Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Boys Talk


__ADS_3

Makan di kedai ramen tradisional, Henric menatap sosok Adam dengan curiga.


“Apakah kamu mendengarku, Senior?” tanya Henric tidak puas.


“Ada apa? Kamu masih menanyakan hal yang sama berkali-kali?”


Adam menunjuk ke arah Henric dengan sumpit di tangannya. Melihat penampilan pemuda gempal itu, dia merasa agak iba sekaligus lucu.


“Aku tidak percaya … kenapa kamu mengundang aku untuk makan jika kami tidak saling kenal?”


“Aku sudah bilang, kan? Tampang menyedihkanmu mirip temanku yang selalu bermasalah dengan cinta.”


“Bukankah seharusnya kamu menghiburku, Senior?”


“Bukankah aku akan terlihat lebih mencurigakan jika menghiburmu? Apakah kamu bodoh?”


“...”


Henric terdiam. Dia tidak menyangka sosok senior ramah dan tampan yang dia temui tadi benar-benar berubah sikap 180 derajat dalam waktu kurang dari satu jam.


Okay … kamu benar. Namun, kamu tidak perlu menunjuk seseorang dengan sumpit seperti itu kan, Senior?


“Segera makan lalu pulang!” ucap Adam dengan nada tak acuh.


“Bukankah seharusnya kamu berinisiatif mengantarku pulang atau semacamnya, Senior?”


“Kenapa? Bukankah kita tidak saling kenal? Selain itu … bagaimana aku harus membawa motormu?”


“...”


Henric menatap sosok Adam dengan ragu. Pada saat itu, pemuda tampan itu kembali berkata.


“Lihat dirimu yang sekarang. Jauh lebih baik daripada yang sebelumnya. Untuk apa mengejar gadis yang bahkan tidak mau diperjuangkan?”


Mendengar itu, Henric menghela napas panjang.


“Tapi aku mencintainya, Senior.”


“Berapa umurmu? Benar-benar berbicara tentang cinta seperti lelaki tua yang putus asa.”


Sudut bibir Henric berkedut. Dia sedikit marah.


“Apakah kamu tidak pernah merasakan jatuh cinta, Senior?”


“Tentu saja pernah.”


“Terbalas?” tanya Henric.


“Tidak.”


“Meski kamu tampan dan kaya?”


“Aku tidak menyampaikannya, bagaimana bisa terbalas?”


“...”

__ADS_1


Henric terdiam. Dia kemudian berkata dengan nada menghina.


“Kenapa seorang lelaki single seperti-”


Melihat cincin di jari manis Adam, Henric berhenti bicara. Setelah beberapa saat, pemuda itu mengeluh.


“Bukankah kamu bilang tidak menyampaikannya, kenapa kamu memiliki cincin di jari manis?”


“Bukankah yang kamu bicarakan itu adalah cinta pertama?”


“...”


“Aku memang merasakan cinta pertama, tetapi yang akan menjadi pendamping bukan berarti harus cinta pertama. Ya … seperti cincin ini. Kami sebenarnya belum menikah, tetapi ini hanya sebagai pertanda kalau kami sudah memiliki pasangan.”


“...”


Bukankah kamu mengajakku makan untuk menghibur? Bagaimana bisa berakhir menjadi pamer pasangan seperti ini?


Henric terdiam. Pada akhirnya, dia lebih memilih untuk fokus kepada makanannya daripada berbicara pada pemuda tampan itu. Bukannya menghibur, pemuda itu malah membuatnya kesal.


Selesai makan, Henric kembali menatap sosok Adam yang hanya diam dengan ekspresi santai. Entah karena dorongan apa, dia tiba-tiba bertanya.


“Jika menjadi aku … apa yang akan anda lakukan, Senior?”


Mendengar pertanyaan itu, Adam yang awalnya tampak seenaknya tersenyum. Dia kemudian berkata.


“Buktikan saja kalau kamu bisa menjadi lebih baik tanpanya. Lebih banyak olahraga dan belajar. Perbanyak pengalaman dan coba untuk menjadi sukses secepat mungkin.


Jika bisa, lakukan saja secepatnya. Jika tidak bisa, sepuluh tahun tidak terlambat untuk membuktikannya.”


“Kalau begitu cari wanita lain yang mau bersamamu dan berjuang dari awal. Jika memang tidak cocok, cari yang lain.”


“Bukankah itu terkesan main-main?”


“Tentu saja tidak. Kamu hanya perlu menemukan yang cocok. Tentu saja, jangan melebihi batas selama menjalani hubungan semacam itu.”


“Aku tidak pernah melanggar batas!”


“Kalau begitu tidak perlu terlalu peduli. Kamu tidak mengambil keuntungan dari gadis itu, dan hal semacam itu sudah cukup.


Apa yang kamu lakukan hanya mencari partner yang cocok. Jadi jika tidak cocok, ganti dengan yang lain.”


“Kenapa … aku merasa agak dijerumuskan, Senior?”


“...”


Melihat ke arah Adam yang diam, Henric berkata dengan nada curiga.


“Bolehkah aku bertanya, Senior?”


“Apa?” tanya Adam.


“Selain pacarmu yang sekarang, apakah kamu memiliki pengalaman lain dengan wanita?”


“Errr … jujur. Tidak.” Adam melirik ke arah lain lalu bergumam, “Bahkan hubunganku yang sekarang terjadi karena kecelakaan dan bantuan takdir.”

__ADS_1


“...”


Henric terdiam. Benar-benar tidak menyangka sosok yang begitu tampan dan berusaha menasihati dirinya itu menyerahkan masalah cinta dan pasangan kepada takdir.


Omong kosong! Jelas aku telah ditipu!


Meski tahu telah ditipu, Henric tidak marah. Pemuda gempal itu tahu Adam berusaha menghiburnya. Selain itu, Adam juga menunjukkan jalan bahwa yang perlu dia lakukan adalah berubah menjadi lebih baik lalu memilih pasangan yang cocok.


Menghela napas panjang, Henric akhirnya mengeluarkan kotak hadiah lalu meletakkannya di atas meja.


“Terima kasih atas nasihatnya, Senior. Anggap saja sebagai uang makan.”


“Mau ke mana?”


“Pulang.” Henric berkata dengan nada santai. “Sudah lama aku menjadi keras kepala dan tidak tahu jalan pulang.”


“...”


Melihat sosok Adam yang terdiam, Henric hanya mengangkat sudut bibirnya.


“Aku akan mengingat kebaikanmu, Senior.”


Setelah mengucapkan itu, Henric keluar dari kedai lalu pergi dengan menaiki motor tua miliknya. Melihat itu, Adam menggeleng ringan.


Senang rasanya melihat pemuda yang mudah move on. Lagipula, hidup tidak akan berakhir hanya karena kita kehilangan seseorang yang disayang. Itu hanya seorang pacar.


Bahkan jika itu kehilangan istri, keluarga, dan lainnya … hidup terus berjalan.


Setelah menyelesaikan makanannya, Adam kemudian pergi membayar. Melihat kotak hadiah yang dikemas sederhana, dia mengantonginya sambil menggeleng ringan. Tidak peduli dengan isinya, pemuda itu kemudian pergi meninggalkan kedai untuk menjemput Bella.


...***...


Beberapa hari berlalu, hari sabtu kembali tiba.


“Akhirnya! Akhirnya aku berhasil menyelesaikannya!”


Melihat beberapa butir pil berwarna hitam dengan aroma herbal yang kuat, Adam merasa bahagia.


Setelah beberapa hari mencoba untuk mempraktikkan informasi dalam kepalanya, Adam benar-benar mengalami sangat banyak kegagalan. Bahkan jika berhasil, itu adalah pil kualitas buruk.


Merebus, menyaring, melarutkan, mencampur, dan banyak hal yang harus dilakukan dengan sangat pas tanpa sedikit pun meleset. Apa yang paling sulit adalah mengendalikan Qi dalam prosesnya.


Dengan pengendalian Qi Adam yang halus saja, dia masih begitu sulit untuk menyempurnakan pil kualitas tinggi. Jadi pemuda itu memaklukmi orang-orang yang telah membuat pil di bawah standar System itu.


Meski System ini menuntut, tetap saja … jika bisa terselesaikan, hasilnya sangat memuaskan!


Melihat ruang latihan yang sekarang juga dijadikan ruang pembuatan obat, serta akan menjadi ruang pembuatan jimat … Adam terdiam. Melihat bahan obat dan beberapa pil ‘gagal’ yang berantakan di mana-mana membuat sudut bibir pemuda itu berkedut.


Dalam praktiknya, Adam telah membuang 80% eksemplar yang dia beli. Tentu saja, itu baru resep pil nutrisi (bronze). Sedangkan untuk membuat pil penyembuhan (bronze), jelas waktu beberapa hari tidak cukup untuk mempelajari keduanya.


“Waktunya membersihkan sampah ini lalu mulai mengubah semua bahan yang tersisa menjadi pil yang sempurna!”


Setelah bersih-bersih, Adam yang pergi membuang sampah melihat Bella yang selesai mandi. Melihat gadis yang menuju dapur dan hendak memasak lalu mengingat pil nutrisi yang dia buat. Entah kenapa … beberapa hal liar terlintas di kepalanya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2