Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Menggigit Umpannya


__ADS_3

"Tapi, Tuan—"


Dokter itu menatap ke arah pemuda tampan itu dengan ragu.


"Semua yang terjadi di sini, aku akan menanggung akibatnya. Serahkan kuncinya."


"Anu, tapi—"


"Berhenti mengatakan kata tapi, Pak Dokter. Lebih baik serahkan kuncinya lalu pergi dari tempat ini."


Dokter itu tahu bahwa pemuda di depannya bukan orang sembarangan. Bahkan pemilik rumah sakit memperingatkan dirinya agar tidak membuatnya marah. Itu karena, mereka adalah kelompok gangster kuat dan berbahaya!


"Aku tidak membawa kuncinya, Tuan. Aku akan kembali ke kantor lalu—"


"Pergi dan jangan kembali. Itu akan terlalu lama."


"Eh?"


"Aku bilang, pergi saja."


Adam melirik dengan ekspresi dingin. Ketakutan, dokter dan perawat langsung pergi meninggalkan ruangan.


Adam mengulurkan tangannya. Sebuah pedang yang seluruh tubuhnya terbuat dari es muncul di tangannya. Pedang itu tampak kokoh dan tajam.


Swoosh!


Adam mengayunkan pedangnya. Saat itu juga, tali dan borgol yang menahan Shin langsung terputus. Menatap ke arah pria itu, dia kemudian berkata.


"Tunjukan kepadaku, seberapa besar keinginanmu untuk membunuhku."


Mengatakan itu, pedang di tangan Adam menghilang.


Saat itu juga, Shin melesat ke arah Adam dengan dua tangan diselimuti energi merah darah. Dia langsung membuat gerakan mencakar, tetapi sebelum cakarnya mengenai lawan, pemuda itu sedikit melangkah mundur.


Adam langsung bergegas meraih leher Shin lalu membantingnya dengan keras ke ranjang.


BRUAK!


"Terlalu lemah."


"AKU AKAN MEMBUNUHMU!"


Shin kembali menyerang dengan ganas. Namun akhirnya ditangkap oleh Adam dan dibanting dengan keras.


BRUAK!


"Masih kurang. Dengan ini mustahil kamu bisa membunuhku."


BRUAK!


"Kamu hanya menggertak, ucapanmu hanya ilusi semata."


BRUAK!


"Bahkan tak bisa berdiri tegak, masih ingin membunuhku?"


BRUAK!


"Kamu terlalu lemah untuk melindungi diri sendiri, apalagi melindungi orang lain."


BRUAK!


"Kamu ... benar-benar menyedihkan."

__ADS_1


Lefitto dan Raitto yang diikat menatap sosok Adam dengan ngeri. Tidak jauh darinya, banyak perabotan yang ada di kamar rusak. Darah memercik di berbagai tempat.


Sosok Shin berbaring di lantai dengan kepala berdarah. Dia tampak lemah dan lebih suram daripada sebelumnya.


"KENAPA??? KENAPA AKU TIDAK BISA MENYERANG WANITA ITU?! BAHKAN AKU JUGA TIDAK BISA MEMBUNUHMU?!


KENAPA???"


Shin yang biasanya paling tenang mulai merengek seperti anak kecil. Air mata berlinang membasahi wajahnya. Membuat penampilannya tampak lebih menyedihkan.


"Sudah kubilang, aku berbeda dengan wanita itu."


Adam berkata dengan nada tak acuh sambil membersihkan noda darah di tangan dengan sapu tangan.


"Jika kalian tidak percaya, ikutlah denganku. Kalian tidak memiliki tujuan untuk kembali, kan? Kalau begitu tinggal di tempat kami.


Aku akan menunjukkan kepada kalian seperti apa keluarga Wings of Freedom."


Setelah mengatakan itu, Adam kembali melirik ke arah Shin.


"Jika kamu takut aku akan mencuri kebebasan anak-anak itu, kamu bisa pergi dan menjadi pengawas mereka. Kamu juga bisa berlatih agar menjadi lebih kuat.


Jadi, jika aku mengingkari kata-kataku, kamu yang lebih kuat bisa membunuhku saat itu."


Shin hanya diam. Sedangkan Lefitto dan Raitto tercengang. Mereka tidak menyangka, tidak hanya tidak dikurung atau dibunuh, ternyata mereka malah diberi kesempatan untuk tinggal!


Shin, Lefitto, dan Raitto saling memandang. Saat itu juga, mereka akhirnya membuat sebuah keputusan.


***


Tiga hari kemudian.


Di markas Wings of Freedom, ada banyak orang yang merasa campur aduk. Khususnya petinggi seperti Shawn, Matt, Randy, dan Brock.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kantor diketuk. Beberapa saat kemudian, suara Adam terdengar dari dalam.


"Masuk."


Bersama dengan ucapan Adam, pintu terbuka dan sosok wanita cantik berambut pirang masuk. Dia adalah Annette yang bertanggung jawab atas Golden Dew sebelumnya.


Mengetahui bahwa Golden Dew sekarang diakuisisi oleh Wings of Freedom, wanita itu merasa agak cemas. Namun dia juga bersyukur ketika mendengarkan kabar bahwa para wanita sama sekali tidak diusir dari sana.


Selain itu, dalam beberapa hari ini Golden Dew mengalami renovasi besar-besaran. Selain membersihkan bekas kekacauan, mereka mengganti banyak barang lama dengan yang baru. Selain itu, mereka juga mengecat ulang. Membuat bangunan itu semakin indah.


Sama seperti sebelumnya, para wanita pekerja bisa tinggal di sana. Itu juga yang membuat Annette sangat bersyukur. Tidak hanya tidak diusir, para wanita itu senang karena mereka merasa lebih dihargai.


Selain itu, Wings of Freedom juga berencana menyiapkan orang untuk menjaga tempat itu. Lagipula, para petugas keamanan lama telah diberhentikan karena mereka awalnya separuh milik Phantom Blade.


Selain dijaga lebih ketat, rencana baru akan dibuat. Para wanita itu akan melayani pelanggan, tetapi para pelanggan tidak boleh melakukan hal-hal berlebihan. Hobi ekstrem juga dilarang agar tidak menyakiti dan membahayakan nyawa wanita yang tinggal di sana.


Tentu saja, bukan Adam, tetapi dia mendapat usulan dari Randy dan Brock. Pada awalnya, karena kurang paham, pemuda itu ingin melanjutkan bisnis seperti biasa. Namun setelah mengetahui semuanya, akhirnya rencana juga disesuaikan.


"Teh dan camilan telah siap, Bos."


"Letakkan saja di sana."


Adam berkata dengan nada hambar. Annette tidak berani mengganggu, dia meletakkan cangkir demi cangkir teh ke atas meja.


"Sudah selesai, Bos."


"Kamu boleh kembali."

__ADS_1


"Baik."


Setelah mengatakan itu, Annette membungkuk sopan. Sebelum berbalik pergi, dia melirik ke arah tertentu. Wajahnya menjadi sedikit merah ketika pergi dengan penuh keengganan.


"Aku tidak terima ini!"


Matt tiba-tiba mengangkat tangannya.


"Untuk apa kamu mengatakan itu, Matt?"


Mengambil secangkir teh, Adam bertanya sebelum menyesapnya.


"Apakah kalian tidak sadar. Teh kita diisi dengan ketinggian sama kecuali milik Ketua dan Randy! Dua centimeter lebih tinggi!


Maksudku, tidak apa-apa jika itu Bos. Lagipula dia pemimpin kelompok ini. Namun, kenapa hanya Randy yang diperlakukan seperti pahlawan?


Bukankah kalian menyadari tatapan Annette sebelumnya? Jangan bilang hanya aku yang melihatnya!


Aku juga melawan musuh dan bertarung dengan elegan! Kenapa? Padahal aku tampan, tetapi kenapa malah dia yang mendapatkan fans?! Kenapa?!"


Adam dan tiga orang lainnya tertegun. Shawn menatap ke arah cangkir teh. Setelah beberapa saat, dia berkata.


"Kenapa kamu mengamati detail kecil itu, Bung? Jika kamu tidak bilang, aku bahkan tidak akan menyadarinya!"


Adam bahkan juga tidak bisa berkata-kata. Dia tidak menyangka kalau Matt yang berpenampilan berantakan akan begitu peka.


"Sungguh, bahkan jika itu bunga malam, aku tidak berpikir kalau Annette buruk."


Matt berkata dengan nada enggan.


"Kamu boleh mengejarnya jika kamu mau," ucap Randy dengan tenang dan elegan.


Melihat itu, Matt tercengang.


"Apa maksudmu?! Belum lagi, apa-apaan dengan ekspresi 'lagipula, dia pasti tidak akan menganggap dirimu' itu?!


Aku benar-benar tidak menyangka akan kalah dengan pria feminim sepertimu!"


Matt langsung berdiri dari tempat duduknya dengan ekspresi kesal. Dia berbalik dan hendak pergi, tetapi suara Adam terdengar.


"Alasan semacam itu tidak berguna, Matt. Kembali ke tempat duduk dan kerjakan tugasmu."


Mendengar itu, Matt menoleh dengan kaku. Menatap ke arah Adam dengan ekspresi tak percaya, dia tersenyum konyol.


"Hehe~ Bagaimana kalau istirahat 15 menit, Bos?"


"..."


Melihat Adam hanya diam, Matt yang memiliki ekspresi putus asa hanya bisa kembali duduk di kursinya dengan ekspresi penuh keengganan.


Setelah beberapa saat, pintu kantor kembali diketuk.


"Masuk."


Mendengar ucapan Adam, pintu kembali terbuka. Annette yang memiliki wajah merah masuk, dia sesekali melirik ke arah Randy dengan malu-malu kucing.


"Ada apa, Annette?"


"Tiga orang datang untuk menemuimu, Bos."


Mendengar itu, Adam yang awalnya serius tiba-tiba mengangkat sudut bibirnya. Bangkit dari kursinya, dia tampak puas.


Akhirnya ikan menggigit umpannya!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2