
Bahkan James yang tahu bahwa Adam berada di level Spiritualist Master benar-benar tercengang.
Apakah para monster di tingkat Spiritualist Master sekuat itu? Aku rasa tidak, kan?
Melihat ke arah Adam yang tak acuh, James merinding. Dia kemudian menjadi lebih bersemangat. Jika pemuda bertopeng merah itu benar-benar bergabung dengan Departemen Misteri, James pasti mendapat pujian dan bonus yang besar.
Tidak menyangka, benar-benar menemukan harta karun!
"Apakah kita bisa melanjutkan penilaian lain?" tanya Adam.
Ucapan Adam menyadarkan banyak orang dari lamunan mereka. Salah satu tentara tiba-tiba mengangkat tangannya sebelum bertanya.
"Mungkinkah mesin pengukur rusak?"
Diana yang mendengar pertanyaan itu juga merasa cukup maksud akal.
"Kamu, coba ukur kekuatan tinju milikmu!" ucap Diana dengan ekspresi dingin.
"B-Baik, Bu!" Prajurit itu langsung memberi hormat.
Adam kemudian menyingkir. Prajurit itu kemudian melakukan pengukuran.
Bang!
Melihat angka 1078 joule, mereka tahu bahwa mesin sama sekali tidak rusak. Pada saat itu, Clarissa mengangkat tangannya.
"Mr Blood Owl, bisakah anda melakukan pengujian lagi?"
"Baik."
Adam mengangguk. Setelah prajurit itu menyingkir, pemuda itu kembali mengambil tempat. Memasang kuda-kuda sambil memutar sedikit pinggangnya, sekali lagi dia memukul.
Swoosh! BANG!!!
2502 Joule!
Melihat itu, kepala orang-orang langsung mati rasa. Sosok yang memakai kostum aneh, tampak ramping itu benar-benar memiliki kekuatan pukulan sekitar 2500 joule!
Para prajurit yang awalnya berpikir Adam hanya bergabung karena pintu belakang dan memiliki kekuatan khusus benar-benar langsung mengubah pandangan mereka.
Benar-benar kuat dan layak dihormati!
"Bagaimana kalau melakukan pengujian lainnya?" tanya Adam.
"Baik!" Clarissa memandang sosok Adam dengan penuh semangat.
Sangat jarang mengukur data orang-orang aneh dan khusus seperti sekarang. Bagi wanita itu, pengalaman semacam ini benar-benar menarik! Cukup untuk membuka pandangannya.
Clarissa kemudian mengajak Adam untuk melakukan pengukuran lainnya, yaitu mengukur kecepatan. Lebih tepatnya, sprint 100 meter.
Berada di trek, Adam bersiap dalam posisinya. Diana berdiri beberapa meter darinya dengan peluit di tangannya. Sementara Clarissa sudah berada di garis finish. Siap untuk mengukur kapan.
"Bersiap ..." ucap Diana.
Ketika peluit dibunyikan, Diana merasakan embusan angin menerpa wajahnya. Beberapa saat kemudian, wanita yang tertegun itu melihat sosok Adam sudah melewati garis finish.
Diana langsung menghampiri Clarissa dan menonton stop watch di tangan wanita itu.
5,04 detik!
__ADS_1
100 meter dalam 5 detik? Konsep macam apa itu?
Diana tercengang. 100 meter dalam 5 detik berarti 20 m/detik. Yang berarti ... 72 km/jam.
Usain Bolt dari kehidupan Adam sebelumnya, sprinter tercepat di dunia tidak bisa mencapai kecepatan semacam itu.
Top speed Usain Bolt dalam berlari pernah mencapai 44,72 km/jam. Jadi dia dinobatkan sebagai manusia tercepat di dunia. Namun masih kalah dengan kecepatan Adam yang sekarang.
Ya ... Itu juga karena Adam adalah seorang Kultivator.
Mengabaikan Diana yang tertegun, Clarissa langsung menghampiri Adam dengan mata berkilauan, seolah ada banyak bintang di dalamnya.
"Mr Owl! Mr Owl!"
"En? Ada apa ... Nona Clarissa?" tanya Adam ketika melihat Clarissa yang agak kekanak-kanakan.
"Bolehkah aku menyentuh kamu?"
"..."
Mendengar itu membuat Adam tertegun. Bahkan tentara yang melihat itu juga tidak bisa berkata-kata. Dewi yang mereka puja benar-benar dicuri oleh orang asing!
"Tentu—"
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Clarissa langsung mengeluarkan pita ukur. Dia langsung mengukur lingkar tangan, kaki, paha, perut, dan dada Adam tanpa ragu.
Setelah selesai, wanita itu memegangi tangan Adam yang putih dan halus dengan curiga. Merasakan keras dan padatnya otot bal batu giok, mata Clarissa penuh dengan pujian.
Hanya saja, ketika Clarissa mendekatkan tangan Adam ke wajahnya lalu mulai mengendus ... ekspresi Adam langsung berubah.
Diana yang muncul dari mana langsung memegang kerah belakang Clarissa dan menyeretnya menjauh.
"Itu tidak sopan, Clarissa! Wanita normal tidak boleh melakukan itu!"
"Kamu ..."
"Tapi aku penasaran!" ucap Clarissa dengan tegas. "Ini demi pengetahuan! Aku harus—"
Belum selesai mengatakan ucapannya, Diana langsung memukul kepala wanita itu. Tentu saja, dia tidak melakukannya dengan keras.
