Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
MEREKA


__ADS_3

Mendengar perkataan Guren, Adam yang awalnya ragu menjadi lebih serius. Dia melirik ke arah gedung utama sekolah, tanpa sedikitpun kehilangan fokusnya. Pemuda itu tidak berani ceroboh dan berakhir ditipu.


"Kamu bisa pergi ke sana untuk melihatnya sendiri."


Sekali lagi, suara Guren terdengar.


"Kamu?"


Adam melirik ke arah Guren, bertanya apakah wanita itu ingin mengikutinya atau tidak.


"Sebelumnya aku sudah bilang. Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini."


Guren berkata dengan ekspresi datar. Wanita itu melangkah ke depan. Melewati Adam, lalu ke lorong jalan yang menghubungkan gedung olahraga dan gedung utama sekolah.


Akan tetapi, saat hendak melewati area gedung olahraga, wanita itu tampaknya terhalang oleh penghalang tak terlihat. Benar-benar tidak bisa maju.


"..."


Melihat itu, Adam menjadi semakin yakin. Namun, pemuda itu masih fokus dan berusaha untuk tetap tidak memercayai wanita itu seutuhnya.


"Kalau begitu, Aku akan memeriksa tempat itu."


Mendengar ucapan Adam, sosok Guren menoleh. Wanita itu memandangnya dengan senyum lembut di wajahnya. Pada saat itu juga, angin malam berembus.


Ribuan kelopak bunga merah dibawa pergi oleh angin, bersama dengan kabut. Mengedipkan matanya, Adam yang berdiri di depan gedung olahraga akhirnya sadar kalau semuanya telah kembali normal.

__ADS_1


Nyala api yang melapisi bilah katana padam. Pemuda itu langsung mengembalikannya ke ruang inventori. Dengan ekspresi datar di wajahnya, Adam berjalan menuju ke bangunan utama sekolah.


Tap ... Tap ... Tap ...


Adam berjalan mantap masuk ke dalam gedung sekolah. Setiap langkah membekas di lantai yang tertutup debu tebal.


Melihat sekeliling, pemuda itu melihat dinding kotor. Cat telah terkelupas, dan banyak bagian yang berjamur.


Tanpa keraguan, Adam terus berjalan. Dia menaiki tangga menuju ke lantai dua. Sampai di sana, pemuda itu melihat lorong yang familiar. Dia bahkan mengingat jelas tempat dimana si ayam meninggalkan dirinya.


Langsung bertarung melawan penjaga kantin sekolah sendirian!


Mengingat hal tersebut, Adam sadar betapa pengecut dan lemahnya dirinya.


Adam memejamkan mata sembari menghirup udara malam yang dingin. Pada saat itu, dia tiba-tiba mencium aroma yang tidak asing.


Aroma terbakar ...


Aroma kayu terbakar, karat yang dipanaskan oleh api, dan ... aroma 'daging' bakar.


Adam langsung mengambil katana dari ruang inventori. Dengan ekspresi tegas, dia langsung menuju ke lantai tiga.


Menginjakkan diri ke lantai tiga, pemuda itu terdiam di tempatnya ketika melihat ke sisi lainnya.


Ekspresi Adam langsung berubah menjadi pucat. Bibirnya sedikit gemetar, tetapi dia masih berdiri tegak di tempatnya. Tangannya mencengkram erat gagang katana. Matanya tampak menjadi semakin, dan semakin dingin.

__ADS_1


Di sisi lain, Adam melihat bola daging raksasa.


Ya ... mungkin itu cara paling mudah dan indah untuk menggambarkannya.


Adam merasa sedang melihat daging yang dihaluskan dengan mesin penggiling rusak.


Belasan meter di depannya, tampak gumpalan daging. Sebagian tampak halus, tetapi sebagian masih utuh.


Belasan wajah robek dengan mata melotot. Usus dan jantung yang terus berdetak. Banyak tangan mencuat terus melambai. Tulang pecah dan tendon yang terseret di lantai.


Rasanya benar-benar tidak nyaman, ketika harus melihat secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.


Ya .. melihat puluhan mayat berdarah yang dipadatkan menjadi sebuah bola raksasa.


Celepuk!


Segumpal daging dipenuhi darah jatuh ke lantai. Suara tangisan, teriakan, dan cibiran yang dipenuhi rasa takut dan benci menggema di telinga. Saat itu juga ...


Puluhan pasang mata menatap tepat ke arahnya!


Menahan rasa mual, Adam menggertakkan giginya sembari berkata.


"Jadi ... benda ini yang wanita gila itu maksud dengan MEREKA."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2