
Melihat bagaimana Adam bersikap begitu tak acuh, Alicia merasa agak bingung. Entah kenapa, dia bahkan merasa agak kecewa.
"Kenapa kamu bersikap seolah dirimu orang asing, Mr Owl? Bukankah kamu juga anggota dari Departemen Misteri?"
Mendengar itu, Adam mengangguk ringan dengan senyum di wajahnya.
"Lebih tepatnya, setengah bagian dari Departemen Misteri."
"Maksudmu ..."
"Kamu sendiri pasti sudah tahu, Nona Phoenix. Alasan aku menjadi anggota Departemen Misteri bukan karena uang atau kekayaan. Sebaliknya, aku hanya tidak ingin membuat banyak masalah.
Lagipula ... aku hanya seorang pembunuh."
Alicia menatap ke arah Adam dengan ekspresi tidak percaya.
"Bukankah itu hanya rumor yang salah?"
"Tidak." Adam menggelengkan kepalanya. "Aku memang seorang pembunuh."
"Kenapa? Aku tidak merasa kalau kamu orang seperti itu."
"Bukankah seperti ini cara sistem bekerja?"
"..."
Melihat ke arah Alicia yang kebingungan, Adam menjelaskan.
"Tidak peduli bagaimana aku bersikap netral, aku memiliki kekuatan.
Meski membantu menangani pembunuh dan melakukan hal-hal baik, karena aku bisa menjadi ancaman ... bukankah mereka (pemerintahan) tetap akan menganggapku sebagai buronan atau semacamnya?"
"Kamu terlalu meremehkan pemerintah, Mr Owl! Pemerintah sama sekali tidak seperti yang kamu katakan.
Kami menegakkan keadilan. Kami mengatur semuanya agar seimbang dan berada di tempatnya.
Aku tahu, Alexia marah karena dia dijodohkan. Aku tidak tahu, apa alasanmu untuk menganggap pemerintah seperti itu. Namun ...
Semuanya benar-benar berbeda dengan apa yang kamu pikirkan."
__ADS_1
Sebagai orang yang terlahir di keluarga yang berpengaruh, Alicia jelas tidak setuju dengan ucapan Adam. Dia merasa kalau pemerintah tidak seburuk itu. Wanita itu juga merasa kalau banyak rakyat yang berbicara tidak berdasarkan fakta. Namun jelas, keluarga dan orang tuanya sama sekali tidak pernah melakukan hal-hal buruk seperti yang orang-orang katakan!
"..."
Adam tidak membalas, tetapi hanya diam. Pemuda itu paham kalau pandangan seseorang tentang kebenaran berbeda. Mubgjin karena lingkungan mereka, pengaruh orang tua, dan banyak hal-hal lainnya. Jadi, Adam sama sekali tidak membantah.
"Kenapa kamu hanya diam, Mr Owl?"
"Bukan apa-apa."
Adam menggelengkan kepalanya. Pemuda itu melihat jam lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Kalau begitu, saya akan pamit."
"En? Kamu tidak berniat beristirahat terlebih dahulu, Mr Owl? Benar-benar ingin keluar?"
"Maaf." Adam menggelengkan kepalanya. "Aku telah meminta Amy untuk memesan tiket pesawat yang berangkat paling awal."
"Itu ..."
"Terima kasih atas keramahan kalian, Nona Phoenix."
Melihat ke arah punggung Adam yang semakin lama semakin mengecil di kejauhan, Alicia merasakan ada sesuatu yang salah. Namun ...
Wanita itu tidak tahu apa yang salah.
***
Tiga hari kemudian.
Malam hari, di sebuah perumahan elit Kota B.
Sosok dengan setelan hitam dan topeng merah muncul dari balik bayangan pohon. Dia menatap sebuah rumah mewah di depannya, bisa dibilang satu dari beberapa rumah paling mewah di perumahan ini.
Melihat bangunan tiga lantai tersebut, dia bergumam pelan.
"Benar-benar perjanjian yang tidak menguntungkan."
Setelah mengatakan itu, sosok itu kembali menghilang dalam bayang-bayang.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam rumah tersebut tampak sosok lelaki paruh baya dengan rambut pirang yang hampir mengalami kebotakan. Dia mondar-mandir dalam ruang belajar sambil menelepon seseorang.
"Sudah aku bilang, kita tetap harus melakukan itu, kan?"
"..."
"Aku tidak peduli! Jika kamu gagal, aku akan memilih orang lain untuk melakukannya! Aku tidak memerlukan orang tidak berguna di sekitarku!"
"..."
"Cih! Lakukan saja, mengerti?! Ya, ya, ya ... Lakukan saja bagaimanapun caranya!"
"..."
Lelaki paruh baya tersebut adalah Darwin, Wakil Walikota saat ini. Selesai menutup telepon, dia langsung mendengus dengan ekspresi tidak puas.
"Dasar budak-budak tidak berguna. Apa gunanya membayar mereka jika tidak bisa melakukan hal semudah itu!"
Bruk!
Suara benda jatuh terdengar dari luar ruangan. Mendengar itu, Darwin sama sekali tidak curiga dan malah berteriak.
"Kenapa kalian berisik sekali! Tidakkah kalian sadar kalau aku sedang sibuk?!
Pelayan! Panggil pelayan untuk segera datang! Aku benar-benar lelah dan butuh perawatan!"
Darwin terkekeh dengan wajah menjijikkan. Namun setelah beberapa saat, sama sekali tidak ada tanggapan.
"Apakah kalian tidak mendengarku! Aku bilang—"
Kreeek!
Suara pintu terbuka terdengar di telinga. Darwin hendak mengutuk, tetapi ekspresinya tiba-tiba berubah ketika melihat sosok yang membuka pintu.
Lelaki bertopeng merah masuk ke dalam ruangan lalu memberi salam hangat, membungkuk sopan seperti seorang bangsawan sembari berkata.
"Selamat malam, Mr Darwin. Bisa kita bicara sebentar???"
>> Bersambung.
__ADS_1