
"Kamu serius, Senior?"
Mendengar pertanyaan Shawn, Adam mengerutkan keningnya.
"Apakah aku tampak sedang bercanda, Shawn?"
"Tidak. Tidak seperti itu, tapi ..."
Shawn tidak berani protes. Meski berusaha untuk tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan, dia benar-benar masih takut disentil dahinya oleh Adam. Belum lagi, jika Adam marah, mungkin dia akan dipukul.
Itu sama sekali bukan pilihan baik!
"Tapi???"
"Tidak apa-apa, Senior. Serahkan saja kepadaku! Aku akan menjamin semuanya dalam kondisi dan harga terbaik!
Apakah ada permintaan lain?"
"Hmm ..."
Adam tampak berpikir sejenak. Beberapa saat kemudian, dia melirik ke arah sales wanita yang mengantarnya berkeliling sebelumnya.
Gadis itu tampak cantik dengan rambut cokelat gelap lurus yang dipotong sampai pundaknya. Dia memakai pakaian sales yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ditambah kacamata yang dia pakai, gadis itu tampak menawan.
"Hitung bonusnya untuk gadis itu. Dia melakukan pekerjaan baik."
Mendengar ucapan Adam, Shawn menatap ke arah gadis itu. Meski tidak terlalu sering memperhatikan pekerja baru, dia memiliki kesan pada gadis itu karena penampilannya yang cukup menonjol.
"Kamu melakukan pekerjaan baik, Rachel."
Mendengar ucapan Shawn dan Adam, gadis itu, Rachel tampak linglung. Beberapa detik kemudian, dia baru sadar dan langsung membungkuk sembilan puluh derajat sembari berkata.
"Terima kasih, Tuan Muda."
__ADS_1
Mendengar ucapan Rachel, Adam menggeleng ringan.
"Kamu melakukan pekerjaan baik. Menyambut tamu dan dengan sabar menjelaskan apa yang perlu dijelaskan. Meski mengetahui bahwa banyak tamu hanya banyak bertanya sambil mencari kesempatan, kamu masih tetap sabar.
Juga, tampaknya kamu benar-benar agak terbiasa dengan semua itu.
Melepaskan pelanggan potensial ke sales lain karena melindungi sesuatu. Yah ... tidak buruk juga."
Tubuh Rachel gemetar ketika mendengar ucapan Adam. Meski tidak menjelaskan semuanya, tampaknya pemuda tampan itu juga mengetahui beberapa kebiasaan tempat semacam itu. Namun Rachel juga terkejut mendengar pemuda itu berkata tanpa mengejek atau menyindir dirinya, tetapi malah memuji.
Memang, terkadang, banyak rekannya yang menyiapkan 'layanan tambahan' selama pelanggan itu mau dan mampu membeli mobil-mobil mahal, atau mungkin super car.
Alasannya sederhana. Selama menjual produk dengan harga tinggi, mereka juga mendapatkan bonus tinggi. Terkadang, demi uang, sesuatu harus dikorbankan.
Kalimat 'uang memperbudak manusia' terkadang memang ada benarnya.
Walau tidak semua bisa dilakukan dengan uang, tetapi faktanya ... uang hampir bisa melakukan segalanya.
Orang kaya mungkin menyewa preman, atau mungkin pembunuh bayaran untuk menghabisi seseorang.
Sedangkan untuk nyawa mereka sendiri, uang memang tidak bisa ditukar dengan hal tersebut. Namun ...
Makanan sehat dan berkualitas, memerlukan uang. Pemeriksaan kesehatan rutin ke rumah sakit besar, memerlukan uang. Ketika sakit dan perlu berobat, juga memerlukan uang.
Meski uang bukan segalanya, tetapi banyak hal bisa dilakukan dengan uang. Agak kejam, tapi begitulah kenyataannya.
Banyak lelaki yang jijik dengan wanita simpanan atau nyonya kecil karena menjual diri mereka sendiri ke lelaki paruh baya berminyak untuk uang. Namun, mereka juga tidak bisa disalahkan.
Setiap orang memiliki apa yang mereka kejar, begitu juga wanita.
Ada wanita yang ingin mendapatkan cinta sejati, hidup apa adanya asal dengan cinta dan ketulusan dari pasangannya.
Ada juga wanita yang tidak peduli dengan cinta sejati, tetapi lebih memilih uang. Alasannya ada beberapa hal. Mungkin mereka ingin lebih baik daripada rekan-rekannya, mungkin mereka muak hidup dalam kemiskinan, atau mungkin terpaksa jatuh ke sana dan tidak memiliki jalan untuk kembali.
__ADS_1
Jadi ... tidak ada yang perlu disalahkan karena hidup memang sebuah pilihan. Hak mereka untuk memilih jalan mereka sendiri.
Karena ketika seseorang menyalahkan orang lain, belum tentu orang itu juga telah sempurna.
Rachel masih membungkuk hormat. Benar-benar tidak menyangka, setelah menahan begitu lama, ternyata ada hadiah untuknya setelah semua perjuangan yang telah dia lalui.
Melihat air mata yang menetes ke atas lantai, Adam menghela napas panjang. Dia membantu gadis itu untuk bangun sambil berkata.
"Tidak perlu menangis. Itu adalah hal yang pantas kamu dapatkan."
Pemuda itu hanya bisa tersenyum pahit. Meski cantik, mempesona, dan murni ... bukan berarti dia harus membawanya pergi dari tempat ini dan memaksa gadis itu ikut dengannya.
Setiap orang memiliki jalannya masing-masing, jadi dia tidak pernah mencoba menganggap dirinya sebagai pahlawan yang menyelamatkan kecantikan, padahal kenyataannya hanya ingin wanita itu jatuh ke pelukannya.
Adam bukan pahlawan, juga bukan orang suci. Namun pemuda itu merasa, paling tidak ...
Dia bisa sedikit meringankan beban orang yang pantas diringankan. Memberi mereka kesempatan untuk memilih jalan mereka sendiri.
Ya ... itulah yang coba dia lakukan tanpa terlalu banyak ikut campur dalam kehidupan orang lain. Memang membantu, tapi dalam porsi yang pas. Tidak terlalu banyak sehingga mereka bergantung, tetapi juga tidak sedikit.
Cukup adalah kata yang cocok untuk menggambarkannya.
Melihat ke arah Adam, Bella dan Jennifer kemudian saling memandang. Tatapan penuh kasih sayang tampak di mata mereka.
Memang, pemuda itu sering kali menghilang atau sibuk dengan urusannya sendiri.
Akan tetapi, Bella dan Jennifer sendiri tahu, alasan kenapa mereka jatuh ke sosok yang sama juga karena lelaki itu memang apa adanya.
Melakukan kebaikan bukan karena pamer, dan mengakui keburukan karena itu juga bagian dari dirinya.
Ya ... itulah Adam yang mereka kenal.
>> Bersambung.
__ADS_1