
Siang di hari berikutnya.
Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom berhenti di depan sebuah kediaman megah perumahan elit Kota B. Pintu belakang mobil terbuka. Dari sana, sosok Adam yang mengenakan pakaian formal keluar. Ekspresinya tampak tenang ketika melihat rumah besar di depannya.
Setelah beberapa saat, Adam akhirnya memutuskan untuk maju dan memencet bel pintu.
Pada saat itu, sosok Andreas telah menyadari kedatangan Adam. Tidak langsung membuka pintu, dia menatap ke arah gadis kecil yang berdiri di sampingnya sambil memegang boneka. Melihat gadis itu, tatapannya menjadi lebih lembut.
"Ingat yang ayah katakan, Sayang. Apapun yang terjadi, kamu harus tetap bersembunyi sebelum ayah menyuruhmu keluar atau ada yang mengetuk pintu basemen tiga kali seperti yang ayah ajarkan terakhir kali.
Apakah kamu mengerti?"
Andreas memegang pundak gadis itu. Menatap matanya dengan ekspresi enggan, dia berbicara dengan lembut.
"Saya mengerti, Ayah."
Andrean memeluk gadis kecil itu sebentar sebelum akhirnya mengangkat dan menggendongnya. Dia segera mengantar gadis itu ke basemen. Di sana, ada sebuah ruang kecil tersembunyi. Ada kasur, bantal, selimut, bahkan beberapa camilan kesukaan gadis itu.
Menyuruh putrinya bersembunyi, Andreas kemudian berkata.
"Ayah menyayangimu."
Setelah mengatakan itu, Andreas menutup pintu lalu pergi ke ruang tamu.
Melihat pintu depan, dia tidak bisa tidak menghela napas panjang. Mengingat sosok pemimpin Phantom Blade, Andreas bergumam.
"Tampaknya orang itu benar-benar berbeda dari yang kamu harapkan, Ketua."
Setelah mengatakan itu, Andreas membuka pintu.
Ketika pintu terbuka, sosok Adam yang memakai jas hitam berdiri dengan tenang sambil menatapnya.
"Ketua Wings of Freedom, Adam."
Mendengar pemuda di depannya memperkenalkan diri dengan tenang, bahkan agak dingin, Andreas tersenyum.
"Aku telah bertemu dan mengenalmu, Mr Adam."
Andreas berjabat tangan dengan Adam. Setelah itu, dia berkata.
"Silahkan masuk."
"En."
Adam mengangguk ringan. Setelah itu, dia mengikuti Andreas masuk ke rumah.
Sampai di ruang tamu, Andreas mempersilahkan Adam untuk duduk. Tentu saja, pemuda itu langsung duduk dengan tenang.
Andreas duduk di tempatnya sambil menatap ke arah Adam.
"Jadi, apa yang Mr Adam inginkan dariku?"
Mendengar Andreas yang begitu langsung, Adam meletakkan bingkisan ke atas meja.
"Aku dengar putrimu suka kue macaron dan sejenis manisan. Karena kebetulan lewat, aku membawakannya."
Mendengar ucapan Adam, mata Andreas menyempit. Menurutnya, jelas Wings of Freedom telah menyelidiki identitasnya dan juga keluarganya.
"Omong-omong, dimana putrimu, Mr Andreas?"
"Maaf, gadis itu sedang bersemangat akhir-akhir ini. Jadi dia pergi bermain bersama dengan temannya, mungkin baru pulang di sore hari."
Andreas menggaruk belakang kepalanya dan berkata dengan nada canggung. Meski terdengar sopan, sebenarnya Adam sendiri sudah tahu kebenarannya.
__ADS_1
'Dia berbohong. Aku tadi mendengar suara gadis meski samar. Jadi, kemungkinan besar Andreas menyuruh putrinya untuk bersembunyi atau melarikan diri terlebih dahulu.
Kesimpulannya ... Andreas tahu kedatanganku.'
Masih memasang ekspresi datar di wajahnya, Adam menggeleng ringan.
"Kalau begitu sangat disayangkan, aku tidak bisa bertemu dengan putrimu yang manis. Titipkan saja salamku kepadanya nanti."
"Tentu saja, Mr Adam."
Menerima hadiah dari Adam dengan ekspresi sopan, Andreas membawanya ke dapur. Sebelum pergi, pria itu bertanya.
"Teh? Kopi? Atau jus buah?"
"Jus buah, tolong."
Karena telah minum kopi di pagi hari, Adam memutuskan untuk meminum yang lain di siang dan sore hari.
Setelah beberapa saat, Andreas kembali dengan dua gelas jus jeruk dan beberapa toples makanan ringan.
"Tolong jangan sungkan, hanya ada ini di tempat kami."
"Maaf merepotkan," ucap Adam.
Setelah keduanya duduk diam beberapa waktu, suasana menjadi lebih canggung.
"Jadi ... apa yang sebenarnya anda inginkan dari saya, Mr Adam?"
Mendengar pertanyaan itu, ekspresi Adam menjadi lebih serius.
"Jujur saja, di sini aku datang untuk menanyakan hal penting, Mr Andreas."
"Tolong katakan."
Sebutkan saja ... berapa harga yang kamu inginkan?"
"..."
Mendengar Adam menyebutkan nama Golden Dew, mata Andreas menyempit. Ekspresinya menjadi serius. Dia langsung menjadi dingin.
"Maaf, Mr Adam. Aku tidak tahu banyak, jadi anda bisa mencaritahu lewat orang lain."
"Wakil ketua Phantom Blade tidak tahu sebuah industri di bawah mereka ... apakah kamu menganggapku sebagai orang bodoh, Mr Andreas?"
"Bahkan jika aku tahu ... itu tidak ada hubungannya dengan Wings of Freedom. Selain itu, bukankah Anda telah berlebihan, Mr Adam?
Bahkan, jika tidak ada larangan untuk mencoba merebut situs kelompok lain, bukankah tidak sopan langsung merebut situs milik seniormu dengan cara yang begitu langsing dan kejam.
Daripada mencoba membuat masalah dengan Phantom Blade, saya sarankan anda untuk mencerna situs Bloodlust Axe. Tidak baik untuk membuat banyak musuh bagi diri kalian sendiri, Mr Adam."
"Maaf, Mr Andreas ... hal ini terlalu penting jadi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."
Selesai mengucapkan itu, Adam melihat sosok Andreas telah berdiri dan mengarahkan pistol ke dahinya. Bahkan tinggal menarik pelatuknya. Dalam jarak seperti itu, mustahil Adam langsung bergerak. Namun dia juga tidak berminat untuk menerimanya begitu saja.
"Apakah kamu yakin dengan pilihanmu, Mr Andreas???"
Ketika pertanyaan Adam selesai terucap, suhu ruangan tiba-tiba turun. Andreas merasa terkejut dan ragu. Namun ketika mengingat senyum putrinya, lalu mengingat ketua dan rekan-rekannya ... dia langsung berada dalam dilema. Namun satu hal yang pasti.
Andreas tak berniat untuk menyakiti putrinya ataupun mengkhianati rekan-rekannya!
"Aku—"
"Tunggu!"
__ADS_1
Teriakan tiba-tiba terdengar ketika sosok gadis kecil berlari dari balik pintu sambil membawa bonekanya. Dia berhenti di depan ayahnya. Meletakkan boneka di depan tubuhnya, gadis itu membuka lebar kedua tangannya.
"Jangan sakiti ayah!"
"Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah ayah bilang—"
"Aku tidak akan meninggalkan ayah!"
"..."
Suara Andreas tercekat. Dia masih mengarahkan pistol ke Adam, tetapi gadis kecil itu malah melindungi dirinya. Tampaknya, putrinya khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya.
Adam berdiri dari tempat duduknya. Dia kemudian menatap sosok Andreas dan putrinya.
"Aku sama sekali tidak berniat menyakiti kalian. Aku hanya memerlukan informasi tentang Golden Dew.
Aku juga tidak berniat untuk memusuhi Phantom Blade. Alasan aku melakukannya adalah perihal pribadi, seharusnya bukan sesuatu yang berhubungan dengan Phantom Blade."
Melihat ke arah keduanya, Adam berkata dengan tulus. Hal itu membuat Andreas ragu. Sementara itu, gadis kecil tersebut tampak terkejut.
Memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos di wajahnya, dia bertanya.
"Mr Owl???"
"..."
Setelah gadis itu berbicara, suasana ruangan langsung menjadi sunyi.
Andreas menatap ke arah Adam dengan ekspresi terkejut dan agak panik. Tampaknya, dia takut pemuda di depannya curiga dirinya memiliki hubungan dengan buronan yang sangat dicari oleh pihak atas.
"Apa yang kamu katakan, Sayang? Siapa Mr Owl? Kita tidak memiliki kenalan yang disebut Mr Owl, kan?"
"Apakah ayah lupa? Kata ayah, saya harus mengingat kebaikan orang lain. Bukankah Mr Owl pernah menyelamatkan hidup saya, jadi saya akan terus mengingatnya."
"..."
Punggung Andreas basah oleh keringat dingin. Dia menatap ke arah Adam dengan ekspresi serius, siap untuk menarik pelatuk kapan saja untuk membunuh pemuda itu. Bahkan jika di depan mata putrinya sendiri!
Adam merogoh sakunya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Andreas langsung memperingatkan.
"Jangan bergerak! Jangan bergerak atau aku akan menembak!"
"..."
Adam mengabaikan Andreas. Dia melihat gadis kecil itu berlari ke arahnya dan memeluk kakinya dengan erat.
"Selamat siang, Mr Owl!"
"..."
Melihat sepasang mata jernih dan polos menatapnya, Adam tersenyum masam. Dia mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala gadis kecil itu. Tangan satunya mengambil sesuatu dari saku.
"Aku menyerah," ucap Adam lembut.
Mengatakan itu, Adam mengeluarkan sebuah kartu nama pemberian Andreas sebelumnya. Itu karena kepolosan putri Andreas, dan Adam akhirnya juga memutuskan untuk memercayai pria itu.
"Itu ..."
Melihat kartu nama di tangan Adam, Andreas menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Dia langsung bersandar dan menghela napas panjang, tampak sangat terkejut ... tetapi juga lega.
Melirik ke arah pemuda yang mengelus kepala putrinya, Andreas tersenyum masam.
"Kamu benar-benar membuatku takut ... Mr Owl."
__ADS_1
>> Bersambung.