Melihat Clarissa yang memegangi bagian atas kepalanya dengan ekspresi tertekan membuat Diana mengangguk puas.
"Lanjutkan saja penilaiannya."
"Baik ..."
Setelah itu, Adam mulai melakukan tes seperti lompatan, refleks, dan sebagainya. Hasilnya ... benar-benar membuat para penonton tidak bisa berkata-kata.
"Apakah ada yang lain?" tanya Adam.
Clarissa tampak semakin bersemangat, sedangkan Diana selalu menjaga wanita itu agar tidak melompat ke arah Adam untuk mengamatinya.
"Karena semua tes fisik telah diselesaikan, hanya tersisa dua tes. Pertama adalah kemampuan anda, yang terakhir adalah tes pertempuran langsung." Diana menjelaskan.
"Apakah kedua tes tidak bisa digabung saja?" tanya Adam.
Meski tidak terlalu lelah, pemuda itu benar-benar tidak ingin membuang terlalu banyak waktu lagi.
"Hm? Maksudmu?"
__ADS_1
"Daripada hanya menggunakan kemampuan untuk dites, menurutku lebih baik digunakan sembari melakukan tes pertempuran."
"Maksud akal." Diana mengangguk.
Diana memandang ke arah sosok bertopeng merah itu. Sikapnya sudah tidak sedingin sebelumnya. Wanita itu sangat membenci orang yang mengandalkan pintu belakang tanpa kemampuan nyata. Sedangkan kepada sosok yang memiliki kemampuan nyata ...
Dia masih menghormati mereka.
"Kalau begitu ujiannya sederhana. Kamu hanya perlu melawan 5 ... tidak, 7 orang prajurit bersenjata dan kami akan melihat apakah kamu bisa melawan mereka atau tidak.
Tentu saja, peluru yang digunakan adalah peluru karet yang diisi pewarna. Jika kamu terkena peluru di bagian fatal, ujian berakhir."
"Baik." Adam mengangguk ringan. "Namun ... bolehkah aku menyarankan sesuatu?"
"Ada apa?"
"Untuk mengujiku, setidaknya perlu 15 atau mungkin 20 orang agar bisa memojokkan aku. Anda pasti tahu ... kasus mengenai saya."
Mendengar ucapan Adam yang cukup sombong, Diana mengangkat alisnya. Wanita itu kemudian mendengus dingin.
"Jangan bandingkan para elit di pihak ketentaraan dengan para pria tidak profesional itu, Mr Owl. Namun karena anda meminta ...
Jangan salahkan kami karena kejam."
"..." Tidak menjawab, Adam hanya diam.
"Kalian semua! Dua puluh orang ... siapkan mainan kalian lalu pergi ke lapangan latihan!"
"Ya, Bu!" jawab para prajurit serempak.
Beberapa waktu kemudian, di lapangan latihan.
Sosok Adam dikelilingi 20 tentara dalam jarak 30 meter. Pemuda bertopeng merah itu memegang sebuah tongkat baseball di tangannya. Karena tidak datang membawa bokken miliknya, serta tidak ada pedang di pangkalan, dia akhirnya meminjam tongkat baseball tersebut.
Meski begitu, para prajurit sama sekali tidak meremehkan dirinya. Karena tahu statistik dasar fisiknya, mereka tahu apa yang di depan mereka bukan lagi manusia. Namun 'senjata' dalam wujud manusia.
Pada saat itu, suara peluit terdengar.
"Saudara-saudaraku, tembak mati penjahat yang telah menodai Dewi kita!!!"
"OOOHHH!!!"
Dengan semangat membara, para tentara langsung bergerak sambil membidik dan menembak Adam.
Sedangkan Adam sendiri tidak bisa berkata-kata. Dia tidak melakukan apa-apa, tetapi benar-benar dituduh mencuri serta menodai Dewi mereka. Benar-benar omong kosong!
Menggunakan gerakan Autumn Sword, Adam langsung bergegas menyerang. Jangankan peluru karet, pemuda itu bahkan bisa menghindari peluru nyata. Namun pemuda itu juga merasa terkejut karena banyak tentara yang membidik bukan ke arah dirinya, tetapi prediksi ke mana dirinya akan bergerak.
Melesat ke arah salah satu tentara, pemuda itu langsung memukul punggung tangan pihak lawan agar orang itu melepaskan pegangannya pada senjata. Kemudian Adam menjatuhkan tentara itu dengan ringan.
Satu, dua, tiga, empat ... dua puluh.
Di depan tatapan takjub Diana, Clarissa, dan James. Adam benar-benar menjatuhkan 20 tentara. Tidak ada noda atau bekas tembakan di pakaiannya.
Apa yang lebih menakjubkan adalah ... tongkat baseball pemuda itu menjadi penuh warna. Adam, dia benar-benar sempat menangkis tembakan-tembakan dengan senjatanya.
Akan tetapi, Adam sendiri juga tercengang. Bahkan merasa cukup rumit. Melihat para prajurit yang terbaring di atas tanah, pemuda itu mengeluh dalam hati.
Kenapa kebanyakan tentara mengincar titik vitalku? Dendam apa yang mereka miliki? Tidak tahukah mereka itu sangat berarti bagi para laki-laki?
__ADS_1
Omong kosong suci! Tolong bidik tempat lain!
>> Bersambung.