Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Pertukaran Setara?


__ADS_3

"Jadi, bagaimana kabar kalian?"


Adam berada dalam bangsal rumah sakit. Namun, dibandingkan bangsal lain, tempat ini tampak cukup spesial. Cukup spesial perihal keamanannya.


"Orang itu aneh Lefitto. Sudah jelas kita terikat, tetapi dia masih bertanya seperti itu."


"Kamu benar, Raitto."


Adam melihat ke arah kedua saudara kembar. Seperti yang dikatakan oleh Brock, mereka memang berada di level Spiritualist bintang 9.


Tepat seperti ucapan kedua saudara kembar, ketiga orang itu diikat pada ranjang. Mereka diikat kuat, bahkan gerakan mereka dibatasi.


"Untuk apa kamu ke tempat ini. Juga, kenapa kamu tidak membunuhku?"


"Tentu saja. Aku menyelamatkan kalian agar kalian bisa membocorkan dimana tempat wanita itu berada. Lagipula, aku tidak bisa tidak melunasi akun, kan?"


Adam berkata dengan santai, tetapi matanya tampak begitu dingin.


"Itu tidak berguna, Adam. Bahkan kami bertiga tidak mengetahui keberadaan IBU. Kami, sebagai ANAK, dia bisa mengetahui keberadaan kami. Sebaliknya, kami tidak bisa mengetahui keberadaannya."


"..."


Adam hanya diam. Melihat ke arah pria itu sebentar, dia kemudian melihat ke arah si kembar. Menyadari bahwa mereka sama sekali tidak berbohong, dia hanya bisa menghela napas panjang.


"Apakah kamu ingin membunuh kami sekarang?"


Shin berkata dengan nada datar. Tampaknya dia sama sekali tidak peduli bahkan jika Adam langsung membunuhnya.


"Apakah kalian tidak marah?"


Mendengar ucapan Adam, ketiga orang itu memandang ke arah pemuda itu seolah memandang orang bodoh.


"Kamu lucu, Adam."


Shin berkata dengan ekspresi kosong. Sama sekali tidak peduli apakah Adam marah atau tidak.


"Apa maksudmu?"


Adam mengangkat alisnya.


"Kamu sama saja dengan IBU. Bagi kalian, kami hanya alat. Kalian mengambil kami dari tempat sampah atau gang kumuh.


Kalian membesarkan kami sebagai senjata. Kami bisa makan lebih baik, tidur di tempat yang layak, dan berpakaian pantas. Sebagai gantinya, nyawa kami miliknya.


Bagaimana menyebutnya? Hmmm ... pertukaran setara?


Daripada mati membusuk di jalan, paling tidak kami hidup lebih lama dan lebih layak. Bukankah kalian berpikir dengan cara seperti itu?


Lagipula, itu juga alasan kenapa kamu mulai mengadopsi dan mengambil anak-anak yang terlantar, kan?"


Shin berkata dengan nada datar. Cara dia memandang Adam atau wanita itu sama saja. Dia sendiri juga hanya menganggap dirinya alat, jadi pria itu tidak peduli bahkan jika dirinya rusak.


"Jangan terlalu kamu ambil hati. Bukankah dunia memang seperti ini? Kamu dan IBU melakukan pertukaran setara. Jadi kami tidak menyesal.

__ADS_1


Kalian, meski memiliki maksud lain, memang telah membantu kami. Setidaknya, agar kami tidak membusuk di jalanan. Jadi jangan berkecil hati."


"Kalian salah."


Adam langsung membantah. Memiliki ekspresi serius di wajahnya, dia menatap ke arah ketiganya.


"Aku tidak memiliki keluarga. Aku hidup di panti asuhan, dan aku merasa cukup beruntung daripada kalian. Aku juga bisa tumbuh dengan mantap dan menjadi cukup sukses di usiaku yang sekarang. Namun, ada banyak hal yang merubah hidupku ketika dewasa.


Hanya saja, aku tetap memiliki tujuan tersendiri. Jika bisa, aku juga ingin menolong anak-anak yang tak punya tempat untuk kembali sepertiku. Memberi mereka tempat yang layak disebut sebagai rumah.


Aku mengadopsi mereka semua memang untuk memperbesar dan menguatkan Wings of Freedom di masa depan. Namun, bukan sebagai alat, aku ingin menjadikan mereka bagian dari keluarga.


Aku akan mengajarkan cara mereka berlatih agar bisa menjadi kuat dan cerdas. Bahkan jika mereka pergi bertarung, aku tidak ingin mereka mati atau malah meminta mereka melakukan misi bunuh diri.


Aku ingin mereka tumbuh besar. Aku ingin mereka, para anggota Wings of Freedom bisa sukses dalam kehidupan mereka. Aku juga ingin mereka menikah, memiliki anak, dan membuat keluarga kecil mereka sendiri.


Menyuruh seseorang untuk mati begitu saja ...


Itu bukanlah hal yang dilakukan keluarga."


"..."


Mendengar ucapan serius tetapi tulus dari Adam, Shin terdiam. Pada saat itu, kenangan berdebu muncul dalam benaknya.


***


Malam hari, hujan deras mengguyur bumi.


Tampak sosok gadis kecil berambut pirang dan mata biru berbaring terlentang tak bergerak di lantai. Dia menatap bocah yang berisi di dekatnya dengan senyum di wajahnya.


Gadis itu mengenakan gaun indah. Hanya saja, tampak beberapa lubang di bagian perut dan dada gadis itu. Dari sana, darah terus menerus mengalir.


Selain mereka berdua, tampak juga sosok lelaki paruh baya yang berbaring di lantai. Sebuah luka sayatan besar tampak di leher pria itu. Darah yang mengalir darinya membuat sebuah genangan darah besar.


Ini adalah misi pertama yang kedua anak itu lakukan. Bocah itu, Shin benar-benar tidak percaya apa yang terjadi di depannya.


"Kak Shin."


"Sa-Sabrina? Berhenti bicara, aku akan membawamu kembali. IBU pasti akan segera merawat dan menyembuhkanmu."


"Kak Shin, aku senang kamu mengkhawatirkanku. Aku senang kita menjadi keluarga. Aku senang memiliki IBU dan banyak saudara-saudari.


Aku penasaran, apakah mereka akan merindukanku?"


"Diam, Sabrina. Kakak akan segera membawamu kembali. Berhenti berbicara."


"Kak Shin, Sabrina ingin tumbuh besar. Ketika sudah dewasa, Sabrina pasti akan menjadi gadis cantik.


Sabrina ingin menikah dengan pria kaya dan baik hati. Kami akan tinggal di rumah besar dengan halaman luas di depan. Kami akan membeli mobil berwarna pink dan memelihara pomsky kecil yang imut.


Ketika itu terjadi, aku ingin mengundang IBU, Kak Shin, dan saudara-saudari lainnya untuk datang. Kami pasti akan menyambut kalian dengan baik."


"Cukup, Sabrina ... cukup."

__ADS_1


Shin memeluk gadis kecil itu dengan panik. Dia berusaha menggendongnya dan pergi dari tempat itu.


"Kak Shin, kenapa tangan Kak Shin dingin. Apakah mati lampu? Kenapa tiba-tiba gelap sekali?


Kak Shin ... Sabrina takut. Kenapa Kak Shin tidak bicara? Sabrina takut, Kak Shin."


"Aku di sini, Sabrina. Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja."


Shin menggendong Sabrina kecil di bawah guyuran hujan deras. Dengan sepasang kaki kecil, dia memiliki ekspresi penuh tekad di wajahnya.


Bruk!


Tiba-tiba, keduanya jatuh ke tanah penuh lumpur. Karena gerakan Sabrina yang tiba-tiba.


"Apakah kamu baik-baik saja, Sabrina? Kakak akan—"


Melihat ke arah Sabrina yang memejamkan matanya dengan senyum di wajah seperti putri tidur, Shin tercekat. Menyentuh tubuh dingin gadis kecil itu, Shin tahu bahwa dirinya terlambat.


'Tidak apa-apa, IBU dan yang lainnya akan membalaskan dendam Sabrina. Ini hanya kecelakaan, kami hanya tidak beruntung.'


Shin kecil mencoba terus meyakinkan diri, tetapi ternyata apa yang mereka sebut keluarga benar-benar berbeda dari apa yang dia bayangkan.


Tahun demi tahun, Shin melihat saudara dan saudarinya jatuh tumbang dalam misi. Dia melihat satu per satu dari mereka jatuh, tetapi bocah itu tidak bisa melakukan apa-apa.


Bahkan ketika dia tumbuh dewasa dan menjadi kakak tertua, pada akhirnya ...


Shin tidak pernah bisa menyelamatkan siapa-siapa.


***


"AKU AKAN MEMBUNUHMU!"


Shin yang awalnya tampak begitu tenang tiba-tiba meraung histeris. Dia berusaha keras membebaskan diri dari sabuk yang mengikatnya ke ranjang serta borgol yang menahan kedua tangan dan kakinya.


Melihat ke arah Adam dengan mata merah, kebencian yang terkubur begitu dalam selama ini tumpah begitu saja.


"ORANG-ORANG SEPERTI KALIAN ... AKU AKAN MEMBUNUHNYA! KAMU, WANITA ITU, AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!!!"


Keributan itu langsung menarik perhatian dokter dan perawat. Melihat Shin yang histeris dan menggila, dokter langsung berkata.


"Ambilkan obat penenang, aku akan—"


"Lepaskan dia."


Adam langsung menyela dengan nada tak acuh.


"Maaf?"


Dokter tampak bingung. Pada saat itu, pemuda tampan itu menoleh ke arahnya. Sepasang mata biru yang indah memancarkan kilau dingin ketika pemuda tersebut kembali berkata.


"Aku bilang, lepaskan dia."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2