jennifer meletakkan tangannya di sisi pinggang, tersenyum ke arah Adam dengan wajah cantik nan mempesona.


“Jadi, apakah sekarang kamu jatuh cinta kepadaku?”


Melihat Jennifer yang tersenyum ceria dan tampak bersemangat seperti biasanya, entah kenapa Adam merasakan perasaan hangat dalam hatinya.


“Kamu tidak marah?” tanya Adam.


“Tentu saja aku marah! Tapi itu juga kesalahanku karena telah salah paham. Kamu sudah membenarkannya, jadi aku tidak lagi bisa menyalahkanmu.”


Melihat Jennifer yang kembali duduk di sampingnya, Adam mengulurkan tangannya. Menghapus air mata di wajah gadis itu.


Merasakan kelembutan Adam, Jennifer menghela napas dalam hatinya.

__ADS_1


Jika seperti ini … bagaimana bisa aku membencimu, Adam?


>> Bersambung.


__ADS_2