Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Permintaan Maaf


__ADS_3

Jleb!


Sosok Matt menikam salah satu Spiritualist bintang 3 dari belakang. Sementara itu, Shawn juga menjatuhkan Spiritualist bintang 2.


"Dengan ini, akhirnya selesai ..."


Mengatakan itu, Matthew langsung jatuh telentang di lantai. Napasnya naik-turun, dia bahkan sempat batuk dan tersengal. Hanya saja, ekspresi puas tampak di wajahnya.


Sedangkan Shawn sendiri langsung bersandar di dinding. Dia langsung duduk sambil menghela napas panjang.


Di sekitar mereka berdua, tampak lima mayat yang tergeletak di lantai. Darah merah membasahi lantai. Matthew yang berbaring di atas genangan darah sampai membuat pakaian dan rambutnya kotor sama sekali tidak peduli.


"Hey, Shawn."


"Apa?" balas Shawn yang kaget karena Matt memanggil secara tiba-tiba.


"Aku merasa aneh."


"Merasa aneh bagaimana?"


"Baru kali ini kita membunuh orang, kan? Biasanya kita hanya mengancam, memukul, paling banyak mematahkan tulang seseorang. Jadi aku merasa aneh ...


Padahal aku baru pertama kali membunuh. Namun, bukannya aku takut, gemetar, atau bersalah ... kenapa aku malah bersemangat?"


"Pasti ada yang salah dengan kepalamu!"


Shawn langsung berkata dengan nada penuh sarkasme.


"Hey, aku serius! Mungkinkah ... Mungkinkah sebenarnya aku psikopat?"


Matthew berkata dengan ekspresi terkejut.


"Tsk! Kamu terlalu lebay. Kamu hanya masih terpancing adrenalin ketika bertarung sebelumnya. Juga, kemungkinan besar alasan kita tidak merasa bersalah adalah ...


Karena kita merasa benar."


"Merasa benar?"


"Ya. Kita tahu lawan kita adalah pembunuh, penculik, dan orang-orang yang memanfaatkan rakyat biasa untuk memperkuat mereka. Bagi kita, mereka adalah penjahat.


Jadi, bukannya menyesal, kita malah merasa puas karenanya.


Sebaliknya, kita ini juga penjahat di mata beberapa orang. Seperti wanita di rumah bordil sebelumnya. Bagi mereka, kita jahat karena kita menjajah dan merampas Golden Dew yang mereka anggap sebagai rumah mereka sendiri."


"Ya, ya, ya ... Aku hanya bercanda. Tidak bisakah kamu berhenti terlalu serius? Kamu membuat suasana menjadi semakin tertekan."


"Aku ..."


"Diamlah. Aku ingin tidur. Aku benar-benar lelah."


"Tsk! Bisa-bisanya kamu bertingkah seperti itu di saat seperti ini."

__ADS_1


Shawn berkata sebelum menghela napas panjang. Memejamkan matanya, pemuda itu bergumam.


"Meski tidak yang terbaik, seharusnya yang kita lawan bukanlah yang terburuk, kan?"


Matt membuka matanya.


"Jelas tidak mungkin, kan? Seharusnya, di jalan lain ada yang lebih lemah dan lebih kuat. Kita ... hanya melawan tingkat menengah mereka.


Ya ... aku harap Ketua yang bertemu dengan pemimpin lawan. Lagipula, orang itu pasti sulit dilawan oleh kombinasi Randy dan Brock."


"Aku harap juga begitu."


Shawn membalas dengan lemah, tampaknya khawatir dengan teman-temannya. Namun pada akhirnya, mereka hanya bisa berharap kalau mereka bisa melewati semuanya dengan lancar.


***


Sementara itu, di lokasi Randy dan Brock berada.


"Ini terlalu berlebihan kan, Brock?"


Randy menatap ke depan dengan wajah agak pucat. Tangan yang memegang katana tampak gemetar. Pemuda feminim itu tampak tidak pada kondisi baik.


Brock berdiri di sampingnya dengan ekspresi serius. Sarung tangan yang dicustom sendiri tampak penuh dengan goresan. Meski tampak tenang, pakaiannya berantakan dan dia berkeringat deras.


Beberapa meter di depan mereka, tampak dua orang yang berdiri sambil menatap mereka. Penampilan mereka tampak begitu identik. Keduanya adalah lelaki jangkung cukup kurus. Mereka memiliki rambut pirang sebahu. Mengenakan jaket longgar hitam bergaris kuning, mereka jelas anggota kelompok Darkblood Moth Tamer.


Kedua lelaki kembar itu sangat mirip. Mereka berpakaian sama, wajah sama, warna rambut serta mata sama, bahkan sama-sama membawa tombak. Jika dilihat perbedaannya, mungkin bagaimana cara mereka menyisir rambut panjang itu. Satu disisir ke arah kiri, sedangkan yang lain ke arah kanan. Begitu juga cara mereka memegang tombak. Satu menggunakan tangan kanan, yang lainnya menggunakan tangan kiri.


"Kamu benar, Raitto."


Keduanya saling berbicara dengan nada santai. Tampaknya mereka berdua begitu menyepelekan Randy dan Brock. Hal itu sebenarnya juga wajar. Lagipula ...


Keduanya adalah Spiritualist bintang 9!


Apa konsep Spiritualist bintang 9? Itu adalah puncak tingkat bronze, satu langkah lagi menuju ke tingkat silver. Bahkan, pejuang di level seperti itu sudah sangat jarang di sekte besar seperti Thunder Fang.


"Haruskah kita langsung membunuh mereka, Lefitto?"


"Aku juga tidak tahu, Raitto."


Keduanya menatap ke arah Randy dan Brock dengan ekspresi kosong. Daripada lawan-lawan Shawn dan Matt yang bergairah serta tamak, tampaknya keduanya memiliki sikap yang sedikit mirip dengan Shin.


"Seandainya kakak di sini, kita tidak akan bingung seperti ini, Lefitto?"


Raitto menggaruk kepalanya dengan ekspresi tertekan. Dia tampak seperti pasien rumah sakit jiwa yang tiba-tiba depresi.


"Aku bingung, dan ini membuatku mengantuk, Raitto."


Lefitto membalas sambil menguap. Kedua bersaudara itu berdiri di depan lorong tempat Randy dan Brock datang. Namun mereka tidak menutupnya. Keduanya tampak percaya diri bahwa kedua lawan mereka tidak akan bisa melarikan diri.


Benar-benar memiliki kepastian untuk mengeksekusi keduanya di tempat ini!

__ADS_1


"Karena setelah bertarung begitu lama kita tidak bisa mengalahkan mereka, tampaknya kita hanya punya satu pilihan, Brock."


Mengatakan itu, Randy menyarungkan katana miliknya. Dia kemudian mengambil dua pistol dari balik jas. Menatap ke arah Lefitto dan Raitto, pemuda feminim itu membulatkan tekad.


"Maaf jika ini tidak adil, tapi apapun yang terjadi ... kami harus kembali dengan selamat!"


Randy langsung mengarahkan dua pistol ke kepala Lefitto dan Raitto. Pada detik berikutnya, dia langsung menarik pelatuknya.


Dor! Dor!


Menatap ke depan, mata Randy langsung menyempit ketika melihat kedua orang itu benar-benar menghindari dua tembakan. Meski tidak menggunakan kecepatan luar biasa, mereka tampaknya memiliki refleks yang bagus.


"Kedua orang ini ..."


Randy bergumam dengan ekspresi tertekan. Dia tidak menyangka, ada yang benar-benar bisa lolos dari tembakan. Tampaknya, asuransi miliknya benar-benar tidak menjamin sama sekali.


Tidak putus asa, Randy kembali menembak beberapa kali. Namun, sosok Lefitto dan Raitto menghindar, mereka melesat ke depan dengan cepat. Langsung bergegas ke arah Randy dengan kecepatan luar biasa.


Memiliki ekspresi kesal di wajahnya, Randy langsung melemparkan satu pistol ke Brock. Dia kembali menarik katana miliknya.


Klang! Slash!


Randy menangkis satu serangan, tetapi serangan lain langsung menggores lengan kirinya. Pemuda itu langsung membidik dan menembak dari jarak dekat.


Dor! Dor!


Bukan hanya Randy, bahkan Brock yang ada di belakang juga menembak. Namun kedua saudara kembar itu langsung memutar tombak mereka, menangkis beberapa tembakan dengan ringan.


Lefitto dan Raitto melesat dan muncul secara tiba-tiba di kanan dan kiri Randy. Memiliki ekspresi tak acuh di wajah mereka, keduanya langsung mengayunkan tombak dengan kejam.


Jleb!


Dua mata tombak menikam tepat di perut Randy. Pemuda itu langsung memuntahkan satu suap darah. Tidak sampai di sana, Lefitto dan Raitto langsung memutar tubuh mereka lalu menendang dada Randy dengan kuat.


BRUAK!


Lelaki feminim itu langsung terpental mundur lebih dari tiga meter. Brock yang ada di belakangnya langsung menangkap dan menahannya.


Uhuk! Uhuk!


Randy kembali memuntahkan sesuap darah. Memiliki ekspresi pucat di wajahnya, dia memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan beberapa langkah ke depan.


Menoleh ke belakang, Randy tiba-tiba berkata.


"Ini sangat sulit, Brock. Namun, akan aku usahakan memberi celah agar kamu bisa melarikan diri. Juga, tolong katakan permintaan maafku kepada Ketua serta teman-temannya lainnya, karena ..."


Kembali menoleh ke depan, Randy tersenyum sambil memunggungi Brock.


"Tampaknya aku gagal menyelesaikan misi yang diberikan oleh Ketua."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2