
“Ini sudah jam malam. Para mahasiswi itu telah tidur, kan?”
Adam bergumam pelan. Pemuda itu memilih cara ini karena tidak mungkin dia masuk ke dalam universitas lalu meminta izin kepada petugas bahwa dia ingin menangkap hantu di asrama perempuan. Itu jelas meminta masalah!
Tatapan Adam jatuh kepada Nix yang sedang mengamatinya. Tampak sangat enggan untuk melakukan hal ini. Sudut bibir pemuda itu berkedut ketika melihat ayam itu tampak agak menghina.
“Aku terpaksa melakukan ini, okay? Tanpa ini … bagaimana aku bisa membuatmu naik ke tingkat silver!” bisik Adam dengan ekspresi marah.
Melihat Nix masih menatapnya dengan ekspresi bodoh, Adam tidak tahan lagi. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk membawa si ayam kembali ke lautan spiritual miliknya.
Sebenarnya Adam sendiri juga agak bimbang. Jika dia membawa Nix, kemungkinan identitasnya diketahui lebih tinggi. Lagipula … tidak banyak orang yang memilih seekor ayam jago sebagai hewan peliharaannya di Kota B ini. Namun pemuda itu membawanya karena alasan lain.
Itu untuk mencegah serangan mendadak dari lawan. Dua lebih baik dari satu. Jika mereka mengamati situasi sekitar bersamaan, kemungkinan penyergapan akan sangat minim. Ya, karena Nix juga tidak mau, Adam menggunakan rencana pertama.
“Siapa yang membutuhkan ayam konyol itu? Aku sendiri sudah cukup. Jika bukan karena limit level, aku bahkan tidak mau repot-repot memikirkannya,” gumam Adam dengan ekspresi muram.
Adam kemudian menatap pagar setinggi tiga meter di depannya. Di belakang universitas tidak terlalu ketat. Bahkan dia tidak melihat satu pun kamera pengawas.
Mengambil sedikit ancang-ancang, Adam berlari lalu melompat. Pemuda itu dengan mudah melompat setinggi dua meter lalu menggapai bagian atas dengan tangannya. Pemuda itu tidak melakukan dengan seluruh kemampuannya, tetapi masih bisa menyelesaikan hal itu dengan mudah.
Pemuda itu dengan mudah masuk ke bagian dalam universitas. Ketika turun, Adam langsung bersembunyi di balik pohon sambil mengamati situasi sekitar. Ketika hendak bergerak, pemuda itu mendengar langkah kaki.
Menoleh ke sumber suara, Adam melihat sosok gadis dengan jaket hoodie. Gadis itu membawa dua kantong plastik dengan ukuran hitam. Karena lingkungan yang agak gelap, dia hanya tahu kalau gadis itu memakai kacamata, wajahnya tidak terlihat terlalu jelas di kejauhan.
“Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini?”
Gadis itu berkata dengan suara tertekan dan agak marah. Namun dia menghela napas tak berdaya setelahnya.
Setelah memperhatikan baik-baik, Adam melihat kantong plastik tersebut dipenuhi dengan beberapa snack. Menurut analisisnya, gadis itu kemungkinan besar dipaksa oleh teman satu kamarnya untuk membeli camilan ketika jam malam oleh teman satu kamarnya. Ya, meski orang semacam itu tidak pantas dibilang teman.
Gadis itu jelas dibully. Adam yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Adam juga ingat hari pertamanya di asrama. Karena dia pendiam, tidak terlalu suka bersosialisasi, dan suka menyendiri … teman satu kamarnya mencoba membully dirinya. Hasilnya jelas, pemuda itu memukuli merekasampai menjadi hitam dan biru.
Adam tidak suka mengganggu dan tidak suka diganggu. Dia tidak keberatan membantu orang yang membutuhkan, tetapi tidak akan diam jika seseorang membuat masalah dengannya.
Pada saat itu, Adam melihat langkah kaki dari arah lain. Menatap ke sumber suara, dia melihat tiga orang pemuda datang dan mencegat gadis berkacamata itu.
“Hehehe … bukankah itu Bella?”
“...”
Melihat tiga sosok yang menghalanginya, ekspresi gadis bernama Bella itu tampak buruk. Mereka bertiga adalah trio anak nakal yang cukup terkenal di universitas.
Berdiri di tengah adalah seorang lelaki berbadan tegap dengan rambut cokelat dan wajah persegi, tidak tertalu tampan tetapi juga tidak buruk juga. Tubuhnya tegap dan cukup berotot. Anak seorang dosen sekaligus kapten team basket saat ini, Albert.
__ADS_1
Dua orang di belakangnya adalah antek Albert yang juga dari klub basket. Ketiga orang itu terkenal suka mengganggu. Sering memaksa salah satu rekan sekelas laki-laki yang lemah untuk mengerjakan tugas mereka.
Tidak hanya itu, mereka juga terkenal karena telah melakukan beberapa hal buruk terhadap mahasiswi. Menurut rumor, gadis itu keluar dari universitas tanpa alasan yang kelas. Tentu saja, kemungkinan besar karena kasus ditutupi oleh ayah Albert yang merupakan dosen di sana.
“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Bella dengan ekspresi sedikit ketakutan.
“Hehehe … kami berkeliling untuk menangkap beberapa mahasiswa nakal yang melanggar jam malam. Untuk pengguna asrama yang telah disubsidi oleh universitas, mereka tidak boleh keluar di atas jam sepuluh malam.
Kelihatannya Bella melanggar itu? Aku tidak tahu, jika dilaporkan … mungkinkah beasiswa akan dicabut atau tidak. Aku rasa, universitas tidak memerlukan mahasiswa yang tidak patuh seperti itu.”
“...”
Mendengar itu, ekspresi Bella berubah menjadi lebih buruk. Tidak menyangka, ternyata teman satu kamanrnya telah menjebak dirinya. Sengaja mengarahkannya kepada Adam dan kedua anteknya.
Penuh dengan kebencian!
Bella mengutuk dalam hati. Menggertakkan gigi, dia tampak marah tetapi tidak berdaya. Gadis itu hanya bisa bertanya.
“Apa yang kalian inginkan dariku?”
Albert berpura-pura mengecek jam di tangannya lalu berkata dengan nada agak aneh.
“Sepertinya sudah jam 11 lebih. Pintu asrama jelas sudah ditutup, aku memarkir mobil di luar. Bagaimana kalau teman sekelas Bella ikut dengan kami ke hotel untuk membicarakan keperluan ini.”
“...”
Khususnya para mahasiswi. Mereka menganggapnya sok suci, sok pintar, sok cantik, dan sebagainya. Bahkan teman satu kamarnya pun tidak menyukai dirinya.
Aku ingin melaporkan mereka, tetapi mereka pasti bisa mengelak. Sedangkan aku pasti dalam masalah. Aku … aku tidak bisa mengecewakan ayah dan ibu.
Bella dalam dilema, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat itu, terlihat siluet yang muncul dari balik semak sambil berteriak.
“HENTIKAN!”
Semua orang menoleh ke arah sosok itu. Setelah diperhatikan, itu adalah sosok pemuda gembal berkacamaa dengan rambut keriting yang dipangkas pendek. Melihat itu, semua orang terkejut, termasuk dengan Adam.
Sejak kapan dia bersembunyi di semak?
“Hah?” Albert mengangkat alisnya. “Hahaha! Ternyata itu kamu, Fatty!”
Melihat pemuda gempal itu, Bella juga agak heran.
“Apa yang kamu lakukan di sini, David?”
Pemuda gempal bernama David itu menjawab dengan samar.
__ADS_1
“I-Itu tidak penting. Kembali ke kamarmu, biarkan aku menghentikan mereka.”
“Menghentikan kami? Hahaha! Kamu lucu, Fatty.” Albert tertawa. Orang itu mengangkat ponselnya. “Kecuali kamu memukuli kami sampai pingsan lalu menghapus bukti kalau Bella telah melanggar jam malam, dia tidak akan pergi. Lagipula, gadis itu takut beasiswa miliknya dicabut.”
“Kamu kejam, Albert!” ucap David dengan nada marah.
“Jadi apa? Mau bertarung dengan kami? Hahaha! Pegang dia!” ucap Albert dengan ekspresi dingin.
Dua antek Albert langsung bergegas ke arah David lalu memukulnya. Setelah itu, mereka menyeret pemuda gempal itu sampai ke depan Albert.
“Mau bermain menjadi pahlawan, hah?! Makan ini!”
Albert langsung menghajar wajah David. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali memukuli wajah dan perut pemuda gempal itu. Melihat itu, Bella tidak tega.
“Hentikan saja, Albert. David … lepaskan saja dia.”
“Hah? Kamu benar-benar membela si Fatty, Bella? Apakah kamu menyukai tipe seperti ini?” Hahaha!”
“Bukan seperti itu. Dia-”
Pada saat itu, suara langkah kaki terdengar. Adam yang sedari tadi bersembunyi sudah muak melihat adegan semacam itu.
Melihat sosok misterius dengan pakaian serba hitam, topeng putih, dan pedang kayu di pingganya membuat orang-orang diam.
“Sekarang siapa yang mencoba bermain menjadi pahlawan? Buang Fatty, tangkap pahlawan bertopeng itu. Biar kita beri dia pelajaran, Hahaha!”
Dua antek Albert langsung bergegas ke arah Adam. Sementara itu, Adam tampak begitu tak acuh
Kedua orang itu hendak mengajar sosok bertopeng yang dianggap cosplayer itu. Namun ketika mereka hendak menyerang, keduanya merasakan tarikan ganas. Tubuh mereka berdua tiba-tiba jatuh ke tanah dan pandangan mereka menjadi gelap.
Di mata orang lain, Adam bergerak cepat lalu membanting dua antek Albert ke tanah dengan keras. Menghancurkan mereka berdua dengan begitu mudah seolah bukan apa-apa.
Melihat sosok bertopeng yang mendekatinya, Albert tahu dia sedang dalam masalah. Pemuda itu segera mengancam.
“Ayahku adalah dosen di universitas ini. Jika sampai menemukanmu, dia akan-”
Sebelum menyelesaikan ucapannya, sebuah tinju menghantam wajah Albert dengan keras. Membuat pemuda itu terjatuh di tanah dan hidungnya patah. Darah mengalir dari hidung dan mulutnya.
Albert mendongak, melihat tatapan dingin di balik topeng putih polos itu. Suara lelaki tak acuh terdengar kemudian.
“Bacod.”
Setelah mengatakan itu, satu pukulan lagi langsung menghantam wajah Albert.
>> Bersambung.
__ADS_1