
Melihat bagaimana tuannya hampir membekukannya, tetapi malah bersemangat dan tidak merasa bersalah membuat Nix emosional. Bukan hanya memarahinya karena si cacing kecil, orang itu benar-benar terlihat senang ketika memukuli dirinya.
‘Bos kejam ini …’
Telah merasakan kekuatannya meningkat drastis, Nix akhirnya merasa bahwa sudah waktunya untuk membalas dendam. Dia menunjuk Adam dengan salah satu sayapnya dan mulai berkokok dengan nada serta ekspresi tidak puas.
“Apa maksudmu, Nix?”
Mendengar pertanyaan Adam, Nix mulai berkokok dengan ekspresi sombong di wajahnya.
‘Tentu saja Tuan Nix ini akan melawanmu, Bos Kejam! Jangan kira Tuan Nix ini tidak berani melawanmu. Ayo bertarung!’
Melihat bagaimana Nix tidak puas kepada dirinya, Adam sama sekali tidak marah. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat. Dia merasa si ayam mulai sombong karena telah memiliki kemampuan baru. Sudah saatnya memukul dan memberitahu si ayam siapa bosnya!
“Baiklah. Kalau itu maumu.” Adam menggeleng dengan ekspresi menyesal.”Aku tidak bisa menolaknya kalau begitu.”
Melihat ekspresi ‘menyesal’ di wajah Adam, rasa percaya diri Nix naik beberapa tingkat. Dia telah bertekad untuk mengajari bos kejam itu untuk tidak main-main dengan Tuan Nix yang hebat.
“Kalau begitu, kita akan pindah tempat. Bertarung di tempat ini, aku takut kita akan menghancurkan kamar.” Adam tersenyum lembut.
Melihat si ayam mengangguk dengan ekspresi sombong, Adam tersenyum ringan. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ular kecil di tangannya.
“Si kecil … karena kamu adalah bagian dari kami, aku harus memberimu nama.” Memikirkan cukup lama, Adam tiba-tiba berkata. “Karena penampilanmu yang putih dan polos, layaknya salju di musim dingin ... aku akan memanggilmu Yuki mulai sekarang.”
Setelah tuannya mengatakan itu, Yuki mengangguk dengan kepala kecilnya. Makhluk tampak begitu bersemangat. Sepertinya sangat menyukai nama yang diberikan oleh Adam.
Melihat itu, Adam tersenyum lembut. Dia kemudian menambahkan.
“Kalau begitu, kamu pergi ke lautan jiwa dahulu. Aku memiliki urusan dengan seniormu.”
Mendengar ucapan tuannya, Yuki menggelengkan kepalanya dengan cemas. Dia kemudian melingkarkan tubuhnya ke jari tengah tangan kiri Adam. Setelah melingkarkan tubuhnya, ular kecil itu membuat tubuhnya sendiri kaku dengan lapisan biru tipis menyelimuti dirinya sendiri.
__ADS_1
Penampilannya sekarang … benar-benar mirip dengan cincin perak yang diukir dengan pola ular yang begitu detail dan cantik.
Melihat penampilan Yuki yang sekarang, Adam terkejut. Kyoko bisa bersembunyi dalam bayangannya, Yuki bisa berpura-pura menjadi aksesoris di tangannya. Kelihatannya, selain si ayam, dua lainnya punya kemampuan tersendiri untuk menyembunyikan diri.
Adam yang melihat Yuki dalam mode cincin tersenyum. Si kecil tampaknya tidur dalam mode seperti itu. Melihat bagaimana Yuki benar-benar tidak bergerak dan kokoh seperti cincin yang sebenarnya, pemuda itu mengangguk puas.
Setelah keluar dari ruangan dengan Yuki jari tengah tangan kirinya dan Kyoko dalam bayangannya, Adam mengambil jaket lalu memutuskan pergi ke luar kota. Lebih tepatnya, kembali ke salah satu rumahnya yang sebelumnya dia gunakan sebagai tempat latihan.
Tentu saja, Adam meninggalkan beberapa uang cash dan pesan untuk Bella sebelum pergi. Tidak ingin membuat gadis itu khawatir atau berpikir bahwa pemuda itu telah meninggalkannya.
Sekitar jam 5 pagi, setelah mengendara dengan kecepatan tinggi, Adam akhirnya sampai di rumahnya.
Adam kemudian pergi ke rumah untuk mandi lalu membuat sarapan sederhana. Alasan pemuda itu memilih tempat ini bukan hanya karena tempat ini lebih aman. Selain alasan itu, dia juga menggunakan waktu dalam perjalanan untuk mencerna lebih baik semua informasi dari system. Pemuda itu juga mencoba membiasakan dirinya dengan kekuatan baru itu.
Setelah makan sarapan, satu orang dan satu ayam saling memandang. Melihat keraguan di mata Nix, Adam mengangkat sudut bibirnya.
“Tidak apa-apa jika kamu takut. Kita hentikan saja di sini.”
“Kalau begitu … pergi ke halaman belakang!”
Di halaman belakang, dua sosok berhadapan dengan jarak cukup berjauhan.
Kali ini Adam bahkan tidak membawa pedang kayu miliknya. Itu karena pemuda itu ingin mencoba sesuatu.
“Kita mulai dalam 3 hitungan mundur, Nix. Tiga … dua … satu!”
Setelah mengatakan itu, Nix dan Adam tidak langsung saling menyerang. Keduanya tampak serius. Satu orang dan satu ayam mencoba menggunakan skill baru milik mereka, Suzaku’s Golden Talons.
Menyadari bahwa itu bukan skill yang bisa dilakukan dengan instant cast, Adam memutuskan untuk membatalkan rencananya. Dia langsung bergegas menuju Nix dengan kecepatan tidak manusiawi.
Cahaya kuning keemasan mulai berkumpul di kaki Nix. Namun sebelum si ayam itu puas, dia merasakan tubuhnya terlempar. Secara otomatis, cahaya yang Nix coba padatkan langsung menghilang.
__ADS_1
Belum sempat bangkit, Nix merasakan tubuhnya kembali terpental. Kejadian itu terjadi berkali-kali sampai membuat tubuh si ayam mati rasa. Melihat bagaimana tuannya menendang dirinya tanpa ekspresi bersalah di wajah tampannya, Nix tercengang.
‘Bos kejam ini!’
Sebagai keturunan sosok Suzaku yang hebat, diperlakukan seperti bola sepak membuat Nix merasa tertekan sekaligus terhina. Pada saat itu, dirinya merasakan hal yang aneh.
Selagi menendangnya seperti bola, cahaya keemasan mulai berkumpul di tangan Adam sedikit demi sedikit. Setelah belasan tendangan, dia berhenti. Dia memfokuskan semua energi di tangan kanannya untuk memadat. Di depan tatapan terkejut Nix, sebuah cakar elang besar berwarna emas menutupi tangan kanan Adam.
Dengan senyum di wajah tampannya, pemuda itu langsung bergegas ke arah Nix. Bukan untuk menendang, kali ini … dia mengayunkan tangan kanannya.
Suzaku’s Golden Talons!
Merasakan krisis hidup dan mati, si ayam memaksakan diri untuk melompat dan terbang menjauh. Detik berikutnya, tiga baris cahaya emas melewati tempat dirinya berdiri tadi. Tidak berhenti di sana, cahaya itu langsung terbang lurus dan menabrak pohon.
Slash! Bruk!
Setelah suara tebasan ditemani dengan suara benda jatuh, Adam dan Nix tercengang. Tanah, rumput, semak, bahkan sebuah pohon dengan ketebalan paha orang dewasa benar-benar dipotong oleh skill tersebut.
Adam langsung merasa sangat puas. Hanya saja, rasa lelah langsung menghampirinya ketika dia selesai menggunakan skill tersebut. Tidak bisa menahan diri, dia jatuh berlutut di tanah. Ekspresi pemuda itu agak pucat dan lelah, tetapi masih sangat puas.
“Kelihatannya tingkat Silver Spirit bena-benar sudah melebihi kemampuan manusia. Suzaku’s Golden Talons, Ice Control, Spring Sword … kelihatannya aku harus berlatih untuk menguasai ketiga kemampuan ini terlebih dahulu,” gumam Adam dengan ekspresi pucat.
Sedangkan dua kemampuan tambahan untuk membuat obat atau jimat kertas, untuk saat ini Adam tidak berencana untuk belajar. Lagipula, sudah ada tiga skill bertarung baru yang harus dia kuasai. Pemuda itu tidak ingin menggigit lebih dari yang bisa dia kunyah.
Sementara Adam mulai menentukan jalur yang akan dia lalui ke depannya, Nix si ayam menatap dengan ekspresi konyol di wajahnya. Melihat serangan kejam itu, si ayam tidak marah karena tuannya hampir membunuh dirinya, sebaliknya … dia malah menanyakan identitasnya.
‘Apakah ada yang salah dengan mata Tuan Nix ini? Bukankah seharusnya keturunan Suzaku yang agung adalah Tuan Nix ini? Kenapa Bos kejam itu malah melakukan serangan ganas yang hanya bisa dilakukan keturunan Suzaku yang agung? Belum lagi …
Tuan Nix ini bahkan tidak bisa membuat serangan sekuat itu!’
Melihat itu, Nix benar-benar tercengang. Mulai meragukan identitasnya sebagai keturunan Suzaku.
__ADS_1
>> Bersambung